Amerika, Apa Hebatnya Sih???

Posted: Juli 13, 2008 in Artikel

Sahabat blogger terkasih,

Sejak posting terakhirnya tentang evolusi menuai badai terjangan, sahabat kita tercinta, yaitu NK tiba-tiba “mogok” nulis kecuali mmberi komentar. Saya diam-diam saja sambil berharap suatu saat NK “sadar” dan membat artikel baru. Sembari itu saya berharap NK juga bisa menulis artikel yang teduh-teduh saja supaya bisa memperbaiki imej. Eh, doa saya yang pertama terkabul dan NK posting kembali. Tetapi…he he he…doa kedua tidak terkabul karena ternyata materi postingnya tetapi merah menyala membara panas cabe marah angin ribut topan blau (lebih hebat dari red hot chilly pepers) ….wuuuiiizzzzzzhhhh…..ha ha ha. Ternyata untuk urusan yang satu ini si NK tidak mau “bertobat” hi hi hi hi….

Nah, Mau tau seperti apa “panas”-nya artikel NK?????? Silakan dirasakan sendiri……niihhhh….(saking panasnya, judul posting inipun tidak berani saya mengubahnya…..hhhmmmm…..)

Sahabat blogger,

Cukup lama saya tidak ‘hadir’ sebagai penulis disini, walau selalu ‘menemani’ sahabat lewat komentar ‘ala kadar’ yang kadang membuat hati ‘panas.’ Pesan orang bijak, “hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin.” Syukur-syukur masih ada kepala, hi hi.

Laporan Koran Tempo baru-baru ini, dari 24,500,000 situs yang dimiliki oleh penduduk Indonesia, lebih 1,000,000 adalah situs panas. Sedang detik.com per 31 Maret 2008, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia sebagai negara yang pengguna Internetnya paling banyak mengetikkan kata ‘panas’ (baca: ‘sex’) di search engine, setelah Vietnam dan India. Untuk pencarian kata ‘kamasutra,’ Indonesia juga menempati urutan kedua setelah Lithuania. Luar biasa, India, negara asal Kamasutra, justru kalah. Jadi kami memang suka yang panas, mulai dari makanan panas, debat panas sampai situs panas. Untuk itu, silahkan menikmati ‘hidangan panas’ berikut.

Beberapa waktu lalu disini @bm katakan tentang perjumpaan saya dengan budaya barat yang intensif. Saya memang berjumpa dengan budaya barat sejak tamat dari SMANSA Kupang, belasan tahun yang lalu hingga sekarang. Hal ini membuat tabiat, pikiran serta tutur kata saya ‘terkontaminasi’ oleh budaya dimana saya tinggal. Ayah saya sangat beradat/berbudaya. Tapi saya tidak menganut paham ‘relatifisme adat/budaya.’ Buat saya, didunia ini ada budaya menang/unggul dan ada budaya kalah. Akibatnya, ayah sering menghardik saya saat kami berdiskusi tentang adat dan budaya karena stigma negatif –saya orang barat– yang dia beri. Anyway, waktu perjumpaan saya dengan budaya barat yang panjang, hampir 3 tahun lamanya saya ada di land of the free & home of the brave! Tagal ini, @wilmana, mirip ayahanda, memberi cap ‘busuk’ kepada saya. Right or wrong nk’s USA! Saya menolak keras karena tidak ingin menjadi mirip @anak NKRI, Right or wrong Indonesia! he he… Tentu saja Amerika banyak ‘dosa’nya tapi mengukur moralitas Amerika eeeiitttt… baca saja dahulu cerita saya tentang Amerika!

Amerika adalah satu-satunya negara paling dicintai tetapi juga paling dibenci. Oh tidak, saya disini tidak ingin memberi alasan mengapa ia dibenci. Biarlah itu menjadi ‘bagian’ para ‘pendengki’ Amerika. Saya hanya ingin katakan mengapa ia sangat dicintai oleh jutaan, puluhan, bahkan ratusan juta penduduk planet bumi ini. Ditengah kecaman bertubi-tubi terhadap Amerika, satu hal tidak dapat dipungkiri: Imigran dari seluruh penjuru benua, setiap tahunnya, ‘membanjiri’ Amerika walau harus ‘tercabut’ dari ‘akarnya’ menuju ‘dunia baru.’ Mengapa?

Belum lama ini, kami sekeluarga harus kembali ke Kupang untuk sebuah urusan keluarga yang teramat penting. Disana, anak saya, laki-laki berusia 9 tahun, bermain dengan sepupunya. Walau terbata-bata, dia terpaksa harus berbahasa Indonesia. Seorang sepupunya bertanya, ‘Aweee… lu ni su umur 9 taon ma ko balom bisa omong Indonesia. Lu sakola dimana? Lu pung guru sonde ajar bahasa Indonesia ko?’ Dengan kalem anak saya menjawab, ‘Aku tidak bisa bahasa Indonesia karena aku orang Amerika.’ Dengan muka heran, sepupunya membalas, ‘ma ko lu muka ke cina sonde ke bule!’ ka ka ka ki ki ki…

Walau hanya 3 tahun di Amerika, mengapa anak saya itu ingin dikenal sebagai orang amerika ketimbang Australia? Atau negara asalnya, Indonesia? Kalau kami tanya mengapa, jawabnya selalu ‘Because you could be anything in America. It’s the American Dream dad!” Walau masih kecil, anak saya dengan mudah dapat memahaminya.

Selama kami di Amerika, ada banyak cerita yang membuat saya terkagum-kagum. Sebut saja beberapa. Hanya di Amerika, Pierre Morad Omidyar, keturunan Iran, lahir di Paris, migrasi ke Amerika saat berumur 6 tahun, mendirikan situs jual-beli raksasa e-bay.com. Hanya di Amerika, Arnold Schwarzenegger, keturunan Austria, migrasi ke Amerika saat berumur 21 tahun, menjadi aktor laga Hollywood terkenal, pebisnis, dan Gubernur negara bagian California. Hanya di Amerika, Dinesh D’souza, warga negara India mendapat pekerjaan di Gedung Putih. Hanya di Amerika, Bobby Jindal, keturuan India, menjadi Gubernur negara bagian Louisiana, termuda dalam sejarah Amerika, 35 tahun. Ia pun didamba-dambakan oleh kaum konservatif menjadi presiden Amerika dimasa depan. The list could go on and on. Hanya di Amerika, baik warga negara maupun pendatang, diberi kebebasan meraih cita-cita.

Bicara tentang kebebasan, tidak berlebihan untuk kita katakan kalau kebebasan (“freedom“) is uniquely American. Tengoklah sejarah! 233 tahun yang lalu, ujaran kata Patrick Henry “Give me Liberty, or give me Death!” menjadi yell…yell… (teriakan) tentara revolusi Amerika melawan penindasan Inggris. Kebebasan yang sejatinya adalah anugerah Sang Khalik –plintiran filsuf liberal Jean-Paul Sartre adalah “Manusia Dikutuk Untuk Bebas”– diperjuangkan oleh rakyat Amerika pada gilirannya menjadi ‘model’ bagi pejuang kebebasan melawan penindasan di muka bumi ini, tak terkecuali Indonesia dengan yell…yell… “Merdeka atoe Mati!” Tidak hanya itu, kebebasan yang diraih tidak untuk dirinya sendiri. 2 kali Amerika memberi kebebasan kepada Eropa (WWI and WWII). Jepang menjadi negara maju setelah ‘dibebaskan’ Amerika. 12 juta warga Iraq berpesta demokrasi seturut hati nurani setelah Sadam Hussein disingkirkan. Begitu juga dengan rakyat Afganishtan. Bebas dari ‘penjara’ Taliban. Cukup? Belum. Disini, iya diblog ini, @bm, saya dan anda sekalian ‘bebas’ karena media kebebasan yang disediakan orang Amerika.

Sudah saatnya Indonesia terinspirasi dengan ‘American Dream’ dan menciptakan ‘Indonesian Dream.’ Bisa? Tentu! Bagaimana cara? Mulailah dengan bertingkah-laku dan bertutur kata layaknya orang-orang bebas. Bebas apa? Bebas beropini. Bebas protes. Bebas beragama/tidak beragama. Bebas nyoblos. Bebas golput. Bebas berdiri tegap tanpa harus munduk-munduk terhadap si bosz. Bebas dari budaya ‘menjilat’ demi pangkat. Bebas dari KKN. Bebas joget ‘ngebor.’ Bebas berbikini ria di pantai, di ajang Miss Universe. Bebas menjadi diri sendiri. Bebas-sebebasnya tanpa menyakiti orang lain atau anarkis. Mungkin anda katakan, ‘Ini kegilaan!’ Tidak juga. Kebaikan sejati hanya tumbuh ketika manusia menjalankan pilihan bebasnya. Kebaikan yang terpaksa bukan kebaikan namanya. Ia hanya ‘melahirkan’ kemunafikan yang menjadi ciri khas kita.

Sebelum saya pamit, sedikit saja tentang para pendengki Amerika. Persoalannya adalah mereka -meminjam istilah @wilmana- gemar menilai moralitas memakai standar ‘kerajaan surga.’ Saya kira kalau standar ini yang dipakai, maka jelas tidak ada satupun dibawah kolong langit ini yang sempurna. Tapi cobalah mengkritik Amerika memakai standar, silahkan pilih: Cina, Rusia, Iran, Arab Saudi, Taliban, Osama bin Laden atau Indonesia! Kalau salah satu standar ini dipakai, maka America is still the world’s best hope. Setuju???

Musim dingin musim panas. Posting panas pasang kipas. Kalau hati jadi panas, silahkan jadi ganas!

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Penulis artikel ini keblinger

  2. Anonim mengatakan:

    Wah pedagang buah merek amerika

  3. Anonim mengatakan:

    tukang perang apa hebatnya?

  4. Anonim mengatakan:

    Hebatnya Amrik? ya bikin film bangsanya Rambo padahal setengah modar di Afghanistan dan Irak

  5. luiggimikerk mengatakan:

    Thanx atas komentar-komentar di sini

  6. Anonim mengatakan:

    Bush is the boss of kingdom of Dracula

  7. Anonim mengatakan:

    bener itu!

  8. Anonim mengatakan:

    apa isi artikel ini memang benar! Jangan malu meniru yang baik!

  9. Anonim mengatakan:

    hidup harus bebas namun tidak merugikan orang lain!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s