cicak dan buaya dan kita semua: belajarlah dari ebony & ivory

Posted: November 1, 2009 in musik, Renungan
Dear Sahabat Blogger,

 

Satu dua hari belakangan ini, kita di Indonesia disibukkan dengan hingar bingar berita seputar “polisi VS KPK”, yang pernah dimetaforaka sebagai “cicak VS buaya”. Cicak adalah KPK sedangkan Buaya adalah polisi. Konon, Susno Duadji, seorang petinggi di jajaran kepolisian, pernah mengatakan begitu dan sudah barang tentu cicak bukanlah tandingan sang buaya. Pernah mendengar lagu “cicak di dinding”?. Ah, anda yang pernah kecil pasti kenal betul lagu itu. Hafal liriknya. Dalam kontek barang perkara “cicak VS buaya”, liriknya mungkin perlu diubah menjadi begini:

 

Cicak cicak di dinding
diam-diam menyadap
datang seekor buaya
haaaaaapppp….
cicak pun pingsan

Bagaimana, setujukah? Mungkin anda kurang setuju tetapi maaf dalam dunia nyata di Indonesia hari-hari belakangan ini, itulah kenyataannya. Polisi dengan berbagai dalih akhirnya menangkap Bibit dan Chandra. Dua petinggi KPK yang sebelumnya telah dilucuti kekuasaannya alias di non-aktifkan. Polisi dan juga, Presiden SBY dan juga Deny Indrayana yang jauh hari sebelum diangkat menjadi staf khusus presiden terkenal bermulut tajam terhadap berbagai kisah korupsi tetapi belakangan berubah manis, yakin betul bahwa penahanan itu adalah konsekuensi logis dari pelaksanaan proses hukum. Akan tetapi banyak pihak di luar “dia-dia orang” yang, kendati meyakini kebenaran proses hukum, berpendapat bahwa proses penaanan Bibit dan Chandra amat bertentangan dengan perasaan keadilan masyarakat. Konon para facebooker sejumlah hampir 200.000 orang memilih untuk berada di belakang Bibit dan Chandra yang dianggap sebagai “simbol perlawanan” terhadap upaya kriminalisasi dan pelemahan KPK. Kegeraman sebagian orang semakin meninggi ketika mister Anggodo Wijaya, sang penelepon yang tersadap KPK mendatangi Mabes Polri guna melaporkan KPK karena merasa tercemar nama baiknya. Entahah, apakah sebelumnya mister Anggodo terkenal memiliki reputasi bernama baik.

Begitulah, sahabat blogger terkasih, situasi Indonesia di akhir bulan Oktober dan memasuki bulan November. Panas dan Panas. Mungkin terpengaruh kondisi iklim Indonesia yang amat panas di musim kemarau panjang yang diperkuat oleh munculnya fenomena “EL Nino”. Saya tak mau ikut-ikutan latah melakukan analisis siapa benar dan siapa salah. Silakan anda membuka lembar koran dan atau membuka halaman-halaman berita di dunia internet untuk membaca dan menganalisinya sendiri. Simpulkan sendiri dan lalu katakan kepada hati nurani anda, kemana rasa keadilan anda akan berpihak. Saya cuma sekedar heran mengapa polisi dan KPK harus terlibat dalam perseteruan seperti itu. Banyak pihak mengatakan bahwa yang bertengkar adalah oknum dan bukan lembaga. Pernyataan itu benar tetapi pertanyaan saya adalah apakah lembaga jika bukan terdiri atas oknum-oknumnya? Setahu saya polisi dan KPK adalah produk huku resmi milik semua warga bangsa. Polisi ada untuk menalankan ketertiban umum dengan motto “to protect and to serve“. Bukankah KPK diadakan oleh kita semua agar kesejahteraan umum sebagaimana yang dimaksudkan di dalam Pembukaan UUD 1945 dapat berjalan tanpa “dicuri” oleh penyelenggaranya? Lalu, mengapa keduanya bertentangan? Atau jangan-jangan pemberi metafora “Buaya VS Cicak” terinspirasi oleh proses liar di dalam ekosistem alami, yaitu rantai dan jejaring makan.

Di alam, adalah tikus makan padi, ular makan tikus, ular dimakan elang dan seterusnya sampai ke puncak piramida makan-memakan, yaitu pemangsa terbesar adalah dia yang memakan semua yang berada di level bawahnya. Lawan dihancurkan. Bila perlu cukup dengan sekali kremus-an. Tingkat makan memakan di dalam ekosistem alam itu dipahami sebagai upaya guna menggambarkan bahwa supaya hidup adalah sah saya memakan semua yang lebih lemah dari pada saya. Lah, supaya tidak musnah dimakan maka semua yang berada di level bawah hendaknya berusaha memakan apa saja yang bisa dikalahkan. Dan bagi yang mereka yang terlalu lemah untuk memakan maka yang dikebangkan adalah taktif defensif. Tumbuhan kaktus yang tidak bisa memakan kambing lalu mengembagkan duri untuk melindunginya. Kembang Mawar yang cantik tetapi lemah itupun memilih jalan serupa kaktus untuk melindungi dirinya. Rumput kecil lemah itupun sebenarnya tak berdaya ditelan si sapi dan si api. Sekali ragut habislah dedaunannya. Benar begitu? Belum tentu. Dengan “amat licik”, si rumput menyembunyikan titik tumbuhnya di bawah permukaan tanah sehingga kedati daunnya habis ditelan mangsa tetapi rumput tetap hidup. Bekerja sama dengan semua organ renik pengurai, si rumput diam-diam memperkaya diri di dalam tanah dan …ccccuurrrrrr….begitu datang guyuran hujan, tumbuhah dia kembali penuh gaya di padang hijau itu. Begitulah di dalam alam, semua memakan semua dan semua berupaya menipu semua. Dalam konteks ini, buaya memang pemangsa yang lebih tangguh ketimbang cicak tetapi awas….cicak bisa menipu. Ketika datang bahaya, ekorpun diputuskannya dan heeeeiiii…cicakpun lari bersembunyi sembari mengintip peluang untuk memakan nyamuk. Lihatlah, si cicakpun ternyata adalah pemangsa juga bukan?

Jadi bagaimana? Pertama, polisi dan KPK dan kita semua tidak hidup di dalam rimba raya tempat berlangsungnya proses makan memakan secara bebas demi hidup; Kedua, Polisi dan KPK dan kita semua ada dalam keunikan struktur dan fungsi sendiri-sendiri tetapi sekaligus dengan itu kita semua terpanggil oleh suatu keterarahan untuk berbuat baik, yaitu apa yang disebut sebagai panggilan hati nurani; Ketiga, jikalau benar bahwa kita memiliki nurani maka apa yang seharunya kita lakukan adalah bekerja dalam semua tugas dan fungsi kita masing-masing, sebaik-baiknya dalam harmoni yang sama agar terpancar kebaikan, kemuliaan dan kasih sayang. Untuk itu kita bisa belajar dari gading Ivory yang di dalam deretan tuts piano berfungsi untuk menghasilkan nada-nada mayor. Lalu berdampingan dengannya adalah potongan bilah kayu Ebony yang bertugas untuk menghasilkan nada-nada minor. Di tangan seorang komposer atau artist yang baik maka perpaduan antara Ivory dan Ebony menghasilnya nada-nada merdu yang menyuarakan keindahan, kebaikan dan kasih sayang. Thomas Aquinas mengatakan bahwa “kita satu pada diri sendiri (unum in se)” dan sekaligus “kita juga satu dalam keterarahan tujan yang sama (unum ordinis)”. So, belajarlah kawan, untuk hidup berdampingan secara harmonis kendati kita berbeda. Saya mau mengasihi anda justru karena anda berbeda dari saya. Jikalau Ebony dan Ivory bisa, mengapa kita tidak?

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    “Ebony & Ivory”

    Ebony And Ivory live together in perfect harmony
    Side by side on my piano keyboard oh lord why dont we?

    We all know that people are the same where ever you go
    there is good and bad in everyone
    we learn to live we learn to give each other what we need to survive together alive

    Ebony and Ivory live together in perfect harmony
    side by side on my piano keyboard oh lord why dont we?

    Ebony,Ivory living in pefect harmony
    Ebony,Ivory oh..

    We all know that people are the same where ever you go
    there is good and bad in everyone
    we learn to live when we learn to give each other what we need to survive
    together alive

    Eboony and Ivory live together in perfect harmony
    side by side on my piano keyboard oh lord why dont we?
    side by side on my piano keyboard oh lord why dont we?

  2. embun777 mengatakan:

    Seperti biasa .. hee..hee..
    Pidionya ajah deh…

    Tabe Bung

  3. embun777 mengatakan:

    Tapi ngemeng2 masalah Cicak dan Buaya , no komeng..!
    saya ditugaskan sebagai pengamat yg baik ajah.. sebab DIAM mungkin lebih baik sebab kata embah.. Silence is Golden..
    hee..hee…
    *bilang ajah klo embun777 emang gak bisa ngomong..
    yaa.. takut salah.., sebab memang dari sononya gak punya modal pengetahuan bwat bicara…. alias… ya gitu deeh…

    SILENCE is GOLDEN

  4. gerithone mengatakan:

    MUAAAAAKKKKK

  5. fajroelaen mengatakan:

    Mau bilang apa bung. Ini Indonesia. Dibilang negeri bedebah eh banyak malaikatnya di bilang negeri malaikat eh banyak bedebahnya…huaaaaaaa…..puusiiiiingggg…..lagunya asyik boljug….

  6. joandry mengatakan:

    SEMAKIN LAMA SEMAKIN TIDAK KARUAN….MUNGKIN KITA MEMANG NEGERI PARA BEDEBAH sepeti puisi Adi Masardi,

    Puisi Negeri Para Bedebah
    Karya:Adhie Massardi

    Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
    Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
    Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
    Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

    Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
    Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
    Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
    Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

    Di negeri para bedebah
    Orang baik dan bersih dianggap salah
    Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
    Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
    Karena hanya penguasa yang boleh marah
    Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

    Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
    Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
    Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
    Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

    Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
    Usirlah mereka dengan revolusi
    Bila tak mampu dengan revolusi,
    Dengan demonstrasi
    Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
    Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s