Internasional…..Inter Milan…..eeehhh……..INTERUPSI BOssZZZ……..

Posted: Mei 30, 2008 in Artikel
@d@ Y@ng H@ru$ DiJel@$k@n

Tak disangka, tak dinyana. Para pengunjung Cafe Permenungan saya ternyata permintaannya banyak, macam-macam dan bikin repot. Dihidangkan teh manis, minta di tambah gula. Sudah gulanya ditambah, ehhhh.…minta ditambah susu krim. Busyeeetttt deeechhh…baru saja dihidangkan teh manis pake susu sekarang mereka pada minta dicampur kopi lagi. Tidak tanggung-tanggung, kopinya haruslah kopi Alaska (eeehhh, di Alaska ada kebun kopi nggak yaaa????). Wuuuuuaaaaahhhh…..dan yang bikin gondok…selesai minum, itu tamu-tamu pada ngeloyor pergi zondern mau bayar…. Begitu ditagih…ramai ramai mengatup 2 tangan rapat-rapat lalu diacungkan ke depan wajahnya. Bangkit dari duduk, lantas kaki melangkah perlahan berputar-putar sambil mulutnya komat-kamit mengujarkan mantra……..sedang merenung…..sedang merenung……sedang………merenung…..sedang merenung kok ditagih biaya……sedang merenung….sedang merenung…….ha ha ha ha….Tapi tak apalah, inilah gambaran sahabat blogger saya. Menjengkelkan tetapi tanpa mereka Cafe saya akan bangk rut. Pasti bangkrut. Karena sesungguhnya komentar-komentar mereka itulah yang merupakan bayaran atas penatalayanan yang saya kerjakan dalam Cafe saya ini. Tak apalah. Tak apalah. Sabar. Sabar. Sabar. Tagal perkara permintaan yang macam-macam itu maka terpaksa saya harus memposting beberapa penjelasan yang perlu agar supaya sahabat blogger menjadi jelas tentang preposisi saya dalam menulis. Terutama pada topik posting terakhir: Indonesia Negara Gagal. Besar harapan saya, terlepas dari setuju tidaknya sahabat-sahabat atas penjelasan saya, sudilah kiranya pakuda …eehh keliru ding…paduka tuan sahabat sekalian tidak lagi mempersalahkan saya ketika “bertengkar”.Pasca posting terakhir (Negara Gagal) saya menuai badai kecaman. Dikatakan bahwa saya tidak memberikan sesuatu yang baru. Saya setuju, tetapi harap dimaafkan karena bagi saya istilah negara gagal (failed state) adalah topik hangat di kalangan pemerhati politik se Nusantara. Sayapun terhisab dalam pusaran wacana yang sama dan kagetlah saya ketika di suatu kala saya ditanyakan tentang apa itu negara gagal. Dalam keadaan gelagapan, ketika itu, saya berusaha menjawab sekenanya. Ngalor ngidul tak keruan. Si penanya terlihat mengangguk-anggukan kepala, entah mengerti entah heran sambil berpikir….heiiii…si bigmike sedang ……teeeeeeppppuuuutttaaarrrr….(kosa kata Melayu Kupang yang berarti berbohong). Sayapun merasa ketidakpercayaan di mata orang itu dan cepat-cepat saya memindahkan topik pembicaraan mengenai isu kebakaran hutan dan lahan kritis di NTT yang sangat tinggi. Nah, kalau menyangkut topik yang satu ini maka percakapan selama sehari semalampun akan saya lakoni. Anda silakan bercakap-cakap, saya tidur ngorok sebagai musik pengiring percakapan….ha ha ha….
Ya, sudahlah: karena negara gagal adalah isu baru bagi saya maka saya memaksakan diri juga untuk mempelajarinya. Dan momentum untuk menulis, sekaligus pamer pengetahuan baru itupun datang. Ya, ketika peringatan 1 abad Kebangkitan Nasional dan Hari Jadi Pancasila. Pasca posting tulisan tersebut saya mendapat masalah baru lagi. Saya diduga telah membuat ukuran-ukuran sendiri tentang negara gagal lalu mendiskreditkan Indonesia dengan menyebutkannya sebagai Indonesia yang gagal. Jika disingkat menjadi Indonesial. Agar supaya saya terhindarkan dari kesalahapahaman maka ijinkan saya untuk menjelaskan bahwa pengkategorian Indonesia sebagai negara gagal bukan dilakukan oleh saya. Saya cuma mengutip….sekali lagi….cuma mengutip….hasil survei yang dilakukan oleh majalah Amerika Serikat, Foreign Policy, tentang peringkat negara-negera di dunia berdasarkan keberhasilan dan atau kegagalan mereka.Mengapa saya tertarik mengutip publikasi ini? Begini: agak berbeda dari kebiasaan para politisi praktis yang sering membuat pernyataan asbun tanpa ukuran yang jelas, dalam survai ini saya menemukan adan

ya ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif. Sesuatu yang sudah menjadi habit saya sebagai ilmuwan kelompok bidang ilmu eksakta. Apa ukuran-ukuran dan bagaimana cara mengukurnya, kita sebut saja sebagai metode survei, disampaikan secara jelas. Nah, saya coba menguraikan langkah-langkah dalam metode yang dilakukan sampai dihasilkannya kesimpulan Indenesia sebagai negara gagal.


1. Penentuan indikator-indikator penilaian berdasarkan gagasan tentang teori tata kelola bernegara. Hasilnya adalah tersusunnya 12 kriteria indikator tingkat kegagalan suatu negara. Berikut adalah terjemahan bebas dari indikator-indikator tersebut:

I. Social indicators

1.Tekanan karena faktor jumlah penduduk;

2.perpindahan pengungsi yang masif;

3.Konfliks sosial/SARA;

4.Arus orang yang mencari suaka keluar;

II.Economic indicators

5.Ketimpanangan;

6.Tajam tidaknya penurunan ekonomi;

III.Political indicators

7.Kriminalitas dan ketidakmampuan negara mengontrol rakyatnya;

8.Kemerosotan pelayanan publik;

9.Penegakan hukum atas pelanggaran atau kejahatan terhadap hak azasi manusia;

10.Kesewenangan aparat militer dan lembaga-lembaga non-sipil;

11.Meningkatnya perpecahan elit;

12.Intervensi pihak luar dalam urusan dalam negeri.

2. Mengumpulkan data dari 12 variabel di atas yang bersumber dari sumber0sumber resmi milsanya dari badan statistik nasional dan sumber resmi lainnya;

3. Memberikan skor terhadap setiap variabel dalam skala interval 0 – 10. Pada kedaan tanpa masalah pada suatu variabel tertentu maka suatu negara akan mendaptkan nilai 0. Sebaliknya jika terjadi total bermasalah dan negara gagal mengatasinya maka skor yang diberikan adalah 10. Semakin tinggi skor, semakin gagal. Sebaliknya, semakin kecil skor berarti semakin berhasil. Contoh, pada variabel nomor 3, yaitu konflik karena isu SARA. Jika jumlah kasus SARA suatu negara sangat besar maka skor yang diperoleh akan besar mendekati 10. Sebaliknya, jika penduduk suatu negara hampir tidak pernah terlibat perkelahian karena perbedaan SARA maka skornya akan kecil mendekati 0;

4. Setelah semua variabel diberikan skor dengan cara yang sama maka akan dilakukan perhitungan total skor dari semua (12 buah) variabel. Contoh: jika semua variabel mendapat skor 10 maka total skor adalah 10+10+10+10+10+10+10+10+10+10=120;

5. Skor yang diperoleh suatu negara di susun ke dalam suatu satu tabel dan diurutkan berdasarkan besar kecilnya skor. Negara dengan skor paling besar diletakkan pada bagian atas tabel yang berarti negara tersebut adalah negara gagal. Sebaliknya, negara-negara dengan skor yang rendah tertera pada bagian bawah tabel yang berarti bahwa negara tersebut adalah negara yang tidak gagal.

Karena soal ukuran tabel dan ketersediaan ruang blog maka saya tidak dapat memasukkan tabel yang berisikan daftar 177 negara hasil survei tentang negara gagal. Tapi, lihatlah gambar peta sebaran negara gagal di seluruh dunia. Di situ akan terlihat bahwa 177 negera yang disurvei dikelompokkan ke dalam 4 kategori yang dibedakan berdasarkan warna arsir pada peta. Kategori berbahaya (alert) diarsir warna merah tua/merah hati, peringatan (warning) diarsir berwarna orange, biasa-biasa saja (moderate) berwarna kuning dan mantap/berkelanjutan (sustainable) berwarna hijau. Dua kelompok, yaitu kelompok berbahaya dan peringatan dikategorikan sebagai negara gagal. Sedangkan kelompok moderat dan berkelanjutan terkategori sebagai bukan negara gagal. Dari peta terlihat jelas bahwa Indonesia diarsir dengan warna orange (atau coklat sih ya????). Artinya, Indonesia tergolong negara gagal. Indonesia gagal = INDONESIAL. Anda mungkin tidak suka, sayapun tidak, tetapi itulah fakta analisis.

Hal berikut yang perlu saya jelaskan adalah apa yang saya maksudkan dengan negara. Lalu mengapa saya mengatakan kegagalan negara harus merupakan tanggungjawab seluruh bangsa dan tidak sekedar negara. Pertama-tama harus dipahami bahwa dalam 12 variabel indikator negara gagal terdapat beberapa variabel yang menunjukkan bahwa yang berperan terhadap kegagalan bukan cuma negara atau pemerintah tetapi juga seluruh masyarakat. Misalnya, perpecahan elit, demografi dan SARA. Kedua, konsekuensi defenisi. Begini bossZZ….

Negara: terdapat 2 pengertian, yaitu: 1) wilayah yang harus memiliki organisasi yang berkuasa dalam bidang politik, milter, ekonomi, sosial dan budaya; dan 2) organisasi yang terdiri atas wilayah sebagai lokus negara, rakyat yg menerima keberadaan organisasi negara, dan keadulatan dimana rakyat mengakui adanya negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka di lokus tertentu.
Pemerintah
: organisasi yang ada di dalam negara yang memiliki kekuasaan untuk mengatur jalannya organisasi negara (wilayah, masyarakat dan kedaulatan).
Bangsa
:kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama dan memiliki kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya dan/atau sejarah. Berdasarkan asumsi/anggapan bahwa manusia dapat dibeda-bedakan atas kelompok bangsa-bangsa maka salah satu ciri lain dari bangsa adalah adanya kesamaan keturunan. Pengajaran atau keyakinan atau doktrin bahwa suatu bangsa tersusun atas ciri-ciri kesamaan tersebut disebut sebagai ideologi nasionalisme yg berakar dari suatu tatasistem ideologi dan filsafat tertentu.

Dari defenisi di atas terlihat sudah apa preposisi saya tentang bangsa gagal. Ya, karena wilayah dan kedaulatan sebagai elemen negara bukanlah benda-benda biotik yang memiliki niat, kehendak, nalar dan kerja yang dapat membawanya kepada posisi sebagai subyek hukum. Hanya orang Indonesia yang suka mengatakan bahwa kegagalan panen disebabkan kekeringan sementara orang Israel mampu memproduksikan anggur dan buah-buahan lainnya, yang berkualitas kelas satu dan dieksport ke Eropa, dari ……padang gurun. Ingatkah anda bahwa dahulu ketika bertindak sebagai pembela Akbar Tandjung, duo pengacara the Sitompul’s (Hotma dan Ruhut) pernah mengatakan begini…..heiiiii…..pemberian uang ke Bang Akbar memang terjadi tetapi ketika itu Bang Akbar tidak menerimanya. Uang itu diletakkan oleh si pemberi di atas meja…..Whhuuuiiihhhh….apa maunya si Raja Minyak dari Medan ini dengan mengatakan itu……..Ya, rupa-rupanya the Si Tompul’s ingin agar Si Meja yang ditetapkan sebagai tersangka, terdakwa, terpenjara dan lain sebagainya? Dapatkah anda membayangkan bahwa si Meja terpenjara? Jika tidak maka anda tampaknya harus menerima penilaian bahwa kegagalan yang terjadi di Indonesia bukan sekadar kegagalan negara melainkan kegagalan seluruh bangsa. Sekali lagi, bangsa INDONESIAL

Tabe’ Tuan. Tabe’ Puan

(mengenai Etika Protestan dan yang sejenisnya itu akan saya masukkan sebagai bagian integral dalam lanjutan posting tentang Indonesia Bangkit)

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Penjelasan yang baik yang membuat anda tidak dicap sebagai anti NKRI (anak NKRI)

  2. Anonim mengatakan:

    ialah, orang setipe sitompul brothers itulah yg membuat indonesia menjadi indonesial.

    @ anak NKRI jangan main ancam gitu dong. Anasir ORBA rupanya si doski

  3. Anonim mengatakan:

    Pokoke right or wrong Indonesia is my country. Jangan diganggu oleh orng-orang sok demokrat yg sejak tahun 1998 menghancurkan Indonesia.

    (anak NKRI)

  4. Anonim mengatakan:

    anak NKRI kedengarannya malah mirip anak Soeharto????? Bener khan? btw, gw enek sama ORBA

  5. Anonim mengatakan:

    bagi gw -anak NKRI- manusia yang terjebak masa lalu. bung masa lalu Indonesia mmang membanggakan tapi sekarang??? apa yang mau dibanggakan???

    (nrk)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s