Negara yang GAGAL adalah negara yang hanya bISa MeLONgO ketika KEriNG

Posted: Juni 30, 2008 in Artikel
Tag:

Sahabat blogger yang terkasih,

Sebelum saya membuat catatan apa-apa, saya mohon kesediaan para pembaca memandang baik-baik…..tajam-tajam….cermat-cermat…..kedua gambar di atas ini. Ya, saya mohon anda menatap baik-baik gambar-gambar itu. Lalu, katakanlah pada saya…..di manakah kira-kira negeri tempat pemandangan yang hijau royo-royo itu berada. Silakan menebak (barulah pada akhir artikel akan saya kasi tau ke pada sahabat sekalian tempat yang dimaksud).
Baiklah, inilah pengantar saya kedalam artikel baru ini. Beberapa hari lalu, si Norman datang kepada saya menyerahkan naskah posting baru. Setelah melihat sejenak, saya tertawa. Mengapa demikian? Karena cara-cara penulisannya yang masih sangat hijau. Sangat polos. Sangat lugu. Bahkan cenderung naif. Tapi saya tidak sampai hati untuk menolaknya seketika karena di mata Norman saya menangkap adanya antusiasme yang luar biasa. Bergolak dan bergejolak. Maklum anak muda. Muda? Ya, karena saya pernah seusia dengan dia. Dan ini istimewanya: seusia dia saya sudah memiliki dia. Anda bingung? Jangan. Si Norman adalah “penerus DNA” saya. Sulung dari anak-anak saya.

Tapi lalu, kalau saya meneruskan juga memposting artikel sumbangannya, hal itu bukan terutama karena Norman adalah anak saya. Bukan. tetapi saya menangkap “kegundahan” di hatinya. Setiap hari dia membaca blog ini dan yang ditemukan selalu pembicaraan yang amat tinggi. Ada di awang-awang. Terlalu ideal. Ya, kebanyakan perbincangan di dalam blog ini ada pada tataran idea. Hal ini, menurut Norman, perlu dikurangi. “Sekarang kita perlu berbicara sesuatu yang agak realistik. Sesuatu yang menginjak bumi” katanya sengit diiringi dengan pancaran mata yang berkilat-kilat. Whhuuuiiihhhh……waaaaaahhhhhh…….semangatnya mengingatkan gaya saya dahulu kala. masih menurut dia: “bumi kita sekarang, sedang dilanda kekeringan. Cilakanya, ketika kekeringan itu terjadi, nyata di depan mata, negara seolah-olah diam“. Anda menangkap maksud saya dengan mengungkapkan episode obrolan kami itu? Ya, anda betul. Negara sebaiknya jangan hanya “berwacana” tetapi bertindaklah. Dalam hal apa? Ada banyak hal tetapi Si Norman meminta perhatian negara, dan kita semua, untuk satu hal yang berkaitan dengan cara-cara kita untuk mendapatkan makanan: Pertanian. Ah, saya sudah kepanjangan. Maka, inilah Si Norman dan kegundahannya.

KEKERINGAN MELANDA INDONESIA. aH, bASsIIiiii.
Ada Berita yang Laen Nggak?????

Pasti anda sedikit bingung (atau bingung sama sekali) begitu membaca judul ini. Tapi saya bisa pastikan bagi yang sering membaca atau sekedar membuka Koran pasti sering melihat berita mengenai kekeringan. Mulai dari yang terpampang di Headline sampai yang di bagian-bagian lain dari Koran yang sedang anda baca su pasti ada saaaaaa berita “kekeringan melanda daerah bla bla atau gagal panen melanda daerah bla bla seluas bla bla”. Betul ko sonde??? Padahal kita tahu pertanian itu salah satu sektor yang penting bagi suatu Negara. Bagi saya ini jadi berita basi karena selalu dan selalu hadir menghiasi Koran tapi anehnya ada hal yang menarik dalam berita-berita seperti ini bagi saya. Bingung??? Mari kita lanjut saja tapi sebelum saya membahas lebih jauh, ijinkan saya yang tergolong penulis “bau kencur” dan “bau-bau” yang lainnya akan sering-sering bertanya pada pembaca sekalian selain karena saya tidak banyak tahu tapi juga, saya ingin membangun ketertarikan anda pada hal yang ingin saya sampaikan. Jadi prepare your self… Trik nafas.. hembuskan.. kosongkan sejenak pikiran anda dari Indonesial, negara kalah, “dedi dores’, dll dan…….

Mari kita mulai……………………

Pertanyaan pertama, apa yang menarik dari berita yang saya katakan basi ini??? Sudah saya katakan sebelumnya dari berita yang “basi” ini saya menangkap dua hal yang saya anggap menarik. Hal pertama yaitu apa sikap anda begitu membaca, melihat dan mendengar berita ini??? Entahlah apa sikap anda tapi saya begitu membaca berita-berita ini selalu bilang dalam hati “Kasian e…” tapi seterusnya apa yang terjadi?? Saya dengan cepat melupakan berita ini dan saya lebih tertarik membaca berita tentang perkembangan Euro 2008 atau malah berita tentang putus-sambungnya atau kawin-cerainya artis Indonesia, atau berita “politik” bagaimana seorang Saiful Jamil, mantan (atau masihkah??) penyanyi dangdut yang ingin terjun di dunia politik. He..he. Parah…Yang menjadi benang merah atau inti dari point yang ingin saya katakan adalah SAYA BERSIKAP APATIS (atau masa bodoh atau juga “bahasa inggrisnya” time/period stupid. He..he). Selalu begitu dan begitu saja. Entahlah apakah sikap apatis saya mengenai berita kekeringan ini “menular” pada pemerintah Indonesia (untuk menghormati kawan –Anak NKRI- saya mencoba sekuat-kuat tenaga untuk tidak mengucapkan Indonesial. He..He). lagi-lagi saya bisa meramalkan beberapa dari anda (apalagi anak NKRI) akan menanyakan kenapa saya berkata seperti itu. Saya memberikan ilustrasi saja. Pernahkah anda mengenal tanaman Cendana (Santalum album L.)? tanaman ini mempunyai aroma yang harum sehingga dapat dijadikan mulai dari perhiasan sampai perabot rumah tangga. Tentu saja dengan potensi yang ada Seharusnya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber devisa negara atau minimal daerah penghasil cendana ini. Tapi apakah yang terjadi??? maafkan saya kalau dengan pernyataan saya berikut anda akan bilang saya Terrrlaluuu tapi saya mau bilang tanaman cendana (di pulau Timor dikenal dengan Hau Meni) ini masih hidup dan “ada” sampai saat ini hanya karena “kemurahan Tuhan” saja, bukan karena campur tangan pemerintah. Tidak perlu lagi saya mengatakan alasannya kenapa.

Waduh, para pembaca maafkan saya jadi sedikit ngelantur membicarakan tanaman yang “tidak kita makan” jadi nanti saya bisa saja dibilang sebagai orang yang tidak focus terhadap topic pembicaraan yaitu kekeringan. Tapi saya ingin memberi gambaran pemerintah yang “apatis”. Mari kita lanjutkan lagi, mengapa saya mengatakan Indonesia menjadi “apatis” terhadap kekeringan salah satunya adalah : komoditi pertanian apa yang sekarang tidak harus diimpor dari luar negeri?? Semua sekarang harus diimpor, mulai dari beras, gandum, kedelai, dll. Padahal seingat saya sampai pada tahun 1980-an, Indonesia masih dikenal sebagai salah satu negara eksportir beras dan komoditi pertanian yang cukup diperhitungkan di dunia. sekarang yang tersisa paling-paling Indonesia cuma bisa “mengekspor” TKI (illegal) dan asap akibat pembakaran hutan saja. Apakah Indonesia tidak peduli (atau apatis) pada bidang pertanian sehingga bidang ini seakan menjadi anak tiri (padahal sangat penting karena menyangkut “urusan perut”) sehingga apabila dulunya sektor ini menjadi primadona atau No. 1 sekarang tetap jadi No. 1 (tapi dari urutan belakang)???. Pertanyaan menggelitik saya, Ini sebenarnya Apatis atau tidak becus mengurus pertanian yah??? Jujur saja, saya termasuk yang tidak senang dengan pemerintahan era almarhum Soeharto, tapi maaf-maaf saja justru pada era tersebut pertanian Indonesia ”tidak separah” sekarang. Jadi, walaupun di antara ”beribu-ribu” kekurangan beliau, tapi kita perlu angkat topi untuk ”1 keberhasilan” almarhum.

Point kedua, hal yang menarik dari berita kekeringan menjadi berita basi ini adalah bidang pertanian menjadi bidang nomor ke sekian yang menjadi fokus negara tersia…… Ups tercinta ini. Begini saja, sekarang apa yang lebih menarik bagi anda begitu membaca (atau sekedar membuka) Koran? berita minyak dunia yang semakin naik sehingga BBM turut naikkah? berita demo yang berujung kerusuhan yang semakin sering terjadi kah? Berita FPI yang seakan-akan “tidak tersentuh” hukum padahal telah jelas-jelas melakukan tindakan kekerasan kah? Hmmmm… seandainya saja ada poling mengenai berita di koran apa yang menarik, saya yakin berita mengenai kekeringan sudah tidak menjadi hal yang menarik lagi. Waduh, saya kok lagi-lagi jadi ngelantur begini yah. Tapi yang ingin saya sampaikan dari “melantur” saya ini adalah pertanian telah menjadi bukan hal utama karena bagi pemerintah banyak hal yang “lebih penting” untuk dipikirkan daripada “sekedar” bidang pertanian ini. Saya membayangkan diri saya sebagai bapak Presiden SBY yang tiap bangun pagi yang ada dipikirannya masalah…masalah…masalah yang di urutan terakhir barulah bidang pertanian ini dipikirkan (malah yang lebih parah jika pak Presiden ini lebih memikirkan “perseteruan” dirinya dengan Wapres mendekati saat Pemilu 2009 nanti. Walah..walah). Sekarang terkesan saya seakan-akan menyalahkan pemerintah dalam hal ini. Apakah kondisi alam dan yang lainnya pun tidak ikut berpengaruh?? Yah, memang kondisi alam pun turut berpengaruh seperti saat ini dengan efek el nino dan la nina yang menyebabkan panas serta hujan berkepanjangan, tapi bukankah pemerintah seharusnya (dan memang sudah menjadi tugas mereka) untuk mengantisipasi hal seperti ini??? Bukankah kami memilih anda-anda yang duduk di kursi pemerintahan untuk menangani hal ini juga?? Pertanyaan berikut, Apakah salah apabila pemerintah menempatkan pertanian sebagai nomer sekian dalam membangun bangsa??? Saya meminjam ungkapan teman ayah saya yang selalu bilang ”gawat…gawat”. memang sudah gawat betul Indonesia ini. Maaf jika tetap seperti ini maka apa yang dikatakan BM, Indonesia sebagai Indonesial adalah benar adanya. Saya juga yakin dan pasti bahwa anak NKRI dan “antek-anteknya” akan berkata “Oh itu bisa-bisanya nrk saja, sebenarnya Indonesia memikirkan kok bidang pertanian”. Maaf-maaf saja sebab saya “agak sedikit” mengerti tentang pertanian jadi saya tahu bahwa di daerah-daerah entah di daratan jawa, daratan timor-NTT sama saja keluhan para pertani. Mulai dari pupuk yang makin mahal dan langka, sarana-sarana pendukung (alat-alat, bendungan, waduk, dll) pertanian yang masih belum memadai, dan sebagai sebagai sebagai serta sebagainya (karena banyak sekali keluhan).. kalau sudah begini, siapa yang mau jadi petani?? Su susah malah semakin melarat saja karena kekurangan perhatian. Jadi sebenarnya bukan hanya kekeringan dalam artian secara fisik yang melanda Indonesia tapi Indonesia pun turut mengalami KEKERINGAN MENTAL. Agak menjadi membingungkan karena dalam setiap kampanye mulai dari kampanye Presiden, Gubernur, Bupati sampai Walikota selalu disinggung salah satu “janji” apabila terpilih nanti adalah membangun sektor pertanian. TAPIIIIIIIII, seperti syair lagu Mariam Belina “Tapi Janji Tinggalah janji……….” Ah sudahlah mending kita “Ðedi Dores” saja pemerintah Indonesia saat ini. Begini saja deh, supaya saya sedikit kelihatan obyektif maka saya menyingkirkan nama pemerintah dalam ”daftar kesalahan”, lalu saya ingin menanyakan pada anda-anda sekalian. Saat ini (secara jujur) pernahkah terlintas dalam pikiran anda tentang arti pentingnya sektor pertanian?? Ingat yang jujur karena jika anda tidak menjawab jujur maka ”daftar kesalahan” anda akan bertambah satu saat nanti di akherat. He..he

Pertanyaan terakhir (saya benar-benar berjanji ini menjadi pertanyaan terakhir), apa solusinya kalau begitu??? Hal yang teknis mungkin terlalu banyak sehingga tak akan muat jika ditulis satu-persatu tapi secara garis besar saya ingin bilang “Kembalikan perhatian ke sektor pertanian karena sektor ini sangat penting”. Bukan berarti saya menganggap sektor lain seperti politik, keamanan,dll tidaklah penting karena masing-masing saling berkaitan satu dengan yang lain. Tapi logika sederhananya anda tidak akan bisa melanjutkan mengurus kerjaan kuliah, mengurus pekerjaan kantor, mengurus pekerjaan sebagai dosen, aparat desa, aparat pemerintah, kerjaan sebagai manajer, dan segala pekerjaan anda di berbagai bidang kalau anda tidak makan. Coba renungkan…. Tapi jangan salah sangka, kita makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Oleh karena itu, dengan meminjam jargon kampanye Gubernur dan Wagub NTT yang baru terpilih saya ingin bilang “Mari Kita Sehati Sesuara Membangun Sektor Pertanian (dan sektor-sektor yang lainnya)”. Ingat Fren janji pas kampanye jangan ko cuma jadi wacana sa

Salam damai,

Kupang, 26 Juni 2008
Pukul 05.00 Wita
(ditulis sambil begadang sampai pagi) He..He

(Bigmike: nah saya penuhi janji saya: 2 buah gambar di atas adalah di Gurun Negev, Israel. Betul, anda tidak salah baca. Gambar vegetasi cantik itu diambil di atas gurun Negev. Apa motivasi saya menampilkan gambar-gambar itu? Ah, jangalah anda bersikap: kura-kura di dalam perahu. Pura-pura makan tahu ……….hi hi hi)

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Malez ngomongin negara mlongo. Ancooorrrrr…

  2. Anonim mengatakan:

    bagaimana kalau air laut dinetralisir menjadi air tawar. Kita bikin NTT tidak lagi kering

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s