kami perlu 3 roti, pinjamkanlah

Posted: Juli 13, 2009 in musik, Renungan

Dear Sahabat Blogger,

“If any of you has a friend, and goes to him in the middle of a the night and says, ‘Lend me three loaves, my dear fellow,”

Agak berbeda dari posting-posting sebelumnya, saya memulainya kali ini memberikan sebuah kutipan bagi sahabat budiman sekalian. Bagi saya, suasana yang ada di dalam kutipan itu terasa aneh. Amat aneh. Bayangkan saudaraku, di tengah malam ketika saya, anda dan kita semua sedang menikmati lelapnya tidur, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan, mungkin lebih dari 1 buah ketukan lagipula keras dan berdentam, …tok tok tok….TOK TOK TOOOKKK…..terganggukah tidur anda? Hampir pasti ya. Tak percaya saya jika anda mengatakan “tidak”. Belum hilang rasa dongkol tagal ketukan itu, saya jamin anda akan semakin kesal mendengar maksud ketukan itu. Betapa tidak jika yang terdengar adalah…”pinjamkanlah 3 roti bagi saya”…alaaaaamaaaaakkkkkk…..”roti kau bilang????” … “lha guwa makannya lalu apa?” …”3 lagi mintanya”…. “enak ajaaaahhhh”…..

Begitulah sahabat sekalian, tak jarang dalam hidup kita, ketika situasi sedang tidak mengenakkan, datang sebuah atau beberapa buah ketukan permintaan tolong…..”pinjamkanlah roti”….. Marah to. Kesal to, Dongkol to….arrrggghhhh…..brrrrrrrr……tak tahu malu amat si lu…..tengah malam minjam…ahaaaaa….sayapun harus sampai menggunakan 2 alinea untuk menuliskan ketidak nyamanan situasi ketika permintaan tolong itu datang. Lihatlah acara reality show di stasiun TV swasta kita, yaitu acara “minta tolong”…..betapa kurang sukannya orang-orang itu yang di tengah jalan, sedang berjualan, sedang panas-panasan menunggu kendaraan, sedang pusing mikirin isteri sakit tetapi kok ada yang minta tolong……wwwwwwrrrhhhh…..tak tahu malu si peminta tolong itu…….sssttttttt…cukup di sini saja dahulu kegeraman saya untuk situasi yang idak nyaman itu tetapi ijinkan saya mengajukan 2 pertanyaan ini:

  1. Siapakah kita yang tidak pernah menerima permintaan tolong dalam situasi “tengah malam”?
  2. Siapakah kita yang tidak pernah meminta tolong?

Pemilu Presiden baru saja lewat. Hasil perhitungan cepat menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memilih untuk “melanjutkan” hidup berbangsa dan bernegara di dalam perahu NKRI yang dinakhodai leh SBY-Boediono. Dengan mengabaikan barang sedikit tentang perasaan suka-tidak suka, kerumitan kerja KPU yang tak beres-beres, protes-protes dari psangan yang kalah, maka tak ada pilihan lain bagi kita, temasuk saya, selain mengucapkan “selamat terpilih” bagi SBY-Berboedi. Silakan merancang cara terbaik untuk mengemudikan perahu NKRI milik kita bersama dalam mengarungi ganasnya perikehidupan berbangsa dan bernegara sampai 5 tahun ke depan. Sekali lagi selamat. Tetapi untuk anda berdua tolong dengarkan kami, yaitu rahayat jelata di negeri ribuan pulau ini, kendati hari masih gelap dan belum lagi subuh, pinjamkan kepada kami 3 buah roti. Roti-roti apakah saja itu?

Kami perlu 3 roti seperti yang pernah dibuat oleh Aristoteles 2400 tahun yang lalu. Roti-roti itu adalah roti kenikmatan, roti politik dan roti filsafat. Apa pula itu? Begini.

Menyambung tulisan saya kali lalu tentang tujuan hidup, Aristoteles mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengejar kebahagiaan. Saya setuju. Kawan-kawan juga tampak setuju, Tetapi masalahnya adalah hidup macam apa? Sikap hidup macam mana? Aristoteles mengajukan 3 perkara, yaitu mengejar kenikmatan, berpolitik dan berfilsafat. Menerangkan maksudnya yang pertama, Aristoteles mengingatkan bahwa jangan terjebak kepada asal mengejar kenikmatan dan menjauhi rasa sakit semata karena jika demikian harafiah anda memaham maka hidup demikian adalah cara hidup seekor kambing. Cara hidup binatang. Kambing hanya tahu berkelana, makan, minum, buang air, mengembik, kawin, tidur, bangun dan begitulah seterusnya. Hanya itu. Cuma itu. Betapa memalukannya. Oleh karena itu, yang seharusnya dicari adalah hidup yang nikmat karena berbuat baik dan sakit ketika berbuat kejahatan. Itulah roti Arstoteles yang pertama. Selanjutnya, supaya anda dapat disebut berbahagia maka berpolitiklah anda, yaitu kejarlah kebaikan secara bersama-sama. Maka, anda memerlukan kerja untuk bernegosiasi, bersepakat, dan bersepaham. Bekerjalah dan siasatilah hidup. Itulah roti kedua warisan Arstoteles. Dan, roti ketiga Aristoteles adalah berfilsafatlah karena dengan itu anda akan tersu menerus mengembangkan diri supaya semakin hari semakin bijaksana. Maka, wahai SBY-Boediono berikanlah, eh pinjamkanlah kami 3 roti itu. Punyakah kalian?

Baiklah jikalau roti-roti Aristoteles itu tidak anda punyai maka punyakah anda 3 roti lainnya? Roti apakah itu? Ini: roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Apa pula ini?

Seorang Teolog besar, sebut saja sebagai mister Paul dari Tarsus, pernah mengatakan bahwa ada 3 roti paling penting bagi manusia, yaitu roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Tetapi ingatlah, katanya, jika anda punya 1 saja dari antara ketiganya maka anda akan berbahagia karena roti yang 1 itu adalah yang terbesar, ternikmat, tergurih dan paling bergizi, yaitu roti cinta kasih. Roti kepercayaan adalah bagaimana saya dapat mengandalkan seseorang guna menolong saya ketika saya memerlukan pertolongan. Roti keyakinan adalah bagaimana saya dapat begitu optimis dalam harapan saya bahwa anda yang saya andalkan itu betul-betul dapat menolong saya ketika saya membutuhkannya. Akhirnya adalah roti cinta kasih, yaitu bahwa percaya dan berharap adalah satu perkara tetapi dapatkah anda yang saya percayai dan saya harapkan itu mau bertindak karena anda mencinta saya. Jangan-jangan bagi anda saya hanyalah sekedar angka, yaitu 60% rakyat yang memilih anda sebagai pemimpin saya. Lebih celaka lagi jika bagi anda saya adalah orang yang berada di luar 60% itu. Jangan-jangan bagi anda saya cuma 1 di antara 230 juta orang Indonesia. Atau malah, bagi anda, saya hanya sekedar angka 1. Tak lebih dan tak kurang yang kehadirannya dapat dianggap nol (0). Tak ada apa-apanya. Jika demikian maka tak ada gunanya sama sekali saya punya dua roti, yaitu kepercayaan dan harapan karena roti ketiga, yaitu cinta kasih dari anda,tak saya miliki. Tanpa punya cinta kasih maka sama artinya dengan tidak punya apa-apa. Percaya adalah kepercayaan yang hampa. Harapan adalah harapan yang kosong. Wahai Bung SBY-Boediono, punyakah anda ketiga roti itu? Jika ada, tolong berikanlah, eh pinjamkanlah, kepada saya. Saya sangat membutuhkannya sekarang.

Begitulah sahabat blogger terkasih. Roti-roti yang saya perlukan dalam hidup saya. Mungkinkah anda juga memerlukan roti-roti itu? Ya pasti. Paling kurang begitulah menurut Aristoteles dan Paul Van Tarsus karena roti-roti itu adalah roti bagi jiwa. Roti bagi hidup. Roti bagi semangat. Roti bagi badan. Bisakah badan anda berasa sehat tanpa kasih sayang? Jika jawaban anda maka saya kasi tahu ya…itulah sebabnya kita semua memerlukan roti-roti itu…itulah sebabnya, saking butuhnya” orang-orang aka roti-roti itu maka kendati “di tengah malam-pun” pintu kita akan berbunyi diketok orang dan terdengar suara meratap…pinjamkan 3 roti Bung…. 3 roti saja Soezs…

Maka, sekali lagi. Adakah roti-roti itu pada SBY-Berboedi? Adakah roti-roti itu pada anda? Apa? Anda juga, sama seperti saya, sedang berburu roti yang sama?…. walaaaaahhhhh….ya sudah saya tahu kemana saya, dan sahabat saya semua di blog ini harus mencarinya, yaitu kepada sumbernya. Siapa DIA? Sang Khalik.

Ya, Khalik-ku terkasih, di tengah malam pekat ini, sudikah meminjamkan 3 ketul roti milik-MU kepada kami?

Sambil menunggu jawaban Sang Khalik, yang kadang tampak diam bak Megawati, maka mari kita menghibur diri dengan sebuah lagu yang dibikin oleh Iwan Fals yang di masa ORBA pernah meminta roti kepada penguasa, yaitu roti “pesawat tempur”. Bagaimana? Asiiiiiiiiiiik toooooooooooo uuueenak tooooooooo haaaaaaa haaaaaaaaaaaa haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    Artist : Iwan Fals
    Lirik Lagu : Iwan Fals – Pesawat Tempur

    Iwan Fals – Pesawat Tempur

    Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar
    Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu
    Seperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum
    Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur

    Hei… kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyi
    Sebentar saja nona, sebentar saja hanya sebentar

    Rayuan mautku tak membuat kau jadi galak
    Bagai seorang diplomat ulung engkau mengelak

    Kalau saja aku bukanlah sudah kupacari kau
    Jangan bilang tidak, bilang saja iya…
    Iya lebih baik daripada kau menangis

    Penguasa…penguasa…
    berilah hambamu uang
    Beri hamba uang 2x

    Oh.. ya andaikata dunia tak punya tentara
    Tentu tak ada perang yang makan banyak biaya
    Oh…ya andaikata tak punya tentara
    Tentu tak ada perang yang makan banyak biaya

    Oh… ya andaikata dana perang buat diriku
    Tentu kau mau singgah bukan cuma tersenyum
    Kalau hanya senyum yang engkau berikan
    Westerling pun tersenyum

    Oh… singgahlah sayang …pesawat tempurku
    Mendarat mulus didalam sanubariku

  2. annarahardian mengatakan:

    amazing idea. Keep on psoting

  3. dahfy mengatakan:

    woukelaaahhhh…..iman, harap dan kasih….

  4. embun777 mengatakan:

    Tulisan BM.. selalu dahsyat..!!
    saya selalu baca cuma gak berani komeng klo di Blgspot.
    Trims.
    Salam.

  5. gerithone mengatakan:

    Mantap. Filsafat Aristoteles jadi mudah dimengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s