hidup terus menggelinding like rolling stones

Posted: Februari 6, 2009 in musik
Dear sahabat blogger,

Saya aslinya adalah penggemar sejati musik-musik bergenre country dalam berbagai variansnya termasuk jenis-jenis folk song. Alasannya sangat sederhana, yaitu memasuki masa usia pertumbuhan, musik-musik yang berjejalan di sekitar saya adalah musik yang konon berasal dari orang – orang Eropa yang mencari kehidupan baru di negeri harapan – land of freedom – Amerika.

Ya, di tahun 1960-an akhir dan 1970-an awal, musik pop Indonesia yang saya dengar-dengar lewat radio umumnya dikuasai oleh penyanyi seperti Rahmat Kartolo. Muchsin, Koes Plus dan yang sejenisnya. Lagu Patah Hatinya Rahmat Kartolo jelas bergenre countyr. Koes Plus dan sebelumnya adalah Koes Bersaudara memiliki pakem awal sebagai epigon Everly Brothers yang country.

Dari Barat, lagu-lagu Everly Bother mendominasi arena pesta-pesta pernikahan di kampung saya. Lagu “Hello Darling”-nya Conway Twitty, yang merajai arena dansa walza di kampung saya, adalah pure pop country. Pertama kali saya belajar memainkan gitar, guru gitar saya ketika adalah abang saya sendiri – Bung Budhi Blogger -lagu yang dimainkan adalah “Bank of Ohio” yang contry 3 jurus itu.

Lalu berhamburanlah para musisi country dan folk dalam koleksi kaset saya – yang duit untuk membeli kasetnya hasil mengakali my dear in memoriam mother – mulai dari John Denver, Kenny Rogers, Johny Cash dan sudah barang tentu Robbert Zimmerman alias Bob Dylan . Si Bobby memang menjadi ikon utama musisi dengan syair-syair kritik sosial. Tak heran jikalau Iwan Falz mengaku sebagai fans beratnya Bob Dylan juga.

Di jajaran penanyi Indonesia adalah Franky and Jane yang merupakan idola berat saya. Nah naman John Denver sebenarnya saya peroleh karena di koran dimuat pengakuan Franky Sahilatua bahwa John Denver adalah penyanyi favoritnya. Jadi, karena Franky suka JD saya ikutan suka JD. Lalu ada Mogi Darusman yang lagunya Rayap-Rayap pernah diberangus ORBA. Dan sudah barang tentu Iwan Falz. Semuanya adalah musisi bergenre country and Folk. Pokoknya, bagi saya, musik adalah country. Nothing else.

Sampai satu ketika, tahun 1981, saya berangkat ke Jogja, dan bertemu sang guru gitar saya yang pertama, ya bung Budi itulah. Di kamarnya, bung Budi menunjukkan kaset Group Band asal Inggris. The Rolling Stones. Group Band beraliran Rock. Tepatnya Rock n Roll Band + sedikit bumbu Blues.

Ah, malas dengar….. kata saya.
Tak enak di kuping
Bising

Lalu bung Budi menukas,
eh, dengar dulu
nanti baru dikomentari

Yah, saya lalu mencoba menyimak, dengan sikap ogah-ogahan, lagu dari Group itu. Saya ingat betul lagu itu berjudul Jumping Jack Flash. ……. wuuuiiiihhhhh…enak juga ternyata….trus disambung satu lagu berikutnya….Angie…..weeellleeeeehhhh……asyik iniiiiii…..lalu 1 lagi, …… Satisfaction….wwaaaaaahhhhhh……..saya langsung menanyakan …..di Jogja toko kasetnya di mana? ….. Saya mau beli kaset dari Group ini. Sejak saat itu saya menyukai The rolling Stones. Fanatik bahkan. Saya punya koleksi seri TRS sampi jiid ke 21 ……. (sayang sekarang banyak koleksi saya yang hilang atau rusak). Dan buka sekedar meyukai TRS tapi juga musik bergenre Rock….yeeeaaaccchhhh…..

Lalu, sampailah pada tahun 1983. Saya punya seorang cewek gebetan yang juga penggemar musik. Ketika itu masih tahap awal sekali berpacaran. Si Do’i sangat menyukai lagu-lagu Rod Stewart dan The Police. Belakangan saya suka juga The Police tetapi ketika itu, bagi saya jelas The Police bukan tandingannya TRS. Khas penggemar fanatik meski sebenarnya pasar musik dunia saat itu tengah dikuasai oleh genre musik rock new wave dan ska. Pentolan-pentolannya antara lain Sex Pistol, Duran-Duran dan yang paling top ya itu tadi the Police. Kami bersitegang. Saya ngotot ingin mendengar TRS sedangkan si Do’i sukanya TP. Piyeeee carane?????? Dan Eurekaaaaaa…..TRS mengeluarkan sebuah album baru dan lagu andalannya adalah “Undercover of the Night”. Di lagu ini, TRS ternyata bersusaha memberi bumbu bagi musiknya yang rock n roll itu dengan sedikit nuansa new wave dan ska.

Wooowww, ketika mendengarnya ternyata si Do’i suka juga lagu itu. Buka cuma suka tetapi juga ikut ketagihan TRS. Ahaaaaaaa……satu langkah pion catur masuk ke benteng pertahan si Do’i….dan tak perlu waktu lama, 1 tahun berikutnya lahirlah sulung kami, Norman yang merupakan “campuran” musik rock n roll, blues, new wave dan ska….akibatnya Norman ternyata mengidap “kegilaan” mirip nyak babe nye…..ha ha ha ha ha ha….Saya lalu enggak tahu lagi haru berterima kasih atau marah sama TRS atas apa yang terjadi …..ha ha ha ha ha…..

Apa moral ceritera di atas?

1. Jangan takut menghadapi dan melakukan perubahan;
2. Hidup akan terus bergulir. Suka atau tidak suka. So, keep on rocking en rolling your life beibehhhhh….

Mau dengar racikan campur aduknya The Roling Stones + Bibir nDowernya Mick Jagger? Click judul lagu di bawah ini.

Komentar
  1. srengsreng12 mengatakan:

    i can.t get no satisfaction…though i try …aiaiaiaiaiai…yeachhh…..jagger mania juga nich yee….ha ha ha ha..asyiiikkkk….

  2. taufik07 mengatakan:

    yes, lif is like the rolling stones…..wweeeeeeccchhhh…

  3. trahx mengatakan:

    changcuter is plagiat buruk abiezzzzzssss TRS….hidup TRS….keep on rocking beibehhhh….

  4. Dicky..... mengatakan:

    its only rock n roll i like it, by The Rolling Stones……Love in Vain,Wild horses,Sister Morfhin,The Spider & the fly….dan msh banyak lg lagu2 faporit ku dari the Rolling Stones…lam kenal buat para Stones Lover…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s