doea mei doea riboe sembilan, hari pendidikan nasional: saya maloe ini hari

Posted: Mei 3, 2009 in musik, pendidikan
Dear Sahabat Blogger,

Hari ini adalah hari pendidikan nasional di indonesia. Hari yang penting. Terutama bagi saya yang bekerja dan mengabdi sebagai seorang GURU. Tetapi apa daya. Setelah bekerja 3 hari di Kabupaten Belu, dalam isu Daerah Aliran Sungai (DAS) perbatasan antara negara RI – Timor Leste lalu tiba kembali di Kupang pada pukul 02.00 subuh, badan tak begitu kuat menahan lelah. Dalam keadaan demikian tak ada sama sekali “gagasan besar” di kepala yang bisa diubah menjadi bahan tulisan yang bernas. Jadi, saya memutuskan untuk menuliskan sesuatu tentang HARDIKNAS berdasarkan hal-hal kecil yang saya alami di hari ini. Pengalaman yang sepele dan mungkin tak berarti. Tak apalah yang penting sudah menulis. Dan inilah pengalaman itu.

Sebagai bentuk “peleder” (pura-pura alim dalam bahasa Kupang) karena tidak punya ide besar tentang bagaimana merayakan hari penting sebagai insan pendidikan, pagi ini saya berangkat ke Kampus Universitas Nusa Cendana, Kupang. Sesampainya di sana, orang-orang baru kelar upacara (saya belum punya penjelasan memadai tentang hubungan antara upacara dan semangat pengabdian guru). Para dosen dan pegawai administrasi ramai berpakaian seragam KORPRI yang coraknya aneh dan kurang sedap dipandang mata itu (lagi-lagi saya tak punya alasan bagus untuk menjelaskan hubungan antara seragam KORPRI dengan prestasi mengajar seorang Dosen). Lah, saya sendiri bagaimana? Seperti yang sudah saya jelaskan tadi bahwa, saya memang kurang begitu perduli dengan seremonial upacara. Oleh karena itu saya sengaja datang terlambat. Saya juga bukan seorang penggemar pakaian seragam karena keyakinan bahwa keragaman is beautiful. Oleh karenanya saya datang menggunakan celana jeans dan bersepatu sandal…asyyyyiiiikkkk……Lalu, fakta “menjengkelkan” itu terjadi.

Di kerumunan orang-orang berseragam itu ada 1-2 orang yang bangga memamerkan piagam pengabdian 20 tahun sebagai PNS. Lah, kok yang dihargai adalah ke-PNS-annya bukan faktor ke-GURU-annya? ini hari PNS nasional atau hari pendidikan nasional siiiiiihhhhh????? Lantas, di kerumunan yang lain yang diperbincangkan adalah…..wwwuuueehhh….Rektor Undana, di sambutan apelnya, mengingatkan bahwa musim pemilihan Rektor sudah tiba…dan heeeeiiii….ramai diperbincangkan….si ini bakal bertahan….si anu mao nalon lagi…..si polan mau jadi “kuda hitam” dan….wwwuiiiihhhh…..si “kerutuk” berselera amat sangat terhadap jabatan Rektor Undana….wwweeeellllleeeeehhhhh…… Malas dengan topik itu, setelah melempar 1-2 joke ringan saya berpindah kerumunan lagi….naaahhhh….di kerumunan ini yang ramai diperbincangan adalah hitung-hitungan jumlah hari masuk kantor dalam sebulan lewat dan jumlah bonus yang diterima + gaji bulan Mei 2009…..wwwwuuuuaaaahhh….tak begitu tertarik dengan topik ini sayapun berpindah ke kelompok kerumunan yang lain lagi dan …asyyyiiiiikkkk……topik di kelompok ini ada topik mutakhir yang tak saya dengar selama beberapa hari berada di hutan-hutan dekat perbatasan RI – RDTL, yaitu kemungkinan kejatuhan pejabat tinggi RI berinisial AA karena diduga terlibat peristiwa pembunuhan….lalu, percakapan melebar dan meluas tentang indahnya, lezatnya dan sekaligus berbahayanya sebuah perselingkuhan……bbrrrrrr……

Saya cuma heran, mengapa tak ada satupun kelompok kerumunan yang memperbincangkan tentang situasi pendidikan nasional kita dewasa ini. Peringkat HDI Indonesia yang ada di bawah klong meja yang salah satu penyebabnya adalah buruknya mutu pendidikan di RI. Mahalnya biaya pendidikan di NKRI sehingga menimbulkan jargon baru….orang miskin dilarang sekolah…..banyaknya guru kontrakan dengan nasib NTT (nelangsa tak tentu)…..mutu pendidikan di NTT yang terendah di Indonesia…..situasi Undana yang katanya ber visi-misi go global tetapi listriknyta byar pet sepanjang hari….tak ada satupun kelompok kerumunan orang yang memperbincangkan topik-topik itu……saya kecewa dan memilih untu melangkah menuju ruang adminsitrasi untuk…..menerima gaji…..sambil…berjalan saya disapa seorang sahabat…

(+) ….heeeeiiii….lu kelihatan putih eeee…..sakit dan jarang keluar rumah kan.????….(lalu kami tertawa bersama …… gggggrrrrrrrrr….dan percakapanpun berlanjut)…..
(+) mau tanda tangan ambil gaji dan uang kehadiran kooooo?????….ah. lu baru pulang dengan orang kehutanan kan????? doi su tabal ma masi makararapak ambel gaji lai (uang masih banyak tetapi kok keburu amat ngambil gaji)….jjjuuuuuppppsssss…..langkah saya terhenti…
(@) eh sonde kawan….cuma mau liat jangan-jangan ada surat untuk beta…lama tidak masuk kantor naaaa…..(saya terpaksa berbohong karena ….malu)

Mengapa malu? Ya tentu saja, bukankah tadi ketika bertemu dengan kelompok kerumunan itu saya amat rajin mengkritik topik pembicaraan mereka yang kurang bermutu itu? Lalu, bukankah saya tadinya menertawakan teman-teman yang hanya sibuk mengurus gaji?????….Saya jadi malu karena, ternyata, secara substantif saya sama tak bermutunya dengan mereka. Jika saya menertawakan sikap “pikir diri sendiri” kawan-kawan itu, ternyata saya juga tak kalah egoisnya. Setelah berpura-pura melihat tumpukan surat, sayapun berbalik badan pulang ke rumah. Tak cukup nekat untuk mengantri mengambil gaji bulan baru. Dalam perjalanan pulang saya membatin…apa salah Ki Hajar Dewantoro sehingga insan-insan pendidikan jauh lebih memikirkan urusan pribadi dan pergunjingan tak perlu ketimbang memikirkan nasib bangsanya yang amat tertinggal dalam urusan pendidikan. Lalu, saya menemukan sendiri jawabannya, yaitu yang salah bukan Ki Hajar Dewantoro tetapi pribadi lepas pribadi itu, termasuk saya, yang tak betul-betul menghayati dan mempraktekan CINTA di dalam dunia pendidikan.

CINTA kepada dunia pendidikan seharusnya merupakan afeksi positif dari saya,. Seharusnya pula keluar dari dan saya lurus tertuju kepada para subyek penerima CINTA. Iklhas. Tanpa pamrih. Saya malu karena tentang CINTA saya sudah mengulasnya panjang lebar di dalam blog ini tetapi…ternyata…..saya beum mempraktekannya secara baik. Saya malu karena rasanya belum lama saya memperingati perayaan PASKAH yang mendemonstrasikan bagaimana CINTA seharusnya dikerjakan. Saya malu karena rasanya belum lama saya mengenang SGT yang teramat tulus menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik.

Di hari ini, inilah pengakuan saya, tepat di Hari Pendidikan Nasional 2009: saya merasa sudah menipu Sang Pemberi CINTA yaitu Sang Maha khalik.

Supaya sedikit terhibur hati, perkenankan saya memposting sebuah lagu lama karya Iwan Fals. Selamat berbagi KASIH di HARDIKNAS 2009.

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    Guru Umar Bakri
    Karya : Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)

    Tas hitam dari kulit buaya
    Selamat pagi berkata bapak Umar Bakri
    Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali

    Tas hitam dari kulit buaya
    Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
    Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu

    Laju sepeda kumbang dijalan berlubang
    Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
    Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
    Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

    Bapak Umar Bakri kaget apa gerangan?
    “Berkelahi pak!” jawab murid seperti jagoan
    Bapak Umar Bakri takut bukan kepalang
    Itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut (Bakri kentut)
    cepat pulang

    Busyet… standing dan terbang

    Umar Bakri Umar Bakri
    Pegawai negeri
    Umar Bakri Umar Bakri
    Empat puluh tahun mengabdi
    Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

    Umar Bakri Umar Bakri
    Banyak ciptakan menteri
    Umar Bakri
    Profesor dokter insinyurpun jadi
    (Bikin otak orang seperti otak Habibie)
    Tapi mengapa gaji guru Umar Bakri
    Seperti dikebiri

    Bakri Bakri
    Kasihan amat loe jadi orang
    Gawat

  2. fajroelaen mengatakan:

    selamat hardiknas 2009. Masa depan bangsa ada di tngan pendidik

  3. Fakhroxy mengatakan:

    negeri ironi
    kaya raya tapi rakyatnya tinggal mati
    lelakinya suka kawin lagi
    perempuannya muda-muda mau dikawini

    pendidikan????
    EGP……wkwkwkwkwk

  4. Fakhroxy mengatakan:

    ada ngga ya video asli lagu guru umar bakri. Katanya yang jadi pak Guru dalam clip itu adalah Jojon ya?????

  5. monang mengatakan:

    pendidikan di Idonesia sudah kehilangan ke roh indonesiaannya. Kepentingan agama sudah masuk di situ. Bayangkan tuuan pendidikan ko malah untuk meningkakan imtaq. Kacau. Masih negara pancasila atau bukan sih?

  6. Anonim mengatakan:

    guru oh guru…nasib kalian hanya jadi alat bargain politik….nasiiibbbb……

  7. Budi-andrean mengatakan:

    Guru jaman sekarang banyak yang tidak patut diteladani….guru cabul….guru jagoan kampung, guru selingkuh, Profesor korupsi, dosen menjual nilai….. Baca saja berita-berita

  8. […] doea mei doea riboe sembilan, hari pendidikan nasional: saya maloe … […]

  9. reony mengatakan:

    @budi_anderan

    Guru jaman sekarang banyak yang tidak patut diteladani…. dst … dosen menjual nilai..dst

    sstttt… yang punya blog itu dosen lho. hueheehe

  10. mikerk mengatakan:

    thanx sudah berkunjung dan berkomentar. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s