Diposting Tanpa Nama (DTN) tapi langsung bilang : INDONESIAL-an (kok brani-braninya)

Posted: Juni 25, 2008 in Artikel
Sahabat blogger yang saya hormati,

Berikut ini adalah seseorang yang tidak mau disebutkan namanya secara jelas, tetapi meminta agar fotonya dimasukkan secara jelas. Oleh karena itu, untuk memudahkan kita, maka saya sebutkan saja namanya sebagai DTN. Silakan anda membuat kepanjangannya tetapi saya memilih yang satu ini: Diposting Tanpa Nama. Ada yang mencoba memanjangkannya menjadi : Datang Tanpa di miNta pulang tak di antar? he he he he…..

Apapun, kedatangan DTN dengan draft artikelnya, lagi-lagi telah menolong saya karena rasa-rasanya sampai akhir minggu nanti saya masih harus sangat sibuk “mencari makan”. Kesibukan yang membuat saya agak susah membuat suau artikel lengkap. Mohon dimaafkan atas kesibukan saya tetapi jangan kuatir, setiap tulisan yang saya posting adalah tulisan yang sudah saya sesuaikan dengan “standard mutu” yang saya tetapkan. Apa itu? Ah, yang ini saya rahasiakan saja karena memang agak subyektif.

Tetapi siapakah yang tidak subyektif sekarang ini, di jaman ini? Subyektifitas yang saya maksudkan bahkan akan anda liha secara gamblang dalam posting kali ini. Ada banyak terminologi yang khas milik DTN dan rasanya menarik untuk kita diskusikan bersama. Akhrinya, setelah melewati proses editing seperlunya tanpa mengusik substansi tulisan, saya memposting juga artikel saudara DTN . Selamat membaca dan berdiskusi.

INDONESIALan DEDI DORES

Semenjak Indonesia merdeka dengan impian mewujudkan INDONESIA jaya yang sejahtera adil dan makmur menjadi impian yang luhur dan mulia. Pada awal kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah Negeri yang masih miskin (materi), rendah pendidikan, dan tradisi otoriter namun tidak miskin kepribadian dan akhlak moral yang masih baik. Semua ini banyak bergantung kepada sosok kepemimpinan Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa kelompok-kelompok pemimpin berturut-turut gagal dalam memenuhi harapan-harapan masyarakat Indonesia. Semenjak tahun 1950 hingga hari ini upaya menciptakan pendemokrasian, keadilan dan kesejahteraan rakyat banyak sekali menemui hambatan yang berujung pada kegagalan oleh karena hal-hal seperti korupsi tersebar luas, primordialisme suku, agama dan etnik sebagai wujud penegasan diri, masalah ekonomi social budaya dan hukum yang rapuh dan lemah yang berujung pada longgarnya kesatuan Negara ini. Hal ini sejalan dengan faktor manusia Indonesia sendiri dengan masalah degradasi mental dan moral anak bangsa yahh kalo menurut istilah BIGMIKE mungkin bisa menjadi ANAK BANGSAT he he he he

Soekarno selama 20 tahun berupaya untuk menanamkan National Building yang memang diakui cukup berhasil namun apakah proses pembentukan Indonesia dapat dikatakn selesai? Ternyata belum, Soekarno sebagai The Nation Builder belum berhasil menjadikan Indonesia, dimana pada ujung pemerintahannya ia dikelilingi oleh orang-orang culas (istilah sodara wilmana) yang akhirnya membuat bangsa ini bergolak dan lengserlah beliau. Selama 32 tahun berikutnya adalah masa stabilitas oleh Soeharto dengan upaya mendahulukan stabilitas POLEKSOSBUDKAM-nya. Segala bentuk perbedaan diredam dengan kekuatan militer dan pemaksaan. Pertanyaannya, Jadikah Indonesia? Ternyata jawabannya juga masih sama yaitu belum berhasil. Kondisi stabil yang nampak itu ternyata semu bahkan telah membentuk, menumbuhkan dan membangkitkan benih-benih dendam, diskriminasi, ketidakadilan, kecurigaan, kesewenangan, KKN semakin merajalela, hutang pemerintah dan swasta yang tak terhitung, ketidakpercaayaan serta ketidakkesepahaman yang berujung pada rapuhnya Nasionalisme, hilangnya kepercayaan kepada pemerintahan dan penegakkan hukum dan perpecahan/disintegrasi bangsa. Kondisi ini sudah seperti bisul yang membengkak dan siap pecah!!!! Pecahnya bisul itu menandai Indonesia masuk kedalam era reformasi. Era reformasi ini bertujuan mereformasi apa yang gagal dilakukan oleh era ORLA dan ORBA untuk kembali kepada impian semula dengan tekad menjadikan Indonesia baru. Bisul yang pecah ini memunculkan efek yang luar biasa hebatnya. Pada masa ini wibawa, integritas dan kepercayaan terhadap Pemerintahan telah hancur, hancurnya nasionalisme dan hancurnya bingkai persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Hal yang paling menyedihkan adalah hancurnya kepribadian dan akhlak anak bangsa ( Kalo sudah hancur ya pasti jadi anak bangsat, ya toh ???).

Hal terakhir tergambar jelas dalam situasi terakhir yang terjadi di Indonesia. Konflik fisik/nonfisik dan kekerasan fisik/non fisik terjadi dimana-mana, yang dimulai dari Rumah tangga hingga para selebriti dan pejabat dan pemimpin bangsa ini. Dari sini dapat kita lihat dan kita mulai melihat tanda-tanda kegagalan dari era reformasi dalam menjadikan Indonesia. Bisa-bisa, pada era inilah Bangsa dan Negara Indonesia berubah nama menjadi Indonesial. Hal ini barangkali bisa terjadi karena jelas tanda-tanda di atas yang tiada kunjung terselesaikan oleh pemimpin bangsa semenjak masa reformasi yang akhirnya memicu terjadi hal yang akan turut membuat kegagalan itu terwujud yaitu ras pesimisme oleh seluruh masyarakat Indonesia. Rasa pesimisme itu terus menghantui di setiap aspek kehidupan masyarakatnya. Kenyataan dari sikap peimisme ini meliputi 2 persoalan besar dibidang Politik, ekonomi dan hukum di negeri ini yang akan memicu kekhawatiran yaitu tentang potensi/akibat konflik dan kekerasan yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Persoalan ini masih belum mampu dijawab oleh bangsa ini. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya yaitu segala persoalan yang timbul dan ditimbulkan dalam penanganan dan penyelesaiannya sangat bergantung dari seorang pemimpin. Tetapi dalam perkembangannya persoalan ini bukan saja bergantung pada pemimpin/pemerintah tetapi juga oleh masyarakat itu sendiri. Kita ingat pepatah tua berpesan demikian, Guru kencing berdiri Murid kencing berlari. Kira-kira sama tuh yang terjadi dengan bangsa ini. Pemerintah dalam hal ini meliputi Eksekutif dan legislative berisikan manusia-manusia bermental payah dan berakhlak buruk alias POEK , Culas, individualisme, ragu-ragu dan he he DOLAH SALEH, licikus munafikus dan akalus bulukus dll ( Sodara WILMANA pasti TAU itu) sehingga jauh dari kesan bersih dan berwibawa. Yang menurut sodara wilmana dikatakan bahwa bangsa ini telah diurus dan dibentuk oleh orang-orang culas dan berburuk prasangka. Nah hal ini juga berimbas dan telah menularkan kepada kehidupan dan perilaku masyarakat Indonesia. Akibatnya bagaimana bangsa ini bisa bangkit dan bangun untuk menjadi bangsa yang Bisa???

Pemerintah juga bak penjual obat kuwat di pinggir jalan yang dengan lantang dan terus meneriakan kehebatan barangnya dengan slogan yang RACOOOON DUNIA. Di sisi lain masyarakat kita berprilaku seperti penonton yang menyaksikan para penjual obat tadi, diam termangu kadang terpukau tetapi setelah seleai menyaksikan tiada yang mampu/berminat untuk membeli dan mencobanya apalagi mengingat apa yang diserukan tadi. Masyarakat akan berlalu dan segera melupakan obralan dan atraksi sipenjual obat tadi. Ketika pulang ke rumah orang akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing, pusing dengan keadan rumah tangganya, ruwet dengan biaya hidup, masalah pendidikan dan pekerjaan dan ahhhh lagi-lagi BBM naik lagi ….. adooohhh jadi lupa sama tukang jual obat. Kondisi ini nyaris sama yang dilantunkan oleh si diva dangdut “ jatuh bangun dan jatuh lagi Indonesiaku “……..

Bagaimana, apa Indonesia bisa, Indonesia bisa Bangkit???

Mudah-mudahan slogan ini mau di lakukan secara sungguh-sungguh, dengan tekad, kerja keras, komitmen, berhati kasih, jujur dan adil oleh Pemerintah dan seluruh masyarakat. Atau sama seperti nasib si penjual obat dan masyarakat penonton tadi yang pada akhirnya sama dengan apa yang diistilahkan oleh seorang bos di Universitas PGRI NTT di Kupang, yaitu ACD alias “Aduh Capek Deh “ dan slogan itu juga harus di DEDI DORES alias “Dengan Diiringi Doa Restu “ agar semuanya bisa terwujud.

Ciao ……

DTN

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Huuueeeeeccckssssss………

  2. Anonim mengatakan:

    Saya sulit mendapatkan benang merah dari awal sampai akhir dalam tulisan ini. Agak membingungkan

  3. Anonim mengatakan:

    Ha ha indonesia mau diperbaiki dengan do restu? nggak mungkin selama kelakuan orang=orangnya ancoorrrrrrr…..

  4. Anonim mengatakan:

    Apakah DTN bisa memperbaiki situasi? Jika tidak maka anda hanaya menambah sensasi belaka

  5. Willy mengatakan:

    DTN ini adalah Ully Yonathan Riwu Kaho, betul ko?

  6. Kalian bangsa Malaysia harus bisa menghormati Indonesia sebagai negara tetangga. Ocehan kalian di internet dapat memicu konflik antar Indonesia dan Malaysia. Sadarlah, jika rakyat Indonesia memang mau “Menghancurkan Malaysia bukanlah hal yang sulit. Berhati2 lah dalam menyampaikan opini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s