saudaraku sebangsa dan setanah air (bagian II): from africa with love

Posted: Agustus 28, 2009 in musik, Politik Kebangsaan (Catatan I)
Saudara-saudara, sebangsa dan setanah air,

Dalam posting sebelumnya, beberapa sahabat di Kupang menanyakan kepada saya…heiii michael…sejak kapan lu belajar jadi doktor sejarah???? … lu pung gaya macam ke ahli sejarah sa eee … (bahasa Melayu Kupang yang berpadanan dengan …”michael, kamu bergaya bagai ahli sejarah). Saya cuma tersenyum simpul tidak mendebat apapun kata-kata sahabat saya itu. karena saya memang bukan seorang ahli sejarah. Hanya sekedar gemar membaca sejarah. Kata orang pandai, “sejarah adalah kaca spion yang dipakai untuk menengok sejenak ke belakang agar selamat sampai tujuan di depan”. Jadi, saya cuma seorang penengok cermin sejarah. Tak lebih tak kurang.Dalam kapasitas itu, saya ingin mengajak saudara-saudara sekalian agar berkenan, bersama-sama saya, menjadi penengok kaca spion sejarah. Ini Sejarah. Sejarah adalah cermin hidup yang perlu ditengok sekali sekala agar engkau berbahagia. Mau?

Seharusnya, posting kali ini berisikan perenungan saya terhadap hasil tengokan sejarah yang sudah saya lakukan sebelumnya. Itu sudah saya janjikan kepada anda tetapi saya menundanya sejenak karena ada “gambar” baru yang saya peroleh dari hasil tengokan melalui kaca spion sejarah tersebut. Gambar itu begitu menarik dan terlalu sayang jika saya menyimpannya untuk saya sendiri. Sekarang saya berbagi.

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah buku yang berkudul “Mapping Human History” yang ditulis oleh Steven Olson ng kali ini(2002). Beliau adalah seorang peneliti Amerika Serikat yang bekerja pada The National Academy of Science, The White House Office of Science and Technology Policy dan The Institute for Genomic Reserach. Lembaga-lembaga keilmuwan yang sangat berwibawa di Negerinya mister Obama itu. Melalui bukunya ini, Olson ingin memberitahukan kepada khalayak bahwa kendati secara sosi0-kultural dan antropologi umat manusia di muka bumu ini berbeda-beda tetapi sesunguhnya adalah satu pada awalnya. Saya teringat kisah di dalam Bible bahwa nenek moyang manusia itu satu yang berawal dari Adam dan Hawa. Sayapun teringat semboyan Negara Indonesia, negaranya sohib ==ANAK NKRI==, Pace Ruben, Mister Proxy73, Mbakyu Elizahayu, Bung Eman, dan sudah barang tentu negeri saya juga, BHINEKA TUNGGAL IKA.

Argumen Olson berangkat dari ribuan hasil penelitian pola-pola persebaran gen, chromosom dan DNA mitokondria berbagai ras di seluruh dunia. Olson mengatakan bahwa “Adam dan Hawa” adalah manusia yang berasal dari kelompok orang yang hidup di semak-semak di bagian Selatan Afrika (saya harap kita tidak usah mendebat pendapat Olson tentang hal ini dengan menggunakan referensi Alkitab dan atau kitab suci lainnya. Kita ikuti saja potret mister Olson). Orang-orang ini disebut sebagai “orang semak” (bush-man) yang hidup pada masa di antara 150 – 200 ribu tahun yang lalu (tuir banget ya???). Bagi yang sulit membayangkan oraang-orang semak maka coba ditonton kembali film lawas “God’s Must be Crazy”. That’s they are.

Kemudian, sekitar 100.000 tahun lalu kelompok manusia Afrika ini, melakukan “gerakan” apa yang disebut sebagai “out of Africa”. Salah satunya, yang terkonfirmasi dengan beberapa bukti antrophologi, adalah kelompok yang meninggalkan tanduk Afrika menggunakan rakit menyeberangi Laut Merah sampai ke Jazirah Arab. Lalu, mengitari Teluk Persia menyusuri garis pantai Iran dan Pakistan, ke selatan berjalan di sepanjang pantai India, kembali ke utara menuju muara-muara sungai Gangga dan akhirnya tiba di Asia Tanggara. Mereka terus bergerak. Sebagian orang berada di Asia Tanggara ini bermigrasi menuju Asia Timur mencapai Jepang. Sebagian bermigrasi ke arah Pulau-Pulau Formosa (sekarang Taiwan). Sebagian lagi me neruskan perjalanan ke timur dan mendarat di daerah yang sekarang disebut sebagai Indonesia. Sebahagiannya lagi meneruskan perjalanan ke arah selatan dan berdasarkan bukti-bukti hasil analisis DNA mitokondria terkini, pada sekitar 65.000 tahun yang lalu kelompok manusia yang berasal dari Afrika mendarat di Australia. Merekalah nenek moyang orang-orang Aborigin. Orang-orang ini disebut sebagai “orang-orang Melanesia”.

Fakta DNA dan antropologis lainnya juga menunjukkan bahwa terdapat gelombang migrasi kedua dari kelompok “out of africa” menuju Asia, yaitu terjadi pada sekitar 40.000 tahun yang lalu. Sekelompok orang yang berdiam di Asia Barat, yang tadinya telah ditinggal pergi oleh mereka yang telah mencapai Australia, bermigrasi menuju Asia Timur. Sebelum mereka mencapai Asia Timur, mereka membentuk kelompok-kelompok di Asia Tengah. Sebagian di belakagn ahri bergerak menuju Siberia dan sebagian lainnya terus bergerak ke arah Timur. Di sana mereka bertemu dengan kelompok orang yang berasal dari Australia lalu bercampur baur. Kelompok hasil pembauran ini kemudian bergerak kembali ke barat menuju Asia Tengah, terutama di daerah yang sekarang dikenal sebagai Tiongkok. Dan seperti yang telah dikemukakan pada tulisan terdahulu, kelompok yang belakangan disebut sebagai ras Mongoloid dan ras Austronesia, adalah kelompok orang yang bermigrasi menuju Asia Tenggara dan terus ke Indonesia sekarang ini dalam dua gelombang migrasi. Di Nusantara bagian Barat, mereka mendominasi dan memaksa orang-orang yang disebut sebagai ras Melanesia untuk berpindah ke arah lebih timur Nusantara. Dan, sejarah Indonesiapun dimulai.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Membaca uraian Olson, saya tertegun. Jika Olson benar, dan sampai sekarang teori ini belum terbantahkan, maka pertanyaannya adalah siapakah yang disebut sebagai orang Indonesia asli? yang paling berhak mengklaim diri sebagai pemilik Indonesia?

Dilihat dari urut-urutan kedatangan maka seharusnya yang berhak mengklaim diri sebagai orang Indonesia adalah kawan-kawan yang disebut sebagai keturunan ras Melanesia. Mengapa demikian? Ya, karena merekalah yang eksis di Nusantara Pasca punahnya kelompok Homo erectus yang pernah hidup di Jawa telah punah sebelum kedatangan manusia moderen (Homo sapiens sapiens) dari Afrika itu. Jika begitu maka, mengapa orang Papua harus merasa sebagai “orang menumpang” di Indonesia dan oleh karena itu merasa perlu untuk memisahkan diri dari Indonesia? Bukankah merekalah sebenarnya yang pertama kali berada di Nusantara ini? Tetapi nanti dulu, jika ditarik lebih ke belakang lagi maka bukankah orang yang belakangan disebut sebagai ras Melanesia, sebenarnya adalah orang yang berasal dari Jazirah Arab. Tetapi, itupun masih nanti dulu, karena bukankah mereka yang berada di Jazirah Arab itu adalah orang yang berasal dari Savana Afrika Selatan – bushman? Bahkan jika orang-orang Austronesia yang berhasil menekan orang Melanesia berpindah ke timur maka merekapun adalah orang yang dahulunya berasal dari Jazirah Arab dan dahulunya lagi berasal dari Savana Afrika Selatan. Jika semua hal betul begitu maka taka pelak lagi seharusnya Indonesia dapat diklaim sebagai wilayah hasil temuan orang -orang Afrika dan Indonesia adalah milik orang Afrika. Orang Asli Indonesia ternyata adalah orang Afrika. Dari sana kita berasal. From Africa we are come from. From Africa with love. Anda mungkin tidak suka dengan kesimpulan ini tetapi logika dan hasil temuan ilmiah dari data-data DNA mitokondria yang diolah oleh Olson membuktikan itu.

Pada akhirnya, hal yang paling membuat saya tertegun adalah kesimpulan akhir dari Olson, yaitu sebenarnya yang dikatakan sebagai perbedaan ras adalah tidak ada. karena kata ras itu sendiri tidaklah signifikan. Semua kita berasal dari asal-usul DNA mitokondria yang sama yang hidup pada sekitar 200.000 tahun yang lalu di Savana Afrika bagian Selatan. Adalah perubahan tertentu yang dialami oleh gen-gen mitokondria – mutasi – dan pengalam dalam perjalanan orang-orang yang bermigrasi keluar dari Afrika itulah yang membuat kita berbeda-beda sekarang ini. Saya ingin mengutip secara literalis apa yang dikatakan oleh Olson di bagian akhir tulisannya untuk kita renungkan bersama.

Jika seseorang masuk ke sebuah ruangan yang berisikan orang-orang Palestina dan Israel dari Timur Tengah, atau orang-orang Serbia dan Albania dari Balkan, atau orang-orang Katolik dan Protestan dari Irlandia, atau orang-orang Muslim dan Hindu dari India Utara, atau orang-orang Dayak dan Madura dari Indonesia, kemudian memberi mereka pakaian yang sama dan memotong rambut mereka dengan model yang sama, dan melarang mereka untuk berbicara atau menunjukkan isyarat tertentu, maka Anda tidak dapat menentukan asal-usul kelompok mereka – setidaknya sampai anda mengamati mereka secara saksama. Pihak-pihak yang saling yang terlibat dalam konflik-konflik keras ini mempunyai etnisitas yang berbeda tetapi sebenarnya mereka sebenarnya memiliki hubungan biologi yang sangat erat dalam sejarah ketika manusia belum melahirkan perbedaan-perbedaan fisik.


Saudar
a-saudaraku, sebangsa dan setanah air.

Demikianlah kutipan literal itu saya lakukan untuk kita pikirkan dan renungkan bersama-sama maknanya. Sekarang, saatnya saya harus berhenti sampai disini dahulu. Akan saya sambung dalam posting berikutnya dengan hutang-hutang yang masih banyak. Saya belum melnjelaskan apa makna tulisan Olson dalam konteks ke-Indonesiaan. Saya juga masih berhutang jawaban kepada saudara-saudara terhadap pertanyaan yang saya ajukan: …”benarkah kita ini sebangsa dan setanah air?”…Saya, bahkan, sekarang memiliki hutang baru, yaitu kewajiban untuk menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan DNA mitokondria, mutasi gen, pembentukan etnisitas, budaya dan bahasa – paling kurang menurut perspektif saya. Begitulah, saya selesaikan saja dahlu bagian ini. See you next posting. God Bless Indonesia.


Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    “Africa”
    by toto

    I hear the drums echoing tonight
    But she hears only whispers of some quiet conversation
    She’s coming in 12:30 flight
    The moonlit wings reflect the stars that guide me towards salvation
    I stopped an old man along the way
    Hoping to find some long forgotten words or ancient melodies
    He turned to me as if to say, “Hurry boy, it’s waiting there for you”

    Chorus:
    It’s gonna take a lot to drag me away from you
    There’s nothing that a hundred men or more could ever do
    I bless the rains down in Africa
    Gonna take some time to do the things we never had

    The wild dogs cry out in the night
    As they grow restless longing for some solitary company
    I know that I must do what’s right
    Sure as Kilimanjaro rises like Olympus above the Serengeti
    I seek to cure what’s deep inside, frightened of this thing that I’ve become

    Chorus

    (Instrumental break)

    Hurry boy, she’s waiting there for you

    It’s gonna take a lot to drag me away from you
    There’s nothing that a hundred men or more could ever do
    I bless the rains down in Africa, I bless the rains down in Africa
    I bless the rains down in Africa, I bless the rains down in Africa
    I bless the rains down in Africa
    Gonna take some time to do the things we never had

  2. jeremy mengatakan:

    horeeee…indonesia ternyata milik orang Papua tapi mengapa kami di Papua menderita??????

  3. uyun mengatakan:

    Very good posting tetapi harap berhati-hati dalam menarik kesimpulan

  4. Cyril mengatakan:

    Semua manusia itu anak cucu adam dan hawa yg punya 4 orang anak. Kemudian terjadi perbedaan fenotip dan pencampuran. Bgitulah kekuasaan allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s