Gaudeamus Igitur, Wisuda dan Berpuasa Tanpa Kebaikan = Carpe Diem Negatif

Posted: September 1, 2008 in Artikel
Tag:

Dear Sahabat Bloggers,

Pernah mendengar kata-kata dalam judul di atas? Bagi mereka yang pernah kuliah di bangku Perguruan Tinggi di Indonesia dan berdiri dalam deretan prosesi manusia yang akan di wisuda pasti akrab dengan kata–kata Gaudeamus Igitur. Ya, itulah lagu pembuka prosesi pembuka acara wisuda. Ketika pemegang pedel berteriak……Rektor, Anggota Senat Universitas, Anggota Dewan Penyantun memasuki ruang upacara…..maka tarararararammm tatatarararmramramram.…..not, irama dan deretan kata-kata indah dari lagu Gaudeamus melengking dan bertebaran di udara. Indah. Memang Indah. Sebuah lagu dengan nuansa kebanggaan akademik yang luar biasa. Begitulah, wisuda selalu merupakan acara yang indah dan membanggakan. Pada hari ini, Universitas Nusa Cendana melakukan acara wisuda dan diperkirakan ada ratusan wisudawan di sana. Mereka semua bergembir. Wajar karena secara etimologis, wisuda diartikan sebagai suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Setelah masa perjuangan yang panjang, bergembira adalah sangat manusiawi. Tetapi harap diperhatikan bahwa menurut makna leksikal, wisuda adalah suatu proses. Hanya suatu acara. Tidak lebih. Meskipun membanggakan. Mengapa acara wisuda menjadi kebanggaan.

Ada banyak kemungkinan jawabannya tetapi saya menduga ada kaitannya dengan sifat eksklusif acara wisuda itu. Bayangkan, menurut data pada tahun 2006, dari total 220 juta populasi penduduk Indonesia, terdapat 27 juta jiwa penduduk berada pada usia mahasiswa. Akan tetapi dari antara 27 juta jiwa tersebut hanya sekitar 3,5 juta yang benar-benar berkesempatan untuk menikmati bangku pendidian tinggi. Eksklusif bukan? Berapa kali orang di wisuda? Paling banyak 3 kali seumur hidupnya. Sekali ketika lulus S1 atau akademi. Kalau anda berminat, ya ketika lulus pendidikan S2. Dan kalau Tuhan berkenan, sekalilagi anda diwisuda setelah tamat S3. Sekali lagi, wisuda adalah acara yang tidak sering dan karena tidak seringnya itu maka dapat dikatakan wisuda adalah acara yang eksklusif. Pada hari wisuda seseorang akan berpenampilan mengkilat. Gagah. Cantik. Wangi. Di Kupang, terdapat tradisi untuk melakukan acara pesta semalam suntuk menyambut kebahagiaan wisuda. Tahun 2007 lalu, setelah mabuk-mabukkan dalam pesta wisuda semalam suntuk, seorang anak muda mabuk yang baru diwisuda terbunuh dalam keributan di antara kelompok pemabuk itu. Wahh….ekslusif. Sangat eklusif dan saking eksklusifnya, nyawa seorang wisudawan barupun harus di exclude. Eksklusif. Konyol. Tragis.

Sedemikan pentingkah acara wisuda? Menurut hemat saya acara ini memang penting. Namun demikian, meski penting, acara wisuda bukanlah hal terpenting. Saya sendiri seumur hidup hanya 1 kali mengikuti acara wisuda pada tahun 1986 pada saat menamatkan pendidikan sarajana peternakan di Fapet Undana, Kupang. Ketika lulus S2 di IPB Bogor dalam bidang ilmu Agronomi, saya memilih tidak mengikuti acara wisuda. Pada hari yang sama, saya memilih bergabung bersama beberapa rekan pencinta alam melakukan perjalanan ke Pulau Krakatau. Setelah acara Promosi Doktor dalam bidang Ilmu Kehutanan di UGM Jogjakarta, saya mencukupkan diri sampai di situ saja. Saya tidak lagi mengikuti acara wisuda di ruang besar. Di Balairung Utama UGM. Sekali lagi, bagi saya, acara wisuda penting tetapi bukan yang terpenting. Wisuda adalah acara yang membanggakan tetapi bukan merupakan esensi. Nah, inilah saya: esensi bung. Esensi. Apa yang menjadi esensi?

Tujuan pendidikan, di mana saja dan pada strata apa saja, selalu memiliki tujuan akhir yang terletak pada 3 ranah, yaitu ranah kognisi, ranah afeksi dan ranah psikomotorik. Pada ranah kognisi seseorang dituntut untuk menjadi banyak tahu. Dalam ranah psikomotorik seorang pelajar diminta untuk mengumpulkan semua keterampila yang diperlukan. Dua hal ini saja, berpegetahuan dan berketrampilan, sudah istimewa. Tetapi tujuan pendidikan yang tertinggi dan teristimewa terletak dalam pencapaian tujuan pada ranah afeksi. Pada ranah ini seseorang yang telah mengalami proses pendidikan akan mengalami perubahan sikap. Pada ranah ini, anda yang tinggi ilmu pengetahuan dan sekaligus terampil, diharapkan mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Anda ingat kisah kejatuhan Adam dan Hawa di taman Eden? Ya ketika mereka berdua ingin sekali memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih hal yang baik dan yang jahat. Suatu pengetahuan yang sifatnya Ilahiat. Melalui pencapaian pada ranah afeksi ini, seseorang diberikan kesempatan untuk semakin lama semakin mampu memiliki sifat-sifat Ilahiat. Perilaku yang baik dapat dimiliki oleh siapa saja. Ayah dari ayah saya adalah orang yang amat baik. Ayah saya adalah juga orang yang tidak kalah baiknya. Apa yang membedakan keduanya? Tidak lain dan tidak bukan adalah kebaikan ayah saya dilengkapi dengan ilmu pengatahuan dan keterampilan yang tinggi karena dia bersekolah. Kakek saya tidak. Apakah dengan begitu kakek saya tidak banyak pengetahuan dan tidak terampil? Saya bersaksi bahwa kakek saya adalah orang yang amat sangat terampil dan meskipun tidak bersekolah formal tetapi beliau sangat mampu membaca dan menulis. Ternyata beliau gemar belajar sendiri secara otodidak. Apakah anda memperhatikan kesulitan saya ketika berusaha membedakan kakek dan ayah saya? Kalau anda jeli, saya menjadi susah melakukan diferensiasi di antara keduanya karena ternyata, meski tidak formal, tetapi kakek saya mengintegrasikan dirinya juga dalam proses pendidikan. Dia memperoleh tambahan kebaikan karena proses ini. Sekali lagi harap dicatat bahwa tujuan tertinggi dari setiap proses pendidikan adalah adanya kebaikan.

Di sinilah masalah saya dengan dunia pendidikan Tinggi di Indonesia (sudah barang tentu di Kupang), acara wisuda dan lagu Gaudeamus. Mutu pendidikan Tinggi di Indonesia tergolong sangat payah. Sebagai contoh di antara ribuan universitas yang ada di Indonesia, hanya ada 2 Universitas yang mampu menempatkan diri di dalam daftar 100 Perguruan tinggi terbaik di Asia menurut sistem pemeringkatan Webometrics tahun 2008. Kedua perguruan tinggi tersebut adalah Unversitas Gadjah Mada, Jogjakarta yang berada pada peringkat ke 74 dan Institut Teknologi Bandung, Bandung yang berada pada peringkat ke 78. Jika diletakkan dalam peta peringkat Universitas sedunia menurut lembaga yang sama, maka pada daftar 1000 Universitas terbaik di dunia, UGM menempati peringkat ke 819 sedangkan ITB berada pada peringkat ke 826. Di mana univesitas lainnya? Wuuuusssshhhh……hilang ditiup angin yang bernama qualty tradewinds. Di mana Unversitas Nusa Cendana berada? Sampai saya menutup laptop dan mengoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan, nama Undana tidak muncul sama sekali…..hicksssss….hickssssss……..Terlalu banyak universitas di Indoensia yang didirikan hanya untuk mengejar setoran, yaitu menghasilkan sarjana sebanyak-banyaknya. Untuk apa gelar sarjana itu? Pasti ada banyak hal tetapi menurut pengamatan saya adalah, hanya merupakan atribut feodalisme baru, sarana untuk bisa mencapai kedudukan yang lebih baik dalam sistem kepangkatan dalam karir birokrasi. Gelar sarjana juga banyak diminati karena bisa dijadikan modal dalam pertarungan pemilu, baik untuk memilih Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, dan anggota legislatif . Lebih gawat lagi, gelar sarjana diperlukan sebagai pemanis lembar undangan pernikahan. Gelar calon pengantin yang berderat-deret adalah kebangggan yang luar bisa meski terkesan narsis.

Jika fenomenanya betul begitu maka sampailah saya pada bagian akhir tulisan ini, yaitu bahwa betapa saya amat tidak nyaman dengan alunan lagu Gaudeamus ketika para profesor, dekan, wisudawan dan civitas akademika memasuki ruang acara wisuda. Menurut sejarah tradisinya , lagu Gaudeamus Igitur memiliki nama lain yaitu De Brevitate Vitae. Jika Gaudeamus Igitur berarti Karenanya Marilah Kita Bergembira maka De Brevitate Vitae berarti Dalam Pendeknya Kehidupan. Tahukah anda bahwa di negara asal tradisi lagu ini, yaitu di Italia, Jerman, Belanda dan Swiss, lagu ini sering dinyanyikan sebelum acara minum bir bersama. Di Belgia dan Belanda, di mana aktivitas minum sambil bernyanyi dianggap lazim, lagu ini menjadi salah satu lagu “resmi” yang dinyanyikan sebagai pembuka acara minum-minum para pelajar. Perhatikan lirik lagu Gaudeamus dan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia berikut ini

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Marilah kita bergembira
Ketika kita masih muda.
Setelah melalui kesenangan di masa ini
Setelah melalui masalah di umur tua
Bumi akan menelan kita.

Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quodlibet
Vivant membra quaelibet
Semper sint in flore.

Panjang umur akademi!
Panjang umur para pendidik!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!

Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Di mana keberatan saya? Perhatikan bait pertama. Lagu ini tidak lebih baik dari makna negatif Carpe Diem, yaitu hidup dalam kesenangan. Nikmatilah sepuas-puasnya hidupmu sebelum kau mati dan ditelan bumi. Nuansa hedonis yang luar biasa. Inikah tujuan pendidikan? Perhatikan pula bait kedua. Bagi saya substansi dari bait kedua bersifat sangat narsis. Memuji diri sendiri. Di mana masyarakat diletakkan dalam pemikiran itu. Di mana tujuan kebaikkan ingin diletakaan dalam pesta ria itu? Itukah tujuan pendidikan?

Lantas, apakah saya manjadi anti terhadap lagu indah ini. TIDAK. Kecemasan saya terletak pada kesejajaran semangat hedonis dan narsis yang ada dalam lagu ini dengan cara-cara orang Indonesia mengelola dan melibatkan diri dalam pendidikan tinggi kita. Penyelenggara hanya berminat pada setinggi-tingginya pada pembayaran SPP. Pelajar hanya berminat setinggi-tingginya pada gengsi sebagai manusia bergelar. Mereka lupa pada tujuan luhur pendidikan. Tujuan yang pada tingkat tertinggi seharusnya menghasilkan kebaikan, persahabatan dan kasih sayang. Tujuan yang sangat Ilahiat.


Akhirnya, proses pendidikan yang bertujuan untuk menghasilkan kebaikan seharusnya juga paralel dengan tujuan pendidikan yang akan dijalankan oleh sahabat-sahabat Muslim yang terkasih. Selama 1 bulan ke depan kawan-kawan Muslim akan kembali masuk ke dalam kampus yang bernama Ibadah Puasa. Apa yang anda harapkan dari menjalankan Ibadah Puasa? Hanya sekedar tahu ilmu tentang ibadah Puasa? Hanya sekedar terampil berpuasa dan memenuhi kewaiban 30 hari berpuasa tanpa batal kecuali sudah waktunya? Saya berharap, semua sahabat Muslim yang berpuasa dapat sampai juga kepada apa yang kita sebut sebagai ranah perubahan sikap. Setelah berpuasa, apakah anda siap untuk menjadi orang yang lebih baik?. Jika tidak maka puasa anda akan sama saja dengan kalimat nyanyian Gaudeamus Igitur. Berpuasa hanya untuk sekedar menyenangkan hati dan mematut-matut diri sendiri. Tanpa arah, Tanpa Makna.


Selamat diwisuda Kawan. Selamat berpuasa Sahabat. Tuhan Memberkati

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Artikel yang bagus. Refelktif dan Positif. Terima Kasih

  2. Anonim mengatakan:

    Terima kasih atas ucapan selamat berpuasa. Blog yang bagus karena berisikan artikel-artikel yan bernas. Keep on posting

  3. Anonim mengatakan:

    Gimana PT mau maju wong menterinya goblog gitu

  4. Anonim mengatakan:

    Artikel yang agak sinis tetapi jujur. Selamat. Blog yang bagus

  5. Anonim mengatakan:

    Ya ampuuunnnn….Gaudeamus ternyata lagu hedon yach…?????? aaarrrggghhhh…..

  6. Anonim mengatakan:

    Posting yang bagus. Blog yang bagus. Perguruan Tinggi Indonesia yang no bagus

  7. dh9rk mengatakan:

    Yg mau diskusi, mampir ke blog @bigmike yg ada di blogspot.com. Silahkan klik ini:

    http://bigmike-savannaland.blogspot.com/

    Sampai jumpa di sana!

  8. thyas mengatakan:

    wew… aku baru tau,,,!
    aku ikut paduan suara mahasiswa dan sering nyanyiin lagu itu waktu tugas wisuda.
    selama ini cuma nyanyi aja, tanpa tahu arti sebenarnya. duhduh..
    trima kasii sudah membuka pikiran saya.

  9. Simpet mengatakan:

    Artikel-yang-inspiratif-bagi-saya….yang-kebetulan-akan-menghadapi-peristiwa-yang-sama-di-S1-Undana-awal-September-ini.Makasih-sebelumnya,Pak..

  10. irvan mengatakan:

    Setuju pak, saya baca arti dari lagu tersebut kok rasanya ada yang mengganjal yah.

  11. Gege mengatakan:

    penulisan yang bagus, tapi caranya memaknai lagu gaudeamus igitur salah om. lagu itu bukanlah lagu hedonis. coba cari tambahan referensi lagi. dari internet juga ada kok. ada alasannya kenapa lagu itu dipakai sebagai lagu wisuda di berbagai universitas dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s