for all those “the campesinos”: JESUS is BORN

Posted: Desember 25, 2008 in renungan Kristiani

Dear sahabat blogger,

Sekarang tanggal 24 Desember malam. Secara tradisional, malam ini adalah Malam Natal. Apakah memang hari begini tanggal begini adalah tepat hari lahirnya bayi Yesus? Mungkin tidak begitu. Jika berpatokan pada hasil perhitungan astronomi……ingat bukan astrologi…….maka malam ketika “bintang berekor” bersinar di langit bagian timur dan arah lintasannya diikuti oleh para Majus (magus – jamaknya: magi – mereka yang mempunyai keahlian magic) dari Persia, adalah di sekitar bulan April. Tepatnya 17 April 6 tahun sebelum Masehi. Jadi? Ah, siapa yang perduli tanggal tepatnya Natal itu. Bagi saya pribadi, sepanjang Natal dimaksudkan untuk memperingati salah satu “tanda” penting dalam kehidupan rohani saya, tanggal berapapun itu, bukan soal besar. Asalkan hati lurus tertuju kepada Sang Bayi. Beres. Begitu aja kok refooootttt..……

Jikalau merayakan Natal adalah traditionally, lalu apa ada makna khusus Hari Natal bagi saya? Jawabannya bisa banyak. Tapi supaya dibikin lebih simpel maka adalah ini: Natal adalah tanda. Tanda apa? Tanda harapan. Sekedar tanda? Tidak. Karena memahami tanda adalah kodrat manusiawi saya – yang oleh karenanya (principe d’etre) saya menjadi berakal budi – maka memiliki harapan berarti saya siap untuk melanjutlan hidup apapun situasi saat ini. Apa situasi saat ini itu? Ada banyak tetapi saya mau berbagi satu dan dua dikit. inilah Natal pertama dalam hidup ketika Ayahanda tidak lagi “di sini”. Dia sudah “di sana”. Inilah Natal ketika Ibunda sedang terbaring amat lemah di Cikini. Jauh dari tempat saya duduk sekarang.

Jadi, Natal kali ini adalah Natal yang dari padanya saya ingin melihat – dan sebenarnya sudah nyata terlihat – harapan. Tidak cuma saya tetapi banyak lagi orang yang seperti saya. Bahkan kondisinya mungkin jauh lebih “buruk” dari apa yang saya alami saat ini. Malah mungkin lebih mengenaskan. Ribuan TKI yang terlunta-lunta di Malaysia. Anak-anak yang ada di kolong jembatan dan tidak jelas di mana bapak dan ibunya. Orang-orang yang tergusur karena rumahnya digusur. Orang-orang yang demi memperebutkan serupiah-dua sedekah, rela mempertaruhkan nyawanya yang cuma satu biji itu. Banyak lagi. Untuk semua mereka yang memerlukan harapan itu saya ingin mendedikasikan tulisan ini (harap anda tidak lelah mengikuti tulisan saya kali ini yang mungkin agak panjang).

Saya akan memulai dari sini: pada tahun 1966 seorang penulis mashur menulis sebuah buku yang laris. Amat laris. Judulnya: The Adventurers (Para Petualang). Almarhum Pendeta DR. Eka Darmaputera membacanya. Lalu, mencupliknya barang sedikit. Lantaran saya membaca buku tulisannya, maka saya menjadi tahu, sedikit, tentang isi buku “The Adventurers”. Dengan bantuan Mr. Gu (google) saya mendapat beberapa keterangan lainnya. Dan ini yang saya mau bagikan kepada anda.

Ceritera dalam the Adventurers mengisahkan kisah hidup sang tokoh utama Diaogenes Alejandro Xenos, disingkat Dax, dari negeri Carteguay. Jika diterjemhkan ke dalam bahasa Indonesia, nama itu diartikan sebagai “dengan kebenaran mengalahkan dunia”. Dax kecil, dengan matakepalanya sendiri, melihat keluarganya dibantai nyaris habis oleh sekelompok orang yang memberontak terhadap ayahnya yang berkuasa. Dia diselamatkan oleh Fat Cat, seorang pembantu setia dalam keluarganya. Beberapa orang pemberontak yang tertangkap lalu diikat berjejer. Seorang pamannya, yang belakangan diketahui sebagai pemberontak juga, mengeksekusi para pemberontak itu. Sebuah senapan laras panjang ditaruh di tangan Dax kecil dan dia dituntun untuk menembak satu persatu pembunuh keluarganya itu. Dan..raaaat taaaat taaat taat tat tat….semua pemberontak mati di tangan si Dax.

Kisah belum berakhir, Ayah si Dax, tuan Xenosm, sebenarnya lolos dari usaha pembunuhan itu dan lalu bergabung dengan kelompok Bandoleros, yaitu kelompok pemberontak revolusioner yang bergerilya melawan pemerintahnya sendiri. Bahkan ayah si Dax menjadi tangan kanan sang pemimpin gerakan pemberontakan. Tagal itu, Dax ikut bergabung bersama Bandoleros. Dia bertumbuh menjadi seorang remaja dan akhirnya pemuda yang tangguh tetapi kejam dan bengis tak terkira. Dalam satu kesempatan, Dax tertangkap bersama kakeknya. Di depan prajurit pemerintah keduanya berlagak tidak saling mengelnal. Untuk mengujinya, si Dax diperintahkan untuk menembak mati sang kakek. Lalu, tanpa berkedip Dax menembak mati sang kakek. Kepala kakeknya ditembak tepat di antara kedua mata kakeknya. Setelah melewati berbagai pertempuran yang berbahaya, akhirnya kelompok pemberontak menang. Sang pemimpin Bandoleros menjadi El Presidente dan tuan Xenosm, ayah Dax, menjadi tangan kanannya. Si Dax menjadi putera orang yang sangat berpengaruh di negerinya. Fat Cat menjadi pengawal pribadinya. Satu ketika, Dax dan Fat Cat berjalan-jalan take a pleasure di Ibu Kota. Tiba-tiba di kejauhan terlihat kerumuman orang banyak . Ada keriuhan di sana. Dan terjadilah percakapan berikut ini:

Fat Cat (FC): ada apa di sana?

Dax: tampaknya ada kerumunan orang mencegat kita…mereka mengemis….
FC: ah…CAMPESINOS…..(sambil meludah)
Dax: mengapa mereka mengemis?
FC: (sambil mengangkat bahu)…mereka selalu mengemis…
Dax: mereka bilang mereka lapar…..
FC: mereka memang selalu lapar….(sambil tersenyum sinis)..
Dax: …tapi seharusnya kan tidak boleh begitu?…Bukankah kita mengadakan revolusi untuk menghapuskan hal-hal begini?….
FC : (tertawa heran sambil menatap Dax)….Sahabatku, aku sendiri sudah mengikuti 3 kali revolusi. Tidak satupun yang membuat CAMPESINOS itu kenyang. Barangkali mereka memang diciptakan untuk mati kelaparan…
Dax:…lalu untuk apa kita berperang selama ini?????….
FC: ..supaya kita tidak usah menjadi seperti mereka….supaya kita tidak perlu mengemis untuk mengisi perut. Supaya kita tidak perlu menjadi campesinos, manusia lapar itu. Saya kira itulah jawabannya….

Sekarang, sudahkah anda bingung? Apa kaitannya antara Campesinos dan Natal? Begini:

Natal adalah peristiwa revolusioner. Ketika itu dunia tertawan oleh kekuasaan dosa dan maut. Bertahun-tahun perjuangan para nabi dan utusan-utusan Allah hanya menghasilkan efek yoyo. Naik turun tak keruan. Selesai satu pertobatan, kuasa dosa berkuasa lagi. Dosa tak pernah benar-benar kalah. Dosa tak ada habis-habisnya. Lalu, Allah secara sepihak memutuskan untuk berinkarnasi menjadi manusia, dalam rupa Yesus, memimpin langsung revolusi melawan kejahatan kerajaan dosa. Allah bertempur. Tak bedanya dengan apa yang dilakukan oleh Dax dan kelompok Bandoleros yang juga meyakini bahwa mereka sedang bertempur melawan kejahatan. Betulkah tak berbeda? Nanti dulu.

Dax dan Bandoleros menempuh jalan kekerasan, dendam, dan kebengisan dalam revolusi mereka. Lantas apakah tujuan revolusinya tercapai? Tidak. Hasil revolusi ternyata hanya berupa perut sang pahlawan yang tidak lapar lagi. Badan mereka wangi. Dari mulut mereka menebar aroma mabuk. Mabuk kekuasaan. Campesinos tetap ada. Mereka masih ada memenuhi takdir mereka, yaitu lapar dan menderita. Lalu, mati tanpa pilihan. Tanpa jalan keluar.

Sebaliknya adalah Yesus dan murid-murid-Nya. Jalan revolusi mereka adalah jalan hati. Jalan cinta. Pertempuran Yesus bukan dengan jalan menumpahkan darah orang lain tetapi adalah darah sendiri yang terkuras habis. Dengan jalan ini, semua Campesinos tidak harus mati dalam takdir dosa, lapar dan sengsara. Sekarang ada jalan keluar. Selalu tersedia peluang. Di antara negeri dosa dan negeri bahagia sudah terbangun jembatan yang didirikan Yesus. Bahkan, Yesus sendirilah Jembatan itu. Para Campesinos yang mau meniti jembatan itu pasti bisa keluar dari negeri dosa. Campesinos yang tetap Campesions seumur-umur adalah mereka yang menolak meniti jembatan itu.

Sekali lagi, bagi Campesinos yang bersedia meniti Jembatan, ada kebebasan baginya dari cengkeram dosa. Selalu ada jalan keluar

Dan semua perjuangan revolusi Allah, dalam rupa Yesus, dimulai dari sini, yaitu di Malam Natal. Malam ketika Yesus, yang mau berjuang bagi Campesinos, tidak datang dalam rupa tentara bersenjata laras panjang. Yesus Sang Pahlawan itu ternyata datang dalam rupa: CAMPESINOS. Inilah tandanya: …..Bayi Kecil yang lahir di kandang domba. Dibungkus kain lampin. Dan ditemani bintang-bintang di langit…….

Persis nasib para Campesinos homeless yang tidur beratapkan langit malam yang gelap. Cuma jangkrik malam temannya. Hanya bintang kecil sahabatnya. Jadi, bagi seluruh Campesinos di mana saja, mari bergabung merayakan Natal. Peristiwa yang membawa harapan. Hari yang membawa peluang, yaitu ada jalan menuju Allah. Jalan itu bukan jalan dunia melainkan jalan Ilahi. Jalan Damai. Jalan keselamatan.

Soalnya adalah: siapakah para Campesinos itu? Seharusnya anda dan saya. Jika anda berpendapat bahwa dalam golongan Campesinos tidak terdapat anda di sana maka pasti sayalah sendirian si Campesinos itu. Betulkah?

Selamat Natal Puan. Selamat Natal Tuan
(selamat Natal Ayahanda. Selamat Natal Ibunda)

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Selamat Natal bro. Good posting

  2. Anonim mengatakan:

    Merry X’mas and Haapy new yaer (DoJ)

  3. Anonim mengatakan:

    yang sungguh bagus. Postin yang istimewa di hari Natal. Memang Yesus datang dalam rupa los campesinos guna menunjukkan bahwa DIA mengerti kita. DIA mengerti dunia. Maka yang abai terhadap los campesinos ibadat natalnya kurang bermakna di mata Tuhan (Marvello, JKT)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s