takut, taattuuuttt…atuuuuutttttttt……emang enaaakkk????

Posted: Juni 17, 2009 in musik, Renungan
Dear Sahabat Blogger,

Berikut ini ingin saya ceriterakan sebuah ceritera yang saya sadur dari sebuah tulisan karya almarhum Pendeta Dr. Eka Darmaputera. Seorang Teolog Kristen Indonesia yang amat saya kagumi lantaran kejernihannya berpikir. Mau tau ceriteranya? Baiklah. Ini:

Suatu ketika, meninggal seseorang yang bernama Pak Meda’u. Semasa hidup, almarhum adalah seorang wakil direktur sebuah perusahaan swasta yang amat besar. Bukan itu saja, beliau juga seorang tokoh di Gereja tempat dia dan keluarganya beribadah. Di situ beliau pernah bertahun-tahun ikut melayani sebagai seorang Majelis Gereja. Dalam perjalannya menuju meja penghakiman terakhir, Pak Meda’u terlebih dahulu harus mengisi kartu register di depan pintu Surga. Di situ, di depan pintu gerbang itu, berdirilah seorang penjaga yang bertugas untuk melakukan wawancara pendahuluan guna memastikan kategori orang macam apa yang akan menghadap meja penghakiman terakhir. Dan terjadilah percakapan berikut ini:

+ Nama????
(karena suasana agak bising, Pak Meda’u tak begitu jelas mendengar dan akibatnya cuma celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan)
+ Hoooiiiii….NAMA…..
– Eh, maaf Pak…
+ Ya, anda. NAMA?????
– Eh, anu, eeeeehhh….Meda’u pak….maaf….
+ Nah, gitu dong. Baiklah. Coba ceritakan secara rongkas …(eh maaf…keliru….itu nama adik ipar saya …isteri si DTN…he he he he….)…coba ceritakan secara ringkas….bagaimana anda hidup selama di dunia
– Wah, saya ini Kristiani yang baik selama hampir 70 tahun…kecil dulu, rajin sekolah minggu…lalu, aktif di kebaktian remaja…lalu, aktif mengikuti paduan suara….lalu, pernah menjadi majelis 4 peroide…lalu, eeehhh….sampai waktu ke sini, tercatat sangat aktif di persekutuan doa lho pak….cukup???? (Pak Meda’u mencoba pamer jasa sambil diam-diam melirik air muka si penjaga…waddduuuuhhhh…keliahatnnya si penjaga belum terkesan dan masih saja merengut….)
– Oh, tolong juga dicatat pak….rajin memberi persembahan…..perpuluhan selalu pol-polan tidak pernah kurang …aktif juga di panitia Natal….eeehhh….(Pak Meda’u melirik lagi…waaaahhhh…cilaka nih…si penjaga tetap saja manyun…nggak tertarik sama kisah Pak Meda’u….)
– Oh, eeeh…aaaahhhhaaaa….jangan lupa pak….tiap tahun saya menyumbangkan pakain-pakaian bekas yang masih bagus pak….kan pakaian saya kebanyakan belinya di butik-butik terkenal atau dijahitkan pada desainer-desainer top….lalu 3 bulan sebelum ini, saya juga menyumbangkan 1 truk gula…beras….supermi…kepada para korban banjir….
(tanpa memberi reaksi positif sedikitpun kepada laporan pak Meda’u, si Penjaga bertanya kepada Pak Meda’u)
+ Mengapa dengan uangmu yang banyak itu, kamu tidak menyantuni anak-anak miskin yang hidup di kolong-kolong jembatan supaya mereka bisa bersekolah?????
– Ooohhh, yang itu…begini Pak,…mau sih mau tetapi saya takut …uang saya cepat habis dan tidak cukup untk biaya hidup saya dan keluarga…..(Pak Meda’u memberikan alasan)
+ Mengapa anda mau begitu saja disuruh bos anda untuk melakukan pemalsuan pembuakuan perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi negara trilyunan rupiah????
– Waduuuhh Pak, sebetulnya, waktu itu saya bergumul sekali pak…Bahkan saya bawa dalam doa dan nazar tapi…saya kan takut dipecat pak…kalo sampe dipecat siapa yang memberi makan anak isteri saya pak….saya takut masa depan mereka bakal suram…..etangga anda menabokin isterin
+ Mengapa anda diam saja ketika tetangga anda, si rajateganas, menggebuk isterinya sampai hampir mati????
– Maaf Pak, waktu itu saya mau menegurnya tetap saya takut diberi cap sebagai tetangga yang suka mencampuri urusan orang lain…..lagian pak sirajateganas kan orangnya tinggi besar dan eks atlet beladiri kan pak??? wah, bisa-bisa saya dihajar mampus juga pak,,,saya takut pak…
+ OOOOOO, ….Meda’u…Meda’u…..sayang sekali ya…..anda itu terlalu dikuasai rasa takut…takut ini…takut itu….berbuat baikpun anda takut…ck ck ck ck ck ck..raportmu bakal merah nih….
– (sambil gemetar)…Pak…Pak… supermi tadi
enggak ngaruh yaaaaaa.????

Begitulah Sahabat Blogger, kisah sekali-sekala hasil reka-reka saya yang menyadur Dr. Eka Darmaputera almarhum. Kelihatannya, Pak Meda’u adalah contoh orang yang terlalu dikuasai rasa takut sebegitu rupa sehingga menghalanginya berbuta baik. Bagaimana anda? Dan sudah barang tentu bagaimana saya? Terus terang saja, saya sebenarnya manusia penakut. Sekali kala, sewaktu kecil, saya ingin diadu oleh abang saya dan temannya yang sebaya (konon teman si abang saya tersebut, sekarang sudah menjadi seorang pendeta ha ha ha ha) untuk menantang berkelahi seseorang yang tubuhnya jauh lebih besar dari saya. Sebut saja si bongsor. Saya ngat betul kata-kata si abang dan temannya…pergilah dan tantanglah si anu untuk berkelahi dengan kau …. jangan kuatir ….. nanti kalau dia menghajarmu … kami akan pergi dan mengeroyok dia … habis dia nanti….Saya sebenarnya takut pada si bongsor…tetapi lebih takut lagi kepada si abang dan temannya itu …maka saya pun pergi menghampiri si bongsor dan…..wuuuuuzzzzhhhh….saya melakukan salto bolak-balik di dekat dia…..ha ha ha ha…datanglah si abang dan temannya….

+ hoooiii…kenapa bukannya menantang berkelahi malah salto bolak-balik?????
– Eh…..sengaja saya salto bolak-balik…nanti kalo dia lihat aksi saya…baru saya pukul dia…
+ Ya sudah ….. sekarang pergi dan pukul dia…
– waaaaahhhh….tidak bisa lagi…terlanjur capek salto bolak balik…..

Saya takut. Anda tidak takut? bisa ya bisa tidak tetapi mohon maaf…saya ragu jika anda tidak punya rasa takut…kecuali anda tidak normal….Lho????? Ya, seorang psikolog (Lewis, 2007) mengatakan bahwa setiap manusia normal pasti sekali waktu mengalami proses fisiologi normal, mekanisme hormonal yang amat normal, yang menimbulkan perasaan takut. Ya, takut adalah emosi. Dan hal itu normal. Bahkan menurut Lewis, Takut memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Emosi takut membuat seseorang mampu menghindari bahaya karena memberikan peringatan darurat. Adanya takut membuat seseorang mampu berlari menjauh dari bahaya. Fobia sebagai antisipasi takut juga sangat penting. Fobia terhadap tempat dan hal-hal berbahaya membuat orang tidak menceburkan diri pada bahaya yang mungkin mengancam jiwanya. Ada dua mekanisme yang membuat takut bisa menghindarkan seseorang dari bahaya. Pertama, takut berfungsi mengatur tubuh untuk kabur dan memfokuskan perhatian pada hal tersebut. Saat seseorang takut, fokusnya hanyalah untuk kabur semata. Kedua, takut bisa membuat kesadaran terputus, gerak refleks dicegah dan bahkan menyebabkan pingsan. Dalam kondisi pasif ini, seseorang bisa juga terhindar dari bahaya.

Jikalau benar bahwa emosi takut adalah perkara normal dan manusiawi maka apa masalah dengan Pak Meda’u? Kata Lewis,Orang-orang yang disebut sebagai pemberani adalah orang-orang yang mampu belajar guna mengatasi perasaan takut. Dalam keadaan takut yang teratasi maka takut tidaklah menguasai diri sesorang dan lalu menghalang-halangi dia untuk berbuat apa yang harus dikerjakannya. Apa yang baik. Apa yang benar. Bagimana mengatasi rasa takut? Kata Lewis, kenalilah alasan-alasan anda menjadi takut dan dia memberi 4 kategori alasan untuk takut, yaitu

  1. Takut pada kejadian interpersonal. Misalnya takut dikritik, ditolak, berkonflik, dan diserang orang lain;
  2. Takut karena permasalahan eksistensial. Misalnya takut pada kematian, luka badan, darah, pembedahan, dan penyakit;
  3. Takut pada binatang. Misalnya takut pada binatang buas, pada berbagai jenis serangga, dan pada beragam jenis reptil, seperti ular;
  4. Takut yang berhubungan dengan tempat. Misalnya takut pada keramaian, takut pada ketinggian, takut pada tempat tertutup, takut melakukan perjalanan sendirian, dan lainnya.

Kendati begitu, Branislaw Malinowsky, seorang Psikolog, Sosiolog dan Teolog sekaligus (walaaaahhh, ramai amat keahlian orang ini) mengatakan bahwa penyebab hakiki dari seseorang menjadi takut adalah “ketidakpastian”. Dalam keadaan sesulit apapun, selama ada kepastian, manusia tidak akan menjadi takut. Lalu apa itu kepastian? Kata Malinowsy adalah jawaban yang selalu tersedia untuk pertanyaan apa saja. Dengan perkatan lain, kepastian adalah ketika di kepala anda sama sekali tidak pernah ada kekosongan informasi apapun. Apakah hal ini bisa dan pernah terjadi? Jawabnya adalah TIDAK. Eisntein yang kesohor pandai itupun terpaksa merasa kuatir bahwa postulatnya tentang determinisme alam raya terpatahkan oleh teori ketidaktentuan oleh Bohr dan kawan-kawan. Saking kuatirnya, Eisntein merasa perlu membawa-bawa Tuhan dalam wacananya…si Tua tidak pernah bermain dadu…

Jadi, sekali lagi, takut atau emosi takut adalah normal dan manusiawi karena ketidakpastian adalah normal dan juga manusiawi. Kembali ke kasus Pak Meda’u. Apa masalahnya? Ya, anda benar menebaknya, yaitu Pak Meda’u terlalu takut akan ini dan itu lalu membiaran perasaan takutnya mengalahkan semua pikiran jernihnya. Bukan hanya itu, perasaan takutnya ternyata menguasai diinya bergitu rupa sehingga mengahali nuraninya untuk berbuat hal-hal yang baik, benar dan bertanggungjawab.. Pak Meda’u ternyata diperhadapkan pada 2 pilihan, yaitu berbuat yang seharusnya dan menerima resikonya. Pak Meda’u tahu persis apa yang seharusnya dia perbuat tetapi tidak mau memiku resikonya. Anda dan saya tahu bahwa memasak makanan berarti harus mulai menyalakan kompor tetapi tidak berani menerima resiko terkena pancaran energi panas. Lalu, kita memilih untuk tidak memasak dan lapar dan sakit dan ….. KO. Anda dan saya tahu persis bahwa kerabat kita sedang menderita sakit dan perlu dibawa ke dokter tetapi kita tak mau menerima resikonya, yaitu kemungkinan uang kita berkurang karena ikut membantu dia pergi ke dokter dan berobat. Lalu, kerabat kita menderita dan mati. Lalu, kita hidup dalam penyesalan seumur hidup. Konyol bukan? Ya, begitulah tetapi cobalah diperiksa betul-betul, apakah benar anda dan saya lebih baik dari Pak Meda’u? Saya tidak taahu apa jawaban saudara tetapi kalau salah mau jujur: saya tidak kalah konyolnya kebanding Pak Meda’u.

Bagaimana solusinya? Saya bukan ahli psikologi dan oleh karena itu saya kuatir bahwa usulan saya tidak ada gunanya tetpai baikla saya mencoba mengatasi rasa takut saya lalu memberinikan diri mengusulkan 2 perkara ini. Apa itu? Pertama, hadapilah ketakutan. Jangan berlari darinya. Ketika ketakutan itu datang, tataplah dia dengan tajam. Kenalilah dia sebaik-baiknya. Bagaimana simpelnya? jangan malu untuk mengaku takut karena itulah kecenderungan yang manusawi, yaitu berbohng untu menutupi rasa malu. Mengaku takut adalah memalukan dan oleh karena itu, jangan mengakui perasaan takut. Kita malu tertangkap basah sedang merasa takut. Malu mgnakui merasa takut mungkin baik tetapi heeee….ingatlah…hal itu hanya sejenak karena selanjutnya anda harus bersiap untuk menjadi pembohong seumur-umur sembari hidup dalam cengkeraman perasaan takut. Akibatnya? anda tidak pernah berani mengambil resiko apapun. Dan lalu, anda hidup bagai katak dalam tempurung. Tempurung itu bernama “ketakutan”. Apakah saya tampak jumawa dengan prinsip ini? tidak juga karena dahulu kala, ada sesorang yang dengan tidak malu-malu mengatakan bahwa …Aku merasa takut dan gentar. Seperti mau mati rasanya….Orang ini takut menghadapi penderitaanya tetapi Ia tidak berlari. Dia menghadapi penderitaannya dengan amat berani kendati tinggi bayarannya. Besar resikonya, yaitu nyawa-NYA sendiri. Dan saya mau kasi tau anda, bagaimana nasib akhir orang ini: He is the Winner. Nilai-nilai yang dibawa-Nya, menguasai peradaban dunia.Dan semuanya berawal dari satu perkara kecil, yaitu berani mengakui perasaan takut dan lalu mengatasinya.

Hal kedua adalah ini: berani menghadapi ketakutan adalah satu perkara tetapi mengalahkan perasaan takut adalah perkara berikutnya. Ketika perasaan takut itu datang dan kita telah mengakui serta berusaha mengatasnya, kadang-kadang perasaan takut itu begitu besar dan kita tak mampu menghilangkannya sama sekali. Ketika itu anda memerlukan orang lain untuk berbagi dan saling memberikan penguatan. Inilah gunanya persahabatan. Friend in need is friend indeed. Beres? Bisa ya dan bisa pula tidak. Tokoh saya, ketika menghadadi ketakutan, merasa perlu membawa 2-3 orang sahabatnya untuk duduk berjaga-jaga bersama dengan-NYA tetapi amboiiii…sahabat-sahabatnya tertidur dan Dia kembali sendirian dalam ketakutan. Apa yang dilakukannya kemudian adalah teladan bagi kita, yaitu bawalah persoalan kita kepada sang Khalik. Ya, anda benar. Berdoa. Berdoalah dengan cara apapun yang anda yakini yang pada hakekatnya, anda sedang “mengadu” kepada sang Khalik. Mujarab? Ya. Dan sesudah itu…walaaaaahhhh….enak sekali rasanya karena …. bukankah perkara ketidakpastian yang membuat kita menjadi takut telah kita adukan kepada sang Maha Pasti? Ya, Sang Maha Pasti itu akan mengangkat beban ketidakpastian lalu kita menjadi tidak dikuasai takut lagi. Dia akan memampukan kita melakukan kebaikan dan menebar kasih sayang.

Nah, Supaya tambah enak, silakan dengarkan tembang dahsyat dari salah satu grup band dengan corak musik art rock yang amat kesohor, yaitu YES: Lift Me Up.

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    Yes Lift me up Lyrics:
    (Rabin)

    Look around – Got no place to stay.
    God I hate this town, depending on the day.
    You look me up, you look me down – Alright, OK.
    While I got no life, I got no hope;
    I’m falling in love.
    Help me through the fight;
    Help me win tonight – I’m calling.
    What to do I find it hard to know;
    [ Find more Lyrics on http://www.mp3lyrics.org/UTwl ]
    The road I walk is not the one I chose
    Lift me up and turn me over;
    Lead me on into the dawn.
    Take me to the highest mountain;
    Tie me up, love in a storm.
    Have you decided on my fortune?
    Facing the future in your eyes,
    With your imperial behaviour
    We fight amidst the battle cries.
    Open doors – They may be closed to me;
    The fire’s still burning in my heart…
    What to do I find it hard to know;
    I want to turn my life around…

  2. samuel mengatakan:

    Tuhan Yesus Memberkati. Amin

  3. monang mengatakan:

    Amsal 1 : 7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”

  4. monang mengatakan:

    Amsal 1 : 7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”

  5. Fakhroxy mengatakan:

    Mantap…..atuuuutttttt…….YES emang YES beneran….

  6. Jocky mengatakan:

    Goo posting. GBU

  7. Jocky mengatakan:

    good posting. keep on posting. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s