di Getsemani: Jesus bukan penakut, dia sahabat

Posted: April 24, 2011 in Artikel

Dear Sahabat Kristiani,

Berbahagialah kita, anda dan saya, yang merayakannya, karena Tuhan masih berkenan mempertemukan setiap kita dengan satu lagi Hari Raya Jumat Agung, Perayaan Perjamuan Kudus dan Paskah di tahun 2011. Ayanda dan Ibunda saya, misalnya, tak lagi merayakan hari-hari besar umat Kristiani ini dalam situasi yang sama dengan yang saya alami. Ayahanda “Robert SGT” dan Ibunda “Tien” mungkin merayakannya di dimensi lain dengan cara yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Penyanyi lagu-lagu balada kecintaan saya, Franky Sahilatua juga tak bisa merayakan Paskah seperti kita lagi. Dia telah berangkat meningga

Berkenan dengan perayaan Jumat Agung dan Paskah kali ini, ada yang secara sangat serius ingin saya renungkan setelah sebelumnya saya gumuli beberapa waktu belakangan ini. Nah, lalu apa yang saya gumulkan dan renungkan itu. Adalah ini:

„Ya, BapaKu, jikalu Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu: tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.“… Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik darah yang bertetesan ke tanah.“ (Luk.22:42-44)

Ayat di atas menunjukkan secara kronologis detik-detik ketika Tuhan Yesus sedang menunggu “saat-NYA” yang sudah ditentukan oleh Sang Bapa. Setelah melaksakan perjamuan kudus di kamar loteng sebuah rumah pengikut-NYA, Tuhan Yesus lalu berjalan menuju Taman Getsemani ditemani 3 orang murid-Nya. Di sana Tuhan Yesus mengambil sewaktu dua waktu untuk berdoa menggumuli sesuatu. Apa yang digumulinya? Hampir semua tafsir Alkitab mengatakan bahwa ayat-ayat itu menujukkan sisi manusiawi Yesus. Apa itu? Yesus memiliki juga rasa takut. Takut apa? Takut menghadapi maut di Kayu Salib. Benarkah begitu? Aha, nanti dulu. Jangan terburu-buru berkesimpulan. Mari kita periksa lebih saksama.

Kata “takut” pada kutipan ayat di atas kelihatannya merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Yunani “αγωνία” atau “agwnia” atau “agonia”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka kata itu akan menjadi “agony” yang memang berarti takut. Akan tetapi hasil penelusuran saya secara berhati-hati menemukan arti lain terkait kata “agoni”. Saya menemukan bahwa kata “agony” dalam bahasa Inggris ternyata berpadanan dengan lebih dari satu kata Yunani. Kata “agony” selain berpadanan dengan “αγωνία” ternyata juga berpadanan dengan kata “μαρτύριο” atau “martyrio” yang berarti penderitaan yang amat dalam. Karena itu saya tak heran jika dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ayat ke 44 dari Kitab Lukas pasal 22 berbunyi
“Yesus sangat menderita secara batin sehingga Ia makin sungguh-sungguh berdoa. Keringat-Nya seperti darah menetes ke tanah”

Perhatikan pula terjemahan dalam versi lainnya sebagai berikut:

  • Sedang ia dalam sengsara, maka ia meminta doa dengan lebih bertekun; maka peluhnya pun menjadi seperti titik-titik darah gugur ke bumi (Shellabear Draft, 1912)
  • Dan waktu dia ada dalam sngsara, dia minta do’a dngan lbeh tkun: dan dia punya ploh jadi sperti titek-titek darah mnitek di tanah (Melayu BABA, 1913)
  • Maka dalam sangsara jang besar itoe makin radjin ija meminta-doa dan peloehnja pon mendjadi saperti titik-titik darah jang besar berhamboeran kaboemi (Klinkert, 1879)
  • Dan sedang ‘ija kene parang pajah, maka makin radjin munadjatlah ‘ija. Maka pelohnja djadilah saperij titikh 2 darah kantal, jang malileh turon kabumi (Leydekker Draft, 1733)

Berdasarkan pemahaman arti kata itu maka saya lalu memiliki 3 opsi perspektif dalam memahami makna ayat dalam Lukas 22: 44.

Dalam banyak naskah-naskah renungan saya sering menangkap kesan bahwa Lukas 22: 42-44 memberi petunjuk kuat bahwa Yesus takut. Ya, Yesus dalam sisi manusiawinya ternyata ketakutan menghadapi peristiwa dahsyat dan mengerikan yang segera akan dijalaninya, yaitu penyaliban. Begitu takutnya Yesus, lalu Dia berusaha mencari jalan selamat untuk diri-NYA. Pada titik ini saya tertegun. Benarkah Yesus yang saya kagumi luar dalam itu adalah seorang yang penakut? Saya tidak main-main tentang hal ini karena di beberapa blog yang kontennya sangat sisnis terhadap Yesus menggunakan perkara ketakutan Yesus ini sebagai dasar argumen untuk menolak dimensi Ketuhanan-NYA…”heeeiiii, lihatlah…Yesus yang penakut itu pasti bukan Tuhan karena tak masuk akal Tuhan itu penakut”. Betulkah Tuhan Yesus ketakutan lalu diam-diam berusaha bernegosiasi dengan sang Bapa guna berusaha mencari selamat bagi diri-NYA sendiri? Jujur saja, saya tak yakin. Mengapa demikian? Saya punya referensi yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sama sekali bukanlah penakut dan pencari keselamatan untuk diri-NYA sendiri. Kisah Yesus Tuhan Yesus menghadapi pencobaan di padang gurun, Ceritera Tuhan Yesus yang mengusir roh jahat, bagaimana Tuhan Yesus menghadapi angin topan di tengah lautan dan kapal yang ditumpanginya nyaris karam, bagimana cara Tuhan Yesus menghadapi banyak orang yang marah dan ingin merajam si perempuan pezinah…dan wwwooowwww…masih amat banyak lagi referensi sejenis yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bukanlah penakut dan juga bukanlah pula seorang pencari keselamatan bagi diri-NYA sendiri. Yang amat mengerikan dari perspektif Yesus ketakutan ini adalah bahwa jika benar Tuhan Yesus berusaha meloloskan diri dari kayu salib, sementara DIA tahu bahwa keadilan harus ditegakan (yaitu yang bersalah harus dihukum) maka yang terjadi adalah Tuhan Yesus sedang berusaha “mengembalikan” salib itu kepada si jahat yang sebenarnya, yaitu manusia. Jika benar begitu maka, maaf, ke Kristenan saya akan saya tanggalkan menit ini juga karena bukan Yesus seperti ini yang saya sembah. Dalam perspektif ini Yesus adalah penakut dan berusaha lari sejauh-jauhnya dari penghukuman. Saya membayangkan Tuhan Yesus seperti seorang yang sedang berusaha meloloskan diri dari bencana kapal yang karam. Yesus sedang berusaha berenang secepat-cepatnya supaya tidak ikut terbawa tenggelam terseret arus kapal karam. Saya membayangkan bahwa Yesus melakukan itu sambil tidak perduli apakah si anu dan si polan sedang termenggah-menggeh klelep mau mati tenggelam. “Walah kalo nulungin situ bisa-bisa gw ikutan klelep dunk, tak us-us aja ya”. Maaf, saya tidak yakin bahwa Yesus bertindak seperti itu. Itu bukan tipenya dech. Kalau tidak begitu lalu kalau begitu apa? Ada alternatif perspektif kedua.

Saya mendapat sedikit kelegaan ketika mengetahui bahwa ayat ke 44 Kitab hasil tulisan dokter Lukas pasal ke 22 ternyata dapat berbunyi dalam perspektif yang berbeda….”Tuhan Yesus amatlah sengsara” … Oh, ternyata peristiwa doa di taman Getsemani tidaklah harus ditafsirkan bahwa Yesus adalah si penakut yang sedang berusaha mengelak dari Salib dan meletakkan salib pada bahu manusia. Tuhan Yesus ternyata amat menderita. Tetapi, logika berpikir juga mengatakan bahwa jika benar Yesus menderita maka apa yang membuat dia menderita? Bayangan dahsyatnya Salib dan penyalibankah? Menurut saya hal ini bisa jadi benar demikian tetapi sekarang saya punya perspektif baru, yaitu bahwa memang benar Tuhan Yesus gelisah akan apa yang segera menimpa-NYA tetapi hanya berhenti di situ. DIA gelisah tapi tak sedang berusaha menghindari hukuman. Yesus bukan takut tetapi mungkin sedang berbisik kepada Bapa-Nya….”Bapa, masih bolehkan solusi lain dari penghukuman yang akan aku tanggung”. Terhadap kemungkinan ini, saya sedikit lega tetapi belum seluruhnya karena masih “bau” upaya meluputkan diri dari “cawan”. Sesuatu yang mustahil karena bukankah DIA dan Bapa sehakekat dan karenanya Yesus bisa saja mengambil jalan lain bukan? Apapun juga, dalam perspektif ini, Tuhan Yesus tidak harus ditafsir sebagai si pecundang yang sedang berusaha mengalihkan hukuman kepada orang lain. TIDAK. Yesus tahu bahwa hukuman harus dijalankan dan DIA tidak perlu menghindarkannya tetapi mungkin masih bisa dicarikan bentuk penghukuman yang lain. Saya teringat pengalaman saya beberapa waktu yang lalu sebagai salah satu pengurus dalam organisasi x. Salah satu petinggi di organisasi ini jelas-jelas bersalah menyalahgunakan kuasa dan melakukan korupsi. Mula-mula musyawarah pengurus memutuskan untuk memecat yang bersangkutan tetapi lalu dengan alasan “kasih” maka keputusan itu diubah hanya menjadi penundaan kenaikan gaji berkala. Hukuman tetap djatuhkan tetapi bentuknya dirubah dan bahkan lebih ringan. Bisa jadi model inilah yang “dinegosiasikan” oleh Yesus kepada sang Bapa. Boleh-boleh saja tetapi sekali lagi menurut hemat saya itu juga bukan tipe Yesus. Dalam perspektif ini masih saja tersimpan ganjalan, mengapa Yesus masih berpikir tentang alternatif lain?

Sampailah saya pada alternatif perspektif yang berikutnya yang saya yakini jauh lebih mendekati kebenaran Firman Tuhan tentang jati diri Yesus. Begini: Tuhan Yesus sadar bahwa Salib dan Penyaliban pasti terjadi karena keadilan Allah. Hukuman sudah dijatuhkan dan itu harus terjadi. Compromise no more. Tidak ada pilihan lain. Betuk penghukumannya juga sudah pasti seperti nubuat para Nabi. Ya, penyaliban yang adalah hukum yang amat mengerikan dan menghina itu tak boleh berubah. Tak bisa diubah. Harus seperti itu. Lalu apa yang membuat Yesus amat menderita? Menurut saya, Yesus amat menderita justru karena keterlibatan manusia, dalam hal ini Bangsa Israel sebagai ruang budaya kehidupan Yesus, dalam proses kejamnya Penyaliban. Mengapa tangan umat pilihan ini kembali harus berlumuran darah bahkan kali ini sampai hati membunuh anggota komunitasnya sendiri. Yesus yang mau memahami kedosaan manusia dengan segala konsekuensinya itu rupanya memasuki taman Getsemani dengan beban itu, yaitu bahwa Dia yang harus mati karena ulah manusia mengapa masih harus melewati jalan kematian di tangan manusia. Jika kematian-NYA adalah bentuk ultimat terhadap penebusan dosa bagaimana dengan tanggung darah oleh kaum pembunuh-NYA? Saya membayangkan dalam pergumulan batinnya yang dahsyat mungkin Tuhan Yesus berkata dalam hati-NYA

…”mengapa ya Bapa, aku digariskan harus mati oleh tangan manusia yang aku cintai itu? Tak adakah jalan lainkah? Aku adalah harapan bangsa degil ini …. Akulah harapan sebenarnya bangsa sesat ini…..jika aku harus mati, siapakah harapan mereka? Ya Bapa, mengapa aku harus mati di tangan mereka? Karena keadilan MU, adakah mereka diloloskan dari hutang darah atas kematian KU? … Ya Bapa, mengapa, hanya karena berbeda visi dan klaim kebenaran sepihak, Penyaliban ini harus terjadi….Ya Bapa, mengapa siklus pertumpahan darah atas nama perbedaan visi dan klaim kebenaran masih harus terjadi lama setelah Penyaliban ini?

Tentang ini saya mengajak anda semua untuk mengingat kisah Kain yang harus menerima hukuman atas pembunuhan yang dilakukan terhadap adiknya Habel. Anda juga tak boleh menutup mata terhadap fakta sejarah bahwa 40-50 tahun setelah penyaliban Yesus, Bangsa Israel dihancur leburkan oleh Romawi dan diserakan ke seluruh penjuru dunia. Kisah kelam bangsa Israel masih akan terus berlangsung amat lama sampai masa tangan berdarah si Monster Hitler yang membunuh 6 juta orang Yahudi. Anda harus mengingat bahwa ratusan juta nyawa meregang percuma selama perang Salib, perang antara kaum Protestan dan Katolik, di Eropa, WW I, WW II, Perang Vietnam, Perang Teluk, kerusuhan Mei 1998 di Indonesia, peristiwa 9-11 di New York dan ribuan peritiwa berdarah lainnya. Yesus mengetahui itu. Yesus mengenal betul kedegilan hati manusia kesayangannya itu. Pasti. Salib memang diperlukan tapi Yesus ragu akan kemauan manusia untuk belajar dari Salib. Dan karenanya Dia menangis.

Dalam perspektif yang saya tawarkan ini pusat perhatian saya bukanlah upaya Yesus untuk bernegosiasi dengan Sang Bapa tentang keluputan-NYA dari Penyaliban melainkan CINTA KASIHNYA YANG AMAT MURNI DAN TAK TERBATAS BAGI MANUSIA. Sisi inilah yang mengejutkan dari Yesus seperti yang dikatakan oleh Tim Stafford (2010) dalam bukunya “Surprised by Jesus” bahwa pribadi Yesus adalah pribadi yang sugguh sangat mengejutkan bagi banyak orang yang mengaku mengenal Dia. Salah satu ciri khas Tuhan Yesus adalah beliau selalu berpikir dalam suatu kesatuan persekutuan. Itulah penjelasannya mengapa Yesus yang sama sekali tidak memiliki dosa tetapi malah menyerahkan diri-NYA untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dia melakukan itu karena Dia solider dengan manusia yang berdosa dan membutuhkan pembaptisan. Itu pula penjelasannya mengapa Tuhan Yesus amat sering bergaul dengan mereka yang terpinggirkan, ayitu si pezinah, si pemungut cukai dan yang lainnya. Setiap tindak-tanduk Yesus selalu memberi petunjuk bahwa….”hei, aku mencintai kalian dan karena itu aku mau masuk dalam penderitaanmu, dalam kesusahanmu, dan bahkan …. dalam dosamu. Bayangkan, di tengah ancaman Salib yang akan dikenakan kepada-NYA, Yesus malah memikirkan manusia. Luar biasa.

Berkali-kali saya membaca Lukas 22: 42-44 dan saya selalu cemas akan “ketakutan” Yesus. Tetapi syukurlah, kali ini saya memahaminya dari perspektif yang berbeda. Yesus boleh saja menderita, cemas, gelisah atau takut sekalipun tetapi saya tahu kini bahwa obyek ketakutan-NYA bukanlah diri-NYA sendiri. Yesus pertama-tama tidak sedang berpikir kepentingan diri-NYA sendiri. Manusialah yang ada dibenak-NYA ketika DIA menghadapi maut. Itulah demonstrasi Cinta Kasih Yesus yang tak tertandingi. Di zaman ketika semangat mementingkan diri sendiri begitu merebak bukankah teladan YESUS terasa amat luar biasa? Ketika di Libya semua berperang melawan semua, ketika para pelaku teror bom di Indonesia hanya memikirkan isi kepalanya sendiri, dan ketika para petinggi DPR sibuk mencari-cari alasan pembenaran dalam pemborosan pembangunan gedung DPR yang baru, dan ketika para penggemar George Toisuta dan Arifin Panigoro sibuk memikirkan kepentingan diri mereka sendiri di PSSI maka teladan Yesus adalah oase penyejuk di tengah padang pasir kepentingan diri itu.

Sahabat Kristiani, jika perspektif ini bisa diterima maka jelaslah sudah Tuhan Yesus bukanlah pecundang nan penakut melainkan adalah sumber mata air cinta kasih yang teramat luas dan dalam. Inilah Yesus Tuhanku. Penebusku yang hidup. Kepada-NYA layak saya mempertaruhkan hidup dan peruntungan hidup. Ketika saya tak memperdulikan Dia malah Dia berpikir tentang saya. Dia menangis untuk saya. Dia gelisah karena saya. Dia takut karena memikirkan saya. Yesus memang Tuhan tapi Dia juga sungguh sahabat saya. Kepada saya dan anda YESUS telah menawarkan Syalom Allah. Maukah anda dan saya? Anda mau Yesus yang penakut atau Yesus yang bersahabat. Saya sudah membuat pilihan. Terserah anda.

SELAMAT PASKAH

Shalom Tuan Shalom Puan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s