doea skandal satoe nama: khianat (part 2)

Posted: April 12, 2009 in musik, renungan Kristiani
Dear Sahabat Blogger,

Beberapa sahabat menulis di kolom komentar pada posting terdahulu, 2 skandal 1 nama: khianat bahwa: “tak sabar menunggu part 2”. Ok, baiklah …eeeeng…iiiinnggggg…..eeeennnggggggg……sabar dahulu. Saya ingin membuat pengantarnya terlebih dahulu
Beberapa waktu yang lalu, menjelang pemilu legislatif, dunia politik Indonesia menghangat dengan terbitnya buku kisah perjuangan Jenderal Sintong Panjaitan….war wer wir wuurrrrrr……ramai dibicarakan orang ..dan lalu…kesan yan amat mengemuka adalah…siapa itu Sintong? Pahlawan atau bukan? Siapa itu Prabowo? prajurit yang berniat makar atau pahlawan?….Lalu, semua tenang kembali….people are back to the bussines as usual….kembali ke laptop…..jangankan Sintong VS Prabowo, sebelumnya Prabowo VS Wiranto sudah tidak diperdulikan orang lagi. Sebelumnya lagi wacana apakah Bung Karno pahlawan ataukah pengkhianat sudah lama berada di wilayah abu-abu. Demikian juga, Soharto, apakah Pahlawan atau penjahat sudah lama terpendam bersama jasad orang besar Indonesia ini. Mengapa ini bisa terjadi? Ataukah, seperti kata seorang sahabat, semua itu hanyalah perbedaan sudut pandang semata. Oh baiklah. Bisa jadi begitu. Tapi, bisakah kejahatan dan kebaikan dipegang secara simultan dalam satu pribadi? Dapatkah afeksi positif dan negatif terjadi seketika dalam satu pikiran? Penjelasan Leahy dalam bukunya yang berjudul “Human Being” adalah….TIDAK.

Jadi setiap afeksi bisa harus dibedakan. Setiap orang, seberapapun abu-abunya, harus diperjelas afeksinya. Bahkan jika memang warna afeksinya adalah abu-abu atawa afeksi oportunis. Tak boleh ada sejarah abu-abu. Dan itulah gunannya ilmu sejarah. Hanya dari tokoh-tokoh yang jelas “warna”nya kita bisa belajar. Apakah orang itu baik? apakah orang itu tidak baik? apakah orang itu kadang-kadang baik dan kadang-kadang tidak baik? Semua harus jelas. Ketidak jelasan adalah skandal. Apalagi upaya untuk mengaburkan sesuatu yang jelas agar tidak jelas. Itu super skandal namanya. Lha, apa itu skandal? Menurut kamus, skandal adalah kata benda yang berarti …perbuatan yang memalukan….

Lalu, sahabat terkasih, tentang upaya mengubah status seorang pengkhianat menjadi pahlawan itulah ceritersa saya kali ini

Skandal 2: pengkhianat diubah menjadi pahlawan

Adalah seorang yang bernama Yudas, terjemahan Yunani dari kata Ibrani Yehuda yang berarti “pujian”, yang menjadi sorotan kali ini. Siapa dia? Ahaaaa…anda mungkin benar jikalau menebak bahwa tokoh kita kali ini adalah salah seorang murid Yesus yang hidup kira-kira 2000 tahun yang lalu. Yudas yang mana? oh, untuk membedakannya dari Yudas murid Yesus yang lainnya maka Yudas yang ini adalah yang berasal dari Kota Kerioth. Sebuah kota di selatan Yehuda yang terkenal karena perkebunan anggurnya. Konon sampai hari ini kota Kerioth masih dinamai demikian. Demikian juga hasil bumi utamanya itu. Maka, Yudas van Kerioth itu amat terkenal dengan nama Yudas Iskariot. Mudah-mudahan anda pernah mendengar nama ini. Konon, dalam kosa kata Bahasa Indonesia, nama ini amat terkenal karena digunakan untuk menyebut perilaku orang yang tidak tulus…..huuuuuhhhh…dasar “judes” lu……”judes” banget sih loooo….he he he he he….

Yudas dan Judes dua kata yang begitu diucapkan dan didengar maka asosiasinya adalah sikap culas, curang dan khianat. Mengapa demikian? Dalam literatur Kristiani, si Yudas dikenal karena “ciuman mautnya” pada saat dia menyerahkan Yesus kepada kaum Farisi di taman Getsemane. Dari sini, Yesus dibawa kepengadilan agama Yahudi dan diteruskan ke pengadilan Romawi. Akhirnya dijatuhi hukum mati. Di gantung di Kayu Salib di bukit tengkorak. Bukit Golgota. Kisah penyaliban Yesus, Kematian dan Kebangkitan Yesus merupakan kisah terbesar dalam tradisi dan kepercayaan Kristiani. Bahkan secara teologis, tanpa trilogi ini, tidak ada Gereja. Tidak ada Kristianitas, yaitu religi yang dianut oleh mayoritas penduduk planet bumi ini.

Dalam kisah Alkitab, Pahlawan tunggal trilogi Penyaliban, Kematian dan Kebangkitan Yesus adalah Allah itu sendiri yang terejawantahkan dalam pribadi Yesus Kristus. Di mana posisi Yudas dari Kerioth? Adalah ini: pengkhianat dan pengecut. Mengapa Yudas dikatakan pengkhianat? Demi ambisi pribadinya, entah apa itu, Yudas tega menawarkan jasa kepada tua-tua farisi untuk menghantar Yesus kepada mereka agar mudah diangkap. Sebagai imbal jasanya, Yudas dibayar uang sejumlah 30 keping perak. Yudas sampai hati “menjual”Guru dan sahabatnya sendiri. Sebagai manusia kita berpikir keras apa arti persahabatan bagi Yudas? Bersama Yesus dan 11 orang murid lainnya, Yudas selama kurang lebih 3 tahun berkelana kesana-kemari memberitakan kabar baik. Susah sengsara beberkelana memberitakan kabar baik. Senasib sepenanggungan. Bahkan oleh Yesus, Yudas bukan sekedar murid dan sahabat biasa. Yudas dipercayakan sebagai bendahara kelompok 12, yaitu murid-murid Yesus yang selalu ada bersama-sama DIA. Entah kurang apa baiknya Yesus pada Yudas. Saya tak melihat ada satupun kekurangan terkecuali pada si Yudas yang mengalami 1 jenis kekurangan, yaitu kurang ajar.

Ya, kekurangnnya yang satu itulah, menurut literatur Alkitabiah, yang menuntun Yudas melakukan pekerjaan “menggunting dalam lipatan”. Yudas menjadi “musuh dalam selimut”. bagi Yesus. Tak tahukah Yesus akan perilaku Yudas itu? Dalam banyak ayat kita bisa mengetahui bahwa Yesus sebenarnya amat mengenal watak khianat si Yudas sang Judes. Yudas adalah bendahara yang curang yang menyimpan untung bagi dirinya sendiri. Yudas adalah si pengiri hati sewaktu dia mencela sikap perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal itu. Ya, Yesus tahu betul, siapa Yudas. Dan puncaknya adalah ketika di Perjamuan Malam Paskah, yaitu malam menjelang Yesus ditangkap. Setelah membasuh kaki semua murid-murid-NYA, termasuk Yudas si Judes dan lalu membagi-bagikan roti tak beragi dan anggur…Yesus berbisik kepada Yudas……”apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah segera” (Yohanes 13:27)…. Lantas, pergilah Yudas menghilang di kegelapan malam menuju imam-imam Yahudi untuk menjalanan rencana khianatnya. Dan semua umat Kristiani tahu persis kisah selanjutnya: tentang nasib Yesus yang harus mati di Salibkan di Golgota itu.

Sampai di titik ini, kelakuan Yudas adalah suatu kejahatan. Menjual Guru dan sahabatnya sendiri adalah suatu perbuatan tak senonoh. Skandal. Tafsir umum yang saya pahami sejak masih di bangku Sekolah Minggu, tindakan Yudas adalah keculasan dengan motif ekonomi. Menjual Yesus demi 30 keping perak. Akan tetapi ketika beranjak dewasa, saya sempat berpikir bahwa berapalah 30 keping perak itu. Apa mungkin Yudas tega menjual Yesus begitu murahnya taga 30 keping perak itu? Nonsens. Lalu, suatu saat saya membaca sebuah tafsir yang agak berbeda tentang motif Yudas. Menurut referensi ini, ditulis oleh almarhum Pdt. DR. Eka Darmaputera, Yudas adalah anggota kelompok nasionalis Yahudi Zealot yang amat anti penjajajahan Romawi. Garis perjuangan mereka adalah “garis keras”. Kurang lebih, mirip prinsip Israel di Jalur Gaza di masa kini.

Orang-orang Zealot ini terbukti beberapa kali melakukan pemberontakan bersenjata. Namun asa mereka selalu gagal karena tentara Romawi sigap memberangus mereka. Lalu, peluang itu ada, yaitu hadirnya seseorang yang diramalkan di dalam Perjanian Lama akan bertindak sebagai Mesias bagi orang Israel. Pembebas dari penjajahan Romawi. Dalam tafsiran kaum Zealot, sang Mesias akan menadi pemimpin gerakan politik massa dan sekaligus penglima perang yang akan menumpas oran-orang Romawi. Nah, Yudas yang merupakan anggota kelompok Zealot mendapat kesempatan bergabung dengan sang Mesias itu, yaitu Yesus. Dari waktu ke waktu Yudas mengikuti Yesus dan amatlah gembira hatinya karena pengikut Yesus secara cepat menjadi berlipat-lipat ganda. Inilah modal perjuangan. Akan tetapi sesuai perjalan waktu, Yudas menjadi cemas karena Yesus bukannya berbicara tentang perjuangana politk dan bersenjata malah terus menerus asik berbicara tentang KASIH, KASIH dan KASIH. Lha, kapan perangnya? pikir Yudas. Maka, timbullah “otak politk” Yudas….ahaaaa….mumpung Yesus sedang dicari-cari salahnya oleh Imam-Imam Yahudi, apa salahnya Yudas melakukan politicking?…..well, Yesus diserahkan dan lalu….ketika dalam keadaan terdesak…Yesus akan memerintahkan massanya, bila perlu bala tentara dari Surga, untuk membasmi pasukan Romawi…..dan….Israelpun merdeka.

Apapun motif Yudas, kita tahu bahwa satu skandal sudah terjadi, yaitu Yudas tega menjual Guru dan Sahabatnya. Sayangnya skandal itu tidak berhenti di situ. Jika mengikuti alur pikir bahwa Yudas menjual Yesus karena naluri ekonomi maka literatur Alkitabiah mengatakan bahwa menyesal-lah Yudas karena telah mengkhianati orang yang tidak bersalah. dengan amat murah Jika mengikuti alur pikir bahwa motif Yudas adalah motif politik maka ketika sama sekali tidak terjadi pemberontakan massa maka menyesal-lah Yudas karena sudah terlanjur mengkhianati Guru dan sahabatnya sendiri ehhh….tujuan politisnya tak tercapai. Yesus tidak memimpin suatu gerakan pemberontakan menyusul penangkapannya. Apa tindakan Yudas berikutnya? Yudas sebenarnya masih cukup peka rasa. Hancur hatinya dan menyesal setelah melihat Yesus teraniaya begitu rupa gara-gara pengkhianatanya. Sayang sekali penyesalannya itu tidak membawanya kepada pertobatan. Penyesalannya itu coba ditanggungnya sendiri. Dikiranya dengan cara itu dia akan selamat dan rasa malunya akan terobati. Nyatanya tidak. Ya, Yudas begitu pengecut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Yudas terlalu pengecut untuk mensukuri hidup yang dimilikinya. Dalam keputusasaannya Yudas memilih untuk bertindak bodoh dan sekaligus konyol: bunuh diri. Yudas melakukan skandal nomor kesekian.

Saya berpikir, bagaimana seandainya Yudas bertobat? Bukankah Simon Petrus juga bersalah karena menyangkal Yesus. Bukankah Simon juga menyesal? Tapi beruntunglah Simon Petrus atau Kefas itu karena dia tidak membuat skandal baru. Simon memilih untuk bertobat dan hingga sekarang, nama Simor Petrus dikenang sebagai salah satu tokoh Gereja yang bernama harum. Sedangkan Yudas? Tak lain tak bukan adalah Yudas si Judes. Cuma itu. Hanya itu. Di akhir drama trilogi Salib, Kubur dan Kebangkitan kita tahu ada 2 kematian yang amat terkenal. Pertama, Kematian Yesus yang penuh KASIH nan Agung. Pada saat Kebangkitan-NYA kita tahu bahwa Kemenangan merupakan hadiah bagi kerelaan KASIH semacam yang didemonstrasikan YESUS. Kedua, adalah kematian Yudas si pengkhianat dan sekaligus si pengecut yang konyol. Kematian yang tidak menyisakan apa-apa kecuali kehinaan.

Selesaikah kisah ini? Sayangnya belum. Akan saya sambung pada part 3. Tetapi sebelum mengakhiri part 2 ini, ijinkanlah saya untuk membuat beberapa butir relfleksi sebagai pesan PASKAH. Bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk saya sendirii. Jika sahabat merasa ada kemanfaatannya maka silakan dibaca juga.

Apa pesan dari kisah Yudas si Judes?

  1. Tak ada KASIH dalam sikap berkhianat. Kasih adalah afeksi positif. Khianat adalah afeksi negatif. Tak mungkin terang dan gelap disatukan karena hanya akan mendatangkan temaram yang tak jelas. Persahabatan, kebaikan dan kasih sayang adalah afeksi positif. Sedikit saja semua itu dikotori dengan fitnah, dendam, amarah, khianat dan atau afeksi negatif lainnya maka musnah semua KASIH. Mau baik ya baik saja. Tidak ada kebaikan dalam pura-pura jahat karena jahat akan menguasai anda. Tidak ada kebaikan dalam pura-pura baik karena sejatinya adalah kejahatan. Sahabat Kristiani, trilogi Salib, Kubur dan Kebangkitan Yesus mengajarkan bahwa setia dalam perkara KASIH adalah harga mati, yaitu harga yang bila perlu ditebus dengan kematian. Bisakah?
  2. Mengaku percaya kepada Sang Khalik konsekunsinya ada 1, yaitu percaya dan ikuti semua apa yang DIA mau. Janganlah apa yang kita mau. Mengikuti Sang Khalik artinya tunduk kepada kehendak sang Khalik. Jalankan agenda sang Khalik bukan agenda kita sendiri. Pergi ker rumah Ibadah ya temui lah Sang Khalik di sana bukan untuk bertemu teman bisnis, pacar, mantan pacar ….. Ingin memuj Tuhan dengan bernyanyi dalam ibadah ya lakukanlah demi Sang Kahlik bukan supaya anda dipuji dan diajak rekaman. Pokoknya, janganlah di mulut mengatakan …..ya saya ikut Dikau tetapi…..agenda sebenarnya adalah….ya Tuhan ikutilah kemauan saya. Janganlah di mulut kita mengaku …terpujilah nama-Mu tetapi diam-diam kita menambahkan di bait 2: terpujuilah namaku sendiri……Jangan pernah mengatakan …. Jadilah kehendak-MU tetapi yang kita kerjakan adalah…jadilah kehendakku sendiri. Anda tidak mau berakhir seperti Yudas si Judes kan?
  3. Sebagai manusia, saya dan juga anda sekalian adalah makhluk-makhluk fana yang banyak salahnya. Atas kesalahan hendaknya kita tidak cukup hanya menyesal. Penyesalan harusnya diikuti dengan pertobatan. Jangan berpikir anda mampu menanggulangi sendiri kesalahan anda. Jangan mudah putus asa. Pengalaman Yudas si Judes membuktikan itu. Selalu tersedia orang yang akan mendengar keluhan anda. Selalu ada jalan pengampunan. Dan andai kata semua orang meninggalkan anda, ada satu bahu yang mampu menanggung pertobatan anda, dan juga saya, yaitu Bahu Sang Khalik. Maukah?


Oh, ya ketika menyiapkan tulisan ini saya mencari tahu apa arti kata Yudas. Ternyata, seperti yang sudah saya katakan tadi, artinya adalah “pujian”. Teringat saya bahwa ketika ujian promosi doktor saya dahulu, status yudicium saya adalah “cum laude” artinya dengan pujian. Jika dibaca dalam bahasa Yunani maka yudicium saya akan dibacakan dan berbunyi seperti ini….saudara Doktor Ludji Michael…..anda dinyatakan lulus dengan predikat…..Yudas……ha ha ha ha ha….tak mau saya…..ha ha ha ha ha ha…

Selamat PASKAH. Gloria Inexelcis Deo. Tuhan Memberkati,


bagi sahabat yang ingin mengerti betapa kacaunya jika mengikuti Jesus dengan hati yang khianat, coba dengarlah lagu dari Bellamy Brothers berikut ini:


Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    SELAMAT PASKAH. TUHAN MEMBERKATI.

  2. luiggimikerk mengatakan:

    “In The Garden” by Glen Campbell
    (words & music by c.a. miles)

    I come to the garden alone
    While the dew is still on the roses
    And the voice I hear falling on my ear
    The song of God discloses

    And he walks with me
    And he talks with me
    And he tells me I am his own
    And the joy we share as we tarry there
    None other has ever known

    He speaks and the sound of his voice
    Is so sweet the birds hush their singing
    And the melody that he gave to me
    Within my heart is ringing

    And he walks with me
    And he talks with me
    And he tells me I am his own
    And the joy we share as we tarry there
    None other has ever known

  3. luiggimikerk mengatakan:

    “Jesus is Coming”
    by The Bellamy Brothers

    Well He walked on the water and He raised up the dead
    And we teach all the children that He died for our sin
    But something’s gone wrong this world’s in a mess
    Jesus is coming and boy is He pissed

    He’s looked down at the homeless and the rape of the land
    He’s seen the preachers and lawyers with blood on their hands
    Politicians beware cause in a loophole you’ve missed
    Jesus is coming and boy is He pissed

    In a world gone mad He’s watching it all
    And the meek shall inherit but the mighty will fall

    It’s a shame what we’ve come to and we cannot go back
    And the train bound for glory went down the wrong track
    Soon the love in His heart will be the rage in His fist
    Jesus is coming and boy is He pissed

    So the whole place can rumble and it floods like a curse
    And the hatred and crime you know it only gets worse
    These warnings do heed no more and no less
    Jesus is coming and boy is He pissed
    Jesus is coming and boy is He pissed

  4. vantjerwn mengatakan:

    Yudas = lucifer…jauhi sifat ini…..

  5. Sherly mengatakan:

    Yudas = kejahatan…..syereeeeeeemmmm….

  6. Sherly mengatakan:

    lagu dari gleen campbel sungguh menyejukan hati. …thanx for posting

  7. bayu mengatakan:

    jauhi sifat JUDAS. Bisa celaka

  8. bayu mengatakan:

    ni blog = bigmike-savannaland ya?????

  9. fajroelaen mengatakan:

    selamat hari raya bung

  10. Budi-andrean mengatakan:

    Jesus Loves You….keep on posting…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s