Indonesia Bangkit. Indonesia Bisa. Indonesia Bisa Bangkit? (Part 1)

Posted: Mei 21, 2008 in Artikel

Sahabat Blogger yang terhormat,

Hari ini, selasa 20 Mei 2008, genap 1 abad atau 100 tahun, Kebangkitan Nasional Indonesia. Seharusnya saya gegap gempita mensyukurinya. Tetapi, entahlah. Rasanya, ada sesuatu yang membuat saya lebih baik menahan diri dari euforia. Ada yang terasa mengganjal di dalam hati dan pikiran. Ada yang ingin saya katakan. Tetapi sebelumnya, mungkin ada baiknya jika sahabat bloggers mengijinkan saya untuk memposting sebuah tulisan lama. Tulisan ini sudah pernah dimuat di koran lokal (H.U. Timor Express, 18 Agustus 2007) di Kupang. Di situ, ada yang ingin saya keluhkan. Dan, ini penting: sebenarnya posting tentang Kasih dan juga Indonesia Bangkit, sudah merupakan bagian dari “sesuatu” yang ingin saya renungkan. Sejak awal.

Sahabat blogger yang budiman, nikmati dahulu tulisan lama saya tersebut. Oh, iya, menyangkut tulisan ini, ada kenangan yang ingin saya ceriterakan. Ketika membaca tulisan ini, Ayahanda saya almarhum, sang Guru Tua itu, secara khusus menelepon saya yang ketika itu berada di Jakarta dan mengatakan bahwa: “saya sangat bangga dan terharu dengan tulisan mu. Inti tulisanmu adalah tentang HARGA DIRI. Sesuatu yang menjadi pegangan dan sikap hidup saya serta seluruh ba’i leluhur mu”. Turun temurun. Posting ini juga untuk mengenang sang Guru Tua.

Di Depan Kain Merah Putih Nan Lusuh itu Saya Tercenung:

Apakah Kami, Orang NTT, Sudah Tidak Punya Apa-Apa Lagi?

(Renungan 62 Tahun Republik Indonesia Tercinta)

Ludji Michael Riwu Kaho[1]

Sidang pembaca yang terkasih, kejadian yang saya tulis dalam artikel ini adalah sungguh sebuah kisah nyata. Pengalaman pribadi saya. Bukan rekayasa atau yang sejenisnya. Hari itu, tanggal 15 Agustus 2007. Pagi-pagi sekali saya sudah dibangunkan oleh isteri saya untuk menyiapkan diri berangkat ke tempat tugas. Ada janji untuk bertemu dengan orang-orang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bersama-sama menuju ke tempat penangkaran Rusa Timor dan melihat perkembangan tanaman cendana yang ditanam di kampus Universitas Nusa Cendana. Setelah mempersiapkan diri seperlunya maka berangkatlah saya ke tempat tujuan dan bertemu dengan tamu-tamu terhormat tersebut. Sambil melihat-lihat dan berdiskusi, berceriteralah kami kesana-kemari tentang rusa Timor, tanaman cendana dan segala kekayaan yang dimiliki oleh nusa archipelago NTT tercinta. Setelah sehari sebelumnya (14 Agustus 2007) kami berlokakarya bersama-sama tamu dari LIPI tersebut tentang potensi tumbuhan gewang yang luar biasa maka diskusi lepas pada pagi hari tanggal 15 Agustus itu menghasilkan kesepakatan intelektual di antara kami bahwa NTT adalah negeri semi ringkai (semi arid) yang pola-pola ekosistemnya unik. Satu-satunya di Indonesia. Ada banyak daerah kering di Indonesia tetapi daerah kering yang berpulau-pulau dengan tipologi klimatik, edafik dan lanskap seperti di NTT memang Cuma NTT. Saya teringat pengalaman ketika menjalani ujian Disertasi di depan Dewan Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Jogjakarta. Seorang Guru saya, Profesor dalam Bidang Ilmu Kehutanan membisikan kepada saya: dik, saya itu belum pernah lho melihat savana dan ketika gambar penelitianmu tadi ditayangkan saya segera menjadi jatuh cinta karena dahsyatnya. Ada banyak kekayan di savana NTT seperti komodo, rusa Timor, cendana, lontar, gewang, kayu merah, tanaman obat, rumput kakirik mahappu dan Sorghum timorensis dan banyak lagi. Bukan main, dan memang bukan main-main rasa hati kami dan kawan-kawan dari Undana mendengar kesimpulan intelektual seperti itu walaupun diiringi dengan tantangan bagi kami yang ada di NTT. Bagaimana mengembangkan semua itu sehingga bukan hanya sebatas potensi sumberdaya alam tetapi dapat diubah menjadi kesejahteraan masyarakat NTT seluruhnya. NTT yang kuat adalah Indonesia yang mantap. Merdeka. Puji Tuhan.

Sekitar pukul setengah 10, pertemuan usai sudah. Kami lalu berpisah dengan beberapa janji dan agenda ke depan. Saya lalu dipanggil oleh DR. Fred Benu, ketua Lembaga Penelitian Undana, untuk meminta kesediaan saya mewakili beliau, yang sebelumnya sudah mendapat disposisi dari Rektor Undana agar mewakili institusi kami menghadiri pertemuan di kantor Setda NTT. Pertemuan itu adalah untuk membahas evaluasi pelaksanaan program Gerhan tahun-tahun yang lewat dan rencana kerja program keja Gerhan tahun 2007. Setelah mendengar permintaan Dr Fred maka saya menyatakan kesediaan dan berangkatlah saya. Lalu, sampailah saya di tempat pertemuan dimaksud. Kemudian, dengan takzim dan masih diliputi rasa berbunga-bunga pascapertemuan dengan sahabat-sahabat dari LIPI, saya mengikuti pembicaraan dalam pertemuan dimaksud. Normal saja. Seperti biasa. Evaluasi diberikan dan rencana kerja ke depan dibahas. Dan, sampailah saat yang sangat mendongkolkan hati saya. Saya tidak tahu dan memang ketika itu bersikap tidak mau tahu mengenai suasana hati peserta rapat lainnya yang terhormat. Pokoknya, hati saya dongkol karena tersinggung. Entah yang lain. Kacau sudah kebahagiaan yang saya dapatkan sebelumnya. Saya terpekur sejenak. Lalu, saya mengucapkan dalam hati: Maha Benar Engkau Tuhanku ketika engkau mengingatkan kami bahwa hidup kami ini ibarat perjalanan melintasi padang berumput hijau dan air tenang tetapi dapat segera berganti situasi untuk berada dalam lembah kekelaman (Mazmur 23).

Gerangan apa sehingga hati saya menjadi tidak lagi tenteram Begini sidang pembaca. Salah seorang di antara beberapa bos-bos yang hadir dan berbicara dalam rapat menyatakan begini Terus terang saja, NTT ini tidak punya apa-apa di sektor kehutanan. Beruntung Departemen Kehutanan (dalam hal ini pihak pusat) menyediakan dana ratusan milyar yang berasal dari dana reboisasi yang diberikan kepada NTT (tidak persis begitu akan tetapi itulah intisarinya). Oh my God. Betulkah kami di NTT tidak punya apa-apa? Lalu, dana besar dari Pusat itu harus dimengerti sebagai apa: hadiah dari pusat-kah?. Kemurahan hati dari pusat-kah? Pak Boss tadi su batul ko? Sidang pembaca yang terhormat, seketika niat saya untuk duduk berlama-lama di ruang itu terbang melayang entah ke mana. Mula-mula karena sedih. Lalu berkembang menjadi rasa dongkol dan akhirnya berubah menjadi marah. Tetapi saya tetap diam KDH (kalongko dalam hati) saja. Dan, beruntunglah siksaan itu tidak berlangsung lama karena pimpinan rapat tak lama kemudian menutup rapat itu dengan beberapa kesimpulan. Dan pulanglah saya menenteng 1 kotak snack, 1 kotak nasi + lauk pauknya dan uang rapat. Semua yang ditenteng tersebut saya syukuri sebagai berkat saya hari itu. Tengkyu Tete Manis.

Meskipun demikian rasa tersinggung, dongkol dan marah itu masih saja ada. Betapa tidak. Pagi-pagi saya masih membanggakan NTT yang unik dan kaya dalam keunikannya tersebut. Eh, ya ampuuunnn kok ya tega amat kebahagian itu disapu oleh kata-kata bahwa: NTT tidak punya apa-apa dan semua yang diberikan dari pusat seolah-olah hadiah dan belas kasihan pusat kepada kami di NTT yang tidak punya apa-apa ini. Pak Boss tadi sonde bisa mangarti ko bahwa kekayaan hutan di NTT jangan dibayangkan tangible (bisa dihitung) macam ke hutan di Kalimantan sana. Pak Boss lupa ko bahwa memang kayu hebat-hebat seperti di Sumatera deng Irian sonde ada di sini tetapi karmana deng cendana, lontar, gewang, ampupu, kabesak putih dan kabesak hitam, rumput kume dan kakirik mahappu, aneka tumbuhan obat (pharmaceutical plants), komodo, rusa Timor, ikan di laut, paus, penyu hijau, burung bayan, burung kol ulan dan lain sebagainya yang kalo pi taro harga maka dia pung nilai tafi’i nae pi udara. Pak Boss mungkin sonde ingat bahwa biar kata NTT sonde punya apa-apa tetapi NTT punya tanah, punya air, punya pohon dan punya orang. Dan, NTT adalah bagian yang sah dari NKRI tercinta. Oleh karena itu, jangankan ratusan milyar, ratusan trilyun rupiahpun adalah sah diberikan kepada NTT karena itulah harga yang harus dibayar oleh Republik untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan congkak dengan bantuan, hadiah atau kemurahan hatimu itu. Lihatlah yang terjadi di Timor-Timur. Belajarlah dari sana. Ketika harga yang dibayarkan dianggap sebagai hadiah dan kemurahan hati semata maka yang terjadi adalah bangkitnya harga diri orang-orang yang merasa dihina karena hadiah yang diberikan.

Haru biru logika seperti itu menghantar perjalanan pulang saya dari kantor Gubernur. Dari bagian belakang kantor gubernur, saya berputar ke arah depan kantor yang sama. Sampailah saya di depan larikan kain merah putih yang diikatkan di pagar-pagar deretan kantor yang ada di sepanjang jalan El Tari itu. Tersedaklah tenggorokan saya karena menyadari adanya pemandangan yang sama dari larikan panjang kain-kain itu. Bukan warna merah putihnya. Bukan itu. Melainkan lusuhnya larikan kain tersebut. Sekali lagi, merah putih yang tergantung di sana tampak lusuh. Amat lusuh. Maka, menepilah saya di situ dan menghampiri larikan kain itu. Sambil menyentuh kain lusuh itu, sayapun tercenung. Tidak adakah kain yang lebih baik dari ini? Pragmatisme-kah? Anti-simbolisme-kah? Anti-totemistik-kah? Penghematan-kah? Kurang perduli-kah? Apa adanya-kah? Keprihatinan-kah? Atau, jangan-jangan memang benar seperti yang dikatakan orang di dalam rapat yang baru saja berlalu bahwa kita di NTT memang tidak punya apa-apa lagi. Wahai merah putih, entah berapa ribu nyawa yang meregang karena mu. Cukup-kah kain lusuh ini dipakai untuk mengenang mereka? Wahai merah putih tercinta, apakah engkau sendiri merasa cukup untuk dipajang lusuh seperti ini? Jangan-jangan memang karena kelusuhan mu ini sehingga di Maluku orang ingin menggantikan mu dengan bendera RMS. Di Papua, ada orang yang lebih bangga mengibarkan bendera bintang kejora. Orang di Aceh melucuti dan menurunkanmu ketika engkau dikibarkan untuk memperingati HUT negeri yang engkau simbolkan ini.

Tanpa terasa, sekitar 5 menit saya berada di situ dan menangislah saya di dalam hati. Hilang sudah rasa tersinggung dan marah. Lalu, berlalulah saya sambil mencoba memberikan makna kepada apa yang saya alami sepanjang pagi sampai siang itu. Senang ketika pagi, marah ketika lewat pagi dan menangis menjelang tengah hari. Nusa Tenggara Timut adalah Indonesia di letak lintangnya. Dia sama dengan Sumatera, Jawa, Kalimantan. Sulawesi, Maluku, Irian, Bali dan daerah lain di letak lintangnya masing-masing dalam wilayah Indonesia. NTT ada sebagaimana apa adanya. Lalu, kalau ingin Indonesia menjadi kuat maka semua yang berada di letak lintang ini harus bekerja sekeras mungkin. Jangan bekerja seadanya, malas, harap gampang sambil mengintip peluang untuk bertindak korupsi. Bekerja sebaik-baiknya. Bekerja sekeras-kerasnya. Bekerja sepintar-pintarnya. Bekerja sejujur-jujurnya. Bekerja setulus-tulusnya. Itulah harga yang harus dibayar agar NTT menjadi lebih maju dan sejahtera. Dengan demikian maka Indonesia akan maju dan jaya. Seumpama empat kaki sebuah kursi maka lemah salah satu kakinya akan melemahkan tumpuan kursi tersebut. Putra-putri Indonesia yang lahir, hidup dan akan mati di bumi savana ini bekerjalah kuat supaya tidak dipandang sebelah mata oleh siapapun juga. Duduklah sama rendah dan berdirilah sama tinggi dengan saudara-saudara Indonesiamu yang berasal dari letak lintang lain. Tegakkan harga dirimu, bukan dengan tersinggung dan marah. Tak berguna itu. Tunjukkanlah prestasi terbaikmu. Dari sanalah penghargaan itu akan datang. Kain kita boleh lusuh tetapi harga diri kita mengkilat. Prestasi kita menjulang. Gampang? Tidak. Tetapi jika kita sungguh bekerja maka Tuhan akan berbelas kasih kepada kita.

Sesampainya di rumah, saya menghampir laptop dan menulis artikel ini. Di luar dugaan, anak saya yang sulung menghidupkan lagu dari mesin pemutar musik. Samar-samar terdengarlah sebuah. Lagu itu adalah lagu Bendera gubahan Eros (gitaris Sheila on 7) yang dinyanyikan oleh kelompok Band Coklat dengan vokalisnya Kikan yang memiliki suara khas. Lirik lagu yang terdengar berulang-ulang dan mengiringi artikel ini berbunyi demikian:

Merah Putih teruslah kau berkibar

di tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Merah Putih teruslah kau berkibar

Aku akan selalu menjagamu

Sambil terus mengetik, diam-diam saya ikut berdendang di dalam hati lagu itu menurut versi saya sendiri:

Merah Putih teruslah kau berkibar

di pagar jalan El Tari meskipun engkau lusuh

Merah putih teruslah kau berkibar

Aku akan selalu menjagamu
Selamat HUT Indonesia. Merdeka. Tuhan Memberkati.

BERSAMBUNG…..

Komentar
  1. Sherly mengatakan:

    Memang tulisan ini pernah beta baca di Timex tahun lalu. Komentar beta adalah, jangan mau menjadi “anjing aer” bagi pemerintah pusat. Orang pusat sangat terbiasa menganggap enteng kita orang daerah. Padahal merekalah itu raja korupsinya. Sudah punya SPPD tetapi kita yang harus nenanggung biaya tiket PP. Biaya hotel dan transportasi lokal. Belum uang saku. Uang hadiah. Kain selimut. Madu dan lain-lain yang kadang-kadang diminta tanpa malu. Tapi kitong orang daerah juga suka tasibuk cari muka dan lobi-lobi dapat proyek. Maka, bigmike benar: kalau mau dihargai orang maka hargai dahulu diri sendiri. Tuhan memberkati bigmike (Sherly,Oebufu)

  2. Sherly mengatakan:

    Oh iya, beta baru baca ini blog tapi langsung “jatuh cinta” sama isi dan gaya menulisnya bigmike. Tulis terus eee kawan(Sherly, Oebufu)

  3. Eman mengatakan:

    Bigmike, saya setuju dengan anda. NTT jangan menjadi penjilan ke pusat. Pusat bukan “tuan besar” kita. Bravo NTT (Eman, Oebufu)

  4. mike mengatakan:

    Indonesia tidak akan maju selama daerah-daerah dibiarkan miskin

  5. Anonim mengatakan:

    Indonesia mau bangkit? Ganti sistem. Jangan pakai sistim demokrasi sekuler dan kafir itu. Ada sistem yang dibawa Nabi. Jika dipakai, Indonesia akan selamat. Jika tidak,akan KIAMAT

  6. Lexicon73 mengatakan:

    Pemberi komentar di atas merupakan contoh PENGHANCUR Indoensia yang Bhineka Tunggal Ika ini. Sadarlah kawan. Please dong ahhhh….

  7. Lexicon73 mengatakan:

    Sori. Maksud gw: Indonesia. MERDEKA Bang Mike.

  8. Anonim mengatakan:

    Apa Indonesia bisa bangkit? Ya Bisa dong. BERSAMA KITA BISA. HIDUP SBY-JK

  9. Anonim mengatakan:

    Hayo, mana lanjutannya?

  10. Anonim mengatakan:

    Thanx, sudah ada postingan lanjutannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s