mengapa tanda pohon

Posted: Desember 17, 2008 in Artikel

Dear sahabat blogger,

Pernahkah sahabat mendengar atau membaca kata univok dan equivok serta satu kata lain yang masih sepupuan dengan dua kata tadi, yaitu analog? Apa ini? Ketiganya adalah tanda. Tepatnya jenis tanda.

Univok adalah sebuah tanda dengan sebuah arti yang jelas dan tidak membingungkan. Tidak usah ditafsir lain. Misalnya kata: pensil, ballpoint, dan meja yang diartikan tidak lain dari pensil, ballpoint dan meja. Tak ada yang lain. Hanya satu itu. Selanjutnya adalah Equivok, yaitu sebuah tanda yang dapat memiliki lebih dari satu arti. Misalnya, bunga yang bisa berarti bagian tanaman tetapi bisa juga berarti gadis manis dan cantik (bunga desa) atau bunga bank. Dan akhirnya adalah analog. Kata ini ditujukan kepada situasi dimana jika sebuah tanda memiliki dua atau lebih signifikansi dan salah satu di antaranya menunjuk dari dirinya sendiri kepada signifikansi yang lainnya. Nah, supaya tidak kelihatan ruwet maka analog adalah tanda yang sama yang akan memiliki arti yang berbeda jika digunakan pada kalimat yang berbeda. Contoh:

  • Kursi malas adalah kursi yang dipakai untuk tujuan bersantai-santai rileks.
  • Para politisi sangat rajin menebar janji guna mendapatkan kursi di badan legislatif

Nah, jelas bahwa memahami tanda – bisa dalam bentuk kata – kadang kala tidak sesederhana yang diduga. Diperlukan kesaksamaan dan, mungkin kearifan, dalam memahami tanda kata yang bermunculan di depan kita. Terlalu cepat melontarkan kata tanpa berpikir panjang akan konsekuensinya tidak jarang membuat kita kerepotan sendiri. Kesadaran sering datang terlambat ketika dampaknya datang belakangan dan merepotkan. “Mulutmu adalah harimaumu”. Di lain pihak, terlalu cepat merespons tanda atau kata yang ada di depan kita tanpa berpikir panjang sering menjebak kita dalam situasi “terlihat konyol”. Ada satu ceritera ringan tentang hal ini:

Di satu sangggar kegiatan belajar (SKB) sekelompok ibu-ibu buta huruf diajarkan tentang baca membaca dan tulis menulis. Setelah berlangsug setahun, datanglah seorang penilik PLS (pendidikan luar sekolah) guna mengetest kemajuan yang sudah diperoleh para peserta belajar. Nah, seorang pamong belajar yang tidak mau terlihat kurang berhasil mendidik ibu-ibu yang buta huruf tersebut bersepakat bersama para peserta didik. Katanya ” saya akan berdiri di belakang bapak Penilik. Jika beliau menulis suatu kata, saya akan memberi tanda-tanda tertentu dan kalian tinggal mengucapkan kata yang sesuai dengan apa yang saya tandakan.”

Maka tibalah saatnya sang penilik mengetest. Ditulisnya kata “mata” di papan. Buru-buru sang pamong menunjuk-nunjuk matanya. Dan berteriaklah beramai-ramai para peserta didik itu: …..maaaaatttaaaaaa…..wah keplok tangan semua yang hadir membahana keras………plok….plok…plok….hebat…hebat….Sang penilik senang dan sang pamong lega.
Lalu, ditulis lagi kata lain di papan: “hidung“. Bergegas sang pamong menunjuk-nunjuk hidungnya. Dan lagi-lagi, para peserta berteriak amat kencang….hiiiddddduuung….wow…PLOK…PLOK…Lebih keras lagi suara keplokan tangan para hadirin. Penilik gembira. Pamong bangga.
Dan akhirnya sang penilik menulis kata: “saku“. Kali ini sang Pamong sedikit bingung karena dia mengenakan baju yang tidak punya saku. Adanya adalah saku di celananya. Maka sang pamong menepuk-nepuk saku celana bagian depannya. Lalu, … terdengar teriakan amat bergemuruh……paaaaaahaaaaaaaa……..WAAAHHH……penilik bingung. Pamong panik. Buru-buru sang pamong membalikkan badannya sambil menepuk-nepuk saku celana bagian belakangnnya….dan suara yang lebih kencang lagi gemuruhnya melengking di udara …..paaaaaaaaannnnnttttaaaaaaaattttttttt………Kali ini sang Penilik dan sang Pamong sama-sama pingsan.

Begitulah, sahabat blogger, memahami tanda adalah hal yang sangat penting. Jangan terlalu cepat dan jumawa melontarkan kata. Sebaliknya, jangan terlalu cepat merespons tanda atau kata yang ada tanpa memberikan kesempatan yang cukup bagi nalar dalam menjalankan tugasnya secara tertib. Singkat kata, berpikirlah sebelum berbicara. Pahamilah sebelum menanggapi. Sepintas hal-hal ini sepele tetapi mari kita simak ucapan Cassirer dalam bukunya yang terkenal “an essay on man“. “Kemampuan berbicara serta memberi dan memahami tanda isyarat merupakan hal esensial dalam kodrat manusia yang membuatnya berbeda secara ekstrim dari binatang“.

Mudah-mudahan anda menangkap esensi dari kata-kata Cassirer tadi. Sebab, akan banyak orang yang marah jika saya mengatakan bahwa saya, anda dan kita semua adalah turunan monyet seperti pemahaman umum dari teori Darwin. Pasti banyak yang akan marah. Saya akan diserbu. Itu hampir pasti. Tetapi, terlalu amat sering, tanpa sadar ataupun sadar, orang melakukan kesalahan yang amat fatal dalam berbicara dan memberi atau memahami tanda isyarat. Bicara tanpa pikir panjang. Menanggapi tanda amat tergopoh-gopoh tanpa memberi kesempatan kepada berjalannya mekanisme nalar yang tertib. Pertengkaran, salah paham dan adu mulut tak tentu juntrungnya sering berawal dari hal ini. Jadi, ingatlah: berbicara dan memberi tanggap terhadap tanda secara tertib adalah kodrat manusia. Jangan anda khianati kodrat itu. Terlalu sering anda menabrak kodrat kemanusiaanmu, seketika anda akan terlihat tidak lebih baik dibandingkan monyet, jin, lampir, pocong dan makhluk sejenisnya….wuuuuuiiiiuuuhhhhh……sssyyyyyeeeerrreemmm…..

Lalu, apa kaitan semua ini dengan tanda berupa kata pohon, seperti yang tercantum di dalam judul posting? Ada banyak dan akan saya tuliskan lebih panjang lebar pada kesempatan berikutnya. Sementara ini, saya hanya ingin mengatakan ini: memandang pohon adalah memandang harapan. Saya dan sahabat-sahabat Kristiani, sebentar lagi akan merayakan Hari Raya Natal. Salah satu tanda atau simbol Natal adalah pohon. Kami tidak menyembah pohon. Kami tidak memuliakan pohon. Kami hanya ingin memiliki harapan. Sayup-sayup terdengar suara merdu Glenn Fredly yang melantunkan lagu dengan syair …..

……………….jadilah harapan,
jangan hanya berharap
…….

Tabe Puan Tabe Tuan
Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Syalom, Selamat advent Natal. Good blog. Good posting (Martin)

  2. Anonim mengatakan:

    Yuuppp. very good posting. Happy Merry Christmas 9DoJ)

  3. Anonim mengatakan:

    Wow, tanda pohon. GImana kalo pohon-pohon ditebang habis hanya untuk kepentingan pohon Natal? Hutan masih bertahan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s