WOOOOIIIIIII…….bagi yang mau mbuka’ perusahaan, Bacalah tulisan Wilmana. TOP ABISSSSS….(Lho, si tOp kok udah abis?)

Posted: Juni 18, 2008 in Pengetahuan (sains)
Tag:

Dear sahabat bloggers,

Maafkan saya, karena sejak semalam sampai sore ini, pukul 17.25 WITA, jaringan internet di seluruh Kupang pada off. Sinyalnya menghilang. Sudah saya usahakan mencarinya ke warnet-warnet, ke mall dan minimarket, ke pasar Inpres, ke warung papalele, …bahkan sapai ke rumah tahanan gara di Kupang …wadduuuhhhhhh…….. si sinyal memang menghilang. Akibatnya, ada posting yang seharusnya sudah dipsoting sejak kemarin menjadi tertunda. Untunglah sore ini, si sinyo sinyal mendadak kembali dan….saya kembali menyapa semua sahabat bloggers sambil membawa sebuah posting baru. Posting baru nan bagus ini mencoba menulis pengetahuan tentang VISI dan MISI…meskipun oleh si penulis, versinya dibalik menjadi…MISI dan VISI. Mula-mula bisa dipahami untuk scope kecil, yaitu perusahaan, tetapi dasarnya bisa kita pakai untuk “menerawang” kehidupan itu sendiri.

….Ah, saya sebenarnya agak bingung juga dengan maksud penulis membolak-balik VM menjadi MV, tetapi …..apa boleh buat…….tagal perkara saya harus setia pada adagium para ilmuwan bahwa setiap ilmuwan pada dasarnya harus terus dan teruuuuuuusssss….berjalan …..mencari batas-batas baru…

to searching a new frontier….maka saya postingkan saja apa adanya. Tanpa basa-basi. Selamat saling belajar. Saya? Psssssssttttt…..jangan riiibbbuutttt,,,,,saya mau membujuk si mbah (lihat chatting box) supaya jangan marah-marah….sebab menurut si sinyal, dia terpaksa menghilang sejak semalam karena si mbah marah-besar lantaran INDONESIAL…..hi hi hi hi….
Oh, iya si penulis artikel adalah : WILMANA

MENGAPA PERUSAHAAN GAGAL
(meneketeheeeee….hi hi hi hi……aduH….sorrI mbah)

Sidang Pembaca yang terhormat, sesuai permintaan BigMike, saya kembali sumbangkan satu tulisan lagi. Tulisan ini menyoroti masalah strategic planning dari perspektif korporasi, meski saya yakin Sidang Pembaca tentu dapat menggunakan ini untuk memotret praktek organisasi pada umunya, termasuk gereja BigMike yang namanya GMIT, itu. Mari kita mulai!

“Apakah tujuan perusahaan?”. Apa pentingnya rumusan misi dan visi dalam tata kelola perusahaan? Pada dasarnya saya ingin menyampaikan bahwa tata kelola perusahaan adalah aktifitas organ perseroan dalam menggerakkan semua sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan biasanya dicantumkan dalam Anggaran Dasar. Lalu, untuk maksud operasionalisasi, tujuan dirumuskan dalam bentuk misi dan visi perusahaan. Misi dan visi yang baik, tidak hanya menyiratkan potensi keuntungan bagi Pemilik, tetapi lebih luas dari itu, memberi manfaat bagi para Pemangku Kepentingan (stakeholders) lainnya.

Mungkin tulisan ini bakal berlanjut beberapa seri, tetapi saat ini saya ingin mengajak sidang Pembaca sekalian untuk merenungkan pertanyaan menarik, “lebih dulu mana, visi atau misi?”. Hal ini disebabkan karena di lapangan kita menemukan rumusan tujuan perusahaan dengan pola urutan, “visi” lalu diuraikan menjadi “misi”. Namun, tidak sedikit organisasi yang menerapkan pola yang terbalik. Tentu, kita dapat mengajukan banyak referensi manajemen strategis untuk mengulas, tetapi menurut saya hal itu tidak penting lagi. Mengapa? Karena jika sekedar melakukan studi literature, semua kita juga bisa bahkan telah melakukannya, bukan? Karena itu saya mengajak Sidang Pembaca mengikuti argumentasi saya berikut ini dan jika ada yang tidak setuju, tentu berhak untuk berdiskusi bersama di sini.

Kata “Visi” berasal dari istilah bahasa Latin, ‘visio’ yang di-Inggriskan menjadi, ‘vision’. Noah Webster of American English Dictionary menjelaskan kata ini sebagai berikut: ‘The act of seeing external objects; actual sight’. Searching saya di fasilitas thesaurus MS Word 2007 menemukan padanan kata antara lain: prediction dan eyesight. Karena itu, saya memahami kata ini sebagai gambaran tentang cita-cita yang bersifat predictable, terukur, dan masih dalam batas yang realistis untuk diwujudnyatakan.

Kata ‘misi’ juga berasal dari bahasa latin, ‘missio’, lalu di-Inggris-kan menjadi ‘mission’. Kamus Noah Webster menjelaskannya sebagai berikut: Persons sent; any number of persons appointed by authority to perform any service. Searching di fasilitas thesaurus MS word 2007 menemukan padanan katanya antara lain: assignment, calling, goal, aim, objective. Istilah ini sangat dikenal dalam kekristenan karena sangat terkait dengan tugas panggilan dan pengutusan gereja. Orang islam sering menyebut aktifitas syiar agama Kristen dengan istilah missionaries. Dari sini saya memahami kata ‘misi’ ini sebagai suatu tugas penting bagi individu atau organisasi untuk melakukan sesuatu. Tugas penting ini dipandang sebagai panggilan suci yang menjadi tujuan atau sasaran akhir yang selalu ingin diwujudkan oleh individu atau organisasi tersebut selama masa tugas masih berlangsung.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa “misi” bersifat lebih luas cakupannya dibandingkan ‘visi’. Misi adalah gambaran kualitatif tentang tugas yang diemban yang di dalamnya terkandung tujuan kehadiran seseorang atau organisasi di suatu tempat. Visi adalah gambaran mengenai perkiraan, atau perhitungan, atau prediksi bagaimana suatu tugas dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Misi bersifat cita-cita jangka panjang, bahkan seumur hidup, sementara ‘visi’ lebih bersifat cita-cita jangka pendek dan mengandung sasaran antara (milestone) bagi pencapaian misi sebagai tujuan akhir. Terkait dengan rumusan tujuan perusahaan, ‘misi’ adalah rumusan tentang apa tugas utama yang menggambarkan untuk apa suatu perusahaan harus hadir dan berkarya ditengah-tengah lingkungannya. Sementara ‘visi, adalah rumusan tentang indikator-indikator yang menjadi ukuran keberhasilan dalam pemenuhan ‘misi’. Visi adalah sisi kuantitatif dari ‘misi’. Karena itu, ‘visi’ dapat mengalami penyesuaian sesuai perkembangan sumber daya yang dimiliki perusahaan maupun tuntutan lingkungan eksternal, ‘misi’ lebih bersifat abadi. Penglihatan bisa berubah-ubah tergantung sudut pandang dan daya pandang, tapi tugas pokok atau tujuan akhir akan tetap terus selama hayat dikandung badan.

Wah rasanya cukup dulu yaa… Rasanya sudah cukup untuk dapat dimengerti, kan? He he he…

Bagaimana Menciptakan Jaminan Yang Wajar Bahwa Tujuan Perusahaan Dapat Dicapai?

Sukses merumuskan misi dan visi perusahaan yang baik bukanlah akhir dari tata kelola perusahaan. Misi dan visi yang baik hanyalah the end of the beginning. Karena setelah itu, tantangan berat adalah bagaimana mengejawantahkan Misi dan Visi ke dalam aktifitas operasi usaha sehari-hari.

Tantangan Manajemen Strategis

Manajemen strategis adalah sistem yang digunakan untuk menerjemahkan Visi menjadi strategi perusahaan sesuai fungsi-fungsi organisasional yang ada. Visi diterjemahkan menjadi strategi korporat yang terdiri atas strategi jangka panjang 5 tahunan (Rencana Jangka Panjang) dan strategi jangka panjang dijabarkan menjadi strategi jangka pendek 1 tahunan (Rencana Kerja & Anggaran). Strategi jangka panjang maupun jangka pendek, berisikan strategi setiap fungsi organisasi yang ada seperti strategi pemasaran, strategi operasi, strategi keuangan, strategi SDM, dll. Baik strategi jangka panjang maupun strategi jangka pendek harus mencantumkan sasaran dan target yang terukur (kuantitatif) sebagai indikator keberhasilan. Ukuran-ukuran dalam strategi jangka pendek (1 tahun) haruslah diatur sedemikian rupa agar jika diakumulasikan dapat menjadi ukuran kuantitatif bagi indikator keberhasilan sasaran dan target jangka panjang (5 tahunan).

Ini yang dinamakan keselarasan antara Misi-Visi-Strategi-Program. Tapi inipun masih 40% jaminan kesuksesan terlaksananya Misi perusahaan, karena 60%-nya adalah implementasi alias tindakan nyata sehari-hari di lapangan.

Berdasarkan pengalaman ketika memeriksa sistem manajemen para klien, saya tahu bahwa tantangan terbesar kebanyakan perusahaan adalah keselarasan antara Visi/Misi dan strategi mulai dari strategi jangka panjang hingga jangka pendek. Mulai dari strategi korporat hingga strategi Unit Kerja/Unit Usaha. Bahasa sederhananya, hampir semua klien saya memiliki strategi dan program kerja yang tidak nyambung dengan Misi/Visi-nya. Struktur organisasi yang seharusnya dikembangkan sesuai tuntutan implementasi strategi malah dipraktekkan secara terbalik. Strategi dikuya-kuya agar cocok dengan struktur organisasi yang ada. Semua hal ini membawa kita pada fakta bahwa pada akhirnya, Misi/Visi dirumuskan sekedar untuk gagah-gagahan. Bukan untuk memberi arah bagi penyusunan strategi dan program kerja, karena yang memberi arah strategi akan seperti apa, justru struktur organisasi yang telah dimapankan. Jika dalam struktur ada Divisi Doa, maka strategi disusun agar setiap tahun ada program Doa, padahal main business-nya sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan keagamaan.

Entah perlu waktu berapa lama untuk menyadari bahwa jalannya operasi perusahaan ternyata tidak menuju pada tujuan akhirnya sebagaimana rumusan Misi/Visi. Perusahaan telah berkembang menjadi organisasi yang tidak berjalan pada “rel-nya”, tidak menjalankan “panggilan sucinya”. Rasanya sesuatu memang diperlukan untuk menjamin bahwa tujuan perusahaan dapat dicapai.

Sebelum saya mengakhiri tulisan kali ini, mungkin Sidang Pembaca bertanya-tanya, apa yang menjadi penyebab kekacauan seperti di atas? Jawabannya sederhana saja. Karena perusahaan mengabaikan pentingnya corporate strategic planning. Dalam tugas pemeriksaan (assesment), saya selalu menemukan bahwa perusahaan, dalam menyusun strategi dan program kerja, tidak menerapkan prinsip berimbang antara top-down approach dan bottom-up. Akibatnya, strategi dan program kerja disusun secara terpisah-pisah oleh masing-masing Unit Kerja/Unit Usaha, lalu Divisi Keuangan/Akuntansi meng-input anggarannya, mengkompilasi semuanya menjadi satu, dan jadilah Rencana Jangka Panjang dan Rencana Kerja & Anggaran Perusahaan yang siap untuk disetujui Direksi dan Dewan Komisaris serta disahkan oleh RUPS.

Seharusnya sebelum proses penyusunan dimulai, Direksi menyampaikan arahan pemahaman Misi/Visi, bagaimana secara sistematis di-deploy menjadi strategi dan program kerja, serta apa ukuran-ukuran pencapaian yang menjadi indikator keberhasilan. Sebagai usaha bisnis, semua program kerja pasti berujung profit. Dalam corporate strategic Planning, Direksi harus mengarahkan bagaimana profit ditetapkan (perspektif keuangan). Lalu supaya profit, maka bagaimana dompet pasar digaruk (perspektif pasar). Agar dompet dapat digaruk tanpa merugikan semua pihak, maka perlu ada struktur dan proses internal yang mendukung (perspektif proses internal). Terakhir, untuk menjalankan struktur dan proses tersebut, bagaimana mengadakan dan mengembangkan sumberdaya dan fasilitas yang mumpuni. Sayangnya, hampir tidak ada Direksi yang melakukan hal ini. Dewan Komisaris-pun sebagai penanggung jawab aspek pengawasan, lebih sering hanya rubber stamp karena kebanyakan adalah Pelaku rangkap jabatan.

Memang benar kata pepatah, “ikan busuk selalu dimulai dari Kepala”.

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Malah inget Prof Sahetapy: kebusukan mulai dari kepala. pakah dengan demikian Indonesia tidak memiliki VM eh MV yg solid?

  2. Anonim mengatakan:

    loh, yg bnr VM atau MV sih?????

  3. trinela mengatakan:

    mank beda ya VM atau MV, apa cuma penulisannya aja ato maank beda bangett

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s