Berdukacita kok ya Berbahagia? Aneh…..

Posted: Juni 10, 2008 in renungan Kristiani
Tag:
Sobat Blogger Yang tercinta, saya ingin menghentikan sejenak perbincangan dalam topik Perubahan. Ada apa ini. Semua berawal dari 1 buah SMS yang saya terima hari senin tanggal 9 Juni 2008 sore yang bunyinya begini:

Berita Duka: telah kembali ke Rumah Bapa di Surga mama Mariana Nahak ibunda dari Ibu Tori Ata di RS Bayangkara Kupang jam 11.21 WITA. (Yunus Takandewa)

Lalu, pada tanggal 10 Juni 2008 saya menerima lagi 1 buah kiriman SMS yang berbunyi:

Duka cita kami terdalam. Telah dipanggil sang Khalik Agung, Ibunda kami tercinta: Mariana Nahak Ata, senin 9 Juni 2008. Jenazah diantar ke Atambua siang ini. Salam duka. Tory Ata. (Ya, anda benar karena seperti yang sudah tertera di dalam isi SMS itu nama si pengirim yaitu Tory Ata).

Berita kematian adalah biasa seperti juga begitu biasanya kematian itu sendiri. Ada pendapat bahwa mereka yang mau hidup harus siap untuk mati. Ya betul, konsekuensi dari hidup adalah mati. Jadi untuk apa berupaya keras menghindari kematian karena toh dia akan datang juga. Dalam disiplin ilmu-ilmu ekologi kematian tidak lebih dari bagian dari aliran energi dan siklus materi di dalam ekosistem alam. Sekali lagi, kematian adalah perkara biasa. Saya punya pengalaman sewaktu bepergian ke Aceh. Ketika itu saya bertemu dengan seseorang yang dengan tenang dan biasa-biasa saja menceriterakan bahwa dalam peristiwa tsunami Aceh, dia kehilangan ayah, ibu, isteri dan 2 orang anaknya sekaligus. Cukup 1 kali tsunami, habislah seluruh keluarganya. Dapatkah anda membayangkan betapa mengerikannya kematian kala itu. Ada ratusan ribu orang mati dan hilang taktentu rimbanya hingga hari ini. Tetapi….hei….lihatlah wajah orang itu…….dia berceritera perihal kematian seluruh anggota keluarganya sambil menghembus-hembuskan asap rokok dengan pandangan mata yang biasa-biasa saja. Nyaris tanpa beban. Saya tidak bermaksud meremehkan kematian tetapi saya mencupli peristiwa itu hanya untuk mengatakan bahwa kematian sesungguhnya adalah barang biasa. Kalau anda bahagia dan senang menerima hidup maka jangan terlalu berduka ketika menerima kematian. Kalau anda menerima kelahiran seorang bayi bayangkanlah bahwa yang anda timang adalah mayat pada satu waktu kelak. Jadi, kematian? Biasa-biasa sajalah. Kelar perkara. Begitukah? Nanti dulu.

Soal lain adalah apakah hebatnya seorang Tory Ata. Apa luarbiasanya seorang Mariana Nahak Ata. Siapakah dia? Saya yakin, sebagian besar pembaca tidak mengenal nama-nama ini. Lalu, apa pentingnya bagi saya sehingga memposting sesuatu tentang ini sambil meninggalkan topik lama (pembaruan). Apakah karena saya pernah 4 tahun lamanya tinggal di Atambua? Tidak. Lalu apa? Tory Ata adalah seorang perempuan pegiat LSM di Kupang NTT. Saya mengenalnya ketika sama-sama terlibat sebagai tim penilai proposal-proposal pada LSM Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara (Samanta) di mana saya berkedudukan sebagai Anggota Dewan Pakar. Kami saling menghormati profesionalisme di antara kami. Itu tentang Tory. Bagaimana tentang ibu Mariana Nahak Ata? Saya sama sekali tidak mengenalnya. Jadi?     Nah ini yang saya mau katakan: kematian adalah fenomena alam biasa tetapi bagi makhluk berakal dan berperasaan sekaligus seperti manusia, kematian bisa mendatangkan kesan tersendiri. Memang betul, kematian adalah persitiwa biasa. Itulah sebabnya kita bisa menonton peristiwa kematian ribuan bahkan ratusan ribu orang yang tergambar di layar televisi sambil menyeruput kopi panas pagi-pagi sambil berseloroh bersama isteri atau suami dan anak-anak. Cobalah merasakannya ketika si maut datang menghampir lingkungan terdekatmu. Apa komentarmu. Ketika kematian datang menghampir “serambi rumah”, saya betul-betul terhantam terjajar di tebing kesedihan. Dan…sulit berpulih dari kesedihan. Mengenaskan. Seorang rekan blogger bahkan “sampai hati” mengatakan bahwa saya ternyata berhati Rinto meski berwajah Rambo. Pas. Memang begitu. Itu sudah. Sahabat itu benar belaka. Singkat kata, kematian ternyata bukan sekedar peristiwa biasa. Tetapi apakah dengan begitu dia menjadi luar biasa? Nanti dulu.

Kembali ke teks ceritera saya. Secara manusiawi kematian Almarhum Ibu Mariana, ibunda Tory Ata, menjadi agak uni dan dramatis bagi saya karena begini: pada tanggal 21 April 2008 saya menerima sebuah SMS dari saudara Yunus Takandewa, sahabat LSM saya yang lain, yang mengabarkan meninggalnya ayahanda Tory Ata. Jadi, Tory Ata menjadi yatim piatu sekaligus hanya dalam selang waktu 40-an hari. Dramatis? Ya, tapi belum berpuncak. Segera setelah menerima pesan SMS dari Yunus, saya mengirim SMS ikut berduka cita kepada Tory. Lalu, 2 hari setelah kematian ayahanda Tory, ……………………………………….. ggggglllluuueeeeeggggerrrrrrrr…………………………gantian sayalah yang kehilangan ayahanda saya. Satu minggu kemudian saya menerima SMS tanda berduka cita dari Tory. Nah, sekarang berganti lagi, ibunya Tory berpulang. Lalu, apakah……?????? (wah, membayangkannya pun saya tidak berani). Inilah drama itu. Shakespeare: dunia ini panggung sandiwara ceriteranya mudah berubah. Dramatis. Tetapi apakah dengan demikian kematian lalu menjadi istimewa? Maaf, tidak. Lantas? Adalah ini:

Nietszche, anda sudah mendengarnya ketika membaca posting KASIH, mendasarkan teorinya tentang Tuhan yang mati, juga pada khotbah di Bukit. Apa katanya?

Khotbah di bukit adalah bukti paling nyata tentang mentalitas budak dan gaya hidup pecundang (loser) yang dibawa oleh ke-Kristenan dan telah meracuni peradaban manusia. Padahal dunia tidak membutuhkan budak melainkan Uebermensch (superman) yang mampu melakukan perkara mata ganti mata dan gigi ganti gigi (an eye for an eye).

Jelas sudah bahwa Nietszche menganggap bahwa ajaran Yesus adalah ajaran yang fatalistis. Lemah. Tak berguna bagi peradaban. Miskin kok berbahagia. Menderita kok berbahagia……. Gilaaaaa bueeneerrrr….Seorang sahabat blogger, beberapa kali tampak setuju dengan Nietszche ketika mengutip, entah melucu entah sinis, sebuah lagu Gereja yang berasal dari kumpulan lagu Gereja Kidung Jemaat…..saya mau ikut Yesus saya mau ikut Yesus sampai selama-lamanya….meskipun saya susah menderita dalam dunia……..Mental sontoloyo katanya. Betul begitukah? Tidak.

Kesalahan Nietszche dan rekan-rekan sepikirannya terletak pada cara meletakkan preposisi mereka. Disangkanya Kristiani mengajarkan cara berpikir fatalistis. Untuk mendapat kebahagiaan maka anda harus menderita. Biar hidup miskin, lapar dan tertindas tidak apa-apa yang penting bisa hidup dekat-dekat YESUS. Supaya bisa dekat dengan YESUS maka anda harus hidup sengsara seumur-umur. Supaya layak disebut mengasihi seperti YESUS maka biarkan pipimu ditampar bolak-balik tak karuan sampai bonyok. Tidak begitu bosz…….nyanda bagitu de pe cara bapikir. Yesus. Lalu, Paulus. Dan kemudian Calvin memberikan penjelasan yang teramat lain. Menurut mereka, hidup Kristiani dalam perspektif Khotbah di bukit adalah hidup yang positif dan optimis. Anda, saya dan kita semua berada di dunia yang penuh dengan serigala, onak dan duri. Untuk dapat mengalahkan dunia, anda harus berjuang. Anda harus bertarung. Anda harus bekerja. Bekerja adalah panggilan. A calling kata orang Inggris. Beruuf menurut lidah orang Jerman. Tetapi karena anda berada di dunia yang jahat dan penuh kedagingan maka tidak jarang perjuangan yang keras pun bisa berujung pada tantangan-tantangan. Kepahitan-kepahitan. Kesakitan-kesakitan. Penderitaan-penderitaan. Lelah dan putus asa. Dan lalu, ……kesedihan-kesedihan…….. Terkadang bukan sekedar kesedihan tetapi lautan kepedihan yang pekat. Amat pekat.

Naluri manusia ketika berada di dalam lubang sumur penderitaan yang dalam tanpa cahaya nan hitam pekat adalah takut, menyerah dan lalu…..ngacir ngibrit tunggang-langgang. Lalu, tujuan hidup melenceng ke sana-kemari. Panggilan gagal ditunaikan. Hidupmu hancur berantakan tidak ketulungan. Nah, ketika tak ada satupun pertolongan dunia dapat diharapkan, karena justru dunialah yang merupakan biang kerok penderitaan dan kesedihan, YESUS memberikan alternatif lain. Bangunlah dan teruslah bergerak. Aku akan menggendong kamu. AYO KAMU BISA karena AKU akan menolongmu. Ada kekuatan yang berasal dari-Ku dan akan Ku berikan kepadamu wahai anak-anak-Ku.

Di sinilah kebenaran Khotbah di Bukit harus diletakkan. Di sini pula-lah keindahan Kidung jemaat ”Saya Mau Ikut Yesus” akan dapat dirasakan. Merdu. Amat merdu. Di telinga dan juga di batin. YESUS tidak mengajak anak-anak-Nya untuk konyol menderita seumur-umur melainkan jangan pernah takut akan penderitaan. YESUS tidak ingin meilhat anak-anak-Nya kalah dan bertekuk lutut terhadap ketidakadilan dan kesedihan melainkan bangkitlah dan lawanlah dunia untuk menegakkan keadilan, menghapus penderitaan dan kesedihan. Di sinilah istimewa setiap kematian di dalam YESUS. Mengapa? Karena ketika ketidakadilan, luka, penderitaan dan kesedihan itu menghampirimu: please don’t so worry sir and sor (tuan dan nyonya ha ha): JESUS will hold you on. You can count on HIS shoulder to cry on and to carry away all your burden as well. DAN INGATLAH INI: semua pertolongan yang datang dari YESUS bersifat ILAHI, KUDUS dan KEKAL. So, buanglah pesimisme. Optimislah terus untuk bekerja dan berjuang. Tinjulah dunia ini dengan daya Ilahi yang berasal dari YESUS.

Maka, bagi mereka yang terbenam dalam kubangan kesedihan karena kematian orang-orang terkasih atau alasan apapun, mereka yang merasa pedih karena dikhianati teman, sahabat dan dunia, mereka yang penat dalam perjuangan hidup: jangan menyerah. Jangan mau dikalahkan dunia ini saudaraku. Berbahagialah saudara, teruslah berjuang dan bertarung melawan dosa dunia biarpun menderita dan sedih karena penghiburan, pertolongan dan penyertaan yang Ilahi akan ada bersamamu selamanya. Mulai sekarang sampai Maranatha……….paten………mantap……….canggiiiihhhh boossszzzzz……Wuuuiiihhhhhh…..

NB. Tulisan ini didedikasikan bagi mereka yang menderita dan berbeban berat seperti Tory Ata dan keluarga, anda semua, dan…batin saya yang masih saja terluka……

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Saya mau ikut Yesus saya mau ikut Yesus sampai slama-lamanya. Meskipun saya susah menderita dalam dunia. Saya mau ikut Yesus, sampai slama-lamanya (Amran)

  2. Anonim mengatakan:

    Berdukacita tapi berbahagia memang konsep yg aneh. Sama anehnya dengan bersyukur setelah ditimpa kesedihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s