Bukan Puisi.Tidak Pula Essay. Cuma Kisah Tentang Ketika di Sekali Waktu

Posted: Juli 24, 2008 in Artikel, Storyabout
Tag:,

Sekali waktu, entah tanggalnya, tak pasti harinya, tapi itu di tahun 70-an

Seorang lelaki muda perkasa baru mendapatkan sebuah motor dinas:

Vespa Piaggio

Sambil membonceng seorang putranya yang masih bocah, baru kelas 4 SD

Dia berkata perlahan: Nak, sekarang bapak punya motor, nanti besar kau beli mobil

Si anak terperangah


Sang ayah memberi pesan

Pesan tentang apa yang harus dikerjakan anaknya di masa depan:

bahwa hidup harus bertumbuh


Sekali waktu, entah tanggalnya, tak pasti harinya, tapi itu di tahun 80-an

Seorang lelaki dewasa dan perkasa, baru saja membelikan sebuah sepeda motor Yamaha RX-S

Sambil memeluk, mencium dan mengusap kepala sang putranya yang sudah mahasiswa

Sambil tertawa dia berkata perlahan: Nak, mudah-mudahan kamu menjadi sarjana meneruskan cita-cita ayahmu yang hanya sarjana muda.

Si anak tertegun:


Sang Ayah memberi pesan

Pesan tentang kewajiban anaknya di masa depan:

bahwa hidup haruslah bermutu


Sekali waktu, entah tanggalnya, tak pasti harinya, tapi itu di tahun 90-an

Seorang lelaki tua menjelang pensiun tetapi masih perkasa

memberikan hadiah

kepada sang anak yang baru lulus program magister:

sebuah mobil Toyota Hard Top


Sambil berlinang air mata haru dia berkata di depan banyak orang:

Anakku, kaulah satu-satunya

yang meneruskan pekerjaan ku sebagai guru.

Karena guru tidak mungkin kaya. Maka kaupun mungkin tidak akan kaya

Oleh karena itu, mobil ini kuhadiahkan kepadamu


Si anak gembira dan takjub:


Sang ayah memberi pesan

Pesan tenang kewajiban sang anak di masa depan

Bahwa untuk hidup pilihan yang berkualitas, selalu ada resiko di dalamnya


Sekali waktu, lupa tanggalnya, lupa pula

harinya, tapi itu di Februari tahun 2005

Seorang lelaki tua, mulai renta, merebahkan badannya ke lantai gedung besar.

Bersujud sukur sambil berurai air mata

ketika itu, sang anak sedang melompat meninju udara

karena dinyatakan lulus sebagai Doktor Cumlaude….


Sambil terisak menangis lelaki tua renta itu berkata:

Anakku, adalah impianku agar di hari tuaku nanti,

sekali waktu, dapat berziarah ke Tanah Suci

Tetapi sekarang, impianku ke Tanah Suci sudah kulupakan

Cintaku kepadamulah, anakku, yang mengalahkan rindu dendam yang satu itu

Impian ke tanah suci itu, telah kutukar dengan keinginan untuk melihat engkau terbang

mendekati arah yang ditentukan Sang Maha Agung

Bagiku cukuplah itu .

Mungkin ini rencana Tuhan bagiku


Meskipun begitu, ada yang harus kau ketahui anakku terkasih:

Seumpama busur dan anak panahnya

Aku sekarang adalah busur tua yang sudah tak kuat lagi

Masaku sebagai busur hampir lewat

Ku harap, engkau bersedia menjadi sang busur yang baru

Jika engkau mau, wahai anakku, jadilah busur baru yang mantap dan kuat

yang dapat digunakan oleh Nusa, Bangsa, Masyarakat, Keluarga dan Gereja…

dan Sudah pasti berguna bagi Sang Pemanah itu


Si anak cuma diam terpekur dan tak berkata apapun…..


Sang ayah telah memberikan pesan

Pesan tentang apa kewajiban dalam hidp yaitu bahwa

hidup adalah kumpulan tugas yang harus dikerjakan dan diselesaikan

dengan tuntas karena itulah keinginan sang pemilik kehidupan


Pada waktu itu

Tanggal, hari dan tahunnya persis diingat

23 April 2008


Seperti yang telah diramalkannya sendiri

Sang ayah, yang tua dan lemah itu kehabisan rupa dayanya

Saatnya telah tiba baginya untuk dibawa kembali oleh pemiliknya

Ke suatu tempat entah di mana

Jasadnya rebah memeluk dan

dipeluk bumi pertiwi


Ribuan orang melayat, ribuan orang mengirim doa

Ribuan orang itu memberikan kesaksian. Satu kesaksian::

begitulah kehormatan yang akan diberikan oleh sang Pemanah

kepada busur-busur-Nya yang taat dan setia


Ketika itu, sang anak

yang dahulu ketika kecil dibonceng oleh sang Busur dengan motor Vespa Tuanya,

Hanya bisa tertunduk dan menangis di sudut sempit di samping rumah

Sambil berusaha menyeka air matanya, dia berdoa:


Tuhanku

mengapa Engkau mengambil ayahku

Tanpa dia sempat menyampaikan pesan apapun kepadaku


Lalu, sayup-sayup, bersamaan

dengan hembusan angin dingin senja hari

Sang busur tua itu, sang Guru tua itu, berbisik:


Anakku, buah hatiku, ketahuilah:

Sang pemanah Agung itu sedang berada tepat di sampingmu

DIA ingin menggunakanmu sebagai busur-Nya yang baru

Engkau, ya engkaulah busur baru itu,


Ya, semua saudara-saudaramu,

semua anak-anakku

semua cucu-cucuku

adalah busur-busur baru itu


Yang perlu engkau, dan juga kalian semua lakukan adalah:

Hiduplah berserah penuh kepada Sang Pemanah


Maka, engkau tidak akan pernah sendiri

Maka engkaupun akan menjadi busur yang terberkati

dan menjadi berkat bagi banyak orang

Menjadi tumpuan anak-anak panah yang baru

Milik Sang Pemanah Agung


Tersenyumlah anakku

meskipun mungkin airmatamu belum juga mengering

Karena, kini aku pun sedang tersenyum bersama Sang pemanah itu

Kau tahu di mana sekarang aku berada?

Ya, engkau benar anak-ku, aku berada di Negeri yang sangat kuimpikan:

Tanah Peziarahan akhir.

Tanah Suci
Tanah Abadi.


Sekarang, ayo nak, berjalanlah ke depan, buah hatiku

Meskipun kesedihan hati masih menggelayutimu

Karena,

sekarang inipun, aku sedang melangkah maju bersama Sang Pemanah Abadi itu

TUHAN Mahakasih

Catatan:

1. Ditulis pada bulan Juni 2008 dalam rangka memperingati 40 hari berpulangnya Ayahanda tercita, Robert Riwu Kaho,
2. Pemanah dan Busurnya diinspirasi dari puisi Khalil Gibran
3. Hari ini, 24 Juli 2008, tepat 45 tahun lalu, sebuah puisi ditulis bersama oleh Robert Riwu Kaho dan Agustin Sabartinah Riwu Kaho-Soedarjat dan diberi judul: Ludji Michael Riwu Kaho

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Indah dan mengharukan. Selamat HUT Bosss

  2. Anonim mengatakan:

    Lho kok sama yang di BS? Yo wis ben. Ada kerinduan di dalam puisi ini.Indah

  3. Anonim mengatakan:

    Hidup sepertu roda. Sedih dan gembira hanyalah sesaat. Selamat HUT. Carpe Diem

  4. Anonim mengatakan:

    Wow amazing

  5. Anonim mengatakan:

    Hidup yang benar di mata Tuhan adalah puisi yang terindah di mata TUHAN

  6. Anonim mengatakan:

    Met Ultah Luiggi. GBU (Kuta Bali)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s