Ibunda Sakit tapi…(tidak apa-apa kok….)

Posted: Oktober 21, 2008 in Artikel, Renungan
Tag:,
Dear Sahabat Blogger,

Posting ini BBP. Benar-benar personal. Ibunda saya, dan sudah barang tentu ibunda juga dari 9 orang aneh lainnya, sakit. Bermula dari keberangkatan ke Pulau Sabu di akhir bulan September lalu. Dengan menumpang kapal feri (eh…apa nggak keliru ya…???? sebab kapal ya kapal dan feri adalah feri…..ah tidak apa-apa….. nanti ditanya ke Pak Jayasuprana yang pakar kelirumologi) kami terapung dan bergerak perlahan menuju ke Pulau Sabu, sebuah pulau liliput di tengah Samudera Hindia. Makan waktu 14 jam untuk pergi dan 14 jam untu kembali. Makan tenaga. Juga makan hati. Mengapa makan hati? Karena di atas kapal feri, perbedaan antara orang, kambing, ayam dan dus mie kering nyaris tidak ada. Satu-satunya yang berbeda adalah orang punya nafas, kentut dan malu. Tumpukan beras dan mie kering jelas tidak punya nafas. Tapi saya belum pernah melihat, di manapun di dunia ini, ayam dan kambing yang setelah kentut lantas berucap: ……eehhh sori ya…… Ya, seperti itulah keadaannya. Tidak saya kurang-kurangi. Dilebih-lebihkan sedikit ya iya lah….masa’ iya dong….he he he he

Apapun kondisi, perjalanan kurang menyenangkan. Di Pulau Sabu, cuaca sedang panas-panasnya karena matahari sedang nyaris tegak lurus dengan letak lintang pulau Sabu ketika itu. Angin cukup kencang. Bertiup menerbangkan abu dan debu kian kemari. Pulau Sabu lumayan berdebu. Meski pulau ini ikut merdeka bersama bagian lain NKRI pada tahun 1945 tetapi sarana-prasaranana di sana masih jauh, amat jauh, dari menggembirakan. Mungkin sedikit lebih baik dibandingkan dengan jaman Majapahit. Jalan katanya beraspal tetapi menurut hemat saya yang lebih tepat adalah jalan tanah dan batu yang diperciki cairan aspal. Akibatnya? Ya itu tadi, debu ramai beterbangan kian kemari. Terbang kian dan terbang kemari. Di antara ramai debu yang beterbangan itu, beberapa noktah di antaranya ada yang terhirup oleh ibunda, lewat hidungnya yang tidak bisa dikatakan mancung itu, bersamaan dengan dihirupnya oksigen.

Begitulah situasi perjalanan kami ke Sabu yang belakangan menjadi prima causa Ibunda saya jatuh sakit. Kelelahan dan menghirup banyak debu. Sehari dua sekembalinya dari Sabu, ibunda terkena serangan BBK. Batuk-Batuk Kecil. Kami belum waspada. Empat hari lalu, beliau mengeluhkan batuknya yang ternyata tidak lagi BBK melainkan sudah berkembang menjadi BBB. Batuk Batuk Benaran. Saya mulai agak cemas. Hari sabtu malam, ketika tiba giliran saya tidur menjaga dan menemani beliau, beliau berceritera bahwa batuknya agak menjadi-menjadi dan diikuti perasaan gatal-gatal di tenggorokannya. Karena batuknya berdahak dan beliau agak memaksakan keluarnya dahak maka ada bercak darah yang keluar setiap kali memaksakan diri untuk bisa berdahak. Janji dibuat. Dan kemarin sore, saya mengahantarkannya memeriksakan diri ke dokter ahli yang menjadi langganan beliau. Seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.

Setelah melakukan diagnosis dengan menanyakan ini itu kepada Ibunda maka ibundapun diperiksa lebih cermat dengan mengukur tensi dan merekam gerakan jantungnya. Angka tensi menunjukkan 140/80. Kata dokter, agak tinggi di bagian atasnya. Rekaman jantung menunjukan bahwa ritme jantung Ibunda baik-baik saja. Puji Tuhan. Tentang batuk dengan bercak darahnya, diterangkan oleh dokter bahwa hal itu sebenarnya merupakan gejala normal orang yang sedang batu keras. Tetapi untuk Ibunda ada diberikan satu catatan penting, yaitu kondisi pembuluh darah Ibunda memang bermasalah yang tampaknya sudah gawan bayi atau bawaan sejak lahir. Ibunda memiliki pembuluh darah yang lebih kecil dan sempit dibandingkan dengan orang normal lainnya. Itu sebabnya, sejak dahulu untuk urusan infus, salah satu problem Ibunda adalah kesulitan mencari pembuluh darah. Masalah lain adalah Ibunda memiliki kecenderungan untuk bermasalah dengan trombosit yang mudah “pecah”. Akibat dua keadaan serta merta itu maka pembuluh darah Ibunda akan selalu kesulitan menampung kolom darah yang pecah karena alasan tertentu. Ibarat sungai kecil yang harus menampung luapan air akibat rusaknya tanggul air.

Oleh karena karena itu, solusinya adalah, hentikan perdarahan dan hentikan batuknya. Sekembalnya dari dokter, Ibunda mengkonsumsi obat yang diberikan. Akan tetapi di tengah malam beliau batuk-batuk dan kembali mendapatkan bercak darah dalam dahaknya. Beliau cemas, saya ketakutan. Maka, saya kembali berkonsultasi dengan dokter. Dokter senyum-senyum saja sambil mengatakan bahwa itu hal normal dalam kondisi Ibunda sekarang ini. Keadaan sedang berproses menuju kesembuhan. Akan tetapi dokter meminta kami menaikkan dosis obatnya. Jika sebelumnya dosis obat 2 x 1 sehari sekarang ditingkatkan menjadi 3 x 1 sehari. Jika masih ada sesuatu maka kami akan membawa Ibunda mengontrolkan dirinya kembali ke dokter. Saya menyampaikan hasil konsultasi itu kepada Ibunda. Beliau minta diberi makan. Dan setelah itu kembal mengkonsumsi obat. Beliau tersenyum dan beranjak ke ranjang untuk berisntirahat. Saya juga tersenyum lega. Dan Berdoa: TUHANKU SAYANG, SEMBUHKANLAH IBUNDA. Sahabat blogger terkasih, mohon dukungannya dalam doa. Meski cara kita berbeda. Tuhan Kita Satu. Doakan kami.

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Doa kami untuk Ibunda luiggimikerk. Semoga cepat sembuh (Jinx)

  2. Anonim mengatakan:

    Kami mendukung dalam doa

  3. Anonim mengatakan:

    Kasihilah Ayah dan ibumu agar panjang usiamu di negeri yang dijanjikan Allah kepadamu

  4. tuak1 mengatakan:

    lho, ini blog yang mirip di blogspot ? ya sudah, gw doain semoga cepat sembuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s