CARPE DIEM. lHo, tadi disuruh don’t cRy for tHem. Sekarang, orang nggak nangis kok disuruh Diem.

Posted: Juli 8, 2008 in Renungan
Tag:

Burung elang burung merpati

Terbang ke hutan mencari makan

Bukan kepalang senangnya hati

Berjumpa anda, sahabat dan rekan

Sahabat blogger terkasih,

Seiring dengan terlantunya pantun perjumpaan di atas maka saya sudah hadir di hadapan sahabat sekalian untuk menyambung posting saya sebelumnya yang bertajuk ”don’t cry for them”. Anda masih ingat apa kata penutup pada posting saya sebelumnya itu? Ya, anda benar dan itu adalah ini: Ikan teri Ikan Kembung. Lain kali saya sambung.

Ah, saya memang sedang gembira untuk berpantun ria. Apa ada penjelasan? Tidak ada. Lalu? Ya tidak perlu lalu-laluan. Pokoknya saya sedang senang berpantun ria. Tidak ada penjelasan apapun yang memadai untuk menggambarkan alasan mengapa saya demikian karean sesungguhnya saya tidak memiliki alasan yang kuat untu itu. Saya berpantun semata-mata karena saya suka. Titik. Kalau begitu apakah kita boleh melakukan segala suatu sekehendak hati? Saya diberi julukan oleh sebagaian sahabat blogger sebagai ”pendekar mabuk” yang kurang lebih artinya adalah: suka membuat langkah-langkah yang membingungkan. Suka pada cara pengambilan keputusan yang bersifat suka-suka sendiri. Suka sesuka-suka. Sesuka suka-suka. Nah lu….hi hi hi…. Benarkah demikian? Harusnya tidak tetapi faktanya ia. Apakah sikap manasuka siaran niaga seperti ini tidak menimbulkan kerugian? Ya, dalam banyak hal. Apakah saya terbiasa merugikan banyak orang? Seingat saya, TIDAK. Lho. Apa-apaan ini? Bagaimana meletakkan logika dan fakta bahwa di satu pihak saya cenderug bersikap sesuka hati dan di lain pihak saya tidak merugikan banyak orang dengan sikap saya itu? Adakah penjelasannya? Dan ini lebih penting, apa kaitannya dengan kesebelasan Jerman? Baiklah saudaraku sekalian, begini:

Masih ingat dua hal yang saya ajukan untuk kita renungkan bersama pada bagian awal posting saya sebelumnya? Kalau anda lupa maka adalah ini: setiap kita, saya dan anda, adalah pribadi yang Personal. Unik. Khusus. Tidak ada duanya. Each of us is The special one. Akan tetapi bersamaan dengan itu, setiap kita, anda dan juga sudah barang tentu saya, adalah bagian dari kumpulan makhluk-makhluk sejenis dengan kesukaan yang sama. Minat yang sama. Kesenangan yang sama. Kita adalah makhluk umum. We are the generalist. Apa maksudnya ini? Banyak cara untuk mengharmoniskan kedua frasa ini dn saya punya beberapa opsi untuk itu. Akan tetapi dalam konteks kita di sini, kali ini, maka hal inilah yang ingin saya ajukan kepada saudaraku sekalian: di satu pihak setiap kita adalah pribadi bebas dalam menentukan pilihan-pilihan hidup kita akan tetapi hendaklah setiap kita mengingatnya dengan baik-baik satu (1) hal, yaitu janganlah dengan pilihan kita tersebut kita merugikan orang lain. Sekali waktu pilihan kita mungkin akan mengecewakan orang lain tetapi di lain waktu buatlah orang lain gembira tagal pilihan kita. Bagimana kalau hal ini terus-menerus terjadi? Bukankah hal ini dapat menyebabkan kita akan disebut sebagai tidak konsisten? Memang ada resiko untuk itu tetapi saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang mesti kita jawab bersama, adakah manusia yang dapat terus menerus konsisten dalam hidup? Setelah berusaha mencari referensi ke sana-kemari pada tokoh-tokoh kelas wahid dalam sejarah dunia, saya tidak menemukan hal tersebut. Ternyata, saudaraku terkasih, kita adalah makhluk inkonsisten. Jadi, inkonsistensi adalah manusiawi. Inkonsisten adalah cara dalam hidup. C’est le Vie….itulah hidup.

Kalau begitu, haruskah kita menjadi pemuja inkonsistensi? Jangan. Lha, apalagi maunya BungMabuk (BM) kali ini? Ini: keberhasilan dan kegagalan dalam hidup adalah jamak dalam hidup (general) akan tetapi menyikapi kegagalan dan keberhasilan adalah personal (special). Sering terjadi, kemenangan dan keberhasilan menjebak manusia pada euforia tanpa batas dan kita terlena di dalamnya. Terjebak di dalam hedonisme kemangan dan hilang kewaspadaaan kita. Ketika tiba-tiba datang kekalahan, kita tidak siap. Lalu mencari kambing hitam. Lihatlah perilaku kesebelasan Italia jika mereka kalah. Ah, itu ulah wasit. Bola terlalu kencang. Lapangan kurang bagus. Ada pemain lawan yang mencari makan di Italia tetapi tidak tahu berterima kasih karena berani-beraninya membobol gawang Italia (kejadian ketika Italia dikalahkan Korea Selatan waktu PD 2002 tagal gol dari Ahn Jung Hwan yang bermain di klub Italia Perugia). Di lain waktu, kekalahan sering menjebak kita kepada keputusasaan yang luar biasa lalu bersikap skeptis, pesimis dan fatalistik. Celakanya, kekalahan sering dilihat secara sinis dan lalu berkembang menjadi stigma. Kekalahan adalah ”nama tengah” kesebelasan Indonesia (PSSI). Belum tentu begitu, tetapi itulah stigma. Lalu, di sinilah alasan mengapa saya begitu menggandrungi kesebelasan Jerman. Ya, kesebelasan ini sangat mewakili gagasan ideal saya tentang manusia.

Kesebelasan Jerman, tidak selalu indah. Tetapi siapakah yang hidupnya hanya berisi kejadian dan hal-hal yang melulu indah? Ada indahnya. Ada buruknya. Tidak ada orang yang baiiiiiikkkkkkk semuanya. Dan sebaliknya, tidak akan ada orang yang ”isinya” cuma jahaaaaaaaaaaattttt melulu. Tidak ada. Tidak ada itu. Hal lain adalah, kesebelasan Jerman suka sekali bermain dengan gaya mereka sendiri yang kadang tidak cocok dengan kemauan penggemarnya. Lihatlah ketika melawan Turki, mereka sebenarnya bermain amat buruk. Kaki mereka berat dan malas mengejar bola. Tetapi akhirnya mereka menang. Ketika melawan Spanyol, mereka bermain lebih parah lagi. Kaki dan otak mereka seperti tidak terkoordinasi dengan baik. Permainan yang ngawur dan tidak beraturan. Dan oleh karena itu wajar jika mereka akhirnya ”dihukum”oleh Spanyol. Apakah Jerman tidak bisa bermain baik? Tidak juga. Tengoklah cara bermain mereka yang efektif dan brilyan ketika mengalahkan kesebelasan penuh bintang, Portugal. Di masa lalupun kesebelasan Jerman biasa seperti itu. Kesebelasan ini pernah sangat memalukan di Europe 2000 dan 2004. Dari total 6 kali bermain mereka cuma mampu bermain seri 2 kali dan sisanya, kalah. Anda begitu juga kan? Sebentar hidup beraturan tetapi tidak jarang anda memainkan “musik kehidupan” yang melenceng dari “partitur” yang seharusnya. Apa akibatnya? Ya, anda “dihukum”. Nah, lalu ini: pernahkah anda mencatat kesebelasan Jerman mencari-cari alasan ketika kalah? Pernahkah mereka terlarut dalam kemenangan dan mabuk kemenangan? Sepanjang catatan saya, tidak. Mereka rupanya paham bahwa mabuk kemenangan sering manjadikan suatu kesebelasan melempem pada kesempatan berikutnya. Lihatlah Yunani. Lihatlah Denmark. Dan oleh karena itu, awaslah Spanyol. Sekali, juara. Dan sesudah itu, menangis.

Berbeda dari model kesebelasan ”kejutan” yang sering meledak sekali lalu diam tak berbunyi sama sekali, timnas Jerman selain tidak pernah larut dalam kegirangan, juga tidak pernah terperangkap dalam kesedihan. Kemenangan dan juga kekalahan menjadi hal yang biasa-biasa saja. Mereka waspada ketika menang dan mau belajar dan kembali lagi ketika kalah. Inilah penjelasan paling memadai, mengapa kesebelasan yang biasa-biasa ini bisa hadir dan bermakna. Mereka mampu mengatasi diri mereka sendiri dan, selalu hadir. Hadir dan hadir lagi. Mereka tetap ada, dan bermain. Ya, bermain sambil memberikan kesenangan, dan sudah barang tentu kesedihan, bagi jutaan suporternya. Ya, Jerman tidak selalu menarik dan menjadi juara tetapi mereka eksis. Mereka ada. Bukankah ini gambaran kehidupan manusia sehari-hari. Ada hari gembira. Ada hari yang menyedihkan. Akan tetapi keriangan dan kesedihan tidak boleh menghalangi kita untuk terus berbuat sesuatu. Ada satu filsafat yang sangat dekat dengan apa yang saya katakan ini, yaitu Carpe Diem.

Quintus Horatius Flaccus pernah mengatakan begini “Carpe Diem, Quam Minimum Credula postero” yang artinya “Raihlah hari ini, jangan terlalu percaya pada esok.” Sepintas terlihat hedonis. Jangan pikir-pikir besok. Tidak perlu merencanakan apa-apa untuk besok. Sikat saja semua di hari ini. Habiskan semua hari ini. Besok? Sebodo teuing. Benar begitu? Salah. Sepintas terlihat sebagai sikap pesimistis. Ah, besok sudah tida ada apa-apa lagi dan oleh karena itu, nikmati semuanya hari ini. Pesimiskah tentang hari esok? Tidak. Filosofi carpe diem mengajarkan tentang hidup yang harus berjalan hari lepas hari. John Rambo, tokoh rekaan Silvester Stalone mengatakan bahwa live day by day (Rambo II). Hidup demikian adalah hidup yang optimis. Hidup model begini sangat percaya bahwa apapun tantangannya, kehidupan harus dan akan terus berjalan. Kagak ade matinye, kate anak Jakarte. Hidup model begini adalah hidup yang dimaksudkan oleh ujar-ujaran yang ada di dalam sebuah Kitab Tua “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”. Hedonis? Pesimis? TIDAK. Optimis? So pasti Bung en Sus, So Pasti.

Tabe Tuan. Tabe Puan

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Carpe diem. Hidup biasa-biasa saja tetapi dengan cara itu hidup menjadi luar biasa. Mantap

  2. Anonim mengatakan:

    Sudahlah, hidup memang harus dilakoni apapun kondisinya. Yang enggak mau hidup hanyalah kaum pecundang

  3. Anonim mengatakan:

    Wah, tulisan yg menghanyutkan. G jadi pendukung Jerman Ajahhh…

  4. JiMi mengatakan:

    Haiyaaaa……….. nie menggelikan! Lagi rada2 bengong kok bisa2nya sy nemuin blog ini😕
    Udah lama di WP Bung? Aku di kantor ndak boleh baca blogspot nie😦
    Begitu juga kl pas lagi mobile pake Telkomsel. Kalo WP so far so ok lah, cuman ndak bisa login aja kalo pas di kantor. Ya maklumlah, masih gajian seeech…..

  5. luiggimikerk mengatakan:

    Sahabat-sahabat, terima kasih atas komentarnya. Hidup CARPE DIEM

  6. Anonim mengatakan:

    Bbetooollll. Hidup jgn terlalu dibikin susah karena nanti juga akan baik dengan sendirinya. Carpe Diem bossss (Fjrl)

  7. Anonim mengatakan:

    Halo, luiggimkerk. Saya ijin copy artikel ini ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s