Saya, Ayahanda dan Indonesia

Posted: Agustus 18, 2008 in Artikel
Tag:

Dear sahabat blogger,

Hari ini, satu hari pasca kemeriahan memperingati HUT Proklamasi Bangsa Indonesia. Secara sengaja, saya menahan diri 1 hari sebelum memposting artikel untuk memperingati Hari Kemerdekaan ini. Untuk apa? Tidak untuk apa, sebenarnya. Hanya sekedar merenung bahwa apa pantas saya memberi ucapan selamat kepada negara saya setelah apa yang saya lakukan selama ini. Di blog ini, berkali-kali saya mengecam Indonesia sebagai INDONESIA. Indonesia adalah negara gagal. Saya sudah menulis bangsa kuli dan lain sebagainya. DAn lain sebagainya. Ya, setelah beribu umpatan seperti itu, saya membatin: apa masih pantas saya mengucapkan selamat HUT? Dalam kegamangan mengambil sikap, saya teringat ayahanda saya almarhum.

Ayahanda saya. Manusia seperti apa dia? Anda yang mengikuti serangkain elegi saya tentang “kepergiannya” di blog ini pasti punya kesan yang teramat kuat bahwa dia adalah manusia istimewa yang sangat saya cintai. Manusia nyaris sempurna yang kepergiannya meninggalkan luka hati yang mendalam. Jika itu yang anda pikir maka saya harus mengatakan bahwa: anda benar. Anda tidak keliru. Betapa tidak. Dialah yang mengukir hidup saya. Ketika saya masih kecil, lemah dan tak berdaya, dialah yang memberi saya makan dan minum. Semua kebutuhan saya untuk bertumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya manusia yang baik, disediakannya. Tidak kurang. Tuntas. Tanpa hutang. Guratan jejak kariernya yang dibangunnya bertahun-tahun, sebagain sudah diwariskannya kepada saya. Ya, anda kembali betul: ayahandalah peletak dasar pola-pola berpikir dan bertindak saya sekarang ini.

Lalu, itukah beliau seluruhnya bagi saya? Kali ini anda mungkin keliru. Ada 4 peristiwa, yang mungkin baru pertama kali saya ceriterakannya kepada orang lain. Sebelum ini, semua saya simpan sendiri. Tidak kepada ibunda. Tidak juga kepada saudara-saudara saya. Apatah lagi orang kepada “orang asing” seperti anda semua, sahabat blogger terkasih. Ada 4 peristiwa yang amat membekas dan harus saya ungkapkan untuk memberi tahu bahwa, ayahanda saya sesungguhnya tidak selamanya memberikan gambar positif bagi saya. Beliau memiliki banyak sisi positif yang menghidupkan dan mewarnai hidup saya. Itu pasti. Akan tetapi sama pastinya dengan itu, adalah adanya sisi negatif dari beliau. Sisi negatif ini, di masanya, begitu menyakitkan dan diam-diam membuat saya menimbun marah kepadanya. Anda tidak percaya? Saya harus membuat penegasan bahwa di suatu masa dan di suatu waktu, saya pernah begitu tersinggung, marah, dan diam-diam, (ampunkan saya TUHANKU), ada dendam yang tertimbun kepada ayahanda.

Pertama, itu terjadi di tahun 1981. Setamatnya saya dari bangku pendidikan SMA, saya dikirim oleh ayahanda ke Jogjakarta untuk mencoba mengikuti testing masuk di Universitas Gadjah Mada. Dasar bodoh: saya gagal. Beliau bisa menerima kegagalan saya itu meskipun saya tahu, beliau kecewa. Ayahanda lalu memerintahkan saya untuk segera mendaftar ke bimbingan-bimbingan testing yang menjamur ketika itu untuk belajar lagi setahun dan mencoba mengikuti testing di UGM lagi pada tahun berikutnya. Saya tidak mau karena enggan “menganggur” setahun lamanya. Diam-diam, tanpa dikonsultasikan kepada beliau, saya pulang balik ke Kupang. Beliau marah. Amat marah. Memang beliau tetap memfasilitasi saya untuk mengikuti perkuliahan di Fakultas Peternakan di Undana Kupang, tetapi saya nyaris tidak ditegur hampir 3 bulan lamanya. Beliau berusaha menghindari mengobrol apapun dengan saya. Hanya bertegur sapa jika perlu. Sisanya, saya dicuekin. Dan puncaknya adalah, beliau memutuskan untuk mengirimkan salah seorang adik saya yang baru menamatkan pendidikan di bangku SMP untuk segera bersekolah ke Jakarta. Dan alasannya itu lhooo…yang membuat saya sakit hati berkepanjangan;……Kata beliau kepada adik saya…..heeeiiii pergilah kau bersekolah di Jakarta supaya jangan meniru kakakmu yang penakut, pecundang, tidak tahan menderita, tidak tahan lapar dan hanya bisa hidup di bawah himpitan ketiak orang tua.bllllllaaaaammm….ssssrrrrr.….saya malu dan marah terhadap stigma yang diberikan beliau itu.

Kedua, terjadi di tahun 1985. Ketika itu saya sudah menamatkan pendidikan sarjana. Saya sudah bergelar tukang Insinyur tetapi belum bekerja. Bukan karena tidak mau bekerja melainkan, ketika itu, saya adalah sorang penerima beasiswa TID (tunjangan ikatan dinas), yaitu beasiswa Republik Indonesia yang diberikan kepada mahasiswa yang dipersiapkan sebagai tenaga pengajar (dosen) perguruan tinggi pemerintah. Nah, setelah lulus sarjana, kami harus meninggu SK pengangkatan dan penempatan kami di mana saja sesuai kebutuhan pemerintah. Dalam masa 1 tahun menunggu, saya tampak seperti manusia jobless. Sementara, saya sudah memiliki tanggungan lain, yaitu seorang isteri dan 2 orang anak yang ada gara-gara “kelakuan “saya sendiri yang sudah menikah ketika berusia masih sangat muda. Mungkin didorong oleh “kedongkolan” terhadap kelakuan saya dan melihat saya setiap hari hanya bekerja di PT PAL, yaitu PT Pal pi Pal datang ( he he he …saya harus menerangkan bahwa PT ini sangat terkenal dikalangan pengangguran di Kupang, yang maksudnya adalah orang-orang yang pekerjaannya hanya luntang lantung tak karuan – pal pi pal datang – tanpa pekerjaan yang jelas), sekali waktu marahlah beliau (oh, ya ayahanda saya tergolong orang yang mudah marah dan naik pitam – lebih celaka lagi mudah pula “naik tangan” memberikan sejurus dua jurus kung fu panda). Tanpa hujan tiada angin beliau menghardik saya dengan sangat keras. Katanya: …..heeeiiii…..kamu sadar atau tidak? Kamu adalah orang yang tidak punya pekerjaan di rumah ini. Kerja mu hanya luntang lantung menjadi parasit bagi orang tua dan saudara-saudaramu……blllaaammm…..sssrrrrrr…. Saya malu. Saya marah. Saya dendam terhadap stigma yang dikenakan ayahanda kepada saya.

Ketiga, di tahun 2002. Ayahanda sangat berharap, dan terutama karena saya sendiri yang berjanji, agar saya segera mengikuti pendidikan pada tingkat Doktoral. Sesuatu yang sudah saya tunda-tunda sejak tahun 1996 ketika kesempatan pertama itu datang. Karena perkembangan kesehatan saya yang sempat amat buruk di tahun 2000, saya berketetapan hati untuk tidak mau lagi mengikuti pendidikan doktoral. Magister cukuplah sudah. Akan tetapi, karena enggan berterus terang kepada ayahanda, maka jika setiap kali saya ditanya oleh beliau: kapan S3? jawab saya: nanti semester depan. Rupa-rupanya kesal mendengar “janji-janji kosong” saya maka di suatu pagi hari ketika saya mengunjunginya di rumahnya, saya dihardik dan diusir keluar dari rumahnya. ……..Pergi kamu dari rumah saya dan jangan lagi menginjakan kakimu di rumah saya. Kamu adalah penipu besar dan tidak punya harga diri. Kamu penakut. Kamu hanya boleh kembali kerumah saya jika sudah menunjukkan tiket keberangkatan kamu bersekolah……….. Dan….pintu itu…….pnitu kamarnya tidurnya dibanting keras sekali. Amat keras….. …brrrraaaakkkggg.…..persis di depan hidung saya……Betapa kalang kabutnya saya ketika itu. Dan betapa terhinanya saya ketika itu. Sakitnya saya tidak lagi diperdulikannya (hal yang belakangan diakuinya ketika saya sudah menyelesaikan sekolah). Sepertinya beliau tidak bisa lagi memahami bahwa untuk bersekolah ada banyak persyaratan yang harus diurus. Namun, hanya agar supaya kemarahan ayahanda dapat diredam maka berangkatlah saya dan lalu, sengsara di Negeri orang.

Keempat, di tahun 2008. Kesehatan ayahanda sudah tidak lagi prima. Saya meminta beliau untuk memeriksa kesehatannya ke dokter. Beliau tidak mau. Sayapun tidak memaksanya. Dan, hari itu, saya harus menerima fakta….ayahanda “pergi” tanpa sempat berpesan apa-apa. Saya marah. AMAT MARAH, Lalu, kesedihan yang bercampur dengan kemarahan karena ditinggal pergi begitu saja inilah yang menjebak saya dalam kesedihan berkepanjangan seperti saat ini. Sampai hari ini. Bahkan ketika mengetik artikel ini. Ya, saya mengganggap bahwa ketika hampir semua keinginannya sudah saya penuhi…ehhhh…..malah begitu saja saya ditinggalkannya pergi. Jauh. Amat jauh. Saya sakit hati.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal. Manusia macam apa ayah saya itu? Dia baik. Itu benar belaka. Dia mengagumkan. Itupun benar belaka, Tetapi, sekiranya ayahanda berada di suatu spektrum gelombang energi tertentu di universe ini dan bisa membaca tulisan ini, saya harus juga mengatakan, dan meminta beliau untuk mengakuinya juga, bahwa menurut indikator sebuah Kitab Tua (yang meminta agar semua Ayah jangan pernah membuat tawar hati anak-anak mereka) maka beliau bukan sosok yang amat ideal. Ayahanda orang baik tetapi ayahanda juga pernah menyakiti hati saya. Seperti saya juga, seringkali menyakiti hatinya. Jadi, bagaimana persisnya sikap saya terhadap ayahanda? Ya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada padanya, saya harus mengatakan bahwa dia memang eksklusif bagi saya. Ayahanda saya ya cuma satu itu. Dia dan memang hanya dia. Tidak yang lain. Dengan begitu maka jika rumus dalam sebuah Kitab Tua harus menjadi pedoman: …..hormatilah ayahmu dan ibumu agar panjang usiamu di negeri yang dijanjikan……Maka, pilihan saya menjadi hanya 1, saya harus mencintainya. Tanpa menghitung plusnya. Tanpa menghitung minusnya. Apa adanya.

Bagaimana meletakkan ini semua dalam perspektif ke Indonesiaan?. Ya, Indonesia bukan negara dan bangsa yang Ideal. Dalam banyak hal, Indonesia telah menyakiti hati warga bangsanya sendiri. Sepertihalnya juga warga bangsa ini yang tidak jarang menancapkan pisau ke jantung Indonesia. Dan melukainya. Tetapi, di dunia yang fana ini: apakah ada yang ideal? Siapakah yang sempurna? Jika ketidak sempurnaan itu adalah niscaya maka memang hanya ada 1 pilihan kita, yaitu cintailah Indonesia. Tanpa menghitung plusnya. Tidak pula minusnya. Apa adanya. Jika ini sudah benar maka pilihan saya di hari perayaan hari merdeka ini ya cuma 1, yaitu saya ingin berbisik …Merdekalah Indonesiaku. Berbisik? Mungkin itu yang terbaik yang dapat saya lakukan sekarang.

Akan tetapi ijinkanlah saya mengambil sikap lebih optimis. Dum Spiro, Spero. Selama saya masih bernapas, saya tetap berharap. Di sini saya lahir. Di sini pula pada akhirnya saya akan menutup mata. Lalu, berbekal keyakinan bahwa dengan kebaikan, persahabatan dan kasih sayang: saya, anda dan kita semua bisa mengusahakan Indonesia yang lebih baik, maka saya juga ingin memekik: MERDEKA bung. MERDEKA sus. MERDEKA INDONESIA.

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Yuuuupppssss….sikap yang amat positif. Mencintai Indonesia apa adanya. Proficiat

  2. Anonim mengatakan:

    mencintai indonesia?? ah sudah lama tuh enggak saya lakukan itu. jujur saja deh… saya lebih memilih mencintai diri saya sendiri. ngapain mikirin cinta indonesia kalau kesusahan yang timbul malah dari indonesia “yang dicintai’ anda-anda sekalian. mending gue mikirin cinta diri sendiri (baca : kerja nyari makan).

  3. Anonim mengatakan:

    ah, lain kepala lain pikiran. Saya masih mencintai Indonesia kok?

  4. Anonim mengatakan:

    Hallo bro, logikanya adalah memahami begara seperti mehamai nenek moyang. Baik. Tapi bagimana kalau negara malah tidak menganggap apa-apa terhadap rakyatnya. DI Indoenesia, penyakit menyepelekan rakyat sudah parah bro. GW skeptis (HSIN)

  5. Anonim mengatakan:

    Woooiii, enak ajah suruh maapin Indonesia. Ganti dulu nyawa orang yang hilang waktu septermber 65, Tanjung Priok, Mei 1998, Timor Timur.

  6. dh9rk mengatakan:

    Yg mau diskusi, mampir ke blog @bigmike yg ada di blogspot.com. Silahkan klik ini:

    http://bigmike-savannaland.blogspot.com/

    Sampai jumpa di sana!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s