doea tanda mata, ataoe lebih, dari sitoe gintoeng

Posted: Maret 30, 2009 in Lingkungan Hidup, musik

Dear Sahabat Blogger,

Di tengah hiruk pikuknya masa kampanye pemilu, yang ternyata tetap saja nggak ada maju-majunya (mungkin penggemar dian pishesa ya???….aku masih seperti yang dulu…..), tragedi Situ Gintung membetot perhatian kita di Indonesia. “Tsunami kecil” kata sebagian pemberitaan. “Tsunami Air Tawar” kata yang lainnya. Lalu ingatan orang di bawa kembali ke horor tsunami Aceh 2004. Jika di Aceh yang tewas sekitar 100.000 jiwa maka di Situ Gintung yang tewas 100 orang. Nggak seberapa? Ya, jika anda adalah penggemar berat matematika maka terang benderang bahwa 100 lebih kecil dari 100.000. Maka apalah artinya 100 berbanding 100 ribu? Begitukah? Apakah nyawa manusia cukup dikalkulasi secara matematis? Dan karena belum ada satupun manusia yang mampu menciptakan nyawa manusia maka tak bisa lain kecuali ini: KAMI BERDUKA.

Dalam posting-posting lama, saya pernah menggunakan tinjauan filsafat manusia untuk memberikan beberapa ciri manusia sebagai makhluk idup. Dua di antaranya adalah membaca dan belajar. Dua cara ini yang menyebabkan manusia memiliki beberapa daya kognisi (menjadi tahu), afeksi (menjadi lebih bisa merasa) dan psikomotorik (menjadi terampil) dibandingkan dengan makhlk hidup tertentu. Dua cara itu pula yang membuat nalar manusia berkembang dan terus berkembang lalu…wuuiiiihhh…..jadilah manusia sebagai makhluk hidup yang mampu mengatasi makhluk hidup lainnya. Manusia berada pada tingkat yang paling tinggi dalam piramida makan-memakan (bukankah hanya manusia yang bisa memakan rupiah dan dolar sedangkan monyet tidak….xi xi xi xi xi…). Tagal kelebihan-kelebihannya itu, sekaligus ini cilakanya, manusia merasa berkuasa di dalam alam. Sekali lagi membaca dan belajar adalah kado dari Tuhan” untuk manusia yang oleh karenanya (principe d’etre) manusia dapat memenuhi harkat hidupnya. Apa yang saya tulis kali ini adalah tentang kado itu, membaca dan belajar. Apa yang dapat kita baca dari tragedi Situ Gintung? Apa yang dapat kita pelajari dari tragedi tersapunya orang-orang dan benda-benda yang ada di sekitar Situ Gintung ketika waduk ini jebol dan menumpahkan air mautnya.

Jaman dahulu, jadoel, setiap pertemuan penting dua pihak selalu di akhiri dengan saling bertukar simbol kenangan. Cendera mata atau tanda mata. Apa tanda mata dari Situ Gintung untuk kita? Kepala yang lain mungkin dapat mengidentifiikasikan banyak cendera mata tetapi saya cuma punya 2. Dan inilah doea tanda mata dari Situ Gintung.

Tanda mata 1: perilaku manusia

Apa yang paling ramai diberitakan di warta-warta tentang Situ Gintung bertalian dengan manusia? Paling pertama adalah jumlah korban. Berapa yang tewas. Berapa yang hilang dan berapa yang cedera dan dirawat di rumah sakit. Berikutnya apa? ceritera dari warga yang selamat. Lantas, apalagi? ceritera tentang operasi pelaksanaan evakuasi korban bencana Di sini saya ingin membuat catatan. Berita di KORAN JAKARTA edisi Sabtu 28 Maret 2009. berbunyi begini:

….proses evakuasi terhambat oleh lalu lalang orang-orang yang datang menonton ……ddddooooohhh……..bencana ternyata dapat menjadi obyek wisata karena bencana adalah obyek tontonan…..awesome….

Lalu, … masih kata berita….di sana-sini bermunculan pedagang-pedagang dadakan yang menjajakan kebutuhan para pengunjung…..ddddooooohhhhh lagi……bencana ternyata juga menciptakan peluang bisnis…..that’s great….

Lalu, saya tercenung dan berpikir:…jika bencana makin banyak dan makin sering….sudah barang tentu wisatawan akan semakin banyak. Lalu, uang berputar makin banyak dan lalu….hmmmhhhhh… lumayan….ekonomi Indonesia yang terguncang karena krisis global mendapat salah satu bentuk solusi. Kalau begitu bagaimana jika kita menciptakan makin banyak bencana supaya tercipta BB (Bisnis Bencana). Masuk akal. Logis secara matematis. Tetapi apakah Etis? Inilah soal saya. Inilah tanda mata itu. Apakah menonton bencana tanpa berbuat apa-apa selain menonton lalu menghambat proses evakuasi korban lalu memanfaatkan situasi bencana untuk berbisnis adalah tindakan etis? Saya tidak akan mengulasnya. Andalah yang bertugas untuk itu dan saya tolong diberitahu. Tetapi inilah tanda mata dari Situ Gintung.

Masih tentang tanda mata perilaku manusia. Menurut data dari warta Situ Gintung adalah danau buatan yang dibikin oleh Belanda pada tahun 1932 dan kelar pada tahun 1933. Mengapa itu dibuat? Belanda membuatnya untuk membantu mengelola air permukaan agar tidak terlalu banyak air limpasan yang dapat menjadi beban bencana bagi kota Jakarta. Setelah Merdeka, dan sinyo-sinyo Belanda itu pergi, sampai sekarang Situ Gintung tetap ada seperti apa adanya. Situ Gintung tetap dibiarkan sebagai bangunan Dam …. tanpa dirawat. Di warta dapat dibaca juga bahwa pada tahun 2002 ketika terlihat adanya retakan-retakan, datanglah beberapa orang dari PU lalu periksa sana sini dan lalu … pergi tak pernah datang lagi. Sementara itu, di sepanjang sempadan waduk, yaitu daerah berjarak 100 – 300 m dari tubuh waduk dan saluran outletnya yang seharusnya berupa ruang terbuka hijau yang padat ditumbuhi vegetasi malah padat ditumbuhi oleh rumah-rumah pemukiman. Bahkan, masih menurut warta, di titik yang seharusnya ada bangunan pintu air yang pernah dibangun oleh Belanda sekarang malah berdiri bangunan rumah. Akibatnya ketika debit air bertambah dan terjadi luberan (overtopping) maka air luberannya ini bergerak lambat dan memberikan waktu yang cukup untuk menggerus atau menimbulkan erosi pada tanggul, yang konon dibuat hanya dari urugan tanah biasa. Tanggul yang tererosi itulah yang menyebabkan “tsunami air tawar” seperti yang telah diberitakan. Lihatlah juga perilaku manusia di sepanjang sempadan outlet air buangan dari Situ Gintung. Dari foto-foto yang ada terlihat bahwa di kiri-kanan outlet selebar 5 meteran itu, penuh ditumbuhi rumah padahal secara teoritis seharusnya daerah itu harus disediakan sebagai daerah sabuk. Ketika ada kebutuhan untuk memperlebar outlet air limpasan maka daerah sabuk yang bebas bangunan akan memudahkan upaya itu. Pertanyaannya adalah siapa yang memberikan ijin mendirikan bangunan di kiri-kanan outlet itu? Pahamkah masyarakat dan pemberi ijin akan konsekuensi-konsekuensi ekologis dan teknis dari hadirnya pemukiman di dekat waduk? Legal tidak bangunan-bangunan itu?

Ada pendapat yang saya kutip dari berita-berita bahwa sebaiknya warga di situ dipindahkan. Memindahkan warga dan membongkar rumah warga? Waaaaaaaaoooooowwwwww……..yang berpikir demikian harap bersiap dengan berjuta persoalan baru. Ganti rugi yang tidak masuk akal. HAM-lah. Korupsilah…..pokoknya bakal ketiban bejibun dan seabrek-abrek persoalan yang menhgabiskan banyak energi. Lalu, ini salah satu ciri khas bangsa kita, semua dibiarkan seperti apa adanya saja. Semua semau-mau. Semua orang, semua pihak dan semua hal dibiarkan berlangsung semau-maunya sendiri…….preketeeeeekkkkkk…..mblegedhesssss……

So, jika demikian ketidak perduliannya maka seharusnya semua saja maklum ketika Situ Gintung dan air simpanannya juga bertindak semau-maunya sendiri untuk jebol dan tumpahan airnya melanda habis semua yang dilaluinya Pertanyaannya adalah: “apakah etis tindakan tidak merawat waduk selama berpuluh tahun, membangun pemukiman semau-maunya di sepanjang sempadan waduk dan outlet air, serta penutupan beberapa pintu perlolosan air. Sekali lagi, etiskah perilaku demikian? Sekali lagi, anda tolong merenungkannya dan sesudah itu harap saya juga dibagi hasil perenungan itu. Tetapi apapun juga, inilah tanda mata 1.

Tanda Mata 2: belajarlah mengelola alam
Setelah bencana terjadi dan Situ Gintung menjadi kering maka diskusi teknisnya adalah apakah Situ Gintung dibiarkan kering selamanya ataukah waduk tersebut perlu dibangun kembali. Seorang blogger tangguh di http://www.rovicky.wordpress.com setelah mengulas berbagai alasan geologis dengan sangat memukau menyimpulkan bahwa “keringkan saja danau ini dan jangan dibendung lagi”….wwwwhooooopppsssssss…..Di lain pihak, sebagaimana dikutip oleh http://www.kompas.com, seorang pengamat perkotaan Nirwono Joga mengatakan bahwa “Situ Gintung penting bagi Jakarta” karena jasanya sebagai pengendali banjir bagi Jakarta Selatan. Lha, lantas yang mana yang kita pilih? Jujur saja, saya tidak berpretensi mengusulkan apa-apa dan bahkan menurut hemat saya inilah kado kedua dari Situ Gintung untuk kita semua. Bacalah tanda-tanda (manusia adalah pembaca simbol kata Louis Leahy) dan lalu, belajarlah. Setelah itu ambil keputusan dengan tepat. Mau diapakan Situ Gintung pasca bencana. Bekerja di dalam alam, memanfaatkan dan mengelolanya tidaklah dapat dilakukan sambil lewat apalagi dilakukan tanpa memahami apa-apa. Ingatlah ini: di luar anda, terdapat alam dan hukum-hukumnya tersendiri yang jika anda mengabaikannya maka anda akan “dihukumnya”. Tarushah sedikit respek kepada alam. Bukan hanya wanita, alampun butuh untuk dimengerti. Bagaimana memahami alam? Bacalah dan belajarlah. Sekarang juga jangan ditunda.

Lalu, apa sebenarnya saran saya? Saya ingi ikut urun pendapat tetapi ada 2 kendala besar, yaitu saya bukanlah ahli geologi atau ahi tata kota. Saya cuma sedikit punya tahu (tempe juga ada di meja makan he he he) tentang hutan dan hidrologi hutan. Saya juga kadang-kadang berbicara tentang kronika daerah tangkapan air dalam konteks pengelolan daerah aliran sungai karena saya adalah ketua Forum DAS NTT. Ya cuma itu dan tak tega daku mempermalukan diriku sendiri dengan usulan yang ngawur …cieeeeeeehhhh….Kendala lain adalah, saya tidak memiliki data yang lebih lengkap dan komprehensif tentang kondisi Situ Gintung kecuali data-data di surat kabar dan gambar peta dari Mister Google. Tetapi biar kentara sedang belajar maka saya beranikan diri juga untuk membuat sedikit catatan. Sekaligus inilah tanda mata dari saya. Begini:

Dam kecil buatan seperti Situ Gintung yang berupa tubuh air hasil perangkap air permukaan adalah hal yang jamak bagi kami di NTT yang kering dengan struktur tanah yang bersifat tanah kartz. Di NTT, sejak awal tahun 1980-an banyak dibangun dam-dam air penampung kecil yang disebut sebagai embung. Banyak di antara embung itu yang sebenarnya tidak ideal menurut struktur geologinya tetapi hanya itu caranya untuk menyiapkan cadangan air bagi penduduk di masa kemarau yang bisa berlangsung 6-7 bulan. Maksud saya, danau buatan seperti Situ Gintung wajar ada jika alasannya kuat. Apakah Situ Gintung harus ada yang oleh karenanya (principe d’etre) keadaan bisa lebih buruk jika tidak ada? Jikalau jawabannya adalah YA maka pilihannya adalah lakukanlah konservasi terhadap Situ Gintung.

Kata konservasi amat penting karena jika Situ Gintung dipertahankan maka hanya ada satu alasannya yaitu sebagai daerah upstream atau daerah tangkapan air dengan aneka fungsinya. Jika begitu maka UU No. 7/2004 tentang Sumberdaya Air mengamanatkan bahwa daerah upstream adalah daerah konservasi. Maka pilihan cuma 1: tegakkan semua kaidah-kaidah konservasi tanpa syarat. Maka, bangunan waduk harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip sipil keteknikan yang tepat dan akurat. Maka, perawatan yang reguler harus dilakukan. Maka, ruang terbuka hijau di sekitar waduk, outlet air dan sempadan wajib diadakan. Jika untuk itu hutan kota harus didirikan ya lakukanlah. Maka, pemukiman di sepanjang sempadan waduk dan outletnya tidak boleh ada. Maka, pengelolaan daerah upstream, transportasi dan downstream, yang bila perlu melibatkan pihak pengelola sungai Pesanggrahan. Pengelolaan ini harus bersifat terpadu dan didasarkan atas prinsip-prinsip eksternalities: lintas wilayah adminsitrasi, lintas sektoral dan lintas bidang ilmu. Maka, insentif dan disinsentif perlu dipikirkan. Jasa lingkungan bagi yang memelihara ekosistem adalah perlu. Tegakan hukum seadil-adilnya tanpa pandang bulu sekalipun penduduknya botak nggak punya rambut. Relokasi penduduk? Apa boleh buat jika hal itu memang suatu keharusan.

Dalam ilmu pengelolan bencana dikatakan bahwa resiko bencana = bahaya x kerentanan x ketidakmampuan. Anda lihat bahwa ketidakmampuan adalah faktor determinan yang dapat mereduksi kerentanan dan bahaya yang pada ujungnya akan mereduksi resiko bencana. Memanfaatkan alam, apakah itu di Situ Gintung ataupun dimana saja tak pernah lepas dari resiko dan semua tentang mengelola alam secara cermat adalah bagaimana hidup berdampingan secara damai dengan resiko bencana. Bagimana cara agar memiliki kemampuan dalam mengelola alam dan sekaligus mengurangi resiko bencana? Tak lain dan tak bukan: BACALAH DAN BELAJARLAH. Inilah sejatinya 2 tanda mata yang diberikan oleh Allah lewat tragedi Situ Gintung.

Kita tidak bisa bernegosiasi, dan sebaiknya tidak berpikir untuk melakukan discount tentang pentingnya, belajar mengelola alam guna mereduksi resiko bencana jika Situ Gintung ingin tetap dipertahankan. Saudaraku, ingatlah bahwa di hari Jumat pagi buta, pada tanggal 27 Maret 2009, Situ Gintung dan air yang ada di dalamnya tidak bernegosiasi dengan siapapun ketika mereka memutuskan untuk jebol dan mengirimkan “tsunami air tawar” yang mematikan itu. Anda maoe tanda mata seperti itoe? Saya memoetoeskan TIDAK.

Tapi saya berharap anda suka dengan tanda mata dari saya untuk anda berikut ini:

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    ” BERITA KEPADA KAWAN”
    (Ebiet G Ade)

    Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
    Sayang, engkau tak duduk di sampingku kawan
    Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
    Di tanah kering berbatuan

    Tubuh ku terguncang di hempas batu jalanan
    Hati tergetar menampak kering rerumputan
    Perjalan ini pun seperti jadi saksi
    Gembala kecil menangis sedih

    Kawan coba dengar apa jawabnya
    Ketika ia ku tanya “Mengapa?”
    Bapak ibunya telah lama mati
    Ditelan bencana tanah ini

    Sesampainya di laut ku khabarkan semuanya
    Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
    Tetapi semua diam, tetapi semua bisu
    Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

    Barangkali di sana ada jawabnya
    Mengapa di tanahku terjadi bencana

    Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
    Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
    Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
    Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

  2. fajroelaen mengatakan:

    wow….sediiiihhhh dan prihatin…..kita bangsa 1000 bencana beneran ni…

  3. Fakhroxy mengatakan:

    ikut berduka cita…posting yang mengusik pikiran…

  4. dwibayusasongko mengatakan:

    sedih…berduka…prihatin…dongkol….lengkap deh…

  5. dahfy mengatakan:

    kesalahan ada pada pemerintah yang nggak perdulian. Trus, begitu kejadian bareng-bareng melakukan GCT gerakan cuci tangan. Parah

  6. erliningtyas mengatakan:

    duka mereka adalah duka kita…..duka Indonesia…..
    carilah hikmah kembangkan makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s