hari begini 1 bulan yang lalu

Posted: Februari 3, 2009 in Aboutme

Dear sahabat blogger,

Dalam sebuah Kitab Tua ada tertulis dengan amat tepat dan akurat……”Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”…..2 Januari rasanya baru 2 hari yang lalu,. Riuh rendah orang berdatangan melayat masih belum hilang dari telinga. Tangis duka sedih masih terhunjam di jantung hati. Bahkan, tatapan mata nanar Ibunda ketika membisikkan kata …. kau pulang Kupang duluan dan bersihkan rumah ……. seperti baru 5 menit lewat terjadi……

2 Februari sekarang. Tiga puluh hari lewat sudah sejak tanggal 2 Januari 2009. Ya, hari ketika Ibunda pergi meninggalkan saya dan kami semua. Hari ketika dengan perih kami berucap lirih….bapa dan mama, kami yatim piatu sekarang…..Apa arti semua ini? Mengapa harus saya tulis sesuatu yang sangat pribadi ini di ruang publik. Mestinya bukan karena cengeng. Mestinya bukan karena ingin tampil menghiba-hiba. Tidak. Ada sesuatu yang perlu saya, kami dan kita semua belajar. Apa itu? Adalah ini: kematian mungkin bukan akhir tapi sebuah permulaan.

Sebuah buku yang menarik, jika bukan dahsyat, ditulis oleh oleh seorang Kanada pada tahun 1985 – Vadeboncoeur – dan diberi judul “L’absence. Essai a la Deuixieme Personne”. Salah satu bab buku ini berbicara tentang “Kematian yang Ditantang”. Di mana letak dahsyatnya buku ini? Begini:

Pada tahun 1973 masyarakat Amerika dan Eropa membaca sebuah buku best seller karangan Becker – The Denial of Death”. Dalam buku ini dianalisis panjang lebar tentang bagaimana masyarakat barat berusaha melarikan diri dari masalah kematian. Membicarakan kematian adalah tabu. Berger (1987) menulis bahwa masyarakat Barat melakukan “penipuan diri ” terhadap masalah kematian. Bahkan sebenarnya pada abad ke-17 Blaise Pascal sudah menulis bahwa “karena umat manusia tidak berhasil mengatasi kematian, kesengsaraan dan ketidak tahuan, mereka memutuskan untuk tidak memikirkan tentangnya, supaya bisa berbahagia”. Apa inti dari untuaian teoritis yang saya kutip di atas? Tidak lain dan tidak bukan adalah….karena kematian adalah misterius dan mendatangkan kesengsaraan maka jangan berpikir tentangnya, JIKA ANDA INGIN BERBAHAGIA…..Dari untaian kata di atas jelas terlihat bahwa:

  1. Kematian adalah kengerian dan sengsara;
  2. Cilakanya, karena anda hidup maka suatu waktu kengerian dan kesengsaraan itu pasti datang.
  3. Membayangkan bahwa anda akan sengsara dan ngeri maka JANGAN BERPIKIR TENTANG KEMATIAN;
  4. Ketika anda tidak berpikir tentang kematian maka ANDA AKAN BERBAHAGIA.

Lalu, bagimana ketika kematian itu datang juga? Ya, tidak ada jalan lain selain berduka. Maka, anda lihat seluruh perangkat sosial dan budaya masyarakat, dimana saja, pada umumnya, memberi label DUKA ketika berhadapan dengan peristiwa kematian. Di Kupang, kerumuman orang yang menghadiri kebaktian pemakaman akan disebut sebagai Sidang Perkabungan. Sidang Duka. Karangan bunga yang dikirim untuk keluarga yang mengalami kematian, di atasnya ditulis kata …turut berduka cita……Sekarang silakan anda mengumpulkan semua kosa kata yang bertalian dengan peristiwa kematian, hampir pasti selalu berhubungan dengan satu kata itu, yaitu duka. Duka cita. (Kecuali bagi sahabat-sahabat yang berasal dari Kepulauan Alor di NTT, yang memiliki marga Duka – sahabat saya dahulu bernama Eben Duka. Meski demikian saya jarang melihat dia suka berduka karena hobinya adalah: bernyanyi ……ha ha ha ha ha).

Di titik inilah hebatnyanya buku karangan Vadeboncoeur itu. Mengapa? Karena dia menulis bahwa kematian bukanlah kedukaan. Kematian hanyalah “lintasan upacara” menuju suatu perjumpaan hierofani antara dua pihak eksistensi, yaitu eksistensi yang ada sekarang dan eksistensi “ADA” di kekekalan. Eksistensi yang sekarang adalah being yang profan dan eksistensi yang kekal adalah being yang sakral. Bagaimana kedua being tadi bisa terhubung? Satu saja alatnya, yaitu KASIH. Jadi, kematian adalah prosesi pengubahan Kasih, yaitu dari kasih yang bersifat profan menuju kasih yang kudus. Vadeboncoeur mengatakan bahwa prosesi kematian, ditandai oleh adanya pancaran sinar benderang yang tiba-tiba datangnya. Menyergap dan membuang selubung being profan dan digantikan dengan being baru yang sakral. Siapa yang melakukan itu semua? Sesuatu yang disebut sebagai ADA, yaitu Sang Eksistensi yang kekal. Eksistensi yang murni ILAHI. Sekali kamu dipeluk Sang Maha Eksistensi maka tidak ada lagi kematian. Tak ada lagi sedih. Tak perlu lagi berduka.

Masalahnya, kemudian, adalah apakah ungkapan Vadeboncoeur adalah sebuah realitas atau ilusi semata-mata. Maka. Louis Leahy membandingkan tulisan itu dengan hampir dua lusin penulis kenamaan, di antaranya adalah Tolstoi, Dostoevski dan Carl Gustav Jung. Hasilnya, tulisan-tulisan itu sama persis esensinya dengan apa yang dikatakan Vadeboncoeur. Kematian adalah perjumpaan Ilahiat. Leahy juga membandingkannya dengan hasil analisis raksasa psikologi Amerika, Abraham Maslow, yang secara sistematis meneliti tentang peak experiences. Dan di akhir penelitiannya Maslow berkata bahwa “kematian hanyalah suatu proses hierofani”. Michel Hulin (1985) yang mengumpulkan pengalaman ratusan orang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, jatuh di gunung dan rupa-rupa bahaya maut lainnya Hasilnya betul-betul paralel dengan tulisan Vadeboncoeur. dan berbagai penulis lainnya.

Pengalaman orang-orang yang pernah “mati tetapi kembali hidup” itu memberi gambaran bahwa ….. ketika mereka berada dalam suatu keadaan yang sangat kritis dan mereka menyadari bahwa bahaya maut tak bisa lagi dihindari, dan oleh karena itu mereka merasa tak perlu berjuang mempertahankan hidup maka mereka akan melewati suatu gerbang cahaya terang benderang. Ketakutan akan hilang dan secara aneh mereka menemukan dirinya tidak mungkin mati lagi. Mereka sekarang bertemu dan bercakap-cakap dengan semua yang mereka kasihi yang dahulu pernah meninggalkan mereka (Hulin menulis bahwa 100% responden terlihat oleh orang lain sedang berkomunikasi dengan “something” lewat aktivitas seperti bercakap-cakap, adanya aliran airmata, dan lain sebagainya. Dan akhirnya, mereka merasa bahwa inti dari diri mereka semata-mata adalah CINTA KASIH. Mengapa? Karena pada saat mereka melewati gerbang cahaya itu mereka merasa total diterima dan disambut oleh Sang MAHA EKSISTENSI YANG TERAMAT PENUH DENGAN CINTA KASIH.

Sebagian orang menduga bahwa pengalaman orang-orang yang menjadi responden Hulin bukanlah pengalaman obyektif melainkan pengalaman yang terjadi di bawah pengaruh neurofisiologis, farmakologis dan psikologis. Namun data Hulin menunjukkan bahwa semua responden tidak sedang berada dalam kondisi-kondisi tadi. Juga ada dugaan bahwa penelitian itu hanya berlaku dalam konteks masayarakat Amerika yang merupkan lokus penelitian Hulin. Tetapi laporan Bemerjo (1987) menunjukan bahwa pengalaman bertemu dengan cahaya terang dan dalam keadaan hierofani ternyata terdapat di segala penjuru dunia berdasarkan data dari India, China, Australia, Rusia, Inggris dan…ahaaa…Indonesia. Jadi, kesimpulan Hulin bahwa kematian adalah permulaan dari suatu perjalanan KASIH abadi tidak tertolakkan lagi. Dengan begitu Vadeboncoeur tidak sedang berilusi.

Woooooooowwwwww…….ketika menulis bagian di atas tanpa terasa sekujur tubuh saya merinding dan sekaligus ……anehnya ……..merasa amat berbahagia …….. karena sekarang saya yakin – seyakin-yakinnya – SGT dan Ibunda tidak mungkin mati. Mereka ada dalam eksistensi Cinta Kasih yang Ilahi sesama mereka dan antara mereka dengan Sang Maha Eksistensi itu. Jika begitu maka Kitab Tua sekali lagi benar DIA mengatakan bahwa…mati itu untung bagiku….mengapa? Karena hidup selanjutnya adalah keabadian yang Ilahi. Kematian bukan persoalan. Ternyata.

Itukah pelajarannya? Mungkin ya tetapi bukan itu pamungkasnya. Sebab jika saya berhenti di situ maka saya tak lebih baik dari Almarhum Kurt Cobain, vokalis group Nirvana yang memuja kematian. Dipikirnya, dengan buru-buru mati maka hierofani cepat terjadi. Saya adalah saya yang masih hidup. Jika kematian bukan persoalan maka sudah pasti hidup itulah persoalannya. Realitas persoalan saya sekarang adalah hidup. Kematian itu urusan nanti. Sekarang, saya masih perlu makan. Masih perlu berobat. Masih perlu menghidupi anak dan isteri. Masih perlu merawat persaudaraan. Mengajar di Kampus. Memimpin kebaktian di Rayon sebagai Penatua. Masih banyak hal lagi yang menunjukkan bahwa hidup harus dijalani. Hari lepas hari. Jangan berlari dari hidup seperti juga jangan berpikir bisa menghindari kematian. (ah, teringat posting saya sebelumnya bahwa jika tidak bisa menghindari perubahan maka berdaptasilah. Berdamailah).

Jika benar demikian maka apa? Tulisan di atas mengisyaratkan satu hal penting, terpenting bahkan, yaitu: supaya kematian bukanlah kesengsaraan melainkan perjumpaan antar Eksistensi yang Ilahi maka sepanjang hayat dikandung badan HIDUPLAH DALAM CINTA KASIH. Hiduplah dengan cara mengasihi diri sendiri (rajin, cermat, cerdas, bekerja keras, menjaga kesehatan, hemat dan lain sebagainya). Hiduplah dengan cara mengasihi sesama (perduli, murah hati, panjang sabar, tidak sombong, tidak pemarah, tidak memendam dendam dan lain sebagainya. Hiduplah dengan cara mengasihi Sang Maha Eksistensi (hidup dalam kekudusan).

Saya bersaksi bahwa SGT dan Ibunda sepanjang hayat mereka, meski tidak sempurna sebagai manusia, mereka mempraktekkan hidup dalam kasih sebagai ideal realitas mereka. Tetangga mereka mengatakan begitu. Kolega mereka juga begitu. Ribuan pasien mereka setuju dengan itu, yaitu bahwa SGT dan Ibunda adalah ORANG BAIK. Untuk orang-orang yang mau hidup dalam KASIH pengalaman-pengalaman hierofani akan terjadi. Dalam percakapan sehari-hari kita sering mengatakan bahwa ….eh, mereka seperti sudah tahu bahwa mereka segera akan pergi menuju gerbang cahaya ….. Tak heran jika pada tanggal 30 Desember 2008 di sore hari, Ibunda berbisik kepada saya….bapakmu sudah menjemput saya ….. kau pulang duluan ke Kupang….bersihkan rumah. ……. Dan ketika ajal menjelang, tanggal 2 Januari 2009, adik saya DTN yang masih berada di RS PGI Cikini menyaksikan …… SGT dengan senyum penuh kasih “menggendong” Ibunda, sahabat hati terkasihnya. Lalu, berdua mereka “terbang” menuju suatu kilatan cahaya. Cahaya apakah gerangan?…..KASIHILAH TUHAN MU. KASIHILAH SESAMAMU SEPERTI DIRIMU SENDIRI…..dan jika itu dilakukan maka gerbang cahaya itu adalah SURGA tempat bersemayam semua yang Ilahi. Sudah barang tentu SANG MAHA ILAHI.

Selamat Berbahagia Robert. Selamat Berbahagia Agustine. Damailah Bersama Sang Maha Ilahi. Doakan kami dari tempatmu berada agar kami mampu menjalankan perintah Sang Maha Kasih untuk hidup dalam KASIH.

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. taufik07 mengatakan:

    Wah, filsafat berat nih…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s