Kasih Itu Kuat. Kuat Belum Tentu Kasih. Lemah Lembut Merupakan Gambaran Kasih. Kasih Tidak Berarti Lemah Lunglai. Kasih Kok Repot? (Part II)

Posted: Mei 16, 2008 in renungan Kristiani

Yesus berkata, ”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39).

Inilah kata-kata yang sangat terkenal yang dikatakan oleh Yesus kepada pengikut-pengikut-Nya. Inilah pula frasa kata yang kerap disalah-artikan oleh pembaca Alkitab. Friedrich Nietzsche (1844-1900), seoarang filsuf raksasa asal Jerman, yang berayahkan seorang Pendeta Gereja Lutheran, mengecam tradisi Kristiani yang menurutnya adalah tradisi kaum penakut. Para pecundang. Sebuah tradisi yang dibangun dari Iman yang lemah karena didasarkan pada kepercayaan terhadap adanya kehidupan setelah mati. Oleh karena itu, bersifat anti terhadap kehidupan. Pesimis terhadap kehidupan sambil bertamengkan Kasih. Lihatlah, betapa bodoh, konyol dan penakutnya manusia yang diajarkan untuk menyerahkan pipi kiri dan kanannya kepada musuhnya untuk ditampar tanpa melawan. Diam saja menunggu nasib untuk mati. Nietzsche mengatakan bahwa sikap lemaH seperti itu adalah sikap bunuh diri (suicidal). Mula-mula menghancurkan diri sendiri. Akhirnya, meluluh-lantakkan seluruh peradaban dunia.

Oleh karena itu, Nietzsche memprovokasi masyarakat di Barat, ketika itu, dengan filsafat: Tuhan Sudah Mati (Gott ist Tot = God is Dead). Ungkapan ini pertama kali muncul dalam bukunya Die fohhliche Wissenschaft dan juga dimunculkan kembali dalam buka lainnya, Also Sprach Zarathrustra. Gagasan ini disampaikan melalui narasi tokoh rekaan dalam bukunya, yaitu The Madman.


Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri…. Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu (pembunuhan Tuhan)?

Tagal gagasanya ini maka Nietzsche dijuluki sebagai sang pembunuh Tuhan. Nietzsche, yang menyebut dirinya sendiri sebagai bukan manusia tetapi dinamit, mengajarkan bahwa dunia yang punya banyak problem ini tidak memerlukan orang lemah tetapi Uebermensch atau Super-human. Orang-orang perkasa ini diperlukan untuk menghadapi hantaman badai dunia. Bahkan,
bila perlu, membunuh Tuhan yang amat perkasa itu. Manusia super ini sudah pasti bukan golongan sontoloyo yang nrimo meskipun dikuyo-kuyo. Mereka adalah antitesis dari manusia lemah yang diam saja meski ditindas dan malah minta untuk ditampar lagi pipi kirinya setelah pipi kanannya ditabok dan diludahi. Tragis. Masih ingat kelakuan sebagian terbesar masayrakkat Indonesia di Zaman Orde Baru-nya Bang Harto? Mereka diam dan tiarap saja tatkala di tindas. Tetapi, lihatlah …amboooiiii….mamma miaaaa……ketika Mas Harto jatuh, atau dijatuhkan, mereka yang tiarap tadi , bangkit dengan tegak lalu membalas dendam. Dendam dibayar lunas sekalian dengan bunga plus bonusnya. Kejam dan bengis.


Budaya seperti itulah yang amat dibenci Nietzsche. Mau jadi apa dunia ini kalau dunia dipenuhi orang-orang dengan mental pecundang itu? Bayangkan, bila di tengah persaingan usaha yang tajam tiba-tiba seorang pengusaha datang dan berkata: ah, saya mengalah saja. Ambilah proyek itu untuk anda? Atau, di tengah kancah pertempuran yang dahsyat tiba-tiba, tanpa ada hujan dan angin, seorang panglima pasukan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan berkata: ambil saja wilayah kami. Kami mau pergi. Ah, kacau. Lebih kacau lagi, jika di tengah kemelut tekanan kejahatan, orang percaya berujar: ah, biar saja kejahatan berpesta pora. Mari kita masuk ke dalam kamar, berdoa dan bernyanyi saja. Kejahatan tidak usah dilawan. Bukankah hal ini cocok dengan prinsip Kasih? Bukankah ini sesuai dengan kata Yesus soal tampar-tamparan? Jika Nietshe geram dengan kelemahan, dan mungkin kita juga tidak setuju dengan sikap manda atau nrimo atau ia bae, maka apa alternatif kita? Mungkin kita terpaksa bergabung dengan Nietzsche. Lawan setiap tekanan dengan intensitas yang sama, dan bila perlu lebih dahsyat. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kekuatan dikedepankan. Bahwa kekerasan bisa menjadi efek dari pameran kekuatan, pusing amat. Itukan cuma soal konsekuensi. Si vis pacem parra belum. Barang siapa mau memiliki damai bersiaplah untuk berperang. Cocok? Belum tentu.


Charles Darwin, ilmuwan yang teorinya amat sangat kontroversial sampai hari ini, mengemukakan dalam buku The Origin of Species bahwa: berdasarkan hasil pengamatan empiris maka harus dikatakan bahwa ciri kehidupan yang terpenting adalah persaingan. Untuk bisa survive atau bertahan hidup, semua makhluk mesti berjuang. Dan siapa yang berhasil survive? Kata Darwin, yang survive adalah makhluk yang paling pas. Paling cocok. Paling paling fit dengan kondisi lingkungannya. Survival of the fittest. Bukan survival of the strongest. Yang bertahan hidup adalah yang paling bisa menyesuakan diri supaya cocok dengan lingkungan. Bukan yang paling kuat. Bumi pada masa jurassic dipenuhi oleh jenis-jenis yang paling kuat dan besar. Tapi hal itu tidak selamanya karena digantikan oleh zaman, di mana kuat dan besar justru merupakan kelemahan. Ketika atmosfir dipenuhi debu akibat bumi dihantam meteorit sehingga suhu bumi menjadi dingin berakhirlah masa kejayaan makhluk-makhluk raksasa dan perkasa, sejenis dinosaurus, brontosaurus, mastodon, dan sebagainya. Sebaliknya, justru makhluk-makhluk kecil dan lebih lemah sebangsa kura-kura, buaya, dan biawak — dan sudah barang tentu, manusia, yang lebih fit – lebih mampu bertahan karena lebih mampu menyesuaikan diri. Pertanyaannya adalah makhluk macam apa yang paling fit, atau paling memenuhi syarat untuk mampu bertahan. Bervariasi sesuai hukum Ekologi. Dalam teladan Hukum Toleransi Shelford, orang bule lebih tahan di iklim dingin. Sedang orang keling lebih nyaman di daerah panas. Tanaman teh tumbuh subur di Puncak, di daerah pegunungan Tapi jangan harap bisa bertahan di Kupang, di daerah pantai. Jadi, daya hidup jenis sangat ditentukan kemampuannya untuk bertoleransi dan beradaptasi. Yang dibutuhkan adalah kelincahan dan kecerdikan.

Mengapa mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang paling mampu bertoleransi dan berdapatasi? Dalam ilmu Ekologi, daya toleransi menuju adaptasi dari suatu spesies dibangun melalui 3 sistem respons organisme, yaitu penghindaran (avoidance), merubah bentuk (ameliorasi) dan adaptasi (sama sekali menjadi amat mirip dengan lingkungan). Species seperti ini disebut sebagai species cerdik (percetive species). Ketika terjadi masalah maka jangan dihadapi tetapi hindari. Ketika ada masalah maka rubahlah sedikit anatomi anda supaya cocok dengan situasi. Ketika di dalam masalah maka hilangkan jati diri anda sama sekali biar tidak kelihatan berbeda. Kemungkinan besar Simon Petrus yang menyangkal Yesus sedang mempraktekan mekanisme respons penghindaran. Hal yang sangat manusiawi dan kodrati karena apapun juga, Simon Petrus adalah spesies jua. Dan harus kita akui bahwa dia sungguh cerdik. Lalu, apakah model Iman Kasih seperti ini paling ideal?

Pada titik ini, perkatan Yesus yang lain, yaitu yang meminta kita untuk tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular bisa dijadikan landasan justifikasi. Cilakanya, menurut Almarhum Pdt. DR. Ekadarmaputera, iman model begini, yaitu iman yang cerdik dan sibuk mencari jalan penyesuaian diri, sering termanifestasi menjadi Iman yang oportunis. Meminjam logika (almarhum) DR. Ekadarmaputera, saya harus memberikan ilustrasi bahwa iman oportunis adalah iman yang begitu cerdiknya beradaptasi sehingga ketika anda berada di kandang kambing anda akan mengembik lalu di kandang sapi anda melenguh. Usaha adaptasi ini berjalan begitu rupa sehingga pada akhirnya orang tidak bisa lagi membedakan apakah anda itu tergolong orang atau seekor kambing atau seekor sapi atau….mungkin monyet. Huueeebaaaatttt euuuyyyy.…..

Ah, saya agak demam dan badan menjadi berasa capek. Dan hal ini manusiawi lho. Lagian, supaya artikel tidak terlalu panjang dan anda menjadi dongkol membacanya maka saya hentikan dulu di sini. Saya mohon permisi. Besok saya sambung lagi….maka …Tabik Tuan Tabik Puan ……..(Bersambung)

Komentar
  1. Anonymous mengatakan:

    Menyikapi uraian panjang lebar Bigmike, saya punya kesimpulan bahwa substansi perintah KASIH itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengabaikan kemampuan manusia membela diri dalam segala bentuknya. Tetapi justru melindungi kita dari potensi bertindak jahat dg kedok membela diri. Ide Yesus utk tdk mengotori tangan dg tindak kekerasan, sungguh unik dan hingga saat ini tidak ada ideologi yang menyamainya.

    Semua ideologi besar dunia bertumbuh dan mempertahankan diri melalui berbagai bentuk tindak kekerasan, termasuk berkedok membela diri. Ideologi Sidharta Gautama yang dikenal welas asih, toh membenarkan kungfu untuk “membela diri”.

    Mengapa Yesus sangat konsern dengan pendekatan anti kekerasan? Krn supaya konsisten dg klaimnya menghadirkan “kerajaan Allah” di bumi. Hanya dengan KASIH (anti kekerasan fisik maupun psikis dlm aras merusak), org kristen boleh berharap dapat menghadirkan kerajaan Allah di bumi. Memang, melalui Paulus, Yesus kemudian melakukan “enrichment” bhw kekerasan yg harus dihindari adalah kekerasan dlm arti negatif, bukan kekerasan dalam arti pengajaran bg pertumbuhan iman (bnd Ibrani 12).

    Lalu, apa solusi bagi masalah yg timbul sbgmn dipersoalkan oleh @-nk-? Yesus bilang, “pembalasan adalah hak Tuhan” (bnd Luk 21:21-22 dan Ibr 10:30). Tapi kita bisa mjd naif jk memahami “pembalasan” dlm satu2nya arti, “Tuhan turun tangan langsung”.

    Semoga bermanfaat. (Wilmana)

  2. Anonymous mengatakan:

    Wow, esay yang hebat. Qt nunggu part III nya. Tp gw mulai bisa nangkep bahwa kasih tidak harus disamakan dengan kelemahan. Tidak juga harus identik dengan kekuatan. Tidak juga bersifat oportunis. Ah, mudah-mudahan bagian penutupnya bisa buat bekal ke Gereja hari minggu. (Erick)
    NB. Thanx udah memenuhi saran saya memposting diskusi hangat kami. Syalom.

  3. Anonymous mengatakan:

    Bravo Pak Mike. Sekali lagi saya bingung, pk Mike in Doktor Kehutana atau Doktor Teologia. Terima kasih pula kawan-kawan yg aktif berdiskusi. Sekali lagi saya memiliki bahan untuk membuat renungan. Kasih memang tidak segampang yang diucapkan. Tidak pula seenteng slogan Kota Kupang kita sebagai kota KASIH tetapi baik pemimpin maupun masyarakatnya gombal. Cepat selesaikan pak MIke, supaya seperti kata Erick, kita punya bekal di hari minggu (Yes, BTN)

  4. Anonymous mengatakan:

    @Wilmana

    Heh…heh… akhirnya ‘muncul’ juga. Trims. Perkenankan saya melanjutkan diskusi kami pada posting yang baru ini.

    Membaca komentar Wilmana, terus terang saya agak kagetan karena Wilmana hanya mengulang-ngulang poin lama. Hal pertanyaan saya, bagaimana Yesus membela diriNya, sdr tidak menjawab. “Itu urusan Dia.” Artinya apa? Artinya Wilmana memang tidak tahu bagaimana Yesus membela diriNya.

    Saya agak resah dengan komentar Wilmana ini dan mencoba menduga-duga apa yang sedang terjadi. Lagi-lagi, sama seperti Bigmike, saya ingin mengutip ujaran kata Almarhum Pdt. Eka Darmaputera (ED) bahwa menghadapi persoalan sosial kekinian yang semakin kompleks, kita, umat Kristiani di Indonesia, masih mengandalkan teologi lama yang mandek. Tidak berkembang. Tidak beranjak. Tidak bergerak. Intinya, menurut ED, kita mengalami “krisis teologi” karena umumnya sekedar mengulang dan mengutip dari zaman ke zaman.

    Tentang pengalaman ibunda Wilmana yang sakit keras lalu secara ajaib sembuh saya amini sebagai ‘campur tangan’ Tuhan tetapi saya sedang tidak berbicara ttg kesembuhan seperti itu. Saya sedang berbicara tentang ‘kesembuhan’ iman yang saya katakan sontoloyo daripada umat Kristiani yang tidak lagi memenuhi panggilan sosialnya untuk ‘katakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.’ Amar maruf nahi mungkar. Kondisi sakit ini, tidak berlebihan, sudah sangat kritis sama seperti yang dikatakan ED dalam buku “Perspektif dan Peran Umat Kristiani Mewujudkan Indonesia Baru – Visi, Strategi dan Program Aksi Menyukseskan Reformasi” (2007).

    Mengalami kondisi kritis seperti ini, saya kemudian mencoba mengertinya sungguh-sungguh. Menghadapi ‘badai topan dunia’ kami di Indonesi hanya bisa pasrah dan membiarkan Tuhan dengan caranya yang ajaib menolong diriNya sendiri. Mungkin itu saja yang bisa dilakukan. Tidak bisa yang lain. Saya mengerti. Walau begitu, bukan berarti saya setuju.

    Dengan kondisi yang jauh lebih ‘sehat’ kami di Amerika lebih bisa ‘berteologia’ menghadapi persoalan sosial kekinian. Saya mengambil contoh di tahun 2005 ketika retailer raksasa spt Wal-Mart, Target & K-Mart tidak mau lagi mengucapkan “Merry Christmas” kepada pelanggannya tetapi diganti menjadi “Happy Holiday.” Menyikapi ini, tokoh-tokoh Kristiani baik yang bekerja di media cetak, televisi serta radio mengajak masyarakat luas untuk katakan ini salah dan memboikot retailer raksasa tsb. ‘Perlawanan’ ini berhasil karena ditahun berikutnya (2006) retailer raksasa tsb mengubah policy-nya dan kembali mengucapkan “Selamat Hari Natal.” Masih banyak contoh lain tetapi nanti terlalu panjang.

    Agaknya kita memang harus sungguh-sungguh mendoakan kondisi kita yang sedang ‘sakit keras’ ini. Kiranya campur tangan yesus yang ajaib menyembuhkan kita agar kita, kedepan, mau berbenah diri. Mengapa? Karena tantangan kedepan bukan semakin ringan tetapi ruwet. Teologia yang sekedar mengulang dan mengutip agaknya sudah usang dan terbukti hanya bisa pasrah ketika topan badai datang menerjang. Lalu Pesan untuk ‘cerdik ular tetapi tulus seperti merpati’ bagi kita semua menjadi sia-sia diucapkan Yesus.

    @Eric

    Saya bersyukur sdr sudah mulai bisa mengerti bahwa kasih itu tidak lemah. Kasih itu tidak identik dengan kekuatan? Mungkin sdr keliru. Ia adalah kekuatan tetapi bukan kekerasan spt yg dikatakan Wilmana.

    Salam kasih.

    -nyong kupang-

  5. Anonymous mengatakan:

    @Bigmike

    …cut…

    Cilakanya, menurut Almarhum Pdt. DR. Ekadarmaputera, iman model begini sering termanifestasi menjadi Iman yang oportunis.

    …cut…

    Aaahh benar sekali, kami memang sering menjadi oportunis. Mengapa? Karena resiko pemenuhan panggilan sosial kami untuk mengentaskan kemiskinan, kebodohan, penindasan dll terlalu berat. Sama spt Simon Petrus yang harus menyangkal Tuhannya demi selamat. Manusiawi & kodrati? Jelas! Dus, jelas pulalah kita menjadi ‘oportunis’ untuk menyelamatkan diri sendiri dan tidak mau lagi menjadi mitra kerja Yesus di bumi ini untuk menegakan kejujuran, keadilan dll. Untuk tidak menjadi oportunis tetapi kuat dalam pemenuhan panggilan kita, kita memerlukan kasih yg lemah lembut bukan yg lemah.” (Lihat komentar pertama saya!)

    Kita sebagai mitra kerja Allah dimuka bumi? Ya, ya, inilah jawaban saya atas pertanyaan saya sendiri, “bagaimana Yesus membela diriNya sendiri.” Melalui kita-kita ini yang kemudian menjadi ‘opotunis’ lari dari tanggungjawab untuk menjadi a) berkat bagi semua org (Kejadian 12:2), b) untuk mengasihi semua org, dan (Lukas 10:25-37) c) untuk mengusahan kesejahteraan bagi semua org (Yeremia 29:7).

    -nyong kupang-

  6. Anonymous mengatakan:

    Wah ternyata ada Iman yang bersifat oportunistik juga ya

  7. Anonymous mengatakan:

    Weleh, weleh, Bikmike ingkar njanji lagi ya. Kok durung ngeposting artikel penutupnya? Buat bekal misa subuh nih (Widyantox, Jogja)

  8. Anonymous mengatakan:

    ha…ha
    ternyata beta pung komentar “yang tanpa dasar kuat” tentang tampar-menampar ne bisa “berujung panjang” juga e.. sampe-sampe dibahas juga.

    beta masih berpikir bahwa kasih itu merupakan pekerjaan yang merepotkan. betul-betul merepotkan. kasih ada banyak versi, kasih itu juga perlu pemahaman yang mendalam untuk bisa mengartikan kasih itu sendiri (seperti posting bigmike sebelumnya) dan yang paling betul-betul merepotkan kasih itu lebih mudah beta omong daripada beta buat.

    tapi betul juga e kalo mau jadi orang kristen tuh sonde pernah gampang e. banyak “salib” yang harus kitong pikul. salah satunya ini melakukan kasih di dunia. maaf beta sonde terlalu rajin buka dan baca alkitab (pengakuan terjujur neh) tapi ada ko 1 bagian dari alkitab (ayat) yang bilang hidup sebagai orang kristen di dunia ne gampang. kalo setau beta sih sonde ada na.

    syaloom.

    (nrk)

  9. Anonymous mengatakan:

    @ -nk-

    Ketemu lagi di edisi berikut. (Wilmana)

  10. Anonim mengatakan:

    Kasih adalah kekuatan jika dikerjakan dengan tuntunan Tuhan. Jika tidak, dan hanya mengandalkan kekuatan mahsia maka Kasih adalah selemah-lemahnya kelemahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s