berjalanlah terus meski takut

Posted: Januari 19, 2009 in Aboutme
Dear sahabat blogger,

Di tengah kesibukan, saya berusaha menyempatkan diri memposting sesuatu. Mengapa? Oh, sangat simpel sahabat. Saya takut disebut sebagai pembohong. “Orang banyak mohong” kata Gabby keponakan saya nan lucu dan cerewet.
  • Lah, memangnya kenapa kalau dikatakan sebagai pembohong?
  • Nggak apa-apa juga sih…cuma saya kuatir….tir tir tir …… dengan begitu saya akan mendapat cap baru, yaitu sebagai manusia yang berani malu. Nekad ketawa-ketiwi di depan blog padahal sudah membohongi sahabat blogger.
  • Lho lho lho lho……..ini yang bener yang mana? takut atau berani? Atau takut tapi berani. Atau berani-berani takut……
  • wiiiiuuuuiihhhhh…..ribet dah…..

Ada apa dengan takut, berani, takut-takut berani dan seterusnya itu? Baiklah, saya memulainya dari yang satu ini

Semalam saya membaca sebuah buku yang amat bagus yang berjudul “menguak fakta, menata karya nyata” yang sebenarnya merupakan hasil sdari satu penelitian yang dilakukan oleh 3 orang, yaitu Pdt. Dr. Rijnardus A. Van Kooij (UKDW, Jogjakarta), Pdt. Sri Agus Patnaningsih, M.Th (Pendeta Jemaat GKI Ressud, Surabaya) dan seorang jemaat awam, yaitu Yam’ah Tsalata A., SIP. Buku ini berisikan uraian tentang model-model pembangunan Jemaat dengan menggunakan metode perencanaan yang baik. Tentang hal ini saya tidak akan menuliskannya di sini tapi ada hal menarik yang membuat saya memutuskan untuk siang ini juga melakukan. Eurekaaaaa. Saya menemukan bahan posting.

Apa bahan itu? ini. Sekumpulan data. Dari sejumlah 2600-an responden , yang berasal dari seluruh Indonesia, ada jawaban terhadap aneka pertanyaan. Di antaranya adalah ini:

  • Apakah anda pernah merasa kesepian di tengah keramaian? 42,7% menyatakan tidak pernah tetapi 57,3% menyatakan selalu, sangat sering, cukup sering, kadang-kadang dan pernah;
  • Apakah anda pernah merasa takut dalam hidup ini? 26,4% menyatakan tidak pernah tetapi 74,6% menyatakan selalu, sangat sering, cukup sering, kadang-kadang dan pernah.
  • Apakah anda merasa asing dengan budaya moderen? hanya 33,9% yang menyatakan tidak pernah. Mayoritas, 66,1%, mengatakan merasa asing.

Apa yang dapat saya simpulkan dari data di atas? Dengan mengabaikan bagaimana tingkat keterujian signifikansi statistiknya, maka adalah ini: di jaman milenium 3 ini, ternyata, masih terdapat mayoritas orang dari sekumpulan populasi yang merasa teralienasi dari dunia nyata dan takut menghadapi hidup di dalamnya? Benarkah? mari kita verifikasi dengan data lainnya:

  • 82% responden meninggalkan rumah di bawah 5 jam dan di antara 6-10 jam;
  • 97% hidup bersama keluarga. Hanya 1,3% yang hidup seorang diri;
  • 62,0% responden bekerja dalam radius 01 – 5 km dari rumah;

Lihatlah sekarang, mayoritas responden ternyata adalah orng yang leboh suka tinggal bersama keluarga, bekerja dekat-dekat rumah dan sebisa-bisanya cepat-cepat kembali ke rumah. Nah lo…..ternyata memang keterasingan dari dunia ramai (alienasi) dan takut menghadapi hidup masih sangat dominan. Maka, selamat bagi saudara-saudara saya yang jauh-jauh merantau ke Jawa dan, bahkan luar negeri. Anda semua adalah pemberani. Sementara saya, yang inggal dekat keluraga besar, bekerja dekat-dekat rumah, selalu ingin cepa kembali ke rumah adalah manusia penakut. Ada bebrapa cara untu menolak logika ini tetapi kali saya tidak ingin melakukannya sebab mungkin ini merupakan penjelasan paling masuk akal bahwa saya adalah anak yang “paling terpukul” dengan kembali pulangnya SGT dan Ibunda ke Rumah Bapa di Surga.

Apa arti semua ini? Saya sebenarnya masih berbicara tentang makna hidup di dunia yang merupakan tempat mampir minum ini. Leahy (1989) menyatakan begini “terhadap pertanyaan apa tujuan manusia hidup di dunia ini ada 3 jawaban pilihan di mana setiap orang dipaksa untuk memilih satu di antaranya. Tidak boleh mendua karena ketika anda memilih satu maka dua yang lainnya akan tertolak”. Apa jawaban yang disediakan oleh Leahy itu?

  • Saya hidup mengikuti seluruh tuntutan kehidupan. Apa saja yang ditawarkan hidup, diterima saja apa adanya. Jangan ditolak. Jangan dipilah. Que sera-sera, What ever will be will be. Carpe Diem. Jangan takut. Hidup mengalir seperti air. Ikuti saja. Jadilah pemberani. Jadilah makhluk bebas yang tak tertundukkan oleh apapun juga sekalipun itu adalah hal-hal ideal dan ilahi. Mengapa demikian? Karena hal-hal ideal adalah penindas kebebasan. Hidup tidak memerlukan pakem tertentu sebab sang pakem akan menerjang balik kebebasan. Prinsip ini disebut sebagai penegasan hidup. Nietszche adalah salah seorang penganjur makna hidup tipe ini. Karena itu dia menyerukan….mari membunuh tuhan karena tuhan mengekang kebebasan menikmati hidup apa adanya. Sikap ini umumnya dipandang sebagai sikap hidup. yang berani. Jalani hidup sebagai suatu hak tanpa perlu dibebani kewajiban Ketika Ibunda dan Ayahanda pergi ke seberang sana, jangan tunduk kepada rasa pedih. Tertawa saja sesukanya karena kesedihan adalah penindas kebebasan. Tertawa saja meski orang lain datang melayat dan menangis. Anda terlihat aneh karena jauh dari kepatutan norma sosial? Ah, preketek. Apakah sikap semacam ini mutlak benar? Sayangnya tidak karena hidup pada dasarnya terbatas. Dapatkah kita makan terus menerus tanpa berhenti? Realitas semacam ini menegasikan pemaknaan hidup seperti ini. Hidup semacam ini sepintas terlihat berani tetapi sebenarnya takut menghadapi fakta.
  • Hidup adalah terbatas oleh karena itu tolaklah semua gagasan tentang hal yang ideal. Mengapa? Karena kita manusia sangat terbatas dan jangan mau cari perkara dengan hal-hal ideal karena dia akan memperbudakmu seumur-umur. Tuhan adalah gagasan yang ideal oleh karena itu, jauhkan diri dari padanya. Jangan turuti kemauannya karena kebebasanmu akan terenggut oleh tuntutan-tuntuan sang ideal itu. Kita yang terbatas ini seharusnya bertuankan terhadap diri sendiri. Di sinilah letak ironinya pemaknaan hidup cara ini yang disebut sebagai eksistensi yang memberontak. Di satu pihak mengakui adanya keterbatasan dirnya sendiri tetapi di lain pihak mengangap bahwa dirninya yang terbatas itu adalah tuan atas dirinya sendiri. Dia ternyata mengidealkan dirinya sendiri. Manusia-manusia seperti ini adalah golongan peziarah di tempat mampir minum yang egois. Menyadari bahwa dirnya terbatas maka segala sumberdaya apa yang bisa ditelan akan disikat semuanya. Sendirian. Tak perlu berbagi karena akan mengurangi jatah sumberdaya untuk diri sendiri. Ibunda dan Ayahanda yang meninggal harap menguburkan dirimu sendiri karena saya terlalu sibuk untuk diri sendiri. Apakah sikap hidup yang anti sosial ini adalah pemaknaan hidup yang baik? Dalam posting terdahulu saya menyebutkan ”yang tidak menangis tak punya hati”. Orang-orang tipe ini terlihat berani karena terus memberontak kepada hal-hal ideal tapi sayangnya mereka terlalu takut menghadapi masa depan. Takut tak punya apa-apa di masa depan. Takut tidak punya uang. Takut tidak punya mobil bagus. Takut tak memiliki rumah megah. Terlihat berani tetapi sesunguhnya penakut.
  • Hidup adalah bebas mengalir mengikuti arus. Tetapi sebagai makhluk tidak sempurna saya memiliki batas-batas daya serap seluruh fakta hidup. Mengatasi keterbatasan itu maka saya perlu bekerja keras meski terasa melelahkan dan menyakitkan. Saya harus mau berbagi ruang dengan orang lain karena tanpa dia saya tak punya apa-apa selain diri saya sendiri. Pemaknaan hidup seperti ini menuntut kesadaran yang terus menerus akan kondisi dan keadaan. Bekerjalah sekeras-kerasnya agar hidup tetapi katakan tidak kepada dirimu sendiri ketika hal itu berarti memakan habis hak orang lain. Hidup harus memilih dan memilah. Kapan bekerja. Kapan beristirahat. Kapan serius dan kapan bersantai. Kapan sendirian kapan kita memerlukan teman. Kapan lantang berteriak dan kapan berdiam diri. Dengan bersantai mungkin kita kehilangan kesempatan mengumpul sumberdaya sebesar-besarnya tetapi dengan begkti kita mengistirahatkan badan dan pikiran kita. Dengan berteman mungkin ada privacy yang terganggu tetapi kita memiliki relasi-relasi baru. Pilihan pemaknaan hidup ini adalah pilihan yang terlihat berani dalam takut. Sikap ini adalah berani dalam ketakutan. Takut dalam keberaniannya. Memang betul saya kuatir berbicara dengan si Achmad karena kita berbeda tetapi karena dia adalah teman sekampus saya maka saya tak punya pilihan lain selain harus berbicara dengan dia. Saya berani berbicara lantang tentang hak azasi manusia tetapi saya takut melanggar aturan. Sikap ini adlah sikap hidup yang paling berani, yaitu meski takut tetapi berani terus bekerja untuk kebaikan.
Dear sahabat blogger, tentang apa semua ini? Omong kosong besar saya di atas hanya untuk mengatakan bahwa memang menakutkan mengawali tahun 2009 yang serba tidak pasti. Ketika akan memulainya saya sudah harus bertemu dengan fakta bahwa saya sekarang yatim piatu. Bagaimana saya harus mengarahkan perahu hidup saya ketika rekan seperahu saya berkurang 1-2 individu? Baru saja akan memulai tahun 2009 dengan riang gembira, kebebasan saya sudah terenggut oleh banyaknya deretan tugas yang menanti di depan. Saya takut berjalan sendiri. Saya sungguh takut jika kebebasan saya diambil. Jadi bagaimana? Apa ada pilihan lain? Tampaknya tidak.
Tak ada jalan lain, saya harus terus berjalan meski takut. Saya harus terus berjalan dengan penuh keyakinan bahwa meskipun saya terbatas dan tidak sempurna, saya sesungguhnya tidak sendirian. Ada banyak saudara. Cukup banyak sahabat. Dan …..heiiiiii……ada sesuatu dari luar sana yang menyapa saya ……mungkin DIA, Sang Maha Ideal, sedang berbisik melalui angin yang berhembus…….”AKU tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. AKU datang kembali kepadamu“.……

Maka, ……tu ….wa …..ga …..’mpat…..langkah harus terus diayun……terus bergerak……terus berjalan……terus dan terus……… di negeri tempat mampir minum ini. Kemana? ya, kemana saja Sang Maha Ideal itu menghendaki saya pergi melangkah.

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    hmhhh…agak ruwet mbacanya nih……tapi makna tulisan ini dahsyat…sumpe abiezz….

  2. Anonim mengatakan:

    wah…makna hidup ya……hmmmm….jangan takut menghadapi hidup…….be courage (DoJ)

  3. Anonim mengatakan:

    ”AKU tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. AKU datang kembali kepadamu“….itu adalah sebuah janji suci dari Tuhan Yesus sendiri. Jangan Ragu (Thomas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s