Pada Hitungan Ke-tiga, Save The World …….. Deal or No Deal??

Posted: Juli 19, 2008 in Artikel
Tag:

Sahabat blogger terkasih,

Dunia Tulis menulis memang mengasyikan bagaikan candu. Sekali menulis, sulit untuk menghentikannya. Tidak percaya? Tanyalah pada Norman. Ya, si penerus DNA saya yang sulung itu. Setelah berhasil menerbitkan artikelnya, yang pertama, dan belakangan menancing terjadinya pertengkaran yang tak berkesudahan ..he he he…., Norman menjadi ketagihan Narkoba …APAAAAAAA????? Narkoba?????? Ya, tidak salah. Norman mulai ketagihan NARik KOlor BAbe….ha ha ha ha …setiap hari,ditarik-tariknya laptop saya hanya untuk mengumpulkan bahan-bahan tulisannya. Saya dongkol dibuatnya. Setelah tulisannya jadi, Norman juga rajin menarik-narik perhatian saya untuk segera memposting artikel barunya. Saya kesal dibuatnya. Tapi, ya sudahlah. Karena Norman sudah tidak ketulungan lagi ngototnya maka…. saya memposting Artikelnya. Tema yang dipilih bukan barang baru. Tidak sensasional amat. Biasa-biasa saja. Oleh karena itu, marilah kita bersama menjadi saksi apakah Si Norman mampu “menghidupkan” barang lama ini menjadi sesuatu yang segar dan lezat????? Di tangan andalah, sahabat terkasih, penilaian itu diserahkan. Oh iya, judul tulisan inipun tidak saya ubah sedikitpun. Saya biarkan apa adanya.Inilah artikel Si Norman.

Sahabat blogger,

Bingung yah dengan judul diatas? Anggap saja kita sedang bermain kuis, saya akan memberikan 3 kata bantuan yaitu Lapisan ozon, bumi, global warming. Sudahkah bisa menerka apa yang ingin saya sampaikan?? Teeeettttt, ah ternyata beberapa dari anda langsung membunyikan bel untuk menjawab. Yahh.. benar, saya ingin membahas tentang pentingnya upaya penyelamatan bumi dari pemanasan global (global warming) yang akan mengakibatkan lubang ozon semakin terbuka lebar. Tentu saja akibatnya adalah… ah jangan saya bilang dulu, entar aja deh namanya juga kata pengantar. Mungkin juga pembaca sekalian sudah bosan membaca tulisan-tulisan dengan topik ini, termasuk posting terdahulu dari BM (baca posting tentang mother earth) TAPI nanti dulu, ada loh yang menarik (menurut saya entah menurut anda). Apa yah?? Mau tau??

Neh saya kasi daaaahhhhhh…….

Save the world, go green, atau pemanasan global.. mungkin ini kata-kata yang cukup akrab dengan kehidupan sehari-hari anda. Anda bisa membaca seruan-seruan dan istilah ini mulai dari koran, pamflet, spanduk, iklan TV, dll. Jujur saja, saya sendiri sampai bosan mendengar kata-kata ini sehingga saya “sedikit banyak” (heran yah ada sedikit terus banyak?) menjadi tahu tentang efek pemanasan bumi karena begitu seringnya. Tapi apakah saya mau mengikuti dalam bentuk tindakan nyata upaya save the world ini? Oh nanti dulu… saya malah memilih bersikap tahu tapi tidak mau tahu. Ada sampah berserakan di depan mata, mengedarai motor dan mobil dengan asap knalpot tebal, mematikan 2 lampu saja untuk menghemat energi, dll tetap saya lakukan. Pertanyaan terbesar adalah KENAPA, sedangkan pertanyaan terkecil adalah kenapa? He..he.

simple saja, maukah anda untuk kemana-mana dengan berjalan kaki? Maukah anda mengangkat sampah yang berbau tak sedap? Maukah anda mematikan lampu yang akan membuat sebagian rumah anda gelap? Susah bosss. Saya sendiri tidak mau melakukan itu karena akan membuat capek kalau kemana-mana tidak menggunakan kendaraan, saya berpikir bahwa sampah itu tugas “yellow ranger” atau pasukan kuning (yang bertugas mengangkut sampah), serta saya ini takut kegelapan. Padahal di sisi lain saya tahu jika saya tidak melakukan hal-hal di atas saya merupakan salah satu aktor yang akan mendapatkan “piala” dalam hal pengrusakan bumi. Jadi apa sebabnya dong? Saya memang tahu akibat dari pemanasan global, tapi saya malah bersikap seolah-olah tidak mau tahu. Ngapain? Saya lebih suka mikirin apakah pada Pemilu 2009 mendatang saya golput atau tidak, saya lebih suka mengikuti perkembangan tarik-ulur transfer pesepakbola Cristiano Ronaldo, saya lebih memilih mengikuti berita tentang nasib pedangdut “jatuh bangun” Kristina atau jujur saja anda pasti banyak membaca tulisan sejenis tentang global warming tapi apakah anda sudah punya kesadaran untuk berbuat sesuatu yang nyata? Oleh karena itu, boleh dibilang SAYA BERSIKAP SEOLAH-OLAH PUNYA PILIHAN LAIN DARIPADA HARUS MELAKUKAN TINDAKAN NYATA. Saya berdoa sangat khusyuk sampai “tikam lutut” semoga saja sikap hidup saya ini tidak diikuti oleh pembaca sekalian. Amin. TAPI, dari hasil survey LSN (Lembaga Survey Norman) secara kecil-kecilan, yang tentu saja tidak seakurat LSI dalam memprediksi hasil Pilkada, yaitu dengan “sample percobaan” keluarga dan kawan-kawan sekitar, saya mendapati hasil ternyata sikap saya ini tidak begitu jauh beda dengan “sample percobaan” saya. PARAHH. He..he. salahkah saya bersikap seperti itu?? Nanti dulu mari kita bahas satu-pesatu Tapi untuk anak NKRI, anda tenang saja, saya tidak membahas secara khusus kesalahan pemerintah Indonesia. Padahal kalau dipikir-pikir pemerintah juga “ambil bagian” sebagai salah satu penyebab. Contohnya, lewat Perpu No 1/2004 tanggal 11 Maret 2004 yang seakan-akan berkata “monggo mas, silahkan gunduli hutan ini. Mau dialih fungsi juga gak apa-apa deh”. Jujur, saya malas membahas tentang peran pemerintah dalam pengrusakan bumi, entar saya harus ngetik 7 hari 7 malam, sambil berendam dalam air kembang 7 rupa lagi. Hi..Hi

Ah, mari kita lanjut saja, pernahkah pembaca-pembaca mengenal sosok Al Gore, sosok yang pernah gagal menjadi Presiden USA (saya tidak mau membicarakan selanjutnya apabila ada kata gagal dan USA ah soalnya ada bos nk. Hi..Hi) dengan documenter tentang global warming yang sukses menggemparkan dunia persilatan eh… dunia ini, ataukah anda mengenal sosok Thimotius Natun, tokoh pemerhati lingkungan di NTT? serta tokoh-tokoh lain yang berperan melalui berbagai upaya mereka. Tapi tetap saja mereka ini hanya individu-individu. Dalam analogi, sekumpulan sapu lidi tentu saja lebih kuat daripada sebatang-dua batang lidi. Tapi ketika saya “mencuri kesempatan” (untungnya tak ketahuan) menggunakan laptop ayah saya untuk berinternet, iseng-iseng saya mengetikkan kata global warming di “om gu” (Google) ternyata pemikiran saya selama ini yang masa bodoh ini SALAH. Mau tau kenapa? Neh saya kasih beberapa akibat global warming. Berikut “cuma teori” tentang akibat global warming yaitu akibat bagi Perubahan Iklim (antara lain mengakibatkan Peningkatan temperatur Bumi dan Curah hujan yang lebih lebat), akibat bagi bidang Pertanian (antara lain terancamnya ketahanan pangan), akibat bagi Kelautan (antara lain mengakibatkan Naiknya permukaan air laut, Pemanasan air laut,), serta akibat bagi Satwa. Yah…. Teorinya sih begitu, tapi bagaimana kalau saya berikan contoh nyata (yang penakut atau di bawah umur saya sarankan langsung “skip” saja fakta di bawah ini karena cukup “mengerikan” sehingga membutuhkan bimbingan orangtua. He..he) yang bukan hanya teori. Artikel-artikel ini saya copy dari internet lalu saya cut (seenak hati saya) untuk menghemat halaman.

1. Puluhan Pulau Tak Berpenghuni Tenggelam Akibat Pemanasan Global

Sedikitnya 23 pulau tidak berpenghuni di Indonesia tenggelam dalam 10 tahun terakhir akibat pemanasan global. “Umumnya pulau yang tenggelam adalah pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni,” kata Pakar Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim. Namun dikhawatirkan akan ada pulau-pulau berpenghuni di Indonesia yang tenggelam sebagai dampak dari pemanasan global pada 2025, yang salah satu gejalanya, semakin tinggi permukaan laut.

2. Menyusutnya sumber air (komentar saya : kalau di NTT ini sudah bukan berita lagi)

Sumber air sungai Brantas di Gunung Arjuno dan Welirang awalnya berjumlah 80 buah dan saat ini berkurang menjadi 40 sumber air, menurut Perum Jasa Tirta, yang menangani wilayah Sungai Brantas. “Dulu ada kali besar, sekarang sudah tidak ada lagi. Tahun 1980an masih dapat digunakan, tetapi sekarang untuk sawah saja sulit, apalagi untuk persediaan air bersih,” kata Rianto yang tinggal di salah satu sumber air Sungai Brantas.

3. Jakarta terancam tenggelam? (Komentar saya : Nah Lo!!!!)

Para mahasiswa UI mengunjungi Muara Angke, Jakarta Utara, yang tergenang air pasang beberapa kali dalam tahun 2007 ini. Air pasang yang terjadi bulan Juni lalu bahkan mencapai dua meter. Para nelayan di Muara Angke,menceritakan air pasang yang melanda tempat tinggal mereka. “Sudah sering terjadi. Yang terakhir sampai dua meter” kata seorang nelayan. Pakar dampak perubahan iklim, memperkirakan, pemanasan global yang menyebabkan naiknya permukaan laut, akan menenggelamkan sejumlah tempat di dunia. Apakah itu berarti ibu kota Jakarta juga terancam tenggelam di akhir abad?

4. NTT: Iklim ancam lumbung (komentar saya : NTT Kering? Basiiii nih)

Mahasiswa Undana mengunjungi desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, NTT. Dimana Gagal panen merupakan cerita tahunan penduduk di desa ini. “Saya pernah tiga hari tidak ada beras. Tidak makan.,” kata Martida Rohi. Cerita gagal panen di desa Bena ini hanya sebagian dari cerita gagal panen akibat kekeringan di lebih 4,7 juta hektar areal pertanian di seluruh NTT. Dari luas itu lebih 174.000 diantaranya adalah areal persawahan. Kekeringan parah ini juga menimbulkan kerawanan pangan di sebagian besar NTT. Peneliti lingkungan dari Undana, I Wayan Mudita memperingatkan kekeringan akan bertambah parah, dengan iklim yang berubah sekarang ini.

Masih kurang???? Neh saya kasih lagi satu fakta “yang lucu sekaligus mengerikan” yaitu Akibat tingginya tingkat kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun pada puluhan juta hektare areal hutan di Kalimantan, Indonesia menempati urutan keempat penyumbang pemanasan global saat ini. Namun jika dilihat dari tingkat konsentrasi emisi gas rumah kaca, maupun transportasi, Indonesia masih pada urutan ke-13 (13 kan angka sial? Hi..Hi),”. Hmmm, bagaimana masihkah anda seperti saya yang tahu tapi tidak mau tahu? Masihkah anda seperti saya yang tahu tapi tidak melakukan tindakan nyata? Pasti akan timbul juga pertanyaan “Tapi bagaimana dengan upaya-upaya seperti gerakan penanaman 1.000 pohon, 2.000 pohon, dst (untuk lebih jelas coba saja anda cek di google); Green festival seperti baru-baru ini, dsb yang berkaitan dengan upaya penyelamatan bumi ini?” Saya pribadi setuju dan mendukung (tapi biasanya cuma “dalam doa” tidak dengan tindakan) upaya-upaya seperti ini tapi “ternyata” ada lucunya juga loh. Kok bisa? Yah, coba bayangkan setelah ditanam, pohon-pohon tidak dirawat (disiram, dipupuk, dsb) seakan-akan “membiarkan alam yang bekerja”. Paling-paling yang tumbuh bisa dihitung “dengan jari”. Jadi kesannya hebat, Lihat nih Gue udah tanam seribu pohon, tapi saat ditanya kelanjutan…..eng ing eng, nanti biar Tuhan yang “atur” aja deh. selanjutnya, Green Festival ini juga lucu, karena setelah selesai Green Festival ini malah banyak sampah yang berserakan di sekitar arena penyelenggaraan ini. Jadi, saya hanya ingin bilang “KITA HARUS MELAKUKAN SESUATU YANG NYATA”. Pertanyaan saat ini adalah jadi harus gimana dong? Hmmm, banyak sekali cara, tapi kalau saya sih yang praktis saja. Kita mulai dari coba anda lihat di sekeliling anda adakah sampah yang” tergeletak tak berdaya” di situ, anda lihat halaman rumah anda adakah pohon dan bunga yang tumbuh disitu ataukah gurun sahara telah “berpindah” ke halaman rumah anda, coba anda lihat adakah pemakaian listrik yang berlebihan di rumah anda, coba lihat kendaraan (mobil, motor) anda apakah knalpot kendaraan anda itu memiliki asap yang BETIS (Beda-beda Tipis) dengan kebakaran hutan. Ha, di situlah “hal praktis” yang harus anda lakukan. Saya rasa saya tak perlu membahas secara teknis kan?. Tapi ada satu saran bagus dari wilmana, kurangilah jumlah butir nasi yang tersisa di piring anda setiap anda makan.

Untuk menutup tulisan ini, saya meminta pada anda untuk menutup mata dan membayangkan seandainya saya adalah seorang presenter, kemudian anda adalah peserta kuis. Saya akan bertanya begini pada anda….” Apakah anda ingin berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dunia ini? Pada hitungan ke-tiga…Save The World…Deaall or no Dealll?”

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    HHMmmmmm…..mau komentar apa yaaaa????? Nah, ini saja: Indonesia dipimpin oleh orang-orang yg tidak becus menata lingkungan hidup. Semprul ha ha ha ha (Fikruoel)

  2. Anonim mengatakan:

    Kan dah dibilang Indonesia adalah INDONESIAL….pemerintah yang payah…

  3. Anonim mengatakan:

    Artikel yg bagus tapi solusinya yg terlalu mengandalkan individu akan gagal

  4. Anonim mengatakan:

    Dengan laju kerusakan hutan mencapai 2.5 juta ha/tahun masih adakah yg diharapkan dari pemerintah indonesia? Makanya saya mendukung gagasan bahwa kita mulai memperbaiki melalui kesadaran individu

  5. Anonim mengatakan:

    Isu begini adalah isu internasional. Apakah adil dibebankan kepada individu-individu? Atau kita memerlukan gerakan moral seluruh human race. Apa pendapat anda? (mikerk)

  6. Anonim mengatakan:

    terlepas dari isyu individu atau system yang harus didahulukan, saya berpikir gini : siapa yang akan menggerakkan suatu system?? jelas individuk kan, oleh karena itu, kita individu harus sadar dulu, baru kemudian system ini diperbaiki. coba lihat tulisan saya tentang sekumpulan lidi yang lebih kuat jika dibanding 1 atau 2 batang lidi. oleh karena itu, saya lebih menekankan pada individu dahulu kemudian baru kemudian system. jelas, individu disini tidak hanya kesadaran tapi moralitas serta cara pandang manusia juga harus disebut. karena kesalahan kita yang terjadi sampai saat ini adalah kita mengaggap kita ini big boss dan alam hanya merupakan alat (norman)

  7. Anonim mengatakan:

    Deal or no deal? ah nggak ah. Nasib lingkungan kok kayak maen gambling ginian…bertindaklah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s