di tempat kami mampir minum ini, sekarang: kami yatim piatu. haruskah begitu?

Posted: Januari 11, 2009 in Artikel

Dear sahabat blogger,

Delapan bulan lebih 1 minggu lalu Ayahanda saya, SGT, “pergi”. Dia berangkat begitu saja meninggalkan kami semua. Atas ijin Allah, dia berpelukan dengan malam. Tanpa sakit. Tanpa keluhan. Tanpa pesan. Kami terguncang. Kami bersedih. “Kaki tumpuan kami tinggal sebelah”. Oleh karenanya kami berusaha merawat yang tinggal satu itu dengan hal terbaik yang bisa kami lakukan. Bahagialah mama. Bahagialah.
Tetapi seiring datangnya sang Fajar tahun baru 2009, Ibunda ternyata tak mampu lagi menahan keinginan hatinya. Dia rindu untuk segera berkumpul kembali dengan belahan jiwanya. Dan, Allah mengijinkannya. Pagi itu di pukul 8.42 WIB, Ibunda pergi juga. Berhenti sudah sakit. Tak perlu lagi menderita. Tinggal kami yang menangis (bagi yang tak menangis adalah mereka yang tak punya perasaan).Tinggalah kami sendirian di sini. Tak ada lagi bapak. Ibupun pergi. Ya, kami Yatim-Piatu. Kata yang biasa kami dengar tetapi ketika merasakannya sendiri, amat pedih ternyata. Semua sayap kami patah sudah. Menangislah badan. Merataplah jiwa.

Salah satu falsafah hidup orang Jawa berbunyi begini, “sejatine urip iku mung mampir ngombe“. Setiap orang pada dasarnya selalu berada dalam suatu kisah panjang tentang perjalanan. Hidup, hanyalah salah satu episode singkat di dalam perarakan panjang itu, yaitu mampir minum. Waktu yang singkat tapi menentukan. Tanpa minum, perjalanan akan terhenti. Untuk apa perjalanan itu dilakukan? De Finance (1980) menulis bahwa manusia adalah Citoyen de Deux Mondes (warga dua dunia). Manusia adalah petualang mencari kesempurnaan tetapi senyatanya dia tak pernah menemukan kesempurnaan itu. Manusia tak pernah selesai. Dialah yang “diselesaikan” oleh kematian. Itulah dua dunia. Dua kutub.

Lalu, apa makna hidup jikalau begitu? Seorang pesimis mengatakan bahwa “untuk apa mendaki gunung jika pada waktunya harus turun kembali”. Tak jelas benar apakah lalu sang pesimis juga bertindak dengan melakukan “untuk apa makan kalau pada akhirnya lapar kembali”. Jika begitu maka pertanyaannya adalah apa makna perjalanan manusia itu?

Setelah mampir minum, kemana harus pergi?
Setelah mati, lalu apa?
Adakah kematian adalah akhir segalanya?

Saya ingin menemukan jawabannya tetapi jawaban apa yang dapat diketemukan jika air mata sudah menggenangi pipi? Jawaban mana yang bisa ditemukan oleh pikiran yang dikuasai kesedihan. Maka, saat ini, saya berhenti. Dilanjutkan nanti.

Atau, ………. dapatkah anda, wahai sahabat blogger terkasih, yang bijak bestari membantu saya menemukan jawaban yang saya cari itu?

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Falsafah Jawa ini memang memiliki pengertian yang mendalam. Tidak cukup mengunakan common sense untuk menjawabnya. Diperlukan kearifan. Btw, good posting (Nartrox)

  2. Anonim mengatakan:

    Very good blog. keep on posting

  3. Anonim mengatakan:

    nice to read all your posting here. That’s wonderful

  4. Anonim mengatakan:

    hidup kita adalah perjalanan dari dan menunju Allah sang Pencipta (DoJ)

  5. taufik mengatakan:

    wooooh, nice blog. Marvelous posting. Keep on [pstong bro. Makna hidup? Ya, jalanilah hidup menurut ketentuan Allah SWT. Gitu lo bro…..

  6. Anonim mengatakan:

    Kematian bukanlah akhir segalanya bung. Dalam Iman Kristiani, sesudah mati ada hidup abadi bersama Allah sang Pencipta.

    Roma 6:8 Tetapi kalau kita sudah mati bersama dengan Kristus, maka kita pertjaja, bahwa kita akan hidup bersama denganNja pula (Yohaneswae)

  7. mikerk mengatakan:

    thanx bagi yang sudah berkomentar. GBU

  8. Anonim mengatakan:

    Kematian bukan akir segalanya selama hidup benar di jalan TUHAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s