De Indonesien alleen is noit zijn heer (apaaaaannn tuuhhhhh?)

Posted: Agustus 4, 2008 in opini
Tag:

Sahabat blogger terkasih,

De Indonesien alleen is noit zijn heer. Kalimat ini saya peroleh dari suatu tulisan lama yang dibikin oleh DR. Abu Hanifah dalam polemiknya dengan Mochtar Lubis pada tahun 1977. Dua orang ini sudah lama dipanggil Tuhan tetapi jejak pikirannya akan saya tulis kembali pada malam ini. Besar harapan saya bahwa di sini. Di tulisan ini, kita bisa berkaca seperti apa wajah kita. Seperti apa wajah Indonesia. Wajah di tahun 2008 ketika kita sudah berada di tahun yang ke 63 pascakemerdekaan.

Data pada bulan Desembar tahun 2006 (kalau anda punya data terbaru harap diberikan di kolom komentar) menunjukkan bahwa angka hutang luar negeri Indonesia mencapai US$ 125,25 miliar. Mengapa kita berhutang? Ya karena kita tidak mampu membiayai belanja kita sendiri. Mengapa kita tidak mampu membiayai belanja kita sendiri? Ya karena kita miskin. Jumlah penduduk miskin di Indonesia yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Juli 2008 turun menjadi 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk Indonesia. Baguskah? Ah, nanti dulu. Data itu ternyata belum menghitung, atau sengaja tidak memperhitungkan, dampak kenaikan harga BBM yang baru lalu. Seorang peneliti senior di LIPI, Hari Susanto, menghitung bahwa dengan kenaikan harga BBM menjadi 28.7% maka jumlah penduduk miskin akan mencapai 40 juta jiwa atau 18,04% dari jumlah penduduk di Indonesia. Angka lebih mengerikan diberikan oleh hasil analisis Bank Dunia. Dengan menggunakan standard internasional pengukuran tingkat kemiskinan yaitu PPP (purchasing power parity) 2 USD maka angka penduduk miskin di Indonesia mencapai 49% dari total penduduk. Berapa angka rilnya? Jika penduduk Indonesia per Juli 2008 sekitar 225 juta jiwa maka jumlah orang miskin di Indonesia adalah…….engggg………..iiiing……………eenggggg.…..110.25 juta jiwa….wwwwoooooowwwww……..mammaaaaaa mia let me go…….Cukup? ya, cukup dulu. Tapi apa hubungannya dengan judul posting ini?

De Indonesien alleen is noit zijn heer berasal dari penggalan sebuah puisi yang dibuat oleh orang-orang Belanda pada tahun 1927 yang menyitir sebuah syair kuno, VETH, guna mengolok-olok gerakan kebangsaan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Negeri Belanda. Bunyi penggalan syair tersebut kurang lebih begini:

Di pantai-pantai Jawa, bangsa-bangsa berdesak-desak.
Mereka berganti-ganti seperti awan-awan di langit.
Terus menerus mereka berdatangan dari seberang lautan
Hanya orang Indonesia yang tidak pernah menjadi tuan di rumah mereka sendiri
(de Indonesien alleen is noit zijn heer)

(kata Indonesia sengaja saya ubah dari kata aslinya, yaitu Javaan)

Menyakitkan? Bagi yang mempunyai sedikit saja perasaan nasionalisme pasti akan merasa sakit hati dengan tudingan orang-orang Belanda tempoe doeloe itu. Apakah sekarang ini keadaan lebih baik? Jangan buru-buru menilai. Mari kita lihat beberapa fenomena di sekitar kita. Pemain sepakbola yang berasal dari luar negeri adalah tuan besar di Indonesia. Pemain Indonesia dibayar begitu murahnya sementara si pemain asing hidup bagaikan raja-raja kecil di liga sepak bola nasional. Dunia persinetronan kita dibanjiri oleh puluhan artis-artis berwajah Indo yang berkewarganegaraan Jerman, Amerika, Australia, Malaysia, Singapura dan lain sebagainya. Di klub-klub malam di Jakarta, konon sudah lama wajah “ayam kampung” menghilang digantikan oleh wajah-wajah ayu bermata sipit dari negeri China. Dewi Persik, artis dewek, dilarang-larang ketika ingi menyanyi di beberapa daerah tetapi betapa bangganya kita menyaksikan Maria Carrey menyanyi nyaris telanjang di Indonesia. Artis-artis Malaysia berseliweran di Indonesia sambil mengencani dan memacari artis-artis dalam negeri tetapi kita diam ketika Inul Daratista diperlakukan bagikan monyet di Malaysia. Orang di Arab dan Malaysia memperlakukan jongos-jongos-nya yang berasal Indonesia nyaris tanpa peri kemanusian sedangkan kelakuan sebagian warga bangsa kita lebih Arab dari orang Arab itu sendiri. Kita bangga menyebut PRT-PRT itu sebagai pahlawan devisa. Tetapi ironisnya, ketika sang pahlawan devisa itu pulang kembali ke tanah air, mereka dirampok habis-habisan di Cengkareng oleh agen atau orang-orang kita sendiri tanpa rasa malu. Di pusat-pusat bisnis di Indonesia, cobalah anda mengamati di sana, banyak sekali konsultan-konsultan asing dengan gaya “dandy” ber- cas cis cus bersama-sama beberapa wajah melayu Indonesia yang bekerja dengan mereka. Orang-orang asing ini menjadi penentu sementara wajah melayu Indonesia itu adalah tukang-tukangnya. Cilakanya, “para tukang” itu hobi banget pamer gaya bisa bekerja bareng bule ketika mereka menghadapi orang negerinya sendiri. Gue kerja bareng Amrik lhoooo….Gue dibayar pake’ dollar lhooo……Beranikah anda bertanya, berapa gaji si orang asing dan berapakah gaji si orang Indonesia?

Saya pernah punya 2 kali pengalaman. Pertama kali di tahun 1980-an akhir ketika saya masih seorang dosen muda yang “bangga” bisa bekerja sama dengan orang-orang asing di suatu proyek di kampung nun jauh di pedalaman Timor. Berapa honor saya per bulan? Rp. 50.000,- untuk bekerja dari pagi sampai sore di padang penggembalaan. Berapa honor orang asing itu? ribuan dollar bung, hanya untuk memerintah ini-itu yang saya sendiri sudah tahu karena ada dalam buku yang saya baca sendiri. Kali kedua, di tahun 2006 ketika bekerja dengan orang-orang asing untuk suatu analisis kemiskinan masyarakat desa hutan di Indonesia. Saya menjadi koordinator daerah Nusa Tenggara yang meliputi NTB dan NTT. Setelah rampung pekerjaan lapangan maka kami diinstruksikan untuk berkumpul di sebuah hotel mewah di kawasan Senayan, Jakarta. Makan enak.Tidurpun enak. Tetapi kami bekerja berhari-hari dengan semua daya kami hanya untuk mendapatkan biaya ganti tiket pesawat dan lumpsum ala kadarnya. Beruntunglah ketika itu, pikiran saya tidak tertuju kepada uang. Saya ingin mendapatkan pengalaman baru. Tetapi, belakangan baru saya sadari bahwa dalam laporan mereka, justru pola pikir dan metode yang saya kembangkan yang dipakai mereka. Mammmaaaaaaa mmiaaaaaaa let me go…sampai sekarang bukti tiket masih ada di tangan saya dan saya tidak berniat untuk meminta ganti biaya tiket. Biarkan menjadi doea tanda mata bagi saya karena memang ada 2 buah tiket yang seharusnya bisa saya klaim. Masih ada contoh lain? silakan anda kumpulkan sendiri. Silakan pula jika anda menilai……..heeeiiiiii………si BM sedang cengeng padahal itukan salah dia sendiri…….ya saya mempersilakan anda menafasir. Tetapi, mari kita catat fenomena berikut ini……jelas-jelas saya dan beberapa teman adalah orang Indonesia asli tetapi…betapa bangganya kita jika dalam berbicara dan atau menulis bisa mencampur adukkan, bagai kol and his gang, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya (judul posting inipun ditulis dalam bahasa asing hi hi hi).

Begitulah, sidang pembaca. Bung Besar kita, Soekarno, beribu-ribu kali mengingatkan bahwa bangsa Indonesia jangan mau menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli bangsa-bangsa lain. Namun, ketika memberikan amanat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1965 di Istana Negara, Soekarno justru pesimistis bahwa bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang dikhawatirkannya itu. The Indonesian people have become a nation of coolies and a coolie amongst nations. Soekarno mengatakan, ia mencupliknya dari seorang sarjana Belanda. Kemungkinan besar sarjana Belanda dimaksud adalah orang Jerman yang bernama Emil dan Theodore Helfferich yang pada tahun 1900-an awal datang ke Pulau Jawa dan membeli tanah seluas 900 ha di daerah Cipoko, Boogor dan menjadikannya sebagai kebun teh. Mereka mengatakan bahwa eine Nation von Kuli und Kuli unter den nationen…..Mammmmmaaaaaaa mmmmiaaaaaaa let me goooooo…..

Sekarang kita sudah berada di dua minggu menjelang perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 63. Cobalah kita menepi barang satu atau dua dikit dan tanyalah kepada diri kita sendiri. Benarkah kita bukan bangsa kuli? Benarkah kita sudah menjadi tuan atas negeri kita sendiri? Saya bingung untuk berkata apa. Anda mungkin tidak, Tetapi ijinkan saya untuk mengucapkan begini:

Di sini di tanah ini, jiwaku bangun,
Ragaku akan tegak sebagai pandu bagi ibu Pertiwi.
Pandu yang siap untuk menjadi tuan di rumah kami sendiri
(tidakkah hal ini agak berlebihan?)

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Untuk para PENCOLENG uang rakyat. Bacalah artikel ini dengan malu (Ariadoetha)

  2. Anonim mengatakan:

    rusaaaaaakkkkkkk…..rruuusssaaaaakkkkkk…..hicks….hicksssssss…….

  3. Anonim mengatakan:

    ah situkang hutang, tukang korupsi……nggak usah dipikirin..neraka udah mengunggu mereka kok….

  4. Anonim mengatakan:

    rakyat kuli. Kuli pada siapa? pada pemimpinnya yang sesunggguhnya kuli juga pada bangsa asing. Sekali kuli tetap kuli

  5. Anonim mengatakan:

    Biar kuli asal gaya ha ha ha ha ha

  6. blogblajar mengatakan:

    Memang susah jadi bangsa Indonesia, genetikanya sudah berubah kali menjadi bangsa kulee. Tapi kok ya kenapa? Padahal sudah dari dulu ditengarai begeetu. barangkali memang itulah yang terjadi…seperti kata Soekarno yg juga katanya lagi :

    “The Indonesian people have become a nation of coolies and a coolie amongst nations”

    Jadi yg salah kita2 juga kok kita percaya dikatain kule dan membenarkannya, akhirnya semua itu malah jadi doa yg dikabulkan yaitu jadi kulee…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s