Bersukurlah menjadi Rumput

Posted: Oktober 6, 2008 in Renungan
Tag:
Dear Sahabat blogger,

Berakhir sudah masa liburan. Liburan yang cukup panjang. Sekitar 10 hari. Cukup lama. Senda gurau di masa kecil dahulu menghasilkan defenisi bahwa liburan yang lama adalah liburan yang ketika kami kembali ke sekolah ditanya guru 1 + 1, jawabannya adalah 8 ….he he he …saking lamanya libur, kami menjadi bodoh kembali. Mungkin “sindroma” seperti ini yang membuat PNS di Indonesia, pekerjaan pertama pada hari pertama setelah libur yang lama adalah…..libur lagi alias bolos….mengapa demikian? Yah, karena kembali menjadi bodoh…..perlu diteliti. Bagi saya pribadi, liburan kali ini ditandai dengan dua hal, yaitu adanya hari raya lebaran dan keberangakan saa pertama kali ke Sabu. Pulau liliput di tengah Laut Sabu dan Samudera Hindia. Pulau yang ketika pertama kali memandangnya dari dekat adalah….woooow kerrrr…..sori,……bukan wow keren……..tapi wow…kering…..

Ada dua pertanyaan, yaitu apakah sahabat-sahabat yang baru saja selesai berpuasa dan berlebarn lantas berubah menjadi lebih baik? Sebelum berpuasa anda adalah anak “nakal” dan sesudah berpuasa anda berubah menjadi uztad atau uztadsah. Begitu? Lantas, sesudah ke Sabu, yang berarti saya mendaptkan kesempatan untuk mendapatkan pelajaran dari keraifan-kearifan lokal yang hidup semenjak masa para leluhur lantas saya berubah menjadi anak manis yang tidak lagi berulah aneh bin ajaib? (kalau yang ini jawabannya, telak: ….hari minggu kemarin malah saya tidak pergi ke Gereja…..ada alasannya tapi….ya itulah yang terjadi). Kalau ini pertanyaannya maka sebenarnya pertanyaan paling mendasar adalah apakah niat atau nawaitu anda ketika berpuasa dan atau saya melakukan perjalanan pilgrimate ke negeri leluhur? Saya sungguh tida tahu apa jawaban para sahabat tetapi adalah niat saya ke Sabu guna memperoleh bekal kearifan baru yang bisa digali dari etika tradisional yang ada, yang saya dengar bersifat adiluhur. Nah, para sahabat terkasih, tentang niat atawa nawaitu itulah yang ingin saya tampilkan lewat lirik berikut ini.

Bertahun lamanya aku berdiri di sini
Sepi sekali rasanya, suara anginpun seakan tidak terasa
Dan , di dalam kesepian ini aku melihat ke kiri dan ke kanan,
ternyata ada tetanggaku yang perkasa. Dialah padi
Ya, ada banyak padi di sini. Amat banyak

Entah mengapa, aku tiba-tiba ingin menjadi padi
Lalu aku berdoa kepada kehidupan agar aku dapat menjadi padi
Aku berdoa dengan khusuk. Doa yang jernih dan bening

Tiba-tiba, bertiuplah angin kencang mengguncang tubuhku
Tangan-tanganku yang tadinya melambai-lambai sekarang terpaksa terlipat
menyatu dengan tubuhku. Kakiku terbenam makin dalam ke dalam tanah?
Apakah aku telah berubah menjadi padi?

Perlahan kubuka mataku dan kulihat sekelilingku
Wow, ternyata aku tetap saja rumput. Bukan padi.
Aku tetap rumput yang menjadi gulma di tanah sawah dan di ladang
Aku rumput yang harus dicabut petani
Aku cuma rumput bahkan aku adalah gulma

Setetes embun jatuh ke tubuhku
Berkilau diterpa metahari dan perlahan mengalir membasahi tanah
Angin semilir berlari menerpa daun dan tubuhku menimbulkan nada kidung indah

Tapi aku tidak perduli karena sekarang kepalaku mendongak ke atas
Ada bintang di atas langit. Indah
Aku ingin menjadi bintang

Apa kesan anda terhadap lirik di atas? Bagi saya adalah ini:
1. Ada rumput dan padi berdampingan di sawah;
2. Ada rumput yang kepingin menjadi padi;
3, Ada rumput yang berusaha dan berdoa agar berubah menjadi padi;
4. Ada rumput yang kecewa karena doanya tidak terkabul:
5. Ada rumput yang kembali berharap dapat menjadi bintang.
Apa kesimpulannya? Ini: ada rumput yang tidak pernah mau menjadi dirinya sendiri.

Apa pesan moral dari ceritera di atas? Oh, bukan sesuatu yang istimewa tetapi perlu didengungkan kembali, yaitu be your self. Dahulu ayahanda almarhum pernah mendongengkan kepada saya tentang katak yang ingin menjadi lembu. Hari ini saya menulis tentang rumput yang ingin menjadi padi dan, lalu, bintang. Apa hasilnya? Katak itu mati. Rumput itu kecewa. Begitulah sidang pembaca, terlalu banyak keinginan yang memenuhi kepala kita ketika melakukan sesuatu. Terlalu banyak cita-cita ketika kita mengerjakan sesuatu. Dan, yang dimaksudkan dengan “sesuatu” itu adalah sesuatu yang di luar diri kita. Sesuatu yang tidak di dasarkan atas penilaian yang obyektif terhadap siapa diri kita. Apa kemampuan kita. Di Kabupaten Rote, NTT, hanya ada 25 kursi di DPRD II tetapi apakah anda ingin tahu berapa banyak caleg yang akan berebut karena menginginkan kursi -kursi itu? 900 orang. Apa niat mereka? Ada seorang kenalan saya yang mengurus dirinya sendiri enggak becus, tiba-tiba datang ke rumah saya meminta saya agar mau berkampanye untuk dia dalam pertarungan colak-calek tahun 2009 nanti….weleh…weleh….wel wel wel….leh leh leh…..

Begitulah, saking benyak dan tinggi-nya cita-cita, lantas kita kehilangan kewaspadaan terhadap siapa diri kita sendiri. Di satu kali kita menganggap berlebihan diri kita. Di lain waktu kita terlalu menghina kemampuan diri kita sendiri. Andai saja rumput tidak terlalu cepat iri hati kepada padi maka si rumput akaan tahu bahwa betapa bergunanya dia. Rumput adalah makanan utama herbivora yang merupakan salah satu sumber protein hewani terpeting bagi manusia. Tanpa rumput, mana ada aksi-aksi Pele, Maradona, Gerd Muller, dan Lionel Messi. Tanpa rumput, mana bisa Tiger Woods menjadi maestro lapangan Golf. Tanpa rumput kita tidak maka roti karena gandum adalah bangsa rumput-rumputan. Tanpa rumput, orang Jawa bisa repot karena bahan bangunan rumah tradisionalnya berasal dari bambu. Tmbuhan bambu merupakan salah satu anggota keluarga rumput-rumputan. Dan, perhatikan ini, tanpa rumput kita tidak makan nasi karena si Oriza sativa adalah keluarga rumput-rumputan. Siapakah itu Oriza sativa? Anda benar. Tidak lain dan tidak bukan, adalah padi. Ya, si padi yang dicemburui oleh si rumput. Mengenaskan, si rumput saking kepinginnya menjadi padi, lupa bahwa padi adalah rumput juga. Si rumput juga tidak tahu bahwa permukaan bumi ini, menurut data dari CIA, menguasai lebih dari 60% permukaan bumi daratan. Dan dengan cara itu, rumput adalah salah satu pencegah erosi yang handal. Rumput adalah penangkap CO2 yang akumulasinya di atmosfer dikuatirkan akan menimbulkan efek rumah kaca yang memicu pemanasan global. Rumput adalah penangkap dan reflektor bagi radiasi gelombang pendek dari surya dan radiasi gelombang panjang permukaan bumi sehingga bumi terhindarkan dari efek terpanggang seperti sate ayam. Wow, begitu banyak fungsi rumput. Sayangnya si rumput tidak tahu.

Apa kesalahan si rumput? Si rumput tidak paham filasafat bahwa setiap makhluk hidup, apalagi jika dia adalah manusia, adalah 2 hal sekaligus, yaitu siapa dirinya dan apa dirinya. Berdasarkan ini Socrates mengatakan “bahwa kenalilah siapa dirimu”. Hal yang pertama, ingin mengatakan bahwa manusia adalah khas. Hanya dialah satu itu di dunia. Tidak ada yang lain. Satu manusia satu sidik jari. Hal berikut adalah, apalah gunanya dia bagi sesama dan lingkungannya. Kehilangan salah satu di antara dua kesadaran ini membuat manusia kehilangan principe d’etre-nya. Sesudah kembali dari Sabu, apakah saya berubah menjadi Bradd Pitt? Tidak juga. Saya tetaplah si coklat gempal. Hidung saya tetaplah bulat kecil tak ada indahnya sama sekali. Saya toh seorang Doktor. Ya, tapi ada ribuan orang Doktor lainnya dan mungkin saya adalah Doktor terbodoh. Lantas, apakah saya bermimpi ingin menjadi Doktor seperti Einstein? Ah, tidak juga. Ada 80 Doktor di Undana tetapi Doktor Kehutanan di Undana cuma 1. Di luar Undana ada ratusan, mungkin ribuan Doktor kehutanan. Ya, tapi Doktor kehutanan yang S1 Peternakan dan S2 Agronomi mungkin cuma saya. Ada banyak Doktor tetapi Doktor yang punya isteri bernama Dolly ya cuma saya. Doktor dengan adik yang bernama Laki, Kana, Uli, Dina ya cuma saya. Cukup? Belum bosz. Apa yang sudah saya kerjakan? Ah, kalau ditulis satu-satu maka tampaknya akan menjadi daftar kesombongan. Yang terpenting adalah: apa yang sudah kita kerjakan dengan apa yang kita punya.

So, kembali ke laptop. Apapun yang sudah anda, dan juga saya, niatkan dan lakukan dengan berpuasa, beribadat dan pilgrimate, tidak akan ada gunanya jika anda. dan sudah barang tentu saya, tidak berkeinginan untuk menjadi diri sendiri. Wah, kalau begitu maka saya yang sebelumnya adalah manusia culas maka tetap harus mempertahankan sifat culas saya demi be my self? JANGAN karena, dengan begitu anda akan menentang kodrat manusiawi anda sendiri. Apa kodrat manusiawi anda? Berbicara, belajar dan berbudaya. Berbicara adalah hal pertama yang membedakan anda dengan monyet. Dengan berbicara maka proses belajar dapat anda lakukan. Inti dari proses berbicara dan, lalu belajar, adalah menemukan keteraturan dan kebaikan dalam hidup. Kedua hal inilah yang membentuk kebudayaan. Jadi, korupsi bukan budaya. Berkelahi bukan budaya. Memaki bukan budaya karena hal-hal ini bukanlah keteraturan dan kebaikan. Louis Leahy mengatakan bahwa Berbicara, Belajar dan Berbudaya adalah La Condition Humaine. Apa hubungannya dengan be your self. Oh amat jelas, hanya dengan la condition humaine maka ada dengan mudah akan memahami jati diri anda, baik sebagai makhluk spesial maupun sebagai makhluk generalis yang berguna bagi sesama. Dengan la condition humaine, saya adalah saya. Ada banyak gunanya. Si rumput tetaplah rumput. Jadilah rumput yang berguna. Bersyukurlah menjadi rumput.

Tabe Puan Tabe Tuan

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Rumput hmhhhhhh……tulisan yang menarik. Blog yg bagus (Handoyo)

  2. Anonim mengatakan:

    Masalah lama blog ini adalah tataletaknya yang nggak beraturan yang bikin orang mles baca. Untung isi postingnya bagus-bagus. Gw kutip beberapa. Jikalau rumput ada gunanya, gw juga dong. Be my self.

  3. Anonim mengatakan:

    ups….sorry…Jinx

  4. Anonim mengatakan:

    Rumput itu tumbuhan kecil tetapi banyak gunanya maka jika kita tidak mau berbuat baik maka apa kata rumput????? (Binxars)

  5. Anonim mengatakan:

    Rumput memang berguna makanya si Ebiet G ADE bersyair tentang …tanyalah pada rumput yang bergoyang….(SOJ)

  6. Anonim mengatakan:

    rumput kecil tapi perkasa…saya mau seperti itu karea sayapun hanya manusia biasa tetapi ngin memiliki makna dalam hidup (JoY)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s