Seandainya Sang Pencipta Menanyakan Bumi Ciptaan-Nya yang Kita Diami (Jelang Earth Day, April 22 2008)

Posted: April 19, 2008 in Artikel




Berapa usia bumi? Tidak ada yang tahu pasti. Bagi kaum fisikawan materialis, bumi dan sebenarnya seluruh semesta ini (universe), tidaklah memiliki awal. Dan oleh karena itu, tidak akan pula memiliki akhir. Kata Sir Fred Hoyle: alam semesta berukuran tak terhingga dan kekal selama-lamanya (teori steady state). Jadi, menurut kelompok ini: jangan tanyakan berapa umur bumi. Ngga’ urusan gua.

Di lain pihak, berdiri kelompok yang percaya bahwa bumi memiliki umur nol (0). Alam semesta diciptakan dari ketiadaan (big bang theory). Di titik ini, berdasarkan nalar teori big bang, kalangan agamawan dan ilmuwan (dua kelompok ini lebih sering terlibat “tawuran” ketimbang bersetuju) ) bersepakat bahwa bumi diciptakan. Sudah barang tentu, tercipta pula seluruh semesta. Karena semesta, termasuk bumi, memiliki awal maka dapatlah dihitung umur si kang mas bumi ini. Nih dia, antara 10 – 15 milyar years oldaalllaaaammmaaaaakkkk….tuir bhuuaaanggggeetsssss.….

Santo Agustinus: …kita harus ingat bahwa siapa yang membuat segala sesuatu terjadi atau siapa yang membangun mekanisme sehingga semuanya bisa terjadi. Pastilah Tuhan….

Harun Yahya: …begitulah, materi dan waktu diciptakan oleh sang Pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, Dialah Penguasa langit dan bumi….

Stephen W. Hawking:…orang masih dapat percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta pada saat terjadi dentuman besar (big bang theory). Tuhan bahkan dapat menciptakan dunia pada suatu waktu jauh setelah dentuman besar ……

Saya tidak ingin memperpanjang story tentang bagaimana bumi dibuat, dan seterus-nya, and so on and so on, etc., dlsb., blaa blaa blaaa ciluuuuuk blaaaaaa…..no. Bukan itu point pembicaraan saya. Saya menulis frase di atas hanya untuk mengingatkan bahwa bumi yang kita diami ini memiliki sejarah penciptaan. Dan oleh karena itu, dia pasti memiliki Pencipta. Jadi, sesungguhnya Sang Pencipta inilah yang empunya bumi. Bukan milik mama’ moyang gue. Juga bukan titipan anak cucu ente as well). Kita orang extrimis heechh….eh sorry….kita orang cuma indekos. Sekadar menumpang.

Sekarang coba bayangkan, bagaimana jikalau sang Pencipta itu datang hari ini dan menanyakan kepada setiap kita tentang keadaan bumi milik-Nya yang kita diami. Mungkin banyak di antara kita terpaksa jujur mengatakan kira-kira begini: bahwa bumi ini sudah kami kapling-kapling berdasarkan ikatatan-ikatan etnik atau alasan-alasan tertentu lalu dilegalkan dan disebut sebagai negara, kerajaan, propinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, desa, RT/RW dan seterusnya seenak udhele dhewek. Maka, Indonesia dan Malaysia berantem soal Ambalat. Lalu, karena kami kadang suka saling tidak suka maka kami kerap kali saling melakukan perseteruan, yang dalam bahasa bumi, disebut sebagai perang, tawuran, keroyokan, geng motorz dst…..dst….. sambil merusak lingkungan seperti di Hiroshima-Nagasaki, Jepang. Lalu, demi pembangunan ekonomi maka pohon-pohon, semak-semak, rumput-rumput, burung-burung, ular-ular, cacing-cacing dan kodok-katak sudah kami eksploitasi habis-habisan. Kami tebang habis. Kami jual habis. Kami bakar habis. Demi pembangunan pula (sesuai petunjuk bapak Presiden: Hidup Pembangunan), kami membakar habis semua bahan bakar fosil dan asapnya kami kirim ke langit. Lalu, kami ciptakan istilah yang bagus untuk dampak dari kejahatan ini, yaitu efek rumah kaca (green house effect)…woowww keereeennn….

Dahulu, karena masih banyak pohon-nya, udara kami segar dan nikmat. Hujan-nya lancar. Matahari-nya bagus untuk fotosintesis. Sungainya bersih dan teratur. Sekarang, karena sudah pada gundul itu hutan-hutan maka udara menjadi lebih panas, kalo dateng hujan maka pada banjir semua tempat. Jakarta sih kagak useh (atau kagak usep bararudak ti bandung) dihitung. Selalu kelelep tiap musim hujan. Kalo pas musim kemarau, sungai-sungai pada kering. Orang di Timor yang jarang ngeliat hujan itu skarang tiap tahun selalu kena bencana kelaparan karena jagungnya enggak mau tumbuh lantara kurang air (teeerrllllaaallllluuu kata Rhoma Irama). Burung-burung pada enggak kelihatan karena udah ditembakin satu-satu atau dijepret pake katapel atau memang pohon tempatnya hinggap dan berkicau sudah dijual.

Syair lagu burung kakatua kontemporer jadi begini nih:

burung kakak tua sekarang tinggal dua, bumi sudah tua pohon-nya tinggal dua….

Sekarang kota Bandung kalau hujan yang turun bukan air tetapi es (es batu zonder pake sirup). Masih mending Bandung, di tempat lain badai tornado makin sering whhussszzzz….wwwhhusssszzzz…. permukaan laut semakin meningkat karena es di kutub pada meleleh. Tagal perkara yang satu ini, diperkirakan pada tahun 2040 ada 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Nah, lu.

Saya membayangkan, cuma membayangkan lho, bahwa setelah mendengar penuturan orang-orang bumi ini, sang Pencipta sambil mendengus dongkol, mata berkilat-kilat menahan marah, tangan mengepal karena geram lalu menggeleng-geleng kepala menggigit bibir kesal membatin: ini orang dunia pada enggak tahu diri ya. Sudah mengaku-ngaku tanah sebagai miliknya, hutan, pohon dan lingkungan yang Gua bikin malah dirusak, sungai yang ada dibiarkan rusak dan ditaburi sampah betumpuk-tumpuk…eh sudah begitu mereka malah sonta-santai mikir pilkada, pilpres, dan pileg, Anggota DPR di negara yang bernama Indonesia malah menerima suap guna menghabiskan hutan. Cowboy Bush ngirim tentara nembak-nembak sok jago. Bule Belonda bikin film Fitna lalu mereka orang dunia ribut sendiri….dan….hhmmmm…….Mereka bukannya bersyukur atas alam yang Aku ciptakan malah sebaliknya mereka menganiayanya. Mereka mendhzolimi-nya. Gue jadi’in kambing baru nyaho….Akan tetapi, Karena Sang Pencipta itu Maha Baik dan Maha Sabar maka Dia diam-diam meneteskan air mata kesedihan melihat betapa celakanya kelakuan makhluk ciptaan-Nya yang, katanya, paling mulia itu (dapatkah anda membayangkan betapa marahnya sang Pencipta?).

Beruntunglah, masih ada orang setipe senator Gaylord Nelson di USA yang memprakarsai peringatan Hari Bumi (earth day) pertama yang dirayakan pada tanggal 22 April 1970. Selama bertahun-tahun tuan Gaylord ‘bergerilya’ dari kampus ke kampus, dari komunitas ke komunitas, mengkampanyekan tentang kesadaran lingkungan, dan bagaimana bersusaha merubah pandangan pemerintah Amerika Serikat yang saat itu ‘menomorduakan’ isu-isu lingkungan. Padahal di seluruh penjuru Amerika Serikat saat itu, tanda-tanda penurunan lingkungan telah terlihat. Sejarah kemudian mencatat aksi damai yang diikuti oleh 20 juta orang di seluruh Amerika Serikat pada tanggal 22 April 1970, berhasil menekan pemerintah USA saat itu, untuk memasukan masalah-masalah lingkungan sebagai agenda politik yang juga harus diperhatikan. Beberapa tahun sebelum Mr. Gaylord, isu kesadaran lingkungan juga sudah dilakukan oleh Rachel Carlson yang pada tahun 1962 menulis buku berjudul Silent Spring. Buku yang mempengaruhi sikap etis masyarakat Amerika terhadap lingkungan hidup.

Sekarang, di tahun 2008, setelah 38 tahun berselang, Hari Bumi tidak lagi hanya diperingati oleh masyarakat Amerika, tapi oleh masyarakat di berbagai negara di seluruh dunia sebagai sebuah komunitas global. Tercatat dari data Earthday Network, Hari Bumi tahun 2004 lalu dirayakan di 175 negara, oleh sekitar 15.000 organisasi, dan diikuti oleh lebih dari 500 juta orang! Almarhum tukang musik ex The Beatles John Lenon membayangkan dan bermimpi bahwa untuk urusan-urusan kebaikan, mudah-mudahan dia tidak sendiri. Angka partisipan dalam peringatan hari bumi di atas memberi petunjuk bahwa sekarang ini we are definietly not alone!

Lalu, apakah bumi menjadi lebih baik?

Silakan setiap pembaca yang budiman merenungkannya sendiri jawabanya. Saya will think very cook cook and very good good lantas, besok akan saya kasi tau apa pendapat saya. Karena saya masih harus menanam pohon di halaman rumah saya maka tidak bisa lain: Tabik Tuan. Tabik Puan.

Keterangan: semua gambar diperoleh melalui Google Search

Komentar
  1. Anonymous mengatakan:

    Tulisan pak Mike selalu dapat mengguncang perasaan, meresahkan jantung, memeras pikiran tetapi menyejukan hati

    (Peter)

  2. Anonymous mengatakan:

    Mamma Mia, siapakah anda Mr Bigmike? (Putut, Jkt)

  3. Anonymous mengatakan:

    Wow! Tulisan yg menarik.

    Saya pun sudah mencoba memikirkannya cook…cook… (masak-masak) tetapi ada beberapa poin yg saya kurang mengerti, misalkan relasi antara kerusakan bumi dan “cowboy Bush yang mengirim tentara nembak-nembak sok jago.” Atawa filim Fitnah yg kontraversial, bahkan urusan Pilpres, Pilkada yg dikait-kaitkan dengan persoalan bumi. Apakah Tuhan tidak tahu bahwa urusan di bumi begitu banyak, tidak hanya mengurus tanah, air dan udara? Lihat saja Kabinet SBY-JK, Departemen Lingkungan Hidup hanya salah satu daripa Departemen lainnya, yg aneh bin ajaib pun ada, misalkan Dept urusan wanita (bukan kewanitaan lho ya), pemuda dll yg katanya penting, heh…heh…

    Tapi saya setuju, urusan bumi layak mendapat perhatian yg “urgent.” Dan kami semua layak bersyukur atas jerih payah tuan Gaylord Nelson, seorang politisi Amerika. Kalau kami harus menunggu politisi Indonesia, maka saaaaaaaalamat… entah kapan baru ada Hari Bumi.

    All for now. Keep on posting “Big Mike!”

    -nk-

  4. Anonymous mengatakan:

    ini kana ko vq?

    beta sebut tuan bush karean baitua lebe tasibu urus perang tapi selalu menahan USA dari kesepakatan protokol kyoto, COP UNFCCC di bali, REDD dan UNCCD padahal USA adalah produser CO2 terbesar.
    Beta sebut Fitna karena ada pertengkaran zonder produktif padahal ancaman global warming, GHE, climate change sudah sangat signifikan…eh malah ribut soal kepercyaan yang sudah pasti tidak mungkin disatukan karena pada asarnya pola pikir orang ditentukan gen dan ada giga atau apaun jumlahnya gen DNA yg beda di dunia. tasibuk bartang yg sonde perlu malah abaikan yg penting. Kamaren di koran kompas, ada berita lucu, org jakarta pi green fest malah bikin sampah bertumpuk-tumpuk wwaalaaaahhhhh…kaco.
    oh suda eee…mau pikarja dolo

    (LMRK)

  5. Anonymous mengatakan:

    oh iya,

    pilkada, pilek, dpr itu karean bos-bos itu suka bikin SDA jadi aset ekonomi lalu urusannya PAD. DPr malah bekin UU yg membolehkan tambang di kawasan hutan lindung hutan konservasi…cilaka

    lmrk

  6. Anonymous mengatakan:

    Hello “Big Mike”

    Masih kurang pas kalau katakan tuan Bush yg menahan Kesepakatan Protokol Kyoto, COP UNFCCC di Bali, REDD dan UNCCD karena tuan Bush tidak sendirian. Konggres Amerika juga menolak Protokol Kyoto dan peraturan sejenis. Tetapi disini keunikannya! Walau penguasa Amerika menolak tetapi masyarakat Amerika spt tuan Gaylord Nelson serta pebisnis disana sudah mulai “going green.” Ini sikap masyarakat Amerika yg perlu ditiru, yaitu tidak melulu menunggu kebijakan Pemerintah untuk memulai perbaikan demi “Ibu Pertiwi.” Sikap ini sangat berbeda dengan kita. Di Jakarta saban taon banjir juga masih sonta-santai terus, bahkan rakyatnya ikut2an buang sampah sembarangan. Dusss… urusan Pilpres, Pilkada dll terasa menjadi tidak penting sebenarnya ketimbang mengurus banjir yg menyengsarakan rakyat banyak, he3.

    Intinya saya setuju sangat… amat…sekali… dengan substansi tulisan ini. GO GREEN!

    -nk-

  7. Anonymous mengatakan:

    Dunia menjadi lebih baik? Kebanding tahun 1970,suhu bumi meningkat. Es di kutub malah meleleh. Hutan semakin habis. Apa ada guna peringatan earth day? nobody knows. //Pritha??

  8. Anonymous mengatakan:

    @Pritha,

    Betul sekali, di tahun 1970an suhu bumi memang lebih dingin dibanding tahun 2000an hingga 2008 ini.

    Yang menarik untuk disimak adalah fakta bahwa ditahun 1970an, saat suhu bumi lebing dingin, berkembanglah Global Cooling Theory bahkan diperkirakan saat itu bumi akan mengalami Ice Age. Teori dan perkiraan ini terbukti omong kosong karena tren yg berkembang malah sebaliknya… suhu bumi meningkat yg lalu berkembang menjadi Global Warming.

    Yang amat sangat lebih menarik adalah “ilmuan” yg sama ditahun 1970 berteriak “global cooling” sekarang gencar berkampanye “global warming” dengan motif yg sama, yaitu mirip felem “Chicken Little” yg berlari sana-sini sambil berteriak “Langit akan runtuh… Bumi akan lenyap besok…” dsbnya.

    Agaknya kita semua perlu menarik nafas dalam-dalam sambil sedikit rileks, tidak terlalu tegang begitu, dan fokus pada sisi keilmuan teori pemanasan global ketimbang banyak mendengar retorika politik ttg pemanasan global ini. Masih banyak hal tentang pemanasan global yg belum kita tahu, bahkan ahli cuaca PBB baru-baru ini katakan bahwa suhu bumi ditahun 2008 cendrung menurun.

    Agak disayangkan memang kebanyakan retorika politik dengan sekenario “langit akan runtuh besok hari” diteriakan oleh ilmuan itu sendiri yg sebenarnya harus menjauhi arena politik. Demi perolehan suara, politisi sudah cukup membuat kita tegang dengan retorika doomsday scenarios politik mereka , dus… ilmuan tidak perlulah ikut-ikutan.

    In the mean time, walau kita tidak perlu panik, kita harus tetap waspada dan karena itu peringatan “Earth Day” menjadi penting untuk disikapi bukan malah pesimis🙂

    Salam Hari Bumi!

    -nk-

  9. Anonymous mengatakan:

    pesimis sh tidak tapi kebiaasan org kita menang di ramainya doang. Coz apa ya? eh, iya latah. Yg laen bikin earth day, kita ngikutin //pritha//

  10. Anonymous mengatakan:

    @Pritha

    Hah…hah… betul, betul, itu memang ciri khas manusia Indonesia. Latah.

    Tetapi khusus untuk usaha perbaikan bumi memang dari sisi praktis kita belum dapat berbuat banyak. Tehnologi “hijau” misalnya msh sangat mahal. Kalau pemerintah harus mengeluarkan uang untuk membeli green technology maka laparlah rakyatnya. Karena kemiskinan kita ini, kita juga menjadi “latah” menyalahkan banyak org… Amerikalah, Eropalah, Cinalah, Indialah yg merupakan poluter besar saat ini. Mereka menjadi salah karena mereka sudah jauh lebih maju dan kaya tetapi masih ogah-ogahanl khususnya Paman Sam. Jadi posisi Indonesia yg notabene “negara berkembang” (istilah political correct buat negara “terkebelakang”) menjadi “aman” untuk mengkritik org lain padahal diri sendiri belum bisa berbuat banyak.

    Tetapinya lagi… paling tidak kita latah untuk hal yg positif ketimbang latah dengan… say… pop culture amerika yg aneh-aneh, hah…hah…

    Salam kenal.

    -nk-

  11. yoai mengatakan:

    numpang gabung e bos..
    banyak hal yang menyebabkan global warming. terlalu banyak malah kalo disebut satu persatu. tapi beta coba bikin jadi simpel sa. karmana klo b sebut sumber masalah yang tarjadi di bumi yang “tercinta” (beta sebut tercinta dalam tanda kutip karna beta cuma numpang hidup di bumi tapi beta ju salah satu aktor pelaku perusak bumi. He3x) adalah PERUBAHAN??? coba kitong pikir apa yang abadi di bumi kalo bukan Tuhan dan Perubahan itu sendiri. kalo dipikir-pikir dengan adanya perubahan di bumi dengan diciptakan berbagai teknologi baru, dll hidup kita menjadi lebih baik??? contoh sa pabrik-pabrik yang menciptakan berbagai produk teknologi baru tapi disisi lain menyumbang peranan besar dalam perusakan bumi lewat asap, limbah,dll. sungguh ironis. betul ko sonde?
    sekarang pertanyaan baru muncul lai. kalo begitu kitong jang berubah sa.. Ha..ha. jujur beta belom punya jawaban untuk pertanyaan yang satu ne. paling b jawab sa “Lu mau jadi mahluk primitif ko??”. tapi selanjutnya GELAP b sonde bisa lanjut jawab lai. mungkin ini yang perlu kitong pikirkan lai.
    tapi untuk konteks lingkungan hidup menurut beta kitong harus kembali hidup yang selaras alam sama ke taon-taon dulu lai. kembali beta ajak kitong pikir lai bukankah dengan seruan GO GREEN dengan kata lain ajak kitong kembali pada saat “perubahan” belom banyak terjadi (atau yang betul perubahan belom terjadi???).
    atau diganti saja seruan GO GREEN dengan KEMBALI KE LAPTOP eehhh KEMBALI KE ALAM. Ha3x
    Salam (nrk)

  12. Anonymous mengatakan:

    @nrk

    Hah…hah… pikiran yg filosofis sekali spt saya sedang membaca “kitab suci.” Contoh: “Kembali ke Alam.” Apa maknanya??? Spt apa hidup itu ketika kembali ke alam? Pake kulit domba, berburu pake batu dan kayu, masak pake periuk tanak, tutup pabrik atawa apa? Beri kami pencerahan!!!

    Salam “Kembali ke Alam.”

    -nk

  13. Anonymous mengatakan:

    gua mau debat sama -nk- tapi lagi ikut sedih sama bigmike nih….laen kali azza…

  14. Anonymous mengatakan:

    -nk-

    ha…ha
    itulah yang beta su bilang sebelumnya. apakah kita mau kembali sama seperti perubahan belom banyak terjadi sama seperti nk bilang??? kan sonde mungkin kitong mau jadi Flintstone di jaman yang su begini modern. beta pung maksud dengan kembali ke alam tu bukan berarti kitong lakukan hal-hal yang “ekstrem” sama yang ke nk bilang tuh. kalo begitu sekarang karmana ooo??? beta sih saran sa kembali ke alam bisa kitong lakukan dengan mengurangi segala macam yang bernama BAHAN KIMIA. memang susah ju karna jaman sekarng ampir semua kan pasti berhubungan dengan bahan kimia. tapi terbukti bahan kimia tuh “bermuka dua”. di satu sisi menolong tapi di satu sisi malah turut mendorong perusakan bumi. Masih bingung??? aha… ini yang beta harapkan supaya tetap ada ruang untuk kitong diskusi di ini blogger..

    tapi kalo memang -nk- mau praktek buat yang seperti -nk- bilang tadi boleh2 sa. tpi jangan lupa kastau beta hasilnya karmana e??? Ha..ha

    beta ju mau kasi 1 PR buat sapapun… beta sebagai orang Kristiani serng baca di alkitab bahwa orng-orang pada taun itu umurnya lebih dari 100 tahun padahal kitong tau jaman itu pasti belom ada obat yang modern ke sekrang. rumah sakit??? apalai itu. ada yang tau itu kenapa e jika dibandingkan dengan kitong pung hidup jaman sekarang???

    (nrk)

  15. Anonymous mengatakan:

    @anonim

    Apakah masih ikut bersedih? Kelihatannya BigMike sudah sedikit pulih dan saran saya andapun begitu. Silahkan kalau masih ingin berdebat dengan dengan saya. Mari kita latih akal!

    @nrk

    Artinya nrk sendiri masih belum tahu apa makna dari slogan nrk sendiri ttg “kembali ke alam.” Tetapi berbesar hatilah karena nrk tidak sendirian. Banyak sekali manusia yg bermimpi ttg alam yg lebih bersih tetapi tidak tahu bagaimana caranya, malah hanya senang menyalahkan org lain.

    Saya pikir mulailah dari diri sendiri. Contohnya? Kalau nrk katakan bahan kimia merusak alam, mulailah bercocok tanam sendiri, sayuran dll, dengan tanpa pupuk urea. Berhentilah membeli bahan makanan yng nrk tahu menggunakan pupuk kimia. Ikutilah petuah filsuf besar dari India yang katakan, “Be the change you want to see in the world.” (Mahatma Gandhi). Jadi nrk tidak perlu bingung-atau pura-pura bingung- dengan slogan kembali ke alam karena ada banyak hal yg nrk bisa lakukan.

    Tentang org jaman dahulu berumur panjang… saya kita itu bukan pr karena nrk dan kita semua sudah tahu pasti jawabannya. Kalau saya, salah satu alasannya, mereka kurang stress. Tidak usah melihat terlalu jauh ke belakang, saat inipun masih ada masyarakat primitif yg hidupnya jauh dari peradaban modern tetapi berumur panjang tidak spt kami di kota.

    Nrk… hidup ini memang sebuah paradox untuk itu saya titipkan ini sebagai bahan renung buat nrk dan semua:

    The paradox of our time in history is that we have taller buildings but shorter tempers, wider freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but
    have less, we buy more, but enjoy less. We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.

    We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom.

    We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too seldom, and hate too often. We’ve learned how to make a
    living, but not a life. We’ve added years to life not life to years. We’ve been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbour. We conquered outer space but not inner space. We’ve done larger things, but not better things. We’ve cleaned up the air, but
    polluted the soul. We’ve conquered the atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We’ve learned to rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but we communicate less and less.

    -nk-

  16. Anonymous mengatakan:

    -nk-

    betul juga., banyak yang memang belum mengerti jadi kitong hanya bisa menjelaskan dengan versi yang kitong pahami. jadi slogan kembali ke alam tuh sebenarnya menrut beta bisa dijelaskan dengan berbagai macam versi. betul apa yang dikatakan oleh nk tapi kalo menururt beta penjelasan mengenai kembali ke alam yah seperti yang telah beta jelaskan. berarti penjelasan nk salah??? tidak…
    masalahnya cuma 1 yaitu kitong masing-msing punya otak yang bentuk yang sama tapi apakah pemikiran semua orang sama??? tentu saja sonde. jadi menrut beta kitong bisa saja menjelaskan dengan berbagai macam ragam selama kebenaran itu cuma satu dengan ragam jawaban yang kitong kasi kitong berharap dunia menjadi lebih baik atau beta lebih senang dengan pendekatan slogan kembali ke alam.

    (nrk)

  17. Anonymous mengatakan:

    Anda-anda mau kembali ke apa saja, boleh. Kembali ke laptop, kembali ke alam kembali ke mamak moyang juga silakan saja tetapi satu hal yg pasti kembalikan bumi ku yang hijau, terawat, tentram dan menjanjikan masa depan kehidupan yg baik. Biasanya kebanyakan omong malah mengurangi kerja. Bumi kita seperti yg diimpikan bigmike adalah bumi yang harus dikerjakan bukannya diomongkan. Ya Ngga’? –Putut, Jkt–

  18. Anonymous mengatakan:

    @Putut

    Seperti anda hanya mau enaknya saja, meminta, saya kutip, “…tetapi satu hal yg pasti kembalikan bumi ku yang hijau, terawat, tentram dan menjanjikan masa depan kehidupan yg baik.”

    Saya berasumsi keberanian anda meminta kembali bumi anda karena anda sudah melakukan sesuatu. Silahkan bagikan cerita ttg semua yang sudah anda lakukan karena mungkin kami bisa mencotohi anda🙂

    @BigMike

    Silahkan meng-‘copy-paste’ puisi tsb. Puisi itu bukan karyaku lho -maaf lupa menyebutnya. Saya masih perlu belajar untuk mampu membuat permenungan sedalam itu dan salah satu t4-ku belajar yaa di blog ini.

    Puisi itu ditulis oleh George Carlin, pasca 9/11, teruntuk istrinya tercinta yang tewas. Puisinya agak panjang tetapi sangat menyentuh. Silahkan di google untuk membacanya. Puisi itu sudah lama tersimpan dalam folder ‘renunganku’ di komputer.

    Puisi itu saya ‘cut-and-paste’ pada bagian yg relevan dengan poin yang saya ingin sampaikan dalam diskusi saya dengan nrk, bahwa sebuah paradoks ketika dunia/peradaban/teknologi sudah sangat maju tetapi alam nan hijau semakin berwana hitam. Kira-kira begitu.

    -nk-

  19. Anonymous mengatakan:

    -nk-

    Ngga’ usah keburu emosi. Liat tuh posting terkahir Bigmike. Kita udah inflasi omongan tapi sedikit berbuat. –Putut–

  20. Anonymous mengatakan:

    @Putut

    Hah…hah… *terpingkal-pingkal*

    Kalau sebelumnya anda bergaya manusia bijak, kali ini anda bergaya paranormal seakan tahu persis apa yg saya rasakan. Bisa jadi jarak anda dan saya ribuan nil. Anda bisa sadari itu? Kata anda saya keburu emosi padahal saya sedang tertawa saat menulis komentar sebelumnya.

    Hah…hah… anda perlu sedikit reliks dan refleksi sungguh-sungguh posting terakhit bigmike.

    Salam – nk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s