FREN, GAUL, TULUS: Mone Wango, Mone Pote atau Mone apakah Kalian? (Hasil Pilkada NTT)

Posted: Juni 15, 2008 in Artikel
Tag:,
Bagi anda yang tidak pernah berkunjung ke NTT, tahukah anda yang namanya pulau Sabu? Saya tidak yakin dengan pengetahuan anda tentang pulau ini. Sepanjang pengalaman saya berhubungan dengan teman-teman di luar Nusa Tenggara Timur, mereka nyaris tidak pernah tahu di mana Pulau yang satu ini. Jangankan Pulau Sabu, yaitu pulau kecil nan mungil di ujung selatan Indonesia, ketika saya memperkenalkan diri berasal dari Kupang, reaksi pertama orang-orang itu adalah ….hei Kupang itu di sebelah mananya Timor Leste? …..ah, Kacau sekali Wawasan Nusantara kawan-kawan saya itu. Singkat kata NTT adalah Nyaris Tak Terdengar. Mudah-mudahan anda tidak tergolong ke sana (padahal saya tidak yakin juga hi hi hi…).

Tapi sudahlah, biarkan saja dahulu perkara itu. Ada hal penting yang mau saya katakan, yaitu dari pulau Sabu dihasilkan suatu bentuk bunyi-bunyian yang kalau diucapkan oleh mulut kita maka kita akan menyebutkannya sebagai bahasa. Ya, anda benar. Bahasa Sabu (bukan Bahasa Roh). Dalam bahasa Sabu terdapat kosa kata yang sangat bagus untu mencirikan watak manusia, yaitu Mone Pote, Mone Wango dan ….masih banyak mone-mone yang lainnya, termasuk jika anda berjiwa manusia utama berbudi luhur maka anda akan disebut sebagai Mone Ama. Lantas, apa itu Mone Pote dan Mone Wango? Sebelum kita berceritera tentang hal itu saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengapa saya ingin berceritera tentang mone-mone ini. Begini:

Dalam masa kampanye pilgub NTT yang dilakukan di Pulau Sabu, salah seorang kandidat Gubernur mengatakan begini:

…….wahai masyarakat Pulau Sabu, jangan pilih Mone Pote dan Mone Wango sebagai Gubernur kalian….bla bla bla.…….

Nah, kembali ke laptop: apa itu Mone Pote dan apapula Mone Wango? Mone Pote adalah manusia yang kerjanya bohong, bohong dan berbohong. Setiap hari. Padanan katanya dengan istilah pada masa orde baru adalah HARMOKO alias hari-hari omong kosong (untung bukan hari-hari omong kotor). Lalu, Mone Wango adalah manusia yang bersifat setengah orang setengah lucifer bin setan bin iblis bin…atang. Ya, Mone wango adalah orang jahat. Pertanyaannya lalu, kalau si pembicara meminta jangan memilih Mone Wango dan Mone Pote maka sebenarnya siapakah yang dimaksudkan? Opsi beliau, saya dan anda sekalian (dalam konteks pilgub NTT) adalah FREN (Frans Leburaya dan Esthon Foenay) ataukah GAUL (Gaspar Ehok dan Julius Bobo) ataukah TULUS (Agustinus Medah dan Paulus Moa). Karena hanya 3 paket ini yang racing dalam pilgub NTT 2008 maka tanpa sadar si pembicara sedang mengingatkan bahwa, menurut logika dasar, beliau dapat saja tergolong Mone Wango dan atau Mone Pote juga.

Dan hari penentuan-pun tiba (the judgement day has become). Mari kita kutip berita di cetak.Kompas. com minggu 15 Juni 2008.

PILKADA NTT

Fren Unggul Sementara

Minggu, 15 Juni 2008 | 01:07 WIB
Kupang, Kompas – Pasangan Frans Lebu Raya-Esthon Foenay atau Fren yang diusung PDI-P untuk sementara unggul 38,30 persen. Adapun pasangan Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa atau Tulus dari Partai Golkar memperoleh 33,04 persen dan Gaspar Parang Ehok-Julius Bobo atau Gaul dari Koalisi Abdi Flobamora mendapat 28,66 persen suara.

Manajer Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Arman Salam kepada pers di Kupang, Sabtu (14/6), menyatakan, hasil itu diperoleh berdasarkan sampel dari 440 pemilih, yang tersebar di 7.506 TPS di 20 kabupaten/kota. Tingkat partisipasi 80,34 persen, data sampel yang masuk 94,86 persen, dan tingkat kesalahan 1 persen.

Fren menang di Kota dan Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Timor Tengah Selatan, Belu, Ende, Ngada, dan Nagekeo. Sementara Tulus menang di Rote Ndao dan Sikka. Adapun Gaul unggul di Manggarai dan Sumba Timur.

Riki Rahmadia, moderator Jaringan Isu Politik, menambahkan, pemilih berdasarkan agama masih tinggi, yakni 44,49 persen penganut Protestan mendukung Tulus, sementara 53 persen penganut agama Katolik mendukung Fren, dan Gaul mendapat dukungan 32,29 persen.

”Suku juga masih sangat dominan dalam pemilihan. Suku Timor 69,80 persen memilih Fren, 1,9 persen memilih Gaul, dan sisanya memilih Tulus. Masyarakat Lamaholot, yakni Flores Timur, Lembata, dan Alor, 78 persen mendukung Fren, sisanya Tulus dan Gaul,” katanya.

PDI-P dinilai masih solid. Sebanyak 84 persen kader PDI-P mendukung Fren. Adapun Partai Golkar 66,70 persen mendukung Tulus.

Anggota KPU NTT, Hans Ch Louk, mengatakan, KPU belum mendapat data resmi dari lapangan. Data baru didapat 7-14 hari mendatang.

”Soal hasil survei LSI dan JIP silakan saja. Namun, hasil itu tidak memengaruhi hasil dari lapangan yang ditujukan ke KPU,” kata Louk.

Kabid Humas Polda NTT Komisaris Marthen Radja mengatakan, tidak ada gangguan keamanan selama pilkada berlangsung. Kondisi ini diharapkan terus berlangsung sampai penghitungan suara dan penetapan hasil pilkada. (KOR/SEM)

Sebelumnya adalah berita dari mediaindonesia.com Sabtu 14 Juni 2008 18:29 WIB

Quick Count Tempatkan Fren Unggul Sementara pada Pilkada NTT

Penulis : Palce Amalo

KUPANG–MI: Perolehan suara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya-Esthon Foenay (Fren) unggul sementara menurut versi perhitungan cepat (quick count), Sabtu (14/6). Sampel qiuck count tersebut diambil dari 350 tempat pemungutan suara (TPS) dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) NTT. Jumlah TPS yang tersebar di 20 kabupaten/kota di provinsi itu seluruhnya sebanyak 7.506.

Menurut Setiadharma dari lingkaran Survey Indonesia (LSI), pasangan Fren yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengumpulkan 38,30% suara. Pasangan Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa yang diusung Partai Golkar mengumpulkan 33,04% suara, dan posisi terakhir diperoleh pasangan Gaspar Parang Ehok-Julius Bobo yang mengumpulkan 28,66% suara. Sedangkan data sampel yang diumumkan tersebut adalah 94,86%. “Sampling error lebih kurang 1%,” katanya dalam jumpa pers di Kupang, sekitar pukul 18.00 Wita.

Namun, sebelum pengumuman hasil qiuck count, puluhan pendukung pasangan calon gubernur Frans Lebu Raya-Esthon Foenay berpawai mengelilingi Kota Kupang. Sedangkan, Frans dalam wawancara dengan sebuah stasiun radio swasta di Kupang mengatakan telah memenangi pemilihan gubernur.

Sementara itu, pasangan Ibrahim-Paulus berdasarkan laporan yang diterima LSI, menang di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kupang, dan Rote Ndao. Sedangkan pasangan Frans-Esthon menang di Kabupaten Flores Timur, dan suara terbanyak di Kabupaten Manggarai dimenangkan oleh pasangan Gaspar-Julius.

Pilgub Nusa Tenggara Timur diikuti oleh 2.646.144 pemilih dengan pemilih terbanyak terdapat di Kabupaten Belu 203.451 orang, Timor Tengah Selatan sebanyak 247.304 orang,dan Kabupaten Kupang 112.143 orang. (PO/OL-01)

Nah, tampaknya berdasarkan hasil kajian LSI, yang mendasarkan diri atas keakuratan metode-metode statistika, ada pasangan tertentu yang berpeluang lebih besar untuk memenangkan racing dalam PILKADA NTT. Ahaaaa, kalau begitu siapakah itu Mone Pote? Siapakah yang Mone Wango dan siapa pula yang Mone……tak tahulah awak ni. Tunggu saja hasil perhitungan resmi oleh KPUD NTT (asal jangan diganggu oleh demonstrasi kelompok-kelompok pecundang alias looser).

Akhirnya, apa pelajaran yang bisa kita petik dari ceritera tentang mone-mone tadi? Adalah ini: pertama, jagalah mulutmu sebab mulutmu adalah wango-mu; dan kedua, janganlah gampang menuding orang lain sebab, kata orang tua-tua dahulu kala, ketika 1 jarimu menunjuk ke depan, lihatlah ke mana arah 3 jarimu yang lain. Tragis bukan?

Tabe Tuan Tabe Puan

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    wow judul yg menarik dan ceritera yang keren. Jangan gampang menuduh orang. TOP

  2. Anonim mengatakan:

    sorry kawan, Indonesia terlalu luas. Tapi thanx sudah membuat aq nyari di peta. Tulisanmu bagus, renyah dan perlu dibaca.

  3. Anonim mengatakan:

    PDIP menang ya? ah NTT emang daerah PDIP

  4. Anonim mengatakan:

    Pulau Sabu? Jujur, enggak tahu

  5. Anonim mengatakan:

    wawasan nusantara memang tidak populer pada generasi sekarang. Entah mau jadi apa Indonesia

  6. Anonim mengatakan:

    Go FREN Go, kalahkan mone pote dan mone wango yg gampang menuding orang

  7. Anonim mengatakan:

    Mengapa bigmike agak “sisnis” terhadap TULUS?

  8. Anonim mengatakan:

    Mengapa mikerk agak “sisnis” terhadap TULUS?

  9. Anonim mengatakan:

    Ulaslah barang sedkit tentang budaya dan sosial pulau sabu.

  10. forumDASNTT mengatakan:

    pak mike harus ikut bertanggung jawab tehadap jalannya pemerintahan di pemda NTT kabinet FREN. Ini adalah paket pilihan pak Mike kan?

  11. ama djami mengatakan:

    tau dong sabu,.
    pulau paling keren,.
    orang2nya juga keren2
    kebudayaannya unik,.
    lebih asyik dari bali,.
    sayang kurang di explore aja,.

  12. Natalia Willi mengatakan:

    pulau sabu emang ok… apalagi perempuanx manis2… hehehe.. termasuk akyu…

  13. gerithone mengatakan:

    FREN sudah berubah menjadi frek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s