Habis D3RHRK terbitlah IPDN….Haaaaahhhh??? Gawat!!!!!

Posted: Juni 12, 2008 in Artikel
Sahabat Blogger yang baik…..

Setelah diberi doa yang indah oleh Dina maka mari kita mulai bekerja. Apa kerja kita? ya merenung kembali. …….tapi heeiiiii bigmike mengapa kita di suruh merenungi IPDN, Institut Pemerintahan Dalam Negeri yang kontroversial itu siihhhh………kagak ade nyang lain apeeee?????? ….Psssssstttttt……tenaaaanngggg…..teeennnaaaaannnggggg…..bukan itu tapi IPDN yang ini adalah Ini Posting Dari Nk …ha ha ha….anda tahu dia kan? Yaapp, anda betul: dialah sobat kita yang tajam komentarnya itu. Kali ini NK ingin menulis lagi. Dan karena saya sangat ingin bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk rehat sejenak dan merenung maka saya mempersilakan NK menggunakan halaman blog ini guna menyampaikan isi kepalanya. Nah, selamat menikmati isi tulisan NK. Sementara itu biarkan saya merenung merem melek di Cafe Permenungan…….uuuaaaaaaaappphhhh…..aahhhhhhhhhhhhhh……………………….merenung dulu yaaaaaaa.….(anda silakan berdiskusi dan jangan mengganggu saya yaaaaaa……)

Saya agak sedikit ‘penat’ dengan tulisan dan komentar yang bertema kebangsaan. Karena diminta menulis lagi oleh BM, maka saya ingin menulis sesuatu yang ‘lain.’ Lagi-lagi bukan karena saya banyak tahu tetapi sedekar ingin berbagi dengan sidang pembaca blog disini. Semoga pula ‘kenekatan’ saya menulis disini menggugah hati Wilmana yang masih teputar untuk menyumbangan ‘buah-buah’ pikirannya. Juga ‘dtn’ alias ‘jrk’ yang konon bakincang hendak menulis tetapi on the 11th hour menarik diri dengan alasan yang kurang jelas. Sayup-sayup saya dengar dia takut ama Wilmana. Batul ko dtn?

Beberapa waktu yang lalu, Bigmike (“BM”), dalam postingnya yang bertema ‘Kasih’ menulis, “Charles Darwin, ilmuwan yang teorinya amat sangat kontroversial sampai hari ini, mengemukakan dalam buku The Origin of Species bahwa…” Mengapa seorang BM katakan teori Darwin bukan saja amat tetapi juga sangat kontraversial? Apanya yang kontraversial? Kalau ujaran kata ini disampaikan oleh seorang awam, Wilmana, maka saya dapat memahaminya. Tetapi ini seorang BM yang notabene seorang ilmuan eksata bergelar ‘Dr,’ ‘jenius,’ serta ‘tokoh’ gereja dikampungnya. Bukankah BM, dalam keunikan posisinya itu, seharusnya memberi ‘pencerahan’ bagi kita yang ‘awam’ ini? Ketimbang menunggu BM yang sering ‘goyang ngebor’ tanpa fokus yang jelas akibat ‘autisme’nya itu, maka saya ‘bertekad’ mencari cikal-bakal kontraversial ini.

Mulanya saya mencoba memahami kontraversial teori Darwin dari perspektif seorang ‘awam.’ Karena saya tidak bisa berjumpa muka dengan Wilmana, saya sengaja bertemu seorang kawan di sini, mahasiswa S2 asal Indonesia. Saya bertanya, ‘Bagaimana menurut anda tentang teori Darwin?’ Dengan berapi-api kawan saya itu menjawab, ‘Teori Darwin tidak Alkitabiah! Manusia bukan keturunan monyet tetapi serupa dengan gambar Allah!’ Mama miaaaa. Dari kawan saya ini, saya berkesimpulan, bagi kebanyakan orang, kontraversial teori Darwin tidak lepas dari urusan monyet-monyetan. Manusia, katanya, keturunan monyet. Entah akibat teori Darwin, kami dikampung suka mengejek orang dengan ujaran, ‘kode (baca: monyet) bakar lu!’ Tetapi, benarkan Darwin ber-teori seperti itu? Kalau benar manusia asalnya dari monyet, mengapa masih ada monyet di hutan dan di kebun-kebun binatang? Bukankah seharusnya monyet-monyet itu sudah berevolusi menjadi manusia? Mungkinkah sebagian mereka gagal berevolusi menjadi manusia? Saya makin ‘bergairah’ mencari jawabnya.

Siapa itu Charles Darwin, ah, saya yakin sidang pembaca blog sudah tahu. Dan tentang bukunya yang super duper terkenal itu, rasa-rasanya anda sudah, paling tidak, mendengarnya. Tetapi, tahukah anda inti-sari teori sang Darwin ini? Baiklah saya kutip yang sudah ditulis BM sendiri, “…berdasarkan hasil pengamatan empiris maka harus dikatakan bahwa ciri kehidupan yang terpenting adalah persaingan. Untuk bisa survive atau bertahan hidup, semua makhluk mesti berjuang. Dan siapa yang berhasil survive? Kata Darwin, yang survive adalah makhluk yang paling pas. Paling cocok. Paling paling fit dengan kondisi lingkungannya. Survival of the fittest. Lalu dimana urusan per-monyet-tan itu dalam buku Darwin ini? Saya membolak-balik-kan setiap halamannya tetapi tidak menjumpainya disana. Tapi, bukankah teori Darwin kait-terkait dengan evolusi? Betul! Darwin katakan bahwa dari proses persaingan itu, mahluk yang kuat, dalam kurum waktu yang lama (bilyunan tahun?), akan melahirkan variasi baru, bahkan mahluk baru. Inilah Darwinian evolution itu. Eh tau gak sih, teori evolusi biologi sebenarnya sudah ada jauh sebelum Darwin? Yaitu oleh ilmuan klasik Yunani, salah satunya Lucretius. Lalu mengapa evolusi Darwin yang beking geger? Lagi-lagi, ini ada urusannya dengan monyet-monyetan itu.

Perlu dicatat disini, Darwin, sebelum menerbitkan The Origin of Species, sadar kalau teorinya itu bisa menimbulkan kontraversi, bahkan ancaman ‘kutukan’ gereja. Secara diam-diam, Darwin terus menyempurnakan dan mengumpulkan fakta pendukung teorinya. Saat publikasi, dalam bukunya itu, Darwin memberi komentar yang bertujuan ‘mendamaikan’ konflik antara ilmu pengetahuan dan agama (baca: gereja). Sikap Darwin ini sejalan dengan kepercayaan ilmuan besar Isaac Newton, seorang Kristen taat, yang meyakini kebesaran daripada a rational God yang menciptakan a rational universe.

Kalau Darwin tidak dengan sengaja ingin menciptakan konflik antara ilmu pengetahuan dan agama, lalu siapa? Ini biang keroknya. Sekitar 100 tahun yang lalu, 2 penulis besar John William Drapper dan Andrew D. White gencar menyerang gereja dan Kekristenan dan membuat klaim absurd tentang konflik abadi antara ilmu pengetahuan dan agama yang tidak akan dapat didamaikan. Diantara mitos yang ditulis adalah ‘Darwin against the Christians.’ Menurut mitos ini, ketika Darwin menerbitkan The Originin of Species, terciptalah 2 kubu. Kubu Ilmuan vs Kubu Gereja. Ilmu vs Iman. Nonsense! Faktanya, ilmuan besar saat itupun berbeda pendapat, pro ada yang kontra terhadap teori Darwin. Richard Owen (British Naturalist), Louis Agassiz (Harvard Zoologist) dan Lord Kelvin (Physicist) walau memuji karya Darwin, meragukan keabsahan teori Darwin. Sejarahwan Gertrude menulis, walau umat Kristiani menilai teori evolusi tidak konsisten dengan ajaran gereja, mayoritas menerima teori Darwin. Bahkan Dublin Review, sebuah jurnal milik Gereja Katolik saat itu memberi review yang sangat positif dengan sedikit kritikan.

Lalu dari mana asal-usul manusia asalnya dari monyet itu? Sabar, saya sedang menuju ke TKP! Begini. Selain mitos diatas, si kutu-kupret Drapper & White menulis tentang debat panas antara Thomas Henry Huxley, pendukung teori Darwin, dan seorang Uskup Katolik bernama Wilberforce. Dalam debatnya itu, konon, Wilberforce bertanya kepada Huxley, “Is it on your grandfather’s or your grandmother’s side that you claim descent from a monkey?” Atas pertanyaan si Uskup, dengan kalemnya Huxley menjawab, ‘saya lebih memilih menjadi keturunan seekor monyet ketimbang menjadi seorang ‘orang suci’ yang anti terhadap ilmu pengetahuan.’ Goooooooooooooooooooolll… kesebelasan anti gereja menyobek gawang Gereja. Gereja anti ilmu pengetahuan, begitukah? Ooooh tentu saja tidak. Namanya juga mitos. Lho kok? Tidak ada catatan sejarah tentang debat itu. Ini hanya akal-akalan 2 kutu-kupret itu, Drapper dan White. Joseph Hooker, seorang sahabat Darwin membantah Huxley berkata seperti itu.

Konyolnya, konflik abadi yang diciptakan Drapper & White pada abad 19 ini ternyata kian hidup hingga kini. Ia ‘memakan’ banyak korban, tidak tanggung-tanggung, umat Kristiani. Proganda tua oleh kaum ateis, saat ini, dikompori oleh manusia-manusia semacam Christopher Hitchens (God Is Not Great), Richard Dawkins (The God Delusion) dkk. Simak saja beberapa statement ini:

I am against religion because it teaches us to be satisfied with not understanding the world. Richard Dawkins

If humankind evolved by Darwinian natural selection, genetic chance and environmental necessity, not God, made the species. E.O. Wilson (A Harvard biologist on his book ‘On Human Nature’)

No intervening spirit watches lovingly over the affairs of nature…whatever we think of God, his existence is not manifest in the products of nature. Stephen Jay Gould (A Biologist on his essay ‘Darwin’s Legacy’)

The diversity of life on earth is the result of evolution: an unsupervised, impersonal, unpredictable and natural process of temporal descent with genetic modification that is affected by natural selection, historical contengencies, and changing environments. American National Association of Biology Teachers

Saya dulu juga ‘korban’ lho, tapi syukurlah sekarang saya sudah ‘insap.’ Bagaimana dengan anda? Terserah! Saya memilih nonton Euro 2008 ketimbang memusingkan mitos kontraversi Darwin. Nampaknya saja kontraversial, tetapi sebenarnya TIDAK!

Eniwe… anda tahu mitos lain yang sangat terkenal itu? Galileo disiksa dan dihukum mati oleh gereja! Baiklah, begini ceritanya, eeeeiiitttttttttttttt… biar anda penasaran, tunggu saja sambungan dari tulisan ini.

Komentar
  1. luiggimikerk mengatakan:

    Ha ha ha enaknya duduk merenung merem melek….hhmmmmhhhh….uuuaaaaahhhhpphhhh…
    Tapi sebelum nyenyak ketiduran (eh ini mau merenung atau tidur) saya mau memberikan sedikit catatan bahwa tulisan NK membuktikan kebenaan ungkapan saya bahwa Darwin dan Teorinya memang kontroversial…Nggak apa-apalah kebanding INDONESIAL….udah yaaaa sir & sor (tuan dan nyonya ha ha ha)

  2. Anonim mengatakan:

    Awas jadi kafir

  3. luiggimikerk mengatakan:

    Kafir? tidaklah. Jangan curiga dulu

  4. Anonim mengatakan:

    Posting beginian hanya akan membuat kita bertengkat tidak tentu arah

  5. Anonim mengatakan:

    Eh, dari monyet kembali ke monyet. Malez ah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s