Sabartinah nama Ibunda. Tidak seharusnya saya kehilangan sabar

Posted: November 3, 2008 in Aboutme
Tag:

Dear sahabat blogger.

Selamat bulan baru. Sudah November. Sebulan lagi Desmber. Dua bulan lagi saya, anda dan kita semua akan punya tahun yang baru. Woooiiiii……heeeehhhh…..waktu berlalu. Sangat cepat. Amat cepat. Hidup dalam waktu yang terasa bergerak begitu cepat, ternyata menjadi beban berat bagi saya. Banyak hal, bahkan semua hal, serasa datang secepat badai tornado melintas …….wuuuzzzzz…..wwwwuuuuusssszzzzzzz…….menyapu hampir semua sisa daya tahan dan….minggu ini adalah minggu yang teramat berat bagi saya.

Saya memulai minggu dengan menggenggam “makian” entah dari siapa tetapi menghujani HP saya nyaris tanpa henti. Entah apa salah saya. Beban tugas memberikan bahan kuliah datang bertubi-tubi karena beberapa teman yang seharusnya bertugas, absen begitu saja tanpa pesan. Beberapa tugas laporan penelitian harus segera diselesaikan dan saya merasa seolah sendirian mengerjakan tugas-tugas itu. Ada kabar kurang menyenangkan dari Norman di Jogja. Kondisi Ibunda saya up and down. Seorang keponakan jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit sementara saya “terbelenggu” tugas dan deal sehingga nyaris tidak dapat memberikan perhatian seperti yang seharusnya. Dalam seminar dan workhsop pengurangan resiko bencana di mana seharusnya saya hadir hanya sebagai peserta, tiba-tiba dipaksa berubah peran menjadi seseorang dengan beban tugas bambahan, bahkan ketika “tamu-tamu” lain telah nyenyak tidur di rumah masing-masing. Tugas pembuatan renstra sebuah institusi seolah-olah menjadi beban saya sendirian. Ruang hidup saya dalam minggu ini adalah ruang kemudi mobil dan ruang kerja. Saya berpendar ke sana dan kemari. Rumah bagi saya, dalam minggu ini, hanya menjadi semacam wisma tempat tidur di tengah malam. Dan dua hari terakhir, kondisi kesehatan saya drop. Tangan dan kaki bagian kiri amat sulit digerakan dan karena terpaksa harus terus bekerja maka saya harus menahan sakit yang termat sangat setiap bergerak…..wwwaaaaauuuuu………

Dan dalam tekanan berat seperti itu, saya kehilangan kesabaran. Saya menjadi pemarah. Amat pemarah. Kata-kata kasar dan sergahan nan gahar mudah terlontar dari mulut saya. Saya menjadi amat sinis. Semua orang serasa musuh bagi saya. Dan, malam ini , ketika saya nyaris tak punya keinginan melakukan apapun selain mengkonsumsi obat tidur, sebuah buku lama saya baca kembali. Buku itu berjudul: Jesus the Son of Man. Dan di dalamnya terdapat sebuah puisi yang amat bagus. Membaca puisi ini, saya yang tadinya nyaris tak kesabaran, kembali teringat bahwa Ibunda saya bernama Sabartinah. Beliau orang yang sangat sabar. Saya belum mau kehilangan sabar. Dan saya berharap semua sahabat lain jangan mudah hilang kesabaran karena akan terasa sangat buruk. Maafkan saya karena tidak punya posting bahagia yang saya bagikan kepada sahabat semua. Hanya keluh kesah. Maafkan saya. Ce’est La Vie. Itulah hidup. Tapi memang Tuhan Tidak Tidur. Malam ini disodorkan kepada saya sebuah puisi yang berjudul Yesus yang Tidak Sabar. Saya membaca dan mendapatkan hikmah di dalamnya. Bagaimana dengan anda?

Yesus yang Tidak Sabar
(Khalil Gibran)

Yesus sabar terhadap orang bodoh dan dungu,

laksana musim dingin menantikan musim bungan

Ia sabar laksana gunung diterpa angin.

Ia menjawab dengan ramah pertanyaan-pertanyaan kasar dari musuh-musuh-Nya.

Ia malah bisa berdiam diri terhadap umpatan dan pertengkaran,
karena Dia orang kuat dan orang kuat tahu menahan diri.

Tapi Yesus juga tidak sabar.

Ia tidak memaafkan seorang munafik.

Ia tidak membiarkan orang-orang licik dan pemutar balik kenyataan.

dan amarah-Nya tak dapat ditahan.

Ia tidak sabar terhadap orang yang enggan percaya akan terang sebab mereka berada dalam kegelapan,
terhadap orang yang lebih suka mencari tanda-tanda di langit daripada dalam hatinya sendiri.

Ia tidak sabar terhadap orang yang menakar dan mengukur siang dan malam
sebelum mereka mempercayakan impiannya kepada fajar atau senja.


Yesus seorang yang sabar

Namun Dialah manusia yang paling tidak sabar.

Ia ingin engkau menenun kain biarpun kauhabiskan waktu bertahun-tahun dalam alat tenunmu.

Tetapi ia tidak mau seseorang mencabut sehelai benang pun dari tenunan itu.

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Ya, Yesus yang amata marah terhadap perbuatan yang “melanggar kesucian Alla” diperlihatkan di dalam Bait Allah ketika DIA memporakporandakan barang=barang daganagn milik imam-imam Bait Suci (Saijah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s