Sekularisme dan Saudara Sepupunya

Posted: April 14, 2008 in Politik Kebangsaan (Catatan I)

Setelah mengalami masa sangat gelap akibat absolutisme agama dalam ruang publik, maka masyarakat Eropa, sekitar 2.5 abad silam, menemukan jalan keluar dari konflik-konflik di antara mereka. Jalan tersebut dikenal sebagai sekularisme (Latin: saeculum = zaman; saecularis = duniawi), yang secara sederhana dapat diartikan sebagai cara pandang yang memisahkan kehidupan bernegara dan bergereja. Dalam perjalanan sejarah, sekularisme telah membawa dunia kepada berbagai kemajuan di berbagai bidang kehidupan seperti filsafat dan ilmu pengetahuan, teknologi dan industri serta tatanan masyarakat informasi global. Namun demikian, pemujaan terhadap rasionalitas yang inheren dalam filsofi sekuler telah menyebabkan munculnya ketegangan baru. Bagi pemuja sejati sekularisme, kehidupan rohani dan religiusitas adalah suatu absurditas yang harus dipinggirkan padahal dalam kehidupan nyata peminggiran seperti itu bertentangan dengan fakta. Ketika dunia dipenuhi dengan berbagai fakta yang tidak terjelaskan, baik karena alasan tidak masuk akal maupun melewati akal, ketika itulah dunia masih akan terus memanggil religiusitas agar terlibat dalam kehidupannya. Setiap hari. Sepanjang waktu.

Aksi menimbulkan reaksi. Dan sebagai bentuk reaksi atas semakin menguatnya fenomena sekularisme, muncullah di mana-mana gerakan anti-sekularisme. Gerakan anti sekularisme ini, cilakanya pada waktu belakangan telah menghasilkan kaum fundamentalis yang sempit dan picik yang tidak jarang menempatkan akal sehat sampai ke titik nadir. Tidak heran, jika kedua kelompok ini lalu terlibat dalam pertempuran yang aneh. Jika kelompok pro-sekularisme berpendapat bahwa harus ada pemisahan yang final antara agama dan negara sehingga tidak terjadi pemaksaan terhadap nilai-nilai religius ke dalam domain kebijakan publik maka kaum fundamentalis berpendapat bahwa religiusitas niscaya dan harus niscaya untuk masuk di dalam proses-proses politik dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan terhadap kebijakan-kebijakan publik.

Lalu, keduanya terjebak di dalam penyakit (patologi) yang sama, yaitu absolutisme pikiran sendiri dimana pikiran atau konsep dari pribadi atau kelompok partikularistik dijadikan ilah-ilah baru. Absolutisme sekularisme menghasilkan semangat intoleransi terhadap hadirnya pemikiran religius di ruang publik padahal publik umumnya masih menggunakan standard-standard moral religius dalam kehidupan sehari-harinya di ruang publik itu. Selain itu, menisbikan Tuhan dalam ruang publik memunculkan gejala menyimpang, yaitu manusia mengambil peran sebagai Tuhan lalu menghancurkan kehidupan dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya. Di lain pihak, absolutisme religius dalam ruang publik menghasilkan munculnya kaum fundamentalisme yang sempit dan picik yang memaksakan formalisasi norma religius dalam ruang publik. Absolutisme formalisasi religius dalam ruang publik ini adalah politisasi agama yang malah membuka peluang terjadinya delegitimai nilai-nilai moral yang inheren dalam agama. Alhasil, timbul pula hal yang sama dengan gerakan pro-sekularisme, yaitu adanya pribadi atau sekelompok orang yang berperan menggantikan Tuhan di ruang publik. Kelompok religius tertentu lalu bersikap intoleran terhadap kelompok lainnya. Lalu, mengambil peran Tuhan dan menampilkan wajah Tuhan yang intoleran dan kejam. Atas nama Tuhan, perbedaan berusaha ditumpas secara bengis. Pada titik ini, anehnya, hubungan di antara sekluarisme dan fundamentalisme sempit tampak seperti bersaudara sepupu. Bersaudara dalam rumpun keluarga yang bernama: absolutisme bin intoleransi.

Bagaimana kita mengayuh biduk sejarah di antara dua karang ini? Dalam prakteknya sekarang, alih-alih memilih satu di antara dua ekstrim tersebut di atas, kita malah sering bersikap layaknya kaum oportunis. Sekali waktu berseru kepada Tuhan, atau mengatasnamakan-Nya, terutama ketika kita terjatuh dalam kesulitan hidup atau berusaha mengejar tujuan-tujuan hidup tertentu. Di lain waktu, kita tidak segan-segan menggadaikan semua apa yang kita punyai termasuk iman kepercayaan kepada produk-produk sekuler demi mengejar kesempatan. Perilaku korup, manipulatif, hedonisme jika ada sempat, dan permisif jika tidak ditegur adalah beberapa contoh dari ekspresi sikap oportunis dimaksud. Mungkin inilah yang menjelaskan mengapa perilaku hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia sering tidak berkorelasi positif dengan perilaku religius kita. Sebagian kita diam-diam mengidap perliaku pribadi terbelah (split personality). Rajin mengunjungi seremonial keagamaan akan tetapi angka korupsi, kemiskinan, ketidak adilan, ketidakperdulian dan ketidak taatan terhadap hukum membumbung tinggi. Coba bayangkan, di tengah kesulitan masyarakat karena menghilangnya minyak tanah, membumbung tingginya harga sembako dan meningkatnya jumlah anak penderita busung lapar malah ada petugas adyaksa yang ditangkap karena menerima suap. Belum hilang kekagetan kita, ada lagi anggota DPR, yang berlagak bak selebritis, tertangkap tangan menerima suap. Mungkin inilah yang disebut sebagai dampak dari ketegangan di antara sekularisme dan iman religius. Alih-alih memilih satu di antara keduanya, kita malah memeluk erat-erat keduanya sekaligus dengan mesra. Tanpa malu. Tanpa merasa bersalah. Tragis.

Keterangan gambar (sumber: Google Image Search):

  1. Sekularisme yang menguasai dan meracuni dunia (atas);
  2. Saudara sepupunya sekularisme, yaitu absolutisme yang melarang segala sesuatu kecuali larangan itu sendiri (bawah).

Komentar
  1. Anonymous mengatakan:

    Memalukan dan gak punya malu

  2. Anonymous mengatakan:

    Pak Mike pilih yang mana?

  3. Anonymous mengatakan:

    Memang tragis dan memalukan. Menurut saya sih bukan cuma memalukan tetapi juga memuakkan melihat perlikau elit-elit kita itu. Tapi omong-omong, bukankah sekularisme malah membuat kemajuan untuk peradaban? Apa komen pak boss nih…

  4. Anonymous mengatakan:

    Ama Tana, nanti di Kabupaten Sabu/Raijua tidak akan ada korupsi. Jadi, stuju sudah sama Kabupaten Sabu/Raijua

    (Savunese)

  5. Anonymous mengatakan:

    ama savunese, memangnya kabupaten sabu raijua itu penting ko? (Yossie)

  6. Anonymous mengatakan:

    “Big Mike”

    Terus terang saya agak “haus” dengan tulisan bernafas sekularisme, absolutisme atawa filosofi besar lainnya di dunia ini.

    Kalau harus memilih, saya tentu memilih sekularisme karena pemisahan antara negara dan agama berdampak positif spt yang sudah disampaikan sendiri oleh “Big Mike.” Bahkan gereja2 Protestan/Katolik merupakan “suporter utama” sekularisme. Walau begitu, saya harus katakan bahwa sekularisme yg kita kenal sekarang adalah sekularisme yg kebablasan. Mengapa?

    Kebablasan sekularisme ada pada usaha kuat memisahkan “negara dari Sang Khalik.” Inilah yg saya sebut sebagai “atheistic secularism” karena dia tidak berhenti pada pemisahan negara dari agama saja tetapi negara dari Sang Pencipta.

    Perihal split personality manusia Indonesia ditengah pertarungan antara sekularisme dan anti-sekularisme sebenarnya tidak aneh. Mengapa? Karena “pergumulan” idelogi negara kita tidak pernah tuntas. Sekularisme tidak! Negara beragama juga tidak! Akhirnya kita buat identitas baru: Pancasila. Disni letak persoalan kita! Yang pasti Big Mike, sekularisme, terlepas dari kecacatannya, relatif lebih maju dan beradab ketimbang negara yg diberi agama tertentu.

    Salam sekularisme!

    -nk-

  7. Anonymous mengatakan:

    Ya, soalnya terletak pada lingkar agama-ilmu, imanen-trasendens, flesh&blood-spirit dan yg seperti-seperti itu. Nanti akan diulas sesuai mood. Shalom

  8. Anonymous mengatakan:

    Mungkin jawaban terhadap core question dari tulisan ini ada pada posting terakhir Bigmike tentang kontradiksi. Apa benar demikian? (Fikriz-Jogja)

  9. eli zacharias mengatakan:

    saya sangat setuju kalau harus ada pemisahan antara urusan negara dengan agama. karena kalau tidak demikian maka sering kali ada pemaksaan nilai-nilai pemeluk agama mayoritas ke dalam urusan negara sebagai akibtanya para pemeluk agama minoritas terpaksa ikut melaksanakan kebijakan tersebut. walaupun kebijakan itu bertentangan dengan nilai agama yang dianutnya.

  10. luiggimikerk mengatakan:

    Bung Eli, jika demikain pendapat sahabatku maka kita ada dalam satu rumah, yaitu rumah nasionlis pluralistik. Terima kasih atas komentarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: