doea skandal satoe nama: khianat (part 1)

Posted: April 6, 2009 in musik, politik

Dear sahabat blogger,

Kampanye terbuka jelang pemilu legislatif di Indonesia berakhir sudah. Apa yang tersisa adalah sampah kertas, sampah plastik, uang sisa hasil bayaran ikut kampanye, kenangan tentang goyang erotis para penari dangdut, ingatan tentang kemacetan akibat pawai konvoi zonder pake taat pada aturan lalu lintas, optimisme, skeptisisme, mimpi indah, sinis, dan lain-lain dan seterusnya. Kampanye pemilu di Indonesia belum banyak berubah. Modelnya sama dari waktu ke waktu. Itu-itu melulu. Apakah itu merupakan pelajaran berdemokrasi yang baik? Entahlah. Saya cuma ingin bertanya: Apa yang kau mau wahai para pengelola partai?. Apa yang kau mau para politisi dan para caleg?. Apa yang kau cari kawan???????

Tapi sudahlah. Lupakan sejenak “bisingnya” pesta kampanye yang sudah lewat itu. Saya ingin menelisik sesuatu bagi. Mula-mula bagi saya sendiri. Lantas, semoga ada manfaatnya bagi saudara semua: bagi persahabatan. Bagi kebaikan. Bagi kasih sayang. Begini.

Adalah sebuah buku yang berjudul “Bung Karno. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang berjudul asli “Sukarno, Autobiography as told to Cindy Adams, Indianapolis,: Bobbs-Merril”. Dalam judul aslinya itu, buku Buku otobiografi Bung Karno ini, dirilis pada tahun 1965. Lalu, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diedarkan pada tahun 1966. Tahun ketika Bung Karno berada di ambang kejatuhan total. Entah sejak kapan buku ini ada di rak buku Ayahanda saya almarhum, SGT, tetapi saya membacanya sampai tamat pada saat saya masih duduk di bangku SMA. Apa kesan saya ketika itu? ….. Ah, Bung Karno hanyalah seorang yang kurang baik dan bermulut besar…… Mengapa saya bersikap begitu? Tentu saja, karena sebelumnya, di bangku SD, saya sudah membaca buku yang berjudul “Soeharto. Dari Prajurit sampai Presiden” tulisan O. G. Roeder (aslinya berjudul: “Soeharto. The Smiling General“). Isi buku ini “berhasil memprovokasi” saya yang masih “polos” itu. Bagi saya Soeharto adalah pemenang dan Bung Karno adalah Pecundang. Barulah ketika saya berada di Jogja pada tahun 1981-an dan sempat membaca sebuah buku stensilan tentang Bung Karno di rumah kost abang saya “Budhi Suto” pandangan saya tentang kedua tokoh besar Indonesia ini perlahan-lahan berubah. Dan akhirnya, Soharto tidak lagi menjadi idola saya. dalam memori saya. Di tempat itu sekarang terisi oleh nama Bung Karno.

Yang mau saya sampaikan dalam paragraf di atas adalah betapa sebuah tulisan dapat mempengaruhi pikiran pembaca. Dan betapa pikiran yang telah dibentuk tadi bisa menghasilkan persepsi yang salah tentang “who is the winner who is the loosser”. Manusia berbeda dari binatang karena dia berpikir-pikir (Leahy) tetapi pikiran ternyata bisa dimanipulasi. Pikiran manusia yang terbuka ternyata bisa diisi sebuah pesan dan, tanpa sikap obyektif dan jernih, pesan itu bisa menyesatkan. Bagi saya hal itu adalah skandal. Dan tentang skandal seperti itulah saya ingin meletakkan doe boeah skandal ontoek saya pelajari.

Skandal 1: skandal halaman 341

Apa ini? Pada edisi bahasa Indonesia dari buku “Bung Karno. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia – tepatnya di halaman 341 – terdapat sebuah skandal. Awalnya adalah pada tahun 2006 bertempat di Gedung Pola, Jakarta di lakukan sebuah diskusi tentang Bung Karno. Lalu, Prof Syafi’i Maarif (SM), mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, berkata keras…..Bung Karno dalam otobiografinya amat melecehkan Bung Hatta karena mengaggap Bung Hatta tidak punya peran dalam sejarah Indonesia….bbbblllllllaaammmmm….semua orang tersentak kaget….what’s going on????….Lalu, SM mengutip kata-kata di halaman 341 itu yang bunyinya begini:

“Rakyat sudah berkumpul, Ucapkanlah Proklamasi” Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana di mana setiap orang mendesaku, anehnya aku masih dapat berpikir dengan tenang. “Hatta tidak ada” kataku. “Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada.”.

Sampai di batas kutipan di atas semua hal masih berjalan normal akan tetapi pada kelanjutan pragraf di atas itulah, SM dan banyak orang, menjadi amat marah. Inilah kutipan yang membuat tersinggung itu:

Tidak ada yang berteriak “kami menghendaki Bung Hatta”. Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Sjahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri dan memang aku melakuannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat syaraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada.”

Lalu paragraf di atas bersambung ke paragraf berikut:

“Peranannya yang tersediri selama masa perjuangan kami tidak ada. Hanya Sukarno-lah yang tetap mendorong ke depan. Aku memerlukan orang-orang yang dinamakan “pemimpin” ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannya karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatera dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatera. Dia adalah jalan yang paling baik untuk menjamin sokongan dari rakyat pulau yang nomor dua terbesar di Indonesia.”

Oh, ternyata di situlah letak kemarahan SM dan banyak orang kepada Bung Karno. BK dianggap teramat sombong karena menganggap hanya dirinya sendiri yang penting. Hanya BK yang besar sementara yang lainnya kecil tak berarti. Bung Hatta dan Sjahrir tidak ada peran sejarahnya. Bung Hatta hanya diperlukan sekedar karena dia orang Sumatera. Rakyat Sumatera hanya dianggap pelengkap dari Bung Karno.

Betulkah demikian? Sejarawan dari LIPI, DR. Asvi Warman Adam yang juga urang awak, sama seperti Bung Hatta, mengajak Yayasan Bung Karno untuk meneliti kembali naskah asli buku itu yang tertulis di dalam bahasa Inggris dan …. ddddhuueeeeerrrrrrrr…….di dalam skrip aslinya ternyata 2 paragrafi itu tidak ditemukan. TIDAK ADA. Sekali lagi, dua paragraf yang “amat menghina Bung Hatta” ternyata TIDAK ADA. Jadi, DR. Aswi dkk. berkesimpulan bahwa Bung Karno sama sekali TIDAK MENGHINA BUNG HATTA. Sebaliknya dari menghina, BK bahkan sebenarnya amat memuji peran Bung Hatta. Perhatikan kutipan dari nasakah asli yang sudah diterjemahkan berikut ini:

“Dalam detik-detik yang gawat dalam sejarah inilah Sukarno dan tanah-air-Indonesia mengunggu kedatangan Hatta.”

Tidak ada penghinaan. Tidak ada penghujatan. Yang ada hanyalah pujian dan pengakuan yang yang tulus dari seorang sahabat. …. heiii….what’s going on ????? …. Nah, jelas-jelas terlihat bahwa ada dua buah paragraf tambahan yang menyelinap diam-diam di sana. Untuk tujuan apa dan oleh siapa? Silakan anda menganalisisnya sendiri tetapi lihatlah betapa merusaknya sisipan itu. Penyisipan itu telah membentuk persepsi orang yang keliru tentang Bung Karno. Penyisipan itu adalah penyesatan. Dan anda bayangkan, ketika sisipan itu “masuk ke dalam kepala seorang anak SD seperti saya dan lalu membentuk persepsi saya maka apa hasilnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah terbentuknya afeksi negatif. Afeksi negatif adalah kebencian. Kebencian adalah lawan dari efeksi positif, yaitu kebaikan dan kasih sayang. Pengalaman saya membuktikan hal itu: … suatu ketika, saya amat membenci Bung Karno ….. Lalu, teringatlah saya pada apa yang pernah saya tonton di film “The Killing Fields”, tepatnya pada adegan sekelompok anak kecil sedang diindoktrinasi oleh tentara Khmer Merah, dan …..astaganagaaaaa…..anak-anak itu lalu menembak mati sekumpulan orang tahanan tanpa ekspresi karena sebelumnya kepada anak-anak itu telah dikatakan bahwa sang pesakitan adalah sekumpulan orang berbahaya yang tak berguna.

Siapa pelaku sisipan itu? Sampai hari ini tak pernah jelas siapa aktor jahat itu. Dugaan bisa saja dilakukan, yaitu siapa yang paling berkepentingan agar Bung Karno segera tamat dari panggung politik Indonesia. Jika nalar kita dibawa ke titik itu seharusnya amatlah mudah menemukan pelakunya. Tetapi sayangnnya kebenaran seperti itu akan bertemu dengan kebenaran versi lainnya, yaitu kebenaran versi hukum. Mana buktinya? Lalu, yang menang adalah yang paling pandai berkelit. Yang benar adalah yang lidahnya paling bercabang. Itu adalah skandal, yaitu ketika kebenaran sejati dipatahkan oleh percabangan lidah.

(kampanye adalah urusan bicara. Ketika berbicara, lidah terbanting-banting. Berkali-kali. Semakin banyak orang yang berbicara semakin banyak lidah-lidah yang dibanting-banting. Mudah-mudahan lidah tidak semakin bercabang-cabang oleh karenanya. Sebab, itu adalah skandal).

Skandal 2:
(ah, saya sudah capek. Nanti disambung lagi di bagian dua….he he he…..)

Sambil menunggu part 2-nya, mending saya ajak sahabat sekalian menikmati musik cantik berikut ini.


Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. erliningtyas mengatakan:

    wow….jika data info di atas benar maka sepatutnya sejarah kita ditelisik kembali

  2. erliningtyas mengatakan:

    posting yang ditulis secara enak…renyah dibaca..keep on posting….

  3. fajroelaen mengatakan:

    Soeharto adalah soso hitam dan putih. Sayang sekali apakah sisi gelap atau putih yang dominan, kita tidak tahu karena ybs keburu mangkat tanp sempat diadili…..

  4. fajroelaen mengatakan:

    mantaplah posting ini….

  5. Anonim mengatakan:

    soharto mah …paraaaahhhh……..blegug siaaaahhh….

  6. pissgopiss mengatakan:

    Perlu pelurusan sejarah dan itu salah satu tugas utama para anggota legislatif dan pemerintahan baru yang akan dipilih nanti ada tanggal 9

  7. monang mengatakan:

    good posting….luruskan sejarah Indonesia…SEKARANG JUGA..

  8. dahfy mengatakan:

    wah, mengejutkan….

  9. gerithone mengatakan:

    ciri khas ORBA tuh….

  10. singoranduwe mengatakan:

    bung karno yang di luar negeri amat disegani di dalam negari malah mati mengenaskan……tragis….

  11. luiggimikerk mengatakan:

    thanx bagi yang sudah berkomentar. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s