iklim global yang berubah adalah perubahan itu sendiri

Posted: Januari 28, 2009 in Artikel

Dear sahabat blogger,

Sekedar mengingatkan sahabat blogger nan bijak bestari bahwa saya pernah memposting artikel berjudulhttp://www.Per.uB-@h.an. COM//: mAukah anda BERUBAH?” Masihkah diingat? I’m hope so…..Ketika itu saya mengutip sebuah paradigma filsafat tentang perubahan, yaitu “satu-satunya yang tidak berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri”. Sampai akhir masa edar tulisan itu, semua komentar yang masuk tak satupun yang menolak paradigma itu. Paling banter mempertanyakan apa itu perubahan. Singkat kata, perubahan adalah realitas yang tak tertolakan. Dia ada dan kita harus menghadapinya. Sekali kita lengah maka kita akan ditelan monster dahsyat yang bernama PERUBAHAN. Saya cukupkan pendahuluan ini. Selanjutnya, saya ingin mengajak para sahabat untuk masuk ke sequenze berikutnya.

Minggu kemarin, saya diundang untuk menyampaikan makalah dalam sebuah seminar tentang kesiagaan bencana. Topik yang diminta untuk dibahas adalah perubahan iklim (climate change). Oh, saya dengan suka cita membahasnya karena memang ada satu dan dua dikit pengetahuan dalam perkara itu. Dan sudah barang tentu…..honornya bung en sus……honor……..bisa untuk menyambung hidup sebulan penuh. Maklum PNS. Penghasilan Nggak cukup Sebulan ……ha ha ha ha ha ha..…..Audiens acara itu adalah LSM-LSM se daratan Timor yang perduli bencana, institusi pemerintah, pers dan tokoh masayarakat. Lengkap. Tak lebih tak kurang. Sambil menunggu giliran berbicara, saya mengikuti secara saksama niveau yang berkembang dalam sesi-sesi sebelumnya……

heiiii…..ada pemanasan global……
ada gas rumah kaca……

apakah itu karena rumah yang banyak kacanya? (hi hi hi hi….yang bertanya nggak mengerti tuh……)
ya, rumah kita sekarang sudah terlalu banyak k
acanya…….dinding kayu diganti kaca…..atap daun diganti seng (ha ha ha ha yang menjawab juga enggak kalah sontoloyonya….)
ada lubang ozon……
Kekeringan….

Banjir…..
CO2 jadi gara-gara semua itu…….
STOP PEMANASAN GLOBAL……
caranya…..
.. tanam pohon sebanyak-banyaknya biar bisa menyerap CO2……bikin pulau Timor hutan semuanya…..
Bisa ber
hasil dengan hutan: PASTI….
NTT ….
Nanti Tuhan Tolong.…..
waaaaaaallllaaaaaaahhhhhhh……..

Sampailah giliran saya. Dan ini yang saya katakan.

Dahulu kala, sekitar 600 juta tahun yang lalu, bumi kita atau planet terkasih ini terdiri atas dua benua (continent) besar, yaitu Laurasia di utara dan Goodwanaland di selatan. Lalu, sekitar 300 – 250 juta tahun terjadi perubahan yang dramatik. Dua benua tadi bergabung membentuk 1 daratan besar yang disebut pangaea. Benua tungal ini dikelilingi oleh samudera luas yang disebut panthalassa. Pada sekitar 100 juta tahun lampau (engkong situ udah ade belon ya????? he he he), benua besar yang satu itu kembali berubah menjadi benua-benua yang terpisah seperti sekarang, yaitu Afrika, Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Antartika. Peristiwa ini disebut sebagai pergerakan benua. Dalam bahasa dou Gree (Inggris dalam bahasa Sabu) dikenal sebagai continental drift theory. Apa hubungannya dengan pemanasan global? Penghanyutan benua menyebabkan adanya kolom udara yang mengalami pemanasan. Hal ini mendorong terjadinya proses adiabatik. Lalu, kolom udara dengan proses adiabatiknya itu melepaskan panas perlahan-lahan ke lingkungannya. Gampangnya begini, karena benua bergerak maka udara menjadi lebih panas. Jadilah pemanasan global. Berapa suhu atmosfer selama proses ini terjadi? Nih saya kasi tau: 30-50 oC atau 5-9 oC lebih tinggi dari suhu bumi sekarang. Selesai? belum. Gerakan permukaan bumi bukan cuma itu. Entah masuk angin entah kena apa tapi bumi juga sering batuk-batuk. Erupsi. Peristiwa vulkanik itu menyebabkan peningkatan aerosol di udara dan menyebabkan suhu meningkat antara 3-4 oC.

Apakah proses penghanyutan benua sudah terhenti sekarang? Apakah bengeknya dan batuknya bumi sudah tiada? No Sir. No Sor (No madame maksudnya hi hi hi ). Proses-proses itu sedang dan akan terus terjadi. So? ya soook atuuuuhhhh…..ha ha ha ha….. Dan saya terus mendongeng di ruang seminar itu. Yang ber AC dan berhonor itu hi hi hi…..

Pemanasan global terjadi bukan dalam skenario di atas itu saja (geological theory). Bumi yang makin panas juga bisa terjadi karena situasi astronomi – astronomical theory – (ingat lho ya buka astrologinya mama Lauren). Pertama, ada seorang ahli berkebangsaan Serbia bernama Milancovitch yang mengemukakan teori tentang Daur Milancovitch. Mister Milan (yang bukan Inter Milan atau AC Milan itu) mengatakan bahwa bumi kita akan mengalami perubahan orbit setiap 105.000 tahun. Sudut bumi akan berubah dari 23,5 derajat yang berbentuk elips menjadi 21,1 derajat yang berbentuk lingkaran. Pada saat berbentuk lingkaran, suhu bumi akan meningkat 20-30% lebih tinggi dibandingkan ketika berbentuk elips. Dengan cara ini terjadilah pemanasan global. Kedua, pemanasan suhu global menurut teori astronomi juga dapat terjadi karena adanya noda di matahari (sunspot theory). Entah si matahari selingkuh atau apa sehingga terjadi noda tak berampun itu ha ha ha ha. Makin banyak noda di matahari (sunspot) suhu makin rendah. Peningkatan jumlah noda akan terjadi setiap 11, 22 dan 80 tahun. Jadi, naik turunnya suhu bumi linear dengan siklus ini…….Wuuuuuiiiiuuuhhhh……diam-diam saya mengamati wajah peserta……mereka tampak terpana……diam seribu ongkos. Merasa mendapat angin segar, saya meneruskan aksi pidato saya.

Skenario terakhir penyebab pemanasan global adalah emisi karbondioksida. Disebut juga sebagai teori karbondioksida. Inilah skenario yang paling dikenal oleh publik. Mantan Vice President USA, Al Gore, merupakan salah satu pendekar terdepan dari teori ini. Karbondioskida atau CO2 dari BBM fosil, pabrik, pembukaan lahan pertanian, deforestasi de el el, adalah penyebab. CO2 dan gas-gas yang bersifat antropogenik itu menyebabkan peningkatakan jumlah komponen gas rumah kaca, yaitu gas yang berfungsi layaknya kaca di glass house. Meloloskan radiasi gelombang pendek yang masuk ke bumi dan menahan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh permukaan bumi yang seharusnya meninggalkan permukaan. Radiasi gelombang panjang ini yang kita rasakan sebagai panas. Karena manusia makin aktif menghamburkan CO2 dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfir maka makin banyak pula panas yang terperangkap di situ. So what git loh???? Panaslah atmosfir kita. Secara global. Dibandingkan masa pra industri, suhu bumi meningkat hampir mencapai 4 oC di atas suhu rerata bumi. Kenaikan sebesar itu disinyalir sudah mendekati besarnya peningkatan suhu yang terjadi ketika terakhir kali es di kutub mencair, yaitu sekitar 18.000 tahun yang lalu (engkong gw belon lahir tuh). Dewasa ini, es di kutub terdeteksi mulai mencair, permukan laut naik (kata Glenn Fredly – Ambon akan tenggelam), el Nino dan la Nina silih berganti, kekeringan, banjir en so on, so on, en on, en on yang merupakan bukti signifikan terjadinya pemanasan global dalam skenario karbondioksida. Teori ini top markotop. Disetujui banyak orang. Dan Al Gore mendapat reward: Nobel Prize. Videonya diganjar hadiah oscar….woooowww…..

Lalu, mana teori yang benar? Sejujurnya penyebab pemanasan global masih ramai diperdebatkan. Ada Al Gore dkk. (2006, An Inconvenient Truth: the Planetary Emergency of Global Warming and What We Can Do about It – Rodale, New York) di satu pihak dan ahli seperti Sorokhin (2007, Global Warming and Global Cooling : Evolution of Climate on Earth – Elsevier Amsterdam), di lain pihak. Bagi Al Gore dan kawan-kawan peyebab pemanasan global bersifat man-made (antropogenic). Oleh karena itu pemanasan gobal dapat dicegah. Bagi Sorokhin dan kawan-kawan, terutama kelompok geologist, pemanasan global bersifat alami (natural). Global warming tak bisa dicegah. Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Pasrah dan menerima nasib. Bagi Al Gore dkk. mengurangi emisi gas rumah kaca merupakan jalan keluar. Bagi Sorokhin dkk. reduksi emisis gas rumah kaca BUKAN SATU-SATUNYA jalan. Dalam ternag teori CO2, menanam pohon guna mereduksi CO2 adalah obat manjur. Sebaliknya, jika mengikuti logika teori natural maka apakah anda menanam pohon atau tidak, global warming pasti akan terjadi. Kehidupan akan tersapu habis dilandanya. Kiamat (bukan Ki Amat). Dan….heeiiii, saya melihat….sepintas……di mata peserta seminra ada terkilat cahaya ketakutan….

Sekarang saatnya saya berpendapat, menurut hemat saya, diluar perdebatan tentang penyebabnya, ada satu hal yang telah disepakati, yaitu pemanasan global adalah realitas. Mempercakapkan penyebabnya adalah sah-sah saja. Menduga-duga penyebab dan solusinya benar semata-mata. Tetapi sejarah bumi mengajarkan bahwa berpegang kepada 1 jawaban solusi adalah bukan jawaban. Menuding CO2 sebagai satu-satunya biang kerok pemanasan global adalah simplifikasi permasalahan yang berbahaya. Anda mengira penyebab mobil anda mogok karena ban kempes. Mungkin benar mungkin pula tidak. Nyatanya ada penyebab lain. Bensin habis misalnya. Simplifikasi masalah akan menuntun pada solusi yang bersifat in-complete. Kurang komprehensif. Di lain pihak, tagal ada teori lain bahwa penyebab pemanasan global bukan cuma CO2, lalu menertawakan usaha orang adalah juga naif. Bukan cara yang baik mengatasi masalah. Menertawakan usaha orang lain menambal ban sementara anda sendiri, sebagai penumpang mobil mogok yang sama, hanya diam berpangku tangan adalah sikap konyol dan tak bertanggung jawab.

Ada satu cara untuk memahami persoalan dengan baik, yaitu semua yang terjadi adalah konskuensi hidup. Apa itu? PERUBAHAN. Siapa bisa menahan perubahan? Sejarah bumi mengajarkan bahwa global warming adalah perubahan. Bumi pernah hanya terdiri atas satu daratan besar. Pangaea. Sekarang berpencaran membentuk 6 benua dan anak-anak benua. Es Kutub pernah mencair sesudah itu kembali membeku. Jika sekarang mencair kembali, itulah perubahan. Tidak mungkin mencegah perubahan. “Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri”. Cukupkah sikap ini? Tidak. Kita tidak bisa berhenti hanya dengan memandang perubahan dengan ternganga. Tidak boleh hanya menakut-nakuti orang tentang dampak Global Warming yang tak bisa bisa dicegah itu. Tunggu kiamat. Terima nasib. Tidak bisa begitu. Harap diingat, semua perubahan iklim global di masa lampau, sampai ketika es mencair 18.000 tahun lalu, terjadi pada situasi tanpa peradaban manusia. Belum ada peradaban manusia yang dilanda habis. Tsunami Aceh 2004 saja sudah menggetarkan hati apalagi bencana global dengan miliaran nyawa sebagai pertaruhannya. Tidakkah tergetar hati anda? Perdulilah Bung. Perdulilah Sus. Apa? What? PERDULI. Jangan abai tentang bahaya besar ini.

Kita bisa mulai dengan aforisme ini: if we can not fight it, let adapt to it. Semua makhluk hidup akan melakukan 3 taktik biologi berikut ini jika terjadi cekaman, yaitu avoidance (menghindar), ameliorate (mengubah) dan adapt (menyesuaikan). Menghindarlah ketika masih mungkin. Ubahlah sikap dan cara hidup anda jka tak mungkin menghindar. Dan, berdamailah dengan semua yang terjadi. Lakukanlah semua itu. Mulai dari diri sendiri. Dari rumah sendiri. Lalu keluarlah dari rumah. Ajaklah semua orang untuk beramai-ramai perduli akan perubahan. Ya betul, hadapilah perubahan apapun resikonya. secara bersama-sama. Karena bumi ini milik kita bersama. Dahulu saya lengkap memiliki Ayahanda, Ibunda, dan 10 orang bersaudara. Sekarang saya yatim piatu. Saudara berpencaran. Menghindari situasi ini? Tidak mungkin. Yang perlu saya lakukan adalah mengubah kebiasaan agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Hiduplah berdamai dengan perubahan supaya jangan tersapu habis oleh perubahan. That’s all my friends.

Bagi sahabat yang pengen ngeliat bukti nyata telah terjadinya proses pemanasan global, saya persilakan melihat secara saksama gambar berikut ini. Dan akhirnya, saudara-saudara ku terkasih……ini dadaku……mana dadamu……ini seminarmu……mana honorku …….ha ha ha ha…..

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    Dear sahabat blogger, selamat membaca. Semoga bermanfaat

  2. taufik07 mengatakan:

    baru tau…..ternyata ga simpel ya si GW?????

  3. erni.l mengatakan:

    pagi Sir. emang bener sih teori kang mas hehe, setuju 2x tdk semua ulah manusia alias cecurut yg rakus dan haus ya kang, tapi perlu kita sadari dan kita akui eh boleh juga kita renungkan.bahwa manusia juga menyumbang peranakan eh peran yang cukup besar terjadinya gombal maning men. liat aja banyak yang tdk sadar lingkungan mahan buang sampah sembarangan lo? malah di jkt buang hajat sembarangan malu deh aku ha ha. blm lagi intervensi lahan utk tidur kita n cari makan yang logging2 icu lo nah siapa yang setuju angkat kaki ha ha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s