Dear Sahabat Blogger,

Bagi kita warga Negara Republik Indonesia, setiap tanggal 1 Juni sebenarnya adalah hari yang khusus. Hari istimewa. Karena doeloe kala pada 1 Juni 1945 pada rapat BPUPKI, Bung Karno berpidato tentang dasar negara yang akan lahir, Indonesia. Dengan susunan yang tidak sama persis dengan rumusan yang ada sekarang, beliau mengusulkan hasil penggaliannya, yaitu PANCASILA. Selengkapnya, Pancasila itu adalah:

  1. Ketuhanan yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
  3. Persatuan Indonesia:
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Begitulah Pancasila. Cuma itu. Sesederhana itu rumusannya tetapi ternyata tidak sesederhana itu konsekuensinya. Ribuan nyawa telah meregang tagal urusan anti dan mempertahankan Pancasila. Ada DI/TII Kartosuwiryo, ada PKI tahun 1948 di Madiun, Ada PRRI/Permesta, dan ada pula G30S yang bukan saja membuat pertumpahan darah yang misterius di tahun 1965 dan beberapa waktu sesudahnya tetapi juga menamatkan sama sekali karir politik sang Penggali Pancasila. Terhentikah? tidak juga. Di masa reformasi ini, muncul aneka rupa gerakan yang terang-terangan menyatakan anti-pancasila. Ada gerakan yang menyerukan dasar negara khalafah seperti yang di usung oleh hizbut tahrir Indonesia, ada pula gerakan yang ikut didomplengi oleh Noordin M. Top yang orang Malaysia itu. Terakhir ini muncul pula new NII yang tak jelas juntrungannya sampai saat ini. Tantangan bagi Pancasila bukan cuma secara ideologis tetapi juga oleh penyelewengan dalam menyelenggarakan negara oleh pengurus-pengurusnya. Di mulut mengaku Pancasilasis tetapi korupsi besar-besaran seperti kasus Bank Century, Gayus Tambunan dan yang mutakhir masalah pemberian uang oleh Nazarudin dari Partai Demokrat kepada sekjen MK dilakukan. Di mulut mengaku Pancasilais tetapi di depan sidang DPR dan ditontong jutaan rakyat tega memaki …bang (sensor) … Ketika anda mencuri uang milik rakyat maka sudah pasti anda mengingkari sila ke dua, ke tiga, ke empat dan ke lima …. dan jangan lupa, kejahatan seperti itu sama saja dengan anda mengingkari pengkauan Iman anda sendiri karena Tuhan tidak pernah mengajarkan untuk mencuri. So, sila pertama pun dilanggar oleh koruptor dan para bandit.

Apapun juga, Pasca 1998, Pancasila seperti kehilangan gigi. Tidak diajarkan di kurikulum sekolahpun semua seperti diam saja. Bermnculan UU dan peraturan daerah yang bertenang dengan Pancasilapun tak ada yang perduli. Pancasila hanya digaungkan di sekitar tanggal 1 Juni. Setelah itu habislah dalam sunyi. Sunyi tetapi tidak sepi karena di balik kesunyian Pancasila, orang gaduh mencuri, merusak acara pentas seni budaya yang tidak sesuai dengan hukum agama tertentu, menusuk pendeta yang konon gedung gerejanya tidak berizin, merazia tempat hiburan malam tanpa perduli hukum positif, membunuhi polisi dengan bom dan senjata hasil rampasan, mencuri, korupsi, memaksakan kehendak di PSSI hanya karean telah medapat bayaran, mencoblos dalam pemilu hanya karena sekantung kreses sembako….masih banyak lagi daftar kegaduhan itu….. Ya, di balik kesunyian Pancasila, hingar bingarlah kejahatan di republik tercinta ini. Bagi kaum penjahat dan egoisi ini, rumusan, Pancasila mungkin diganti seperti ini:

  1. Keuangan yang maha esa;
  2. Kemanusiaan yang tak perlu adil dan, bila perlu, biadab;
  3. Persatuan suku saya, ras saya, pulau saya, partai saya;
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh ketidak hormatan dan kekurang ajaran dalam adu jumlah pendukung, demonstrasi dan pengerahan massa bayaran serta kemampuan melakukan tawuran;
  5. Keadilan sosial bagi seluruh keluarga saya, pendukung saya dan tim sukses saya.

Jika benar begitu maka, sepatutnya mereka itu kita tangisi beramai-ramai. Mengapa? Karena mereka, para bandit itu, telah kehilangan begitu banyak nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalam Pancasila. Mereka sesungguhnya telah kehilangan sebagain sisi kemanusiaanya. Franz Magnis Suseso dalam wawancaranya di televisi, menjelang pidato 2 mantan Presiden RI dan SBY sebagai Presidan RI hari ini dalam rangka peringatan pidato Bung Karno 1 Juni 1945 mengatakan bahwa di dalam Pancasila terselip begitu banyak dimensi kemanusiaan. Saya bergerak cepat dan lalu menemukan fakta bahwa paling kurang tiap Sila mengandung 1 dimensi manusia.

Dalam sila pertama terkandung dimensi manusia sebagai makhluk religius. Manusia selalu gelisah dan bertanya bahwa siapa aku yang berhubungan dengan sesama. Dari mana aku dan mereka berasal. Lalu manusia tunduk dan menyadari bahwa di luar aku dan mereka adalah sebuah misteri yang mengadakan sebagai pengada. Orang beragama mengatakan yang misteri itu adalah TUHAN.

Dalam sila kedua, dimensinya adalah bahwa manusia makhluk dinamis. Manusia aktif berhubungan dengan segala sesuatu yang eksistensial yang berbeda dengan benda lain di alam. Jika benda lain bereaksi karena hubungan sebab akibat dan karena ada keperluan maka manusia tidak memerlukan itu. Dinamika manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Dia berhubungan bukan hanya karena dia perlu tetapi kehendak bebasnya yang mendorongnya. Salah satu kehendak bebas itu adalah membangun relasi dengan sesama secara etis, yaitu sehakekat, satu derajat dan satu martabat, dimana saja manusia itu berada, siapapun dia. Manusia selalu rindu untuk mengasihi sesama.

Dalam sila ketiga terkandung dimensi filsafati yaitu manusia adalah makhuk multidimensional. Manusia adalah makhluk yang eksis dengan aneka dimensi kehidupan. Manusia adalah makhluk badani tetapi juga rohani. Dia menginginkan bukti nyata tetapi juga suka berkhayal. Semua dimensi yang anekarupa itu bersatu di dalam diri satu manusia. Maka secara sadar manusia itu adalah makhluk yang rindu akan persatuan.

Dalam sila keempat terkandung dimensi filsafat, yaitu manusia adalah makhluk yang bertanya. Manusia heran akan sekelilingnya lalu dia bertanya. Setiap bertanya dan mendapatkan jawaban maka selalu akan ada pertanyaan baru. Manusia bingung maka untuk itu dia memerlukan refleksi. Dalam refleksinya manusia berdiskusi baik dengan dirinya sendiri maupun juga dengan sesamanya. Dalam diskursus itu manusia bersepakat tentang jawaban-jawaban. Jadi, manusia sejak awal adalah makhluk yang berdiskusi, bermusyawarah dan bersepakat.

Dalam sila kelima terdapat dimensi filsafat lainnya, yaitu manusia adalah makhluk sosial yang berbudaya. Manusia dan sesama mula-mula bersepakat lalu membentuk kebudayaan. Budaya adalah proses humanisasi kesepakatan-kesepakatan yang intinya adalah apa yang kamu punya miliklah, apa yang aku punya kumiliki. Ketika aku kekurangan maka kemana lagi aku berlari jikalau bukan kepada engkaulah. Ketika engkau menderita, jangan kemana-mana tapi datanglah padaku. Hidup adalah saling memberi dan menerima. Adil bagi semua. Itulah dasar dari socius atau berteman. Teman dalam satu budaya boleh saja membikin negara. Jikalau dalam negara diperlukan pengurus-pengurus maka saya pilih kamu sebagai pengurus yang wajib menjamin ke-socius-an kita harus terus berjalan.

Dear sahabat,

Begitulah seharusnya Pancasila. Itulah sebabnya mengapa Pancasila amat sangat relevan bagi kita yang ditakdirkan untuk bersepakat hidup bersama-sama dalam keragaman di negeri indah bak Zamrud khatulistiwa ini. Negeri Nusa antara ini. Pertanyaannya adalah mengapa sekarang Pancasila terpuruk begini rupa? Ada banyak cara menjawab tapi saya memilih yang satu ini. Begini: yaitu Pancasila adalah visi kita bersama di Indonesia. Kita manusia yang memiliki visi ini adalah makhluk memiliki jiwa. Dalam konteks berbangsa, Pancasila mengenyangkan jiwa kita. Itulah jasa Bung Karno dan angkatannya. Tetapi angkatan ini lupa bahwa jiwa ada di dalam badan sedangkan badan memerlukan makanan. Memang kita adalah bangsa besar yang disegani sampai kemana-mana. Malaysia dan Singapura sampai merasa perlu meminta perlindungan Inggris karena begitu takutnya mereka pada Indonesia. Tapi sayang, apa daya, perut kita kosong. Kita lapar. Datanglah angkatan Soeharto yang rajin memberi makan bagi badan kita dan patutlah kita berterima kasih tetapi sayang urusan jiwa diabaikan. Kita hanya boleh tahu bahwa kita kenyang sedangkan jiwa kita hanya boleh seukuran yang ditentukan negara. Jiwa kita dikosongkan. Pragmatisme menjebak pada situasi perut kenyang tetapi tak lagi punya mimpi selain bagaimana menjadi kaya secepat-cepatnya. Pancasila yang adalah jiwa kita itu direduksi hanya menjadi rumus hafalan. Rusaklah jiwa kita. Di tahun 1997-1998 kita akhirnya tahu bahwa kita bukan cuma kehilangan jiwa tetapi perut kitapun kembali kosong. Di masa reformasi, demokrasi yang amat baik itu dijalankan tetapi ternyata hanya pada tataran prosedural. Esensinya hilang, yaitu kesejahteraan dan kesetaraan. Kita sering bergaduh sendiri. Jiwa seolah-olah terisi badan seolah-olah kenyang. Nyatanya tidak. Dalam keadaan demikian, segolongan orang yang menumpang pada prosedur demokrasi berusaha menyeragamkan Indonesia. Maka, pingsanlah Pancasila. Pancasila ditikam dari belakang. Pancasila dikhianati. Kitalah sekarang korbannya juga akhirnya. Sudah perut tidak kenyang-kenyang amat, jiwa kita compang camping tidak keruan.

Karena itu, kembalilah kepada jiwa bangsa yang benar karena di lima sila itu semua dimensi kita sebagai manusia disatukan. Anda boleh putih, saya biru kehijauan, dan mereka merah jingga tapi kita satu adanya. Jangan karena putih adalah atribut kebenaranmu maka kamu merasa berhak memakasakan bagi yang lainnya. Biarlah kita tetap dalam kamar yang berbeda tetapi rumah kita tetap satu jua akhirnya. Rumah Kita itu punya 5 kamar, yaitu Pancasila. Rumah kita itu akta hukumnya bernama UUD 1945. Rumah kita itu halamannya adalah Bhineka Tunggal Ika tempat semua bunga beraneka warna hidup lalu semerbak mewangi dan indah. Alamat Rumah Kita adalah Negara Kesatuan Republik INDONESIA. Meerrrdeeekkaaaaaaaaa.

Franky S. – Pancasila Rumah Kita

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

Bulan Mei di tahun 2011 sekarang ini. Tanpa terasa. Semua serba cepat…waktu berjalan begitu cepat …..war wer wir wur wer wor…chussszzzzzz….kita di sini. Saat ini. Dengan keadaan begini dan begitu. BTW, saya baik. Anda bagaimana, baik semuanya-kah? I hope so.

Terbetik berita bahwa adalah seorang sekertaris kementerian x di rekipliek terkasih ini ditahan oleh yang berwajib karena tertangkap tangan menerima suap lalu dalam proyek pembangunan gedung anu dalam rangka kegiatan anu ….was wis wus wes wos…chuuusszzzz… KPK bergerak cepat (herannya untuk persoalan Bank Century KPK lambat mirip keong..ah kasihan si keong tuh…) ……si ini diperiksa dan si itu ditahan…..lalu…karena sudah lebih dari 1 orang yang terperiksa maka bernanyilah mereka membentuk paduan suara atawa koor yang bunyinya…ehmm si bendahara partai anu terlibat, si anggota dpr nan cantik yang namanya si fulan terlibat….watatitaaahhhh…apaaaaaaa????? lho bukannya si fulan orang top merkotop yang terlihat sangat alim tuuuhh????? Bukankah si fulan sedang ini dan itu tuhuuhhh?????? Mula-mula angin gosip bergerak perlahan semilir…wwwuuusssss……tiba-tiba ….guussraakkkkkk…..patahlah pohon dihajar angin gosip yang kencang….”enggak koq, aqyu ga terlibat, demi sandalku dech, sumpah pocong geth00oooo looohhhh”…Okey lah, memang belum tentu si fulan terlibat tetapi coba dihitung baik-baik tahanan KPK. Tak ada orang kecil hina dina. Semuanya “kakap”. Ada yang cantik ada yang gahar. Semuanya “orang besar” (tidak harus berbadan besar lho ya….).

Mengapa orang-orang yang hidupnya sudah di atas angin masih harus korupsi? Kendati tetap saja adalah kejahatan akat tetapi jikalau pelaku penilep uang panas itu adalah si kromo yang idupnya pas-pasan, kemungkinan besar masih ada simpati barang 1 atau 1 dikit. Lha jikalau kalibernya sudah segolongan mister atau madame mantan menteri, mantan gubenur, mantan anggota dpr….yooo opo tumon toh mas mbak? Kata anak Kupang, “kalo orang karmencong (orang kecil jelata) mencuri dapat dimengerti, mungkin karena terpaksa coz kampung tenga (perutnya) keroncongan”. Akan tetapi kalo yang raksasa mencuri????? Diskursus dalam pikiran kita mungkin akan seperti itu atau mungkin juga tidak begitu. Paling tidak, saya berpikiran begitu. Mengapa mereka masih juga suka mencuri kendati berkecukupan. Saya tak punya ilmu khusus untuk menjawab itu tetapi pikiran saya teringat akan salah satu hukum dasar ilmu nutrisi. Hukum itu adalah “the law of diminishing return” atau “hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang”. Gerangan apa dan bagaimana hubungannya dengan yang tadi itu loh…”sumpah pocong”? Begini:

Jika tumbuhan anda memerlukan nutrisi maka dia pasti dalam keadaan “kekurangan”. Maka berikanlah nutrisi a, b atau c. Jumlah pemberian akan meningkat sesuai kebutuhan untuk terus bertumbuh. Semakin cepat pertumbuhan, kebutuhan nutrisi semakin meningkat. Tapi awaslah, pada satu titik tertentu, tumbuhan anda akan memasuki masa “sudah cukup”. Jika anda masih saja terus memberikan nutrisi maka pertumbuhan memang masih meningkat tetapi dengan kecepatan yang berkurang. Penambahan nutrisi yang anda berikan tidak lagi diutamakan untuk percepatan pertumbuhan melainkan guna mendukung kebutuhan untuk bermewah-mewahan (luxury consumption) yang dalam dunia tumbuhan berarti menambah nilai nutrisi tumbuhan. Tetapi …heeiiiitt waspadalah…tanda merah mulai menyala, jika tumbuhan telah melewati batas “kecukupan” maka fase yang tersisa adalah “keracunan”. Pemberian nutrisi akan mematikan tumbuhan. Jadi, kata bapak/ibu dosen ilmu nutrisi tanaman, hentikan penambahan nutrisi pada tahap “keracunan” tersebut. Begitulah kira-kira keterangan bebas dari hukum “the law of diminishing returns”.

Jika saya analogikan dalam kehidupan sehari-hari urusan makan memakan oleh anda dan saya maka logika hukum di atas dapat seperti ini: pada saat anda kelaparan setelah tak makan 3 hari 3 malam makanlah 1 piring nasi. Pastilah dalam waktu singkat isi piring akan tandas tuntas licin bersih. Jika masih lapar makanlah makanan yang ada pada piring ke 2 atau ke 3. Akan tetapi awaslah ketika anda memakan isi piringan ke 4 dan kecepatan makan anda makin berkurang maka itu pertanda bahwa sebenarnya kelapran anda sudah terobati. Berhentilah makan karena jika anda menambahkan isi piringan ke 5 dan seterusnya ke dalam perut anda maka anda akan saluran pencernaan anda akan “tercekik” dan lalu anda akan mati kekenyangan. Bagi sohib yang ingin mencoba rumusan di atas ya silakan saja…wkwkwkwkwk….saya tidak.

Ketika terbetik kabar seorang nenek tua terancam penjara karena mencuri 3 buah kakao, terenyuhlah hati kita. Dia mencuri karena lapar. Bahkan hakim yang memutuskan vonis bagi diapun harus bercucuran air mata ketika amengetuk palunya. Siapa yang salah? Moralitaskah? Bisa jadi begitu tetapi bukankah di rekipliek ini ada yang namanya konstitusi, yang kita kenal sebagai UUD 1945 (yang diamandemen), yang di bagian preambulenya mengatakan bahwa “negara wajib mensejahterakan masyarakatnya”? Pada titik ini kita harus mengatakan bahwa “negara harus bertanggungjawab terhadap orang-orang miskin itu karena anda dihadirkan antara lain untuk mengurus itu. Siapkan cara agar setiap warga negara bisa makan tanpa harus mencurui. Pelik? Ya iya lah tapi bukankah negara punya pengurus-pengurus yang dibayar rakyat? Anda dimana wahai pengurus negara?

Akan tetapi kita juga menjadi tahu bahwa ada sebagian kelompok masayarakat lain yang sudah tidak lagi berada dalam “zona kekurangan” karena telah berada di posisi “zona berkecukuan”. Menambah-nambah kekayaan hanyalah memberikan arti bagi naluri narsis dan berkemewahan. Penambahan kekayaan sebenarnya sudah tak memberikan arti lagi. Memang betul bahwa dalam filsafat, manusia adalah makhluk tak sampai. Tak pernah puas tetapi hukum “the law of dimisnhing returns” memberikan petunjuk bahwa ada saatnya kita harus tahu kata cukup. Enogh is enough. Melewati batas itu, racun namanya. Upaya terus saja menumpuk kepuasan melalui kekayaan dapat ditafsirkan sebagai KESERAKAHAN. Dan keserakahan tak punya makna apa-apa lagi kecuali akan menuntun kepada keracunan yang mematikan. Mematikan?

Ya tentu saja karena korupsi, yang berasal dari kata bahasa Latin corruptio – kata kerjanya adalah corrumpere – memutar balik, menyogok, merusak, menggoyahkan, dan melawan hukum. Jelaslah bahwa korupsi adalah racun yang mematikan bukan? Bagimana dengan mencuri? Mencuri (latin, furtum) atau steal (Inggris) adalah mengambil, menggondol, menyerobot, menggasak, menyambar dan melawan hukum. Mematikan? bisa saja iya tapi lihatlah perbedaannya dengan korupsi berikut ini. Corrumpere selalu berurusan dengan nomina yang besar sedangkan furtum urusannya adalah nomina yang kecil. Maka betul sudah bahwa si Nenek hanya mengambil 3 buah kakao seharga Rp. 3000-an tetapi dalam kasus Bank Century kerugian negara mencapai trilyunan rupiah. Harus dikatakan dengan tegas bahwa baik korupsi maupun mencuri memiliki kesamaan, yaitu melawan hukum. Akan tetapi cobalah ditilik dari aspek keadilannya. Katakan padaku wahai sahabat, yang mana yang lebih mematikan? Sebandingkah vonis 1 bulan penjara bagi si nenek pencuri kakao vs sumpah pocong? Lalu, perhatikanlah juga bahwa kata corrumpere selalu ditujukan kepada perlikau mereka yang memiliki kekuasaan. Lord Acton benar belaka: “power tend to corrupt”.

Tapi lihatlah nasib para koruptor pada babak akhir kehidupannya. Nyaris tak ada yang berakhir bahagia. Apa enaknya hidup enak berlimpah kemewahan di satu masa tetapi lalu harta anda habis terkuras di masa tua untuk mengurus perkara, membiayai perawatan kesehatan, membayar uang panas kepada pengurus-pengurus negara yang curang dan lain sebagainya. Pada saat-saat genting di zona keracunan, tak ada uang apapun juga yang mampu menolong anda untuk membeli kebahagiaan. Kejatuhan Marcos

di Filipina, Soeharto di Indonesia dan Mubarak di Mesir adalah contoh perkara itu. Nama mereka akan dikenang sebagai kumpulan para manusia serakah. Uang berapapun tak bisa lagi membeli nama baik. Sumpah pocong demi sandal kesayangan pun tak ada artinya

lagi. Siapa yang harus bertanggunjawab kalau sudah begini? Ada 2 pihak, yaitu moralitas pribadi dan keteguhan negara dalam menegakan hukum secara adil dan jujur. Negara jangan curang. Pencuri pisang ditangkap dan diinjak. Pencuri raksasa disayang-sayang. Jangan begitulah boss. Pesan moralnya adalah berhentilah hidup curang. Racun tuh. Preman tuh. Lho koq preman? “Mereka” memang bilang begitu. Koruptor adalah preman. Kesian eh Sekian.

Preman – Superkid

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Kristiani,

Berbahagialah kita, anda dan saya, yang merayakannya, karena Tuhan masih berkenan mempertemukan setiap kita dengan satu lagi Hari Raya Jumat Agung, Perayaan Perjamuan Kudus dan Paskah di tahun 2011. Ayanda dan Ibunda saya, misalnya, tak lagi merayakan hari-hari besar umat Kristiani ini dalam situasi yang sama dengan yang saya alami. Ayahanda “Robert SGT” dan Ibunda “Tien” mungkin merayakannya di dimensi lain dengan cara yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Penyanyi lagu-lagu balada kecintaan saya, Franky Sahilatua juga tak bisa merayakan Paskah seperti kita lagi. Dia telah berangkat meningga

Berkenan dengan perayaan Jumat Agung dan Paskah kali ini, ada yang secara sangat serius ingin saya renungkan setelah sebelumnya saya gumuli beberapa waktu belakangan ini. Nah, lalu apa yang saya gumulkan dan renungkan itu. Adalah ini:

„Ya, BapaKu, jikalu Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu: tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.“… Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik darah yang bertetesan ke tanah.“ (Luk.22:42-44)

Ayat di atas menunjukkan secara kronologis detik-detik ketika Tuhan Yesus sedang menunggu “saat-NYA” yang sudah ditentukan oleh Sang Bapa. Setelah melaksakan perjamuan kudus di kamar loteng sebuah rumah pengikut-NYA, Tuhan Yesus lalu berjalan menuju Taman Getsemani ditemani 3 orang murid-Nya. Di sana Tuhan Yesus mengambil sewaktu dua waktu untuk berdoa menggumuli sesuatu. Apa yang digumulinya? Hampir semua tafsir Alkitab mengatakan bahwa ayat-ayat itu menujukkan sisi manusiawi Yesus. Apa itu? Yesus memiliki juga rasa takut. Takut apa? Takut menghadapi maut di Kayu Salib. Benarkah begitu? Aha, nanti dulu. Jangan terburu-buru berkesimpulan. Mari kita periksa lebih saksama.

Kata “takut” pada kutipan ayat di atas kelihatannya merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Yunani “αγωνία” atau “agwnia” atau “agonia”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka kata itu akan menjadi “agony” yang memang berarti takut. Akan tetapi hasil penelusuran saya secara berhati-hati menemukan arti lain terkait kata “agoni”. Saya menemukan bahwa kata “agony” dalam bahasa Inggris ternyata berpadanan dengan lebih dari satu kata Yunani. Kata “agony” selain berpadanan dengan “αγωνία” ternyata juga berpadanan dengan kata “μαρτύριο” atau “martyrio” yang berarti penderitaan yang amat dalam. Karena itu saya tak heran jika dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ayat ke 44 dari Kitab Lukas pasal 22 berbunyi
“Yesus sangat menderita secara batin sehingga Ia makin sungguh-sungguh berdoa. Keringat-Nya seperti darah menetes ke tanah”

Perhatikan pula terjemahan dalam versi lainnya sebagai berikut:

  • Sedang ia dalam sengsara, maka ia meminta doa dengan lebih bertekun; maka peluhnya pun menjadi seperti titik-titik darah gugur ke bumi (Shellabear Draft, 1912)
  • Dan waktu dia ada dalam sngsara, dia minta do’a dngan lbeh tkun: dan dia punya ploh jadi sperti titek-titek darah mnitek di tanah (Melayu BABA, 1913)
  • Maka dalam sangsara jang besar itoe makin radjin ija meminta-doa dan peloehnja pon mendjadi saperti titik-titik darah jang besar berhamboeran kaboemi (Klinkert, 1879)
  • Dan sedang ‘ija kene parang pajah, maka makin radjin munadjatlah ‘ija. Maka pelohnja djadilah saperij titikh 2 darah kantal, jang malileh turon kabumi (Leydekker Draft, 1733)

Berdasarkan pemahaman arti kata itu maka saya lalu memiliki 3 opsi perspektif dalam memahami makna ayat dalam Lukas 22: 44.

Dalam banyak naskah-naskah renungan saya sering menangkap kesan bahwa Lukas 22: 42-44 memberi petunjuk kuat bahwa Yesus takut. Ya, Yesus dalam sisi manusiawinya ternyata ketakutan menghadapi peristiwa dahsyat dan mengerikan yang segera akan dijalaninya, yaitu penyaliban. Begitu takutnya Yesus, lalu Dia berusaha mencari jalan selamat untuk diri-NYA. Pada titik ini saya tertegun. Benarkah Yesus yang saya kagumi luar dalam itu adalah seorang yang penakut? Saya tidak main-main tentang hal ini karena di beberapa blog yang kontennya sangat sisnis terhadap Yesus menggunakan perkara ketakutan Yesus ini sebagai dasar argumen untuk menolak dimensi Ketuhanan-NYA…”heeeiiii, lihatlah…Yesus yang penakut itu pasti bukan Tuhan karena tak masuk akal Tuhan itu penakut”. Betulkah Tuhan Yesus ketakutan lalu diam-diam berusaha bernegosiasi dengan sang Bapa guna berusaha mencari selamat bagi diri-NYA sendiri? Jujur saja, saya tak yakin. Mengapa demikian? Saya punya referensi yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sama sekali bukanlah penakut dan pencari keselamatan untuk diri-NYA sendiri. Kisah Yesus Tuhan Yesus menghadapi pencobaan di padang gurun, Ceritera Tuhan Yesus yang mengusir roh jahat, bagaimana Tuhan Yesus menghadapi angin topan di tengah lautan dan kapal yang ditumpanginya nyaris karam, bagimana cara Tuhan Yesus menghadapi banyak orang yang marah dan ingin merajam si perempuan pezinah…dan wwwooowwww…masih amat banyak lagi referensi sejenis yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bukanlah penakut dan juga bukanlah pula seorang pencari keselamatan bagi diri-NYA sendiri. Yang amat mengerikan dari perspektif Yesus ketakutan ini adalah bahwa jika benar Tuhan Yesus berusaha meloloskan diri dari kayu salib, sementara DIA tahu bahwa keadilan harus ditegakan (yaitu yang bersalah harus dihukum) maka yang terjadi adalah Tuhan Yesus sedang berusaha “mengembalikan” salib itu kepada si jahat yang sebenarnya, yaitu manusia. Jika benar begitu maka, maaf, ke Kristenan saya akan saya tanggalkan menit ini juga karena bukan Yesus seperti ini yang saya sembah. Dalam perspektif ini Yesus adalah penakut dan berusaha lari sejauh-jauhnya dari penghukuman. Saya membayangkan Tuhan Yesus seperti seorang yang sedang berusaha meloloskan diri dari bencana kapal yang karam. Yesus sedang berusaha berenang secepat-cepatnya supaya tidak ikut terbawa tenggelam terseret arus kapal karam. Saya membayangkan bahwa Yesus melakukan itu sambil tidak perduli apakah si anu dan si polan sedang termenggah-menggeh klelep mau mati tenggelam. “Walah kalo nulungin situ bisa-bisa gw ikutan klelep dunk, tak us-us aja ya”. Maaf, saya tidak yakin bahwa Yesus bertindak seperti itu. Itu bukan tipenya dech. Kalau tidak begitu lalu kalau begitu apa? Ada alternatif perspektif kedua.

Saya mendapat sedikit kelegaan ketika mengetahui bahwa ayat ke 44 Kitab hasil tulisan dokter Lukas pasal ke 22 ternyata dapat berbunyi dalam perspektif yang berbeda….”Tuhan Yesus amatlah sengsara” … Oh, ternyata peristiwa doa di taman Getsemani tidaklah harus ditafsirkan bahwa Yesus adalah si penakut yang sedang berusaha mengelak dari Salib dan meletakkan salib pada bahu manusia. Tuhan Yesus ternyata amat menderita. Tetapi, logika berpikir juga mengatakan bahwa jika benar Yesus menderita maka apa yang membuat dia menderita? Bayangan dahsyatnya Salib dan penyalibankah? Menurut saya hal ini bisa jadi benar demikian tetapi sekarang saya punya perspektif baru, yaitu bahwa memang benar Tuhan Yesus gelisah akan apa yang segera menimpa-NYA tetapi hanya berhenti di situ. DIA gelisah tapi tak sedang berusaha menghindari hukuman. Yesus bukan takut tetapi mungkin sedang berbisik kepada Bapa-Nya….”Bapa, masih bolehkan solusi lain dari penghukuman yang akan aku tanggung”. Terhadap kemungkinan ini, saya sedikit lega tetapi belum seluruhnya karena masih “bau” upaya meluputkan diri dari “cawan”. Sesuatu yang mustahil karena bukankah DIA dan Bapa sehakekat dan karenanya Yesus bisa saja mengambil jalan lain bukan? Apapun juga, dalam perspektif ini, Tuhan Yesus tidak harus ditafsir sebagai si pecundang yang sedang berusaha mengalihkan hukuman kepada orang lain. TIDAK. Yesus tahu bahwa hukuman harus dijalankan dan DIA tidak perlu menghindarkannya tetapi mungkin masih bisa dicarikan bentuk penghukuman yang lain. Saya teringat pengalaman saya beberapa waktu yang lalu sebagai salah satu pengurus dalam organisasi x. Salah satu petinggi di organisasi ini jelas-jelas bersalah menyalahgunakan kuasa dan melakukan korupsi. Mula-mula musyawarah pengurus memutuskan untuk memecat yang bersangkutan tetapi lalu dengan alasan “kasih” maka keputusan itu diubah hanya menjadi penundaan kenaikan gaji berkala. Hukuman tetap djatuhkan tetapi bentuknya dirubah dan bahkan lebih ringan. Bisa jadi model inilah yang “dinegosiasikan” oleh Yesus kepada sang Bapa. Boleh-boleh saja tetapi sekali lagi menurut hemat saya itu juga bukan tipe Yesus. Dalam perspektif ini masih saja tersimpan ganjalan, mengapa Yesus masih berpikir tentang alternatif lain?

Sampailah saya pada alternatif perspektif yang berikutnya yang saya yakini jauh lebih mendekati kebenaran Firman Tuhan tentang jati diri Yesus. Begini: Tuhan Yesus sadar bahwa Salib dan Penyaliban pasti terjadi karena keadilan Allah. Hukuman sudah dijatuhkan dan itu harus terjadi. Compromise no more. Tidak ada pilihan lain. Betuk penghukumannya juga sudah pasti seperti nubuat para Nabi. Ya, penyaliban yang adalah hukum yang amat mengerikan dan menghina itu tak boleh berubah. Tak bisa diubah. Harus seperti itu. Lalu apa yang membuat Yesus amat menderita? Menurut saya, Yesus amat menderita justru karena keterlibatan manusia, dalam hal ini Bangsa Israel sebagai ruang budaya kehidupan Yesus, dalam proses kejamnya Penyaliban. Mengapa tangan umat pilihan ini kembali harus berlumuran darah bahkan kali ini sampai hati membunuh anggota komunitasnya sendiri. Yesus yang mau memahami kedosaan manusia dengan segala konsekuensinya itu rupanya memasuki taman Getsemani dengan beban itu, yaitu bahwa Dia yang harus mati karena ulah manusia mengapa masih harus melewati jalan kematian di tangan manusia. Jika kematian-NYA adalah bentuk ultimat terhadap penebusan dosa bagaimana dengan tanggung darah oleh kaum pembunuh-NYA? Saya membayangkan dalam pergumulan batinnya yang dahsyat mungkin Tuhan Yesus berkata dalam hati-NYA

…”mengapa ya Bapa, aku digariskan harus mati oleh tangan manusia yang aku cintai itu? Tak adakah jalan lainkah? Aku adalah harapan bangsa degil ini …. Akulah harapan sebenarnya bangsa sesat ini…..jika aku harus mati, siapakah harapan mereka? Ya Bapa, mengapa aku harus mati di tangan mereka? Karena keadilan MU, adakah mereka diloloskan dari hutang darah atas kematian KU? … Ya Bapa, mengapa, hanya karena berbeda visi dan klaim kebenaran sepihak, Penyaliban ini harus terjadi….Ya Bapa, mengapa siklus pertumpahan darah atas nama perbedaan visi dan klaim kebenaran masih harus terjadi lama setelah Penyaliban ini?

Tentang ini saya mengajak anda semua untuk mengingat kisah Kain yang harus menerima hukuman atas pembunuhan yang dilakukan terhadap adiknya Habel. Anda juga tak boleh menutup mata terhadap fakta sejarah bahwa 40-50 tahun setelah penyaliban Yesus, Bangsa Israel dihancur leburkan oleh Romawi dan diserakan ke seluruh penjuru dunia. Kisah kelam bangsa Israel masih akan terus berlangsung amat lama sampai masa tangan berdarah si Monster Hitler yang membunuh 6 juta orang Yahudi. Anda harus mengingat bahwa ratusan juta nyawa meregang percuma selama perang Salib, perang antara kaum Protestan dan Katolik, di Eropa, WW I, WW II, Perang Vietnam, Perang Teluk, kerusuhan Mei 1998 di Indonesia, peristiwa 9-11 di New York dan ribuan peritiwa berdarah lainnya. Yesus mengetahui itu. Yesus mengenal betul kedegilan hati manusia kesayangannya itu. Pasti. Salib memang diperlukan tapi Yesus ragu akan kemauan manusia untuk belajar dari Salib. Dan karenanya Dia menangis.

Dalam perspektif yang saya tawarkan ini pusat perhatian saya bukanlah upaya Yesus untuk bernegosiasi dengan Sang Bapa tentang keluputan-NYA dari Penyaliban melainkan CINTA KASIHNYA YANG AMAT MURNI DAN TAK TERBATAS BAGI MANUSIA. Sisi inilah yang mengejutkan dari Yesus seperti yang dikatakan oleh Tim Stafford (2010) dalam bukunya “Surprised by Jesus” bahwa pribadi Yesus adalah pribadi yang sugguh sangat mengejutkan bagi banyak orang yang mengaku mengenal Dia. Salah satu ciri khas Tuhan Yesus adalah beliau selalu berpikir dalam suatu kesatuan persekutuan. Itulah penjelasannya mengapa Yesus yang sama sekali tidak memiliki dosa tetapi malah menyerahkan diri-NYA untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dia melakukan itu karena Dia solider dengan manusia yang berdosa dan membutuhkan pembaptisan. Itu pula penjelasannya mengapa Tuhan Yesus amat sering bergaul dengan mereka yang terpinggirkan, ayitu si pezinah, si pemungut cukai dan yang lainnya. Setiap tindak-tanduk Yesus selalu memberi petunjuk bahwa….”hei, aku mencintai kalian dan karena itu aku mau masuk dalam penderitaanmu, dalam kesusahanmu, dan bahkan …. dalam dosamu. Bayangkan, di tengah ancaman Salib yang akan dikenakan kepada-NYA, Yesus malah memikirkan manusia. Luar biasa.

Berkali-kali saya membaca Lukas 22: 42-44 dan saya selalu cemas akan “ketakutan” Yesus. Tetapi syukurlah, kali ini saya memahaminya dari perspektif yang berbeda. Yesus boleh saja menderita, cemas, gelisah atau takut sekalipun tetapi saya tahu kini bahwa obyek ketakutan-NYA bukanlah diri-NYA sendiri. Yesus pertama-tama tidak sedang berpikir kepentingan diri-NYA sendiri. Manusialah yang ada dibenak-NYA ketika DIA menghadapi maut. Itulah demonstrasi Cinta Kasih Yesus yang tak tertandingi. Di zaman ketika semangat mementingkan diri sendiri begitu merebak bukankah teladan YESUS terasa amat luar biasa? Ketika di Libya semua berperang melawan semua, ketika para pelaku teror bom di Indonesia hanya memikirkan isi kepalanya sendiri, dan ketika para petinggi DPR sibuk mencari-cari alasan pembenaran dalam pemborosan pembangunan gedung DPR yang baru, dan ketika para penggemar George Toisuta dan Arifin Panigoro sibuk memikirkan kepentingan diri mereka sendiri di PSSI maka teladan Yesus adalah oase penyejuk di tengah padang pasir kepentingan diri itu.

Sahabat Kristiani, jika perspektif ini bisa diterima maka jelaslah sudah Tuhan Yesus bukanlah pecundang nan penakut melainkan adalah sumber mata air cinta kasih yang teramat luas dan dalam. Inilah Yesus Tuhanku. Penebusku yang hidup. Kepada-NYA layak saya mempertaruhkan hidup dan peruntungan hidup. Ketika saya tak memperdulikan Dia malah Dia berpikir tentang saya. Dia menangis untuk saya. Dia gelisah karena saya. Dia takut karena memikirkan saya. Yesus memang Tuhan tapi Dia juga sungguh sahabat saya. Kepada saya dan anda YESUS telah menawarkan Syalom Allah. Maukah anda dan saya? Anda mau Yesus yang penakut atau Yesus yang bersahabat. Saya sudah membuat pilihan. Terserah anda.

SELAMAT PASKAH

Shalom Tuan Shalom Puan

koes plus bonus fideles

Posted: April 5, 2011 in musik

Dear Sahabat Blogger,

“Apalah arti sebuah nama” demikain Shakespeare berseru dan, kita, ada yang setuju tak kurang pula yang tidak setuju dengan itu. Kawan saya yang berasal dari daerah Manggarai diberi nama “Nganggur” karena ketika dia dilahirkan ayahandanya sedang tidak punya pekerjaan selain sebagai petani. Entah mengapa petani tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Saya diberi nama “Ludji” oleh almarhum Ayahanda Robert “SGT” Riwu Kaho secara serius dengan maksud untuk mengingatkan bahwa sekali dan seterusnya saya adalah orang Sabu dari suku Namata. Saya tak boleh menjadi orang Australia misalnya biar kata nama babtis saya adalah “michael”. Adik saya, Vicktor Riwu Kaho, mula-mula memberi nama “Haga” kepada anak sulungnya. Belakangan dia merasa perlu untuk berjauh-jauh dari Jakarta ke Pulau Sabu hanya untuk melakukan ritual budaya Sabu guna mengganti nama “Haga” menjadi “Lobo”. Hebat. So, bagi sebagian orang nama bukanlah sembarangan perkara. Nama harus memiliki makna. Demikian juga judul sebuah buku misalnya. Jangan memberi judul “mangga” ketika isi buku anda mengulas tentang “sapu lidi”. Tak cocok itu bukan? Haaalaaahhhh…begitulah adab kita. Budaya kita. Maka untuk sebuah nama bila perlu tumpeng merah putih dibikin dan ..slaman slumun…jadilah baik. 

Tapi saya punya 1 pengalaman yang mirip. Tahun dulu semasa duduk di bangku SMP di kota KUpang (SMPN 2) saya pernah dimarahi oleh seorang guru, Ibu Guru. Beliau adalah wali kelas II E kelas dimana saya berada. Ibu Messkah namanya. Saya ditegur gara-gara ada nama “ludji” di absensi kelas. Beliau menghardik saya dan bilang…”kamu jangan pake nama ludji lagi ya sebab itu adalah halaik, pake saja nama babtismu, michael”…halaik adalah kosa kata di Kupang untuk menyebutkan orang-orang yang tidak beragama sesuai dengan peraturan yang berlaku. Walah, saya malu tagal hardikan Ibu Guru dan semenjak itu saya berusaha mengaburkan nama “ludji”. Sekali waktu nama “ludji” saya ganti dengan “rudy” (kebetulan waktu itu rudy hartono adalah sebuah nama yang sedang ngetop abiz). Giliran Ayahanda saya yang menghardik. Kebiasaan mengaburkan nama “Ludji” tanpa sadar masih saja berlanjut sampai sekarang. Jikalau saya harus menuliskan nama saya di daftar hadir atau yang sejenisnya. maka pastilah saya akan menulis “L. Michael Riwu Kaho”. Jelas sudah bahwa aforisme “what is a name” tertolak oleh budaya di sekitar saya. Tak tahu jikalau anda. Ungkapan itu mungkin tepat untuk orang-orang barat. Orang Belanda menggunakan nama “Van de Kerkhoff” padahal itu artinya “kuburan”. Dulu ada pemain sepak bola Belanda yang kembar bernama Rene dan Willie Van de Kerkhoff yang artinya Rene dan Willie dari kuburan…waallaaahhhhh…..

“What is a name”, kata Shakespeare. Saya pikir yang dimaksudkan oleh Shakespeare adalah substansi. Mawar tetaplah mawar yang indah biar berganti nama menjadi kapuk. Nama boleh berganti dari “Ludji” menjadi “Michael” tetapi jikalau malas ya tetap saja malas bukan? Lihat saja para teroris yang diburu dan ditangkap oleh Densus 88. Nama aliasnya banyak banget tapi apakah mereka berubah menjadi sesuatu yang lain? Ya tidak juga. Kelakuan mereka ya tetep itu ke itu juga. Jikalau begitu maka kendati nama memang cuma sebuah atribut tanda identitas tetapi sesungguhnya hal yang terpenting adalah nilai intrinsik yang terkandung di dalam substansi. Kata emas menjadi berarti karena nilai karatnya bukan? Lalu judul tulisan di atas ingin mengingatan tentang substansi intrinsik di maksud. Koes Plus adalah nama grup band. Bonus fideles artinya mereka itu baik. Apanya yang baik dari Koes Plus? Lagu baru dapat diciptakan lebih bagus dari lagu Koes Plus dan memang sudah banyak lagu yang secara teknis artistik lebih indah ketimabang lagu-lagu Koes Plus yang umumnya bersifat “3 jurus” itu. Kalau begitu apa?

Koes Plus adalah sebuah grup band fenomenal di Indonesia. Di masa saya masih duduk di bangku SD, memegang buku tulis yang ada gambar Koes Ploes adalah “kewajiban”. Lagunya wajib dihafal dan di senandungkan. Grup ini memang amat sangat hebat. Konon merekalah yang menjadi peletak dasar perkembangan musik pop di Indonesia. Di masa mereka, grup band lain seperti Favourites, The Mercy’s, D’Loyd dan yang lain-lainnya terasa cuma varians dari Koes Plus. Grup band di masa sekarang dianggap mengerjakan sesuatu yang merupakan pengembangan Koes Plus. Siapa mereka ini? Saya pikir kebanyakan kita tahu bahwa grup ini digawangi oleh bersaudara Koeswoyo, yaitu Koestoni (Tony), Koesroyo (Yok), Koesyono (Yon) + 1 orang pemain drum yang bukan berasal dari klan Koeswoyo, yaitu Murry. Dominasi klan Koeswoyo sangat wajar karena sesungguhnya Koes Ploes adalah terusan dari Koes Bersaudara dimana Koesnomo (Nomo) ada posisi yang ditempati Murry sebagai drummer. Mengapa demikian? Pada mulanya adalah Koes Bersaudara yang eksis terlebih dahulu dengan formasi Toni, Yok, Yon, Nomo dan Koesdjono (John) pada tahun 1960. Lagu-lagu seperti “Bis Sekolah”, Di Dalam Bui, “Telaga Sunyi”, dan “Laguku Sendiri”. Pada masa-masa di antara 1960-1965 gaya bermusik mereka amat dipengaruhi oleh gaya the “everly brothers” (yang kondang dengan lagu antara lain “let it be me”) dan “the bee gees”.

Pada tahun 1965, 1 Juli, mereka ditangkap oleh KOTI dan mengurung mereka di rumah tahanan Glodok dengan tuduhan bermusik “ngak ngik ngok” yang bukan budaya dhewek. Penahanan tersebut tak lama karena pada tanggal 29 September 1965 tapi ternyata ikut berpengaruh terhadap kisah grup mereka dan sekaligus dunia musik Indonesia. Bertahun-tahun kita memahaminya sebagai bentuk represif dari pemerintah Orla pimpinan Bung Karno. Tapi pada saat wawancara di acara “Kick Andy”, Metro TV, mereka membuka rahasia bahwa sebenarnya penangkapan mereka itu hanyalah sebuah sandiwara “operasi rahasia” yang diperintahkan oleh Bung Karno guna mendukung operasi “ganyang malaysia”. Jadi mereka sebenarnya berkolaborasi dengan pemerintah. Entahlah mana yang benar tapi yang pasti ada masa mereka terpaksa berhenti bermusik. Pasca kebebasan dari penjara, iklim perpolitikan di Indonesia ternyata kurang mendukung perkembangan dunia kesenian di Indonesia umumnya. Konstruksi politik Indonesia di awal Orba yang dikuasai oleh Soeharto dan Tentara, yang menggantikan Bung Karno dan Orla-nya, menciptakan banalitas yang masif. Penangkapan dan pelenyapan orang-orang yang dideeksi atau dicurigai terkait PKI menciptaan ketakutan kolektif dan suasana saling curiga mencurigai. Banyak ketika pastian dan di masa inilah John keluar dari formasi. Koes Bersaudara.

Sekali waktu, ketika Koes Bersaudara sedang melakukan pertunjukan di daerah Tony mendapat kabar bahwa suasana Jakarta memanas. Terjadi penangkapan besar-besaran. Beberapa teman dari Tony menghilang begitu saja tak tentu rimbanya. Jakarta tidak aman dan Tony diperingatkan oleh teman-temannya bahwa, mungkin. karena kedekatannya dengan rezim Bung Karno maka Koes Bersaudara terancam. Terjadi dilema, kembali ke Jakarta atau tidak? Situasi mencekam seperti itu menyebabkan Nomo memutuskan untuk keluar dari grup. Dia memilih menjadi pedagang besi-besi bekas. Tapi Tony dan adik-adik yang lain menetapkan 1 tekad, harus kembali ke Jakarta dan harus terus bermusik. Tidak ada pilihan lain selain bermusik karena itulah cinta mereka. Tony dan adik-adik memilih untuk setia pada pilihan hidup mereka. Maka kembalilah mereka ke Jakarta meski apapun yang akan terjadi. Balada ini mereka tuangkan dalam lagu “kembali ke Jakarta” dan dimunculkan pada rekaman perdana grup Koes Plus. Lho, mengapa Koes Plus? Ya, Koes Bersaudara dalam formasi Toni, Yon, Yok dan Nomo hanya bertahan sampai 1968. Setelah Nomo keluar masuklah Murry yang bukan Koeswoyo itu. Pada saat rekaman pertama kali. Yok yang kurang sreg dengan adanya orang luar ke dalam formais band memutuskan solider dengan Nomo lalu keluar dari Koes Plus. Akibatnya, posisi sebagai basist kosong dan beberapa pemain tamu mengisi posisi yang ditinggalkan Yok. John Koeswoyo sering masuk formasi untuk tujuan show panggung. Dan pada saat rekaman album perdana Koes Plus, pemain tamu yang masuk formasi adalah Totok A.R. Inilah formasi dalam rekaman perdana Koes Plus, yakni Tony, Yon, Murry dan Totok A.R.

Album perdana itu memuat beberapa lagu seperti Derita (Tonny), Awan Hitam (Tonny), Tiba Tiba Aku Menangis (Tonny), Bergembira (Tonny), Tjintamu Telah Berlalu (Tonny), Dheg Dheg Plas (Tonny), Manis Dan Sajang (Tonny), Hilang Tak Berkesan (Tonny), Kembali Ke Djakarta (Tonny), Biar Berlalu (Yon) dan Lusa Mungkin Kau Datang (Tonny). Perhatikanlah deretan lagu-lagu tersebut. Semuanya indah dan hebat. Beberapa di antaranya bahkan rekam kembali berulang-ulang oleh berbagai penyanyi lainnya. Menjadi legenda. Tapi jangan salah, album perdana itu setelah direkam ternyata pada awalnya ditolak dimana-mana. Bahkan ada toko kaset yang menertawakan lagu seperti Kelelawar. Lagu aneh kata mereka. Maklumlah ketika itu Koes Plus sedang bertransformasi dari keterpengaruhan “everly brothers” dan ” bee gees” menjadi “lebih Indonesia”. Akibat tidak lakunya album perdana mereka maka Murry kabur. Totok A.R. keluar. Adalah Tonny yang terus memupuk semangat anggota Koes Plus yang lainnya lalu membujuk Yok dan Murry agar masuk kembali dalam formasi band. Nasib baik memihak mereka dan pada tahun 1970 akhir lagu mereka meledak di mana-mana. Dan kesuksesan mengalir bersama mereka bertahun-tahun sampai meniggalnya Tony pada tahun 1987. Koes Plus pun surut sesuai tuntutan jaman tetapi lagu-lagu mereka abadi sampai hari ini. Inilah Grup tersukses di Indonesia. Apa tolok ukurnya? belum ada Band di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, yang mampu merekam hampir 22 album dalam 1 tahun seperti yang dilakukan Koes Plus pada tahun 1974-1975. Tidak ada pula grup band yang mampu merekam lagu dalam genre yang sangat berbeda. Anda mau tahu musik jenis apa yang pernah dimainkan oleh Koes Plus dan semuanya sukses? Pop, Rock n Roll, Rohani Natal, Qasidahan, Pop Jawa, Instrumentalia, Dangdut, Keroncong dan kompulasi the best. Jangankan band dalam negeri bahkan The Beatless, The Rolling Stones ataupun Led Zepplin tak tercatat melakukan itu. Seorang editor wikipedia mengatakan bahwa “Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles”

Anda tahu apa rahasia mereka? Filsafat manusia mengajarkan tentang 3 bentuk kebaikan, yaitu kebaikan karena ada gunannya (bonum utile), kebaikan karena menyenangkan (bonum delectabile) dan kebaikan karena memang baik atau kebaikan yang sesungguhnya (bonum honestum). Orang bisa saja berlaku baik kepada kita karena kita punya sesuatu yang dia perlukan atau dia butuhkan dari kita. Kita menerima kebaikan sejauh kita mendatangkan manfaat bagi oarng lain. Ada uang abang sayang tak ada uang abang aku buang. Bisa juga terjadi orang bisa baik kepada kita karena kita menyenangkan hatinya. Suami dan isteri sering memutuskan bercerai karena tidak lagi saling menemukan kesenangan. “Tak ada kecocokan lagi” katanya. Tetapi syukurlah ada kebaikan jenis ketiga dimana orang bisa baik kepada kita karena memang dia orangnya baik. Kita mungkin tidak berguna dan tidak menyenangkan bagi dia tetapi dia memang mau mencintai kita. Bonum begini adalah Bonum milik Allah yang mengasihi kita secara sepihak. Tanpa memperhotungkan dosa dan kedegilan kita, DIA mau memberi CINTA-NYA bagi kita. Bonum seperti ini bersifat Ilahiat. Dan yang asik adalah bahwa bonum ini ditawarkan oleh Sang Pencipta kepada manusia untuk memilikinya juga. Saya tak tahu anda dan saya memilih yang mana tapi Koes Plus jelas memilih bonum honestum. Ketika bermusik ternyata mendatang petaka, ketakutan dan kemiskinan mereka tetap setia pada pilihan hidupnya. Dalam nama apapun grup mereka, ataukah Koes Bersaudara ataukah Koes Plus, adalah Tony dan adik-adik telah mendemonstrasikan makna kesetiaan. Mereka tak bergeming kendati dicekam situasi. Berkarya dan terus berkarya kendati dizalimi, dicemooh dan miskin. Itulah cinta. Itulah kesetiaan. Hal ini nyata sekali dalam lagu mereka “ kembali ke djakarta“. Apapun boleh terjadi tetapi “di djakarta” tetapi langkah kaki tak akan berhenti untuk selalu kembali “kesana”. Tony dan saudara dan kawan mungkin tidak kaya raya karena pilihan ini tetapi mereka telah membuat saya, mungkin anda dan jutaan orang lainnya berbahagia. Sungguh mereka orang baik. Sayapun bermimpi sekali waktu saya bisa juga akan di sapa, entah sebagai “Ludji” atau “Michael” atau “ludji michael:…”eh si Ludji Michael tuh … orangnya … bonus fideles lho. Orang baik tuh”. Ahaaaaa, alangkah bahagianya.

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

Sekarang bulan Februari. Bulan kedua dalam tahun 2011. Selamat bulan baru wahai Tuan dan juga Puan. Kita sudah di sini. Sampai di sini Tuhan sudah berjalan bersama kita. Anda sehat sejahtera? Saya sejahtera kendati kurang sehat. Tak Apa. C’est La Vie. That’s the life. Itulah hidup. Jalani saja.

Sebagian sahabat baru saja merayakan hari raya Tahun Baru Imlek 2562. Shio kelinci logam., kata mereka yang paham. Kelinci si cerdas nan banyak teman tapi sangat berhati-hati. Gong Xi Fa Cai. Semoga kemakmuran dan kesejahteraan beserta anda. Benarkah anda memperoleh kemakmuran? Benarkah anda sejahtera? Mungkin ya dan mungkin pula tidak. Probability is fifty. Di Shio kelinci ini semua bisa terjadi. Ada yang bahagia. Ada yang berduka. Nurdin Khalid bahagia karena pertemuan PSSI di Bali memberikan jaminan bahwa si do’i masih berkesempatan memimpin PSSI lagi kendati miskin prestasi dan banyak musuh. Presiden Mesir, Husni Mubarak,pasti tidak sedang berbahagia karena kursi empuk seusia 30 tahun digoyang ke kiri dan ke kanan. Pasti pusing dia kendati tentara masih melindungi dia. Ahaaaaaa….ternyata tidak semua hal berjalan sesuai harapan kita bukan? Tapi mau bagaimana lagi. Tak Apa. C’est La Vie. That’s the life. Itulah hidup. Jalani saja.

Ya jalani saja terus karena hidup memang harus terus berlanjut apapun yang terjadi. Hakekat dari berjalan adalah dinamika. Hakekakat dari dinamika adalah perubahan. Ya perubahan memang terjadi karena kita memang harus terus berjalan. Atau bisa juga dibaca sebagai teruslah berjalan karena dengan demikian anda, saya, dia dan kita semua akan menemukan perubahan. Jangan berhenti di satu titik jika ingin berubah. atau berubahlah dengan cara teruslah berjalan. Sahabat Pendeta Sussy memberikan tips: “berubahlah dalam pola pikir dan perilaku”. Simpel. Gampang . Benarkahkah? Ya benar belaka tetapi sekaligus dengan itu kita bertemu dengan kesulitan yang tidak kecil. Amat besar bahkan. Berubah yang bagaimana? Berubah sampai batas mana? Berjalan terus ke arah mana? Mari kita belajar dari kisah yang satu ini.

Di daerah bioma tundra di pegunungan Arktik Scandinavia dan atau Skotlandia berhabitatlah hewan liar yang disebut Lemming (Lemmus lemmus). Hewan ini tergolong hewan herbivora pengerat seperti tikus besar, lemur atau hamster. Tampangnya mirip-mirip kelinci. Salah satu sifat dasar dari hewan pengerat adalah cepat sekali berkembang biak. dan si Lemming juga demikian adanya. Karena itu populasi Lemming secara berkala mengalami booming lalu secara cepat menghabiskan sumberdaya pakannya. Dalam situasi seperti ini, biasanya setiap 3-4 tahun sekali, populasi Lemming menunjukan perilaku yang aneh. Ketika populasi Lemming booming, hewan ini berkumpul lalu memulai perjalanan menuruni pegunungan menuju ke arah laut secara bersama-sama. Sekali mereka bergerak maka tak ada kuasa apapun juga yang mampu menghentikan ata membelokan arah pergerakan gerombolan Lemming ini kendati ada yang mati kelelahan, diterkaman elang, diinjakan sapi, dihanyutkan arus deras sungai yang dilintasi, serta berbagai ancaman serta hambatan lainnya. Anehnya lagi, sembari terus bergerak ke arah laut, mereka melanjutkan kebiasaan mereka sehaari-haari. Lemming-lemming ini tetap berlari kian kemari, mencari makan dan terus berkembang biak. Hidup seperti biasa dan terus bergerak menuju laut. Tepi lautpun ternyata bukan akhir perjalanan kelompok besar Lemming ini. Secara beramain-ramai gerombolan ini menceburan diri kedalam laut. Jika tepi laut adalah tebing karam, kelompok Lemming tidak ragu untuk meloncat dari atas tebing seberapapun curam dan tingginya tebing tersebut. Di lautpun Lemming akan terus bergerak dengan cara berenang. Kemana? Tak ada tujuan lain selain maju terus bergerak ke depan dengan cara berenang. Ya, mereka terus berenang, berenang dan berenang sampai kehabisan tenaga. Sampai Lemming terakhir mati. Sungguh fenomena yang dahsyat dan aneh. Disebut dahsyat karena gerak migrasi tanpa kompromi menuju kematian itu jelas bertentangan dengan naluri setiap makhluk hidup untuk bertahan hidup. Mengapa Lemming malah menjemput kematian. dengan begitu bersemangat? Sampai sekarang, alasan Lemming melakukan migrasi bersama menuju kematian tersebut belum sepenuhnya bisa dimengerti oleh para ahli. Sebagian pakar menyebutnya sebagai upaya altruism Lemming dalam mengendalikan populasi. Sebagian menyebutkannya sebagai fenomena bunuh diri Lemming. Ada perusahaan game on line mengkreasikan game dengan tema bagaimana menghentikan perjalanan Lemming. Anda harus mengupayakan agar Lemming yang pandai itu terhenti perjalanannya. Perusahaan game lainnya menciptakan game untuk menolong Lemming yang bodoh agar terhindar dari marabahaya dalam perjalannya. Apakah anda akan memenangkan Lemming yang pandai atau bodoh, saya tak pasti. Satu hal yang pasti, gerak maju Lemming tak terhentikan. Sekali memutuskan bergerak maka Lemming akan berjalan, terus berjalan dan terus sampai akhirnya berarak-arak menuju kematian. Fenomena ini disebut sebagai sindroma Lemming (Lemming Migration Along the Norwegian Coast).

Apa yang mau saya sampaikan dari kisah di atas adalah bahwa perubahan dan perjalanan ternyata tidak selamanya berakhir positif. Ternyata adapula perjalanan yang berakhir pada kematian nan tragis. Karenanya saya mengusulkan hendaknya pergerakan, perjalanan dan perubahan harus memiliki defenisi yang jelas. Tanpa itu dinamika dapat berakhir tragis. Dalam kaitan itu, dalam khasanah ilmu pengetahuan ekologi dikenal apa yang disebut sebagai ambang batas, yaitu daya dukung lingkungan terhadap semua bentuk pemanfaatan sumberdaya lingkungan. Manfaatkanlah lingkungan hidup anda sampai batas tertentu. Ketika anda melewati batas itu …… watch out….lingkungan akan menampar balik anda. Bencana. Ketika ambang batas daya dukung lahan kehutanan atau aerah aliran sungai dilewati maka yang tersisa adalah bencana longsor, kekeringan dan banjir. Ketika ambang batas daya dukung atmosfir dalam mengendalikan emisi gas-gas rumah kaca terlewati maka berubahlah iklim. Belakangan dunia diancam oleh iklim yang berubah secara global dan mengancam kehidupan manusia. Pertanyaannya siapa yang melanggar daya dukung itu? Manusia dan prinsif antroposentrimenya, yaitu ambil sebanyak-banyaknya, manfaatkan sepuas-puasnya, habiskan setandas-tanasnya dan buang sampahnya. Alam dikeruk habis-habisan melampaui ambang batas dan lalu sistem lingkungan alam itu ambruk. Alam yang semula adalah pelayan kehidupan lalu berubah menjadi predator bagi kehidupan. Ketika bencana terjadi, semua terperangah lalu tiba-tiba semua berubah menjadi alim. Di mana-mana dibikin acara doa bersama. Dimana-mana bermncuan posko peduli bencana degan bendera partai atau bendera promosi produk tertentu….eeealaaahhhh, bencana koq malah dipolitisasi dan dikomersialisasikan….. theerrrlallluuuu…kata bang haji oma irama. Tapi lihatlah, gejala alim tersebut berlangsung tak akan lama. Ketika bencana berlalu, kehidupan kembali berjalan normal. Business as usual. Ambil, manfaatkan, habiskan dan buang sampahnya. Bencana demi bencana seolah tbukan pelajaran. Pada titik ini, terlihatlah bahwa ternyata ras Manusia mengidap sindrom Lemming yang kronis. Semua terus bergerak bersama-sama ke arah 1 tujuan, yaitu lautan luas lalu habis tenggelam di sana. Peringatan, halangan, hadangan, dan becana tak menggoyahkan arah pergerakan ini, yaitu menuju kebinasaan.

Jangan anda mengira bahwa sindroma Lemming hanya dapat digunakan untuk menerangkan fenomen kerusakan lingkungan. Oh, tidak. Perhatikan perkara berikut ini. Sejak dahulu kala gejala korupsi itu sudah ada. Referensi saya yang bersal dari Alkitab mencatatkan bahwa Judas Iskariot adalah bendahara kelompok murid Yesus yang curang dan korup. Itu 2000 tahu yang lalu tapi lihatlah, masa sekarang ini kita punya Gayus, mafia hukum, mafia peradilan, penipu-penipu di Wallstreet dan koruptor-koruptor lainnya. Orang tahu bahwa korupsi itu jahat dan salah tetapi mengapa hal itu terus dilakukan? Kata Lord Acton: “power tend to corrupt”. Kita lalu tahu bahwa akar korupsi adalah kekuasaan. Kekuasaan yang bagaimana? Lihatlah ontoh berikut ini. Kerajaan Romawi, Kerajaan Mongol-nya si Genghiz Khan, Napoleon Bonaparte di Perancisd dan atau Kerajaan 1000 tahunnya Hittler meluaskan imperium mereka dengan cara menebar kekerasan. Di bawah rezin kezaliman kekerasan, intimidasi dan pembunuhan para penguasa haus darah ini menjajah hampir seluruh dunia. Tapi semua kita juga tahu apa nasib imperium-imperium itu. Semuanya habis ditelan samudera sejarah. Tapi perilaku fasisme kekuasaan ternyata amat menggoda. Prinsip antropsenstrisme, yaitu ambil, manfaatkan, habiskan dan buang sampahnya terus saja dipraktekkan berulang-ulang sampai sekarang. Polisi, jaksa, hakim (dalam konteks sekarang di Indonesia ada Komisi III DPR RI dan KPK dan satgas pemerantasan mafia hukum) dihadirkan oleh peradaban tetapi kekuasaan yang serong terus saja dipraktekkan. Seperti barang biasa saja dan tak terhentikan. Business as usual.

Seperti yang kita tahu bahwa dalam teorinya kekuasaan itu dapat diselenggarakan melalui 3 cara, yaitu intimidasi rakyat dan ciptakan ketakutan agar kekuasaan efektif dan efisien (Machiavellian), institusionalkan kekuasaan dalam bentuk negara absolut (Hobbesian) dan jalankan kekuasaan dengan mengedepankan moralitas (morality of power). Cara 1 dan 2 sering digunakan dan membawa bencana tetapi terus saja diulang-ulang dalam aneka varian. Cara ke 3 sering efektif tetapi tidak efisien dan karenanya, kendati baik, malas dikerjakan. Lalu bagaiman dalam prakteknya? Ketiga cara bisa dilakukan secara campur aduk lalu ditampilkan citra seolah semua sudah berlandaskan moral. Apa yang dilakukan kroni-kroni Soeharto di masa ORBA dahulu adalah ambil sebanyak-banyaknya lalu bikinlah 1 atau 2 yayasan sosial untuk membantu anak yatim, membanganu mesjid, membangun gereja dan sejensinya. Apa akibatnya? Adalah tatanan maasyarakat yang kehilangan orientasi moralitas. Batas-batas antara yang baik dan buruk atau yang salah dan yang benar sungguh dikaburkan. Anehnya, semua dijalankan secara berjamaah tanpa ragu tanpa malu layaknya business as usual. Inilah wajah dunia kemarin yang dipenuhi penguasa despot dan korup. Ini juga wajah dunia hari ini yang munafik dan kejam dan nyaris total dikendalikan oleh hukum besi pasar bebas. Korupsi, perang dan ancaman bencana perubahan iklim global adalah sahabat kita hari-hari ini. Tidak belajarkah dunia? Begitu tololkah dunia? Atau jangan-jangan semua sedang berjalan mengikuti pola sindroma Lemming yang mengerikan itu……..”went on until finally you’re exhausted”….

Pada titik inilah kita harus jujur mengatakan bahwa dinamika, pergerakan, perubahan dan perjalanan harus diberi batas. Batas itu adalah, izinkan saya memilih menggunakan kata ini, yaitu moralitas. Moralitas yang bagaimana? Saya usulkan adalah moralitas yang mengarah pada keadilan sosial. Sederhananya begini. Kita memang harus terus bergerak tetapi arah pergerakan kita harus menuju kepada area yang disebut sebabagi lautan keadilan. Dalam hal ini bukan keadilan yang diberi defenisi secara individual personal melainkan suatu keadilan yang dapat diterima oleh semua orang. Bukan cuma itu, keadilan dimaksud juga harus berlaku bagi alam semesta ini. Supaya bisa hidup dengan berkeadilan maka moralitas itulah pemandunya. Apa yang dimaksudkan dengan hidup yang dituntun oleh moralitas. Saya mengusulkan hal yang sederhana, yaitu hiduplah menurut martabat kita sebagai manusia. Lalu bagiamana yang dimaksudkan dengan martabat manusia? Saya mengusulkan lagi, yaitu hiduplah sebagaimana layaknya citra Sang Pencipta. Apa itu citra Sang Pencipta? Dalam diri setiap manusia ada citra Illahi yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta. Dalam diri fana kita ada kuasa Ilahi. Itulah, yang dalam posting lama, saya menyebutkannya sebagai KASIH. Diri kita terbatas tetapi KASIH sungguh amat tak terbatas.

Kerjakanlah KASIH dalam hidup kita setiap hari. Siapapun kita karena KASIH adalah bahasa universal yang tidak boleh dimonopoli oleh 1 kelompok tertentu. KASIH adalah bahasa bersama karena itu adalah pengalaman bersama. Bukankah semua bayi dihidupkan oleh benda yang sama, yaitu air susu? Bagaimana air susu bisa diperoleh bayi-bayi itu jika bukan karena ada KASIH kerelaan dari si empunya? Dengan KASIH maka prinsip antropsentris dapat diubah menjadi…ambil sesuai kebutuhan, manfaatkan secara efektif dan efisien, konservasi nilai-nilai kehidupan dan jangan meninggalkan sampah karena kita mendaurulangkan kebaikan….Dengan cara ini perjalanan kehidupan manusia bukanlah tiruan dari sindroma Lemming melainkan suatu perjalanan menebarkan keadilan yang dilakukan dengan penuh kasih sayang. Saya pikir hidup berkeadilan dan penuh kasih adalah mudah diucapkan tetapi sunguh tidak mudah dilaksanakan. padahal apalah hidup jika bukan pelaksanaan kata-kata. Tapi jangan kuatir, kita bisa belajar dan itu bisa dimulai dari sekarang. Tetap sulit? Ya iyalah (bukan iya dong) tapi mau bagaimana lagi. Tak Apa. C’est La Vie. That’s the life. Itulah hidup. Jalani saja (karena hidup adalah sesuatu yang baik).

Van HalenFeels So Good

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

SELAMAT TAHUN BARU 2010. Semoga sahabat semua yang budiman dan budiwati sehat dan penuh berkat pada tahun yang baru ini. Itu dulu yang saya harus kasi ucap pada kesempatan pertama kali. Mengapa demikian? Oh ya, supaya saya tidak “didamprat” oleh sahabat blogger yang budiman. Apakah ada pengalaman untuk itu? Ya, ada dong dan hal itu akan saya ceriterakan sehubungan dengan nama pertama dalam judul posting ini. Begini,

Tanggal 28 Desember lalu, dolly, ya nama ini tak lain dan tak bukan adalah isteri saya yang kinyis-kinyis, tepat berulang tahun ke 45. Saya pikir ada banyak harapan dan pergumulan dalam hatinya. Salah satunya, mungkin saja, adalah adanya perhatian ekstra dari suami terkasihnya. Ya, saya sendirilah. Tetapi ya ampyuuuunnnn…. sang suami, saya sendiri, mengawali hari dengan biasa-biasa saja. Semua berjalan normal kecuali 1 kecupan di kening…selamat HUT ya isteriku….sudah dan hanya itu. Rupanya dolly kecewa. Dia berangkat ke kantor dan …. wuuuussszzzzz …. sejak siang sampai petang HP-nya dimatikan. Tak bisa dihubungi. Lalu saya tak tahu dia ada di mana. Setelah ke sana-kemari tak ketahuan juntrungan, tiba-tiba saya bisa mengontak dia dan…brrrrrrr…… berhamburan kata-kata keras dari dolly … “lu terlalu sibuk”…..”lu tidak punya waktu untuk beta”…. “lu urus saja diri sendiri” … waaaaaaa … dolly marah. Dia bertiwikrama. Intinya, dia protes keras karena HUT berjalan nyaris tanpa perhatian dari suami. Kejam oh kejam. Tetapi apa benar begitu? Heeiittt, jangan terburu-buru melancarkan vonis buruk kepada saya wahai bung dan soez. Hari itu, sebenarnya, saya tidak abai begitu saja kepada dolly dan HUT-nya. Sepintas memang saya tampak biasa-biasa saja tetapi diam-diam saya sedang menyiapkan kejutan untuknya. Ada hadiah khusus yang saya siapkan untuk mengejutkan dia. Tetapi sayang, sebelum saya mengejutkan dolly, saya sudah terlebih dahulu dikejutkan olehnya….wuuueellleeeeehhhh….emosi saya terpancing dan kami ribut besar hari itu … bla bla blaaa brrrr brrrr breketek wuuuhhgg heeeeghhh waaaawww wwwoowwww … Tetapi apakah dengan begitu hari itu kami berdua kehilangan cinta? Oh, tidak juga. Kami berdua akhirnya bisa menutup hari itu dengan damai. Cinta kami tidak hilang. Lha, cinta kok ya bertengkar hebat??? Dalamnya laut dapat diduga tetapi isi hati wanita? Tak ada yang tahu. Sayapun tidak dan cuma bisa bilang I love u full, dolly. Itulah hati yang tak terselami.

Bicara soal hati yang tak terselami adalah Gus Dur, sang Guru Bangsa yang sudah pergi ke negeri abadi, merupakan satu teladan yang lain. Ketika dia pergi, semua kita tetap saja kaget kendati sudah mahfum bahwa Gus Dur lama sakit-sakitan. Dia adalah tokoh ulama Muslim yang humanis, nasionalis, demokrat dan sekaligus kontroversial. Saya kira kita semua sepakat tentang itu. Gus Dur adalah dedengkot NU. Gus Dur adalah pembela yang fanatik terhadap golongan minortas di negeri ini. Franky Sahilatua menyatakan dengan amat baik ketika menggambarkan sosok Gus Dur dalam hal itu…”Gus Dur adalah alamat. Gus Dur adalah addres bagi kami kaum minoritas. Dia mau mendengar. Dia mau dan berani membela”. Gus Dur juga pernah mengejutkan banyak orang di tahun 1980-an ketika dia menganjurkan untuk saling menyapa “selamat pagi” ketimbang mengucapkan uluk salam yang Islami. “Kita orang Indonesia” katanya. Dengan mengatakan begitu jelas dia adalah seorang Nasionalis tetapi sekaligus kontroversial. Cilakanya Gus Dur tak perduli dengan cap kontroversialnya itu. Mbah Soeharto almarhum pernah amat tersinggung gara-gara ucapan Gus Dur bahwa si mbah adalah orang bodoh. Akibatnya, Gus Dur mengalami kesulitan yang luar biasa besar ketika balas dikerjain si mbah. Puncak sikap kontroversial Gus Dur adalah ketika dia menyediakan diri dan mau menjadi presiden RI padahal seharusnya “hak itu” ada pada Megawati. Pada “tikungan terakhir” Megawati, sohibnya sendiri, disalip dan jadilah Gus Dur sebagai Presiden RI ke-4. Humanis kok meelikng teman sendiri? Lalu, kapal Indonesia disetir bagai “the drunken master”. Julukan yang diberikan oleh Rizal Ramli, menterinya Gus Dur ketika itu. Kapal RI oleng ke kiri dan ke kanan sementara Gus Dur enak saja keluyuran ke luar negeri sambil mengatakan…”gitu aja kok repot”. Lalu kita sama tahu pada tanggal 23 Juli 2001, tanpa repot-repot Gus Dur dijatuhkan. Saya yang amat mengagumi Gus Dur sejak tahun 1980-an sering teramat bingung dengan pola tingkah lakunya. Ketika perilaku demokratisnya seolah tidak terbantahkan eh…..dengan enak Gus Dur mengatakan bahwa…”jikalau kyai anu sudah memerintah saya akan saya pasti aka melakukan. Lha, demokrat ko malah eksklusif? Di lain waktu situasi terbalik…”biar saya diperintah kyai polan tetapi demi masyarakat saya tak perduli”. Lha, humanis kok mencla-mencle? Tetapi di hari ketika Gus Dur pergi, saya termasuk orang pertama yang menaikkan bendera 1/2 tiang bahkan ketika belum ada pengumuman resmi untuk itu. Ternyata saya mengasihi orang ini. Banyak gagasannya baru dapat saya mengerti belakangan. Ah, Gus Dur sayang, selamat jalan. Sampeyan memang memiliki hati yang tak terselami.

Tanggal 2 Januari 2010, persis sudah 1 tahun ibunda saya, Agustine Sabartinah, terkasih pergi menyusul kekasih hatinya, ayahanda SGT, ke negeri abadi. Ada sejuta kepedihan di hati saya tentang keprgiannya itu. Satu di antaranya harus saya akui hari ini, yaitu saya merasa “dibohongi ibunda”. Dia berjanji hanya pergi 2-3 bulan saja selama bulan hujan. “Nanti jikalau musim kemarau saya akan pulang”, demikian ibunda berjanji. “Kamu pulang dan bersihkan rumah supaya ketika saya pulang dia dalam keadaan bersih”, demikian perintahnya. Tetapi apa yang terjadi? Ibunda tidak pulang ke Kupang, dia malah berangkat ke negeri abadi. Berbohongkah ibunda? Tak sayangkah dia kepada anak dan cucunya yang amat mencintainya? Saya kira tidak juga tetapi itulah hati yang tak terduga. Saya kira suda memahamnya luar dalam tetapi nyatanya tidak juga. Ibunda sayang, I love you full. Selamat damai bersama ayahanda dan Tuhan. Engkau memiliki hati yang tak terselami.

Tahun 2009 sudah kita tinggalkan. Semua yang terjadi sudah kita ketahui. Sudah tercatat dan menjadi sejarah. Tingal kita adalah mencari hikmahnya saja. Lalu, tahun 2010 sudah kita masuki. Apakah anda tahu apa yang akan terjadi di tahun 2010. Gelap Bung. Gelap Soez. Tak seorangpun tahu. Mama Loren dan Deddy Corbuzier-pun lebih banyak keliru ketimbang benarnya ketika mencoba meramal hari esok. Lalu apakah dengan demikian kita perlu untuk menghentikan perjalanan kita? Saya kira tidak perlu dan nyatanya tidak mungkin perjalanan kedepan terhenti. Hidup harus terus berlanjut bahkan ketika di depan kita adalah kepekatan kabut yang tak jelas. Hari di depan adalah hari yang samar-samar. Hari yang tak terselami.

Manusia adalah makhluk paradoks. Pertama, dia adalah makhluk yang hanya akan bertindak ketika dia tahu. Saya makan karena saya tahu bahwa saya akan lapar jika tidak makan. Karena hari besok adalah gelap maka manusia memerlukan cara untuk menduga-duga hari besok. Cara baheula adalah dengan meramal menggunakan jasa para dukun. Cara moderen adalah dengan membuat visi dan misi lalu membuat perencanaan. Yang kedua, manusia selalu mau tahu lebih jauh lagi. Seolah-olah manusia sudah tahu semua hal lalu dia bertindak dan bersikap sok tahu akan segala perkara. Manusia adalah makhluk yang sebenarnya berpengetahuan terbatas tetapi memiliki wawasan yang tak terbatas. Singkat kata, manusia adalah makhluk yang tidak tahu tetapi sok tahu. Benturan keduanya membuat banyak hal menjadi tidak terselami. Cilakanya, manusia sering terlalu jumawa dan sok tahu. Dolly pikir bahwa suaminya sudah tidak punya perhatian. Nyatanya tidak begitu. Saya pikir dolly pasti suka dengan kejutan saya. Nyatanya dolly malah merasa kehilangan perhatian. Gus Dur berpikir semua orang harus memahami dia. Orang Indonesia pikir, mereka tahu semuanya tentang Gus Dur. Apa yang anda dan pikir tentang hari esok. Tahu atau sok tahu?

Secara filosofis, ketimbang bersikap sok tahu lebih baik adalah belajar dengan penuh kerendahan hati. Jangan malu mengakui bahwa …”saya tak tahu banyak dan oleh karena itu saya perlu belajar banyak”. Manusia dengan keluasan wawasannya akan selalu mau tahu lalu bermimpilah dia. Marthen Luther King Jr. mengatakan bahwa ….”i have a dream”. Bagaimana mewujudkan mimpinya itu? Marten Luther Kin Jr. belajar dan bekerja. Dengan belajar maka impian tentang harapan hati dan cita-cita hari esok bukan cuma mimpi. Maka, saya mau terus belajar tentang Dolly, Gus Dur, Ibunda dan hari-hari mendatang. Andapun seharusnya begitu. Itulah yang harus dilakukan manusia guna memahami hati yang tak terselami. Hari yang tak terselami. So, BELAJAR-lah. Selamat menempuh perjalanan hati dan hari. Tuhan memberkati anda di tahun yang baru. That’s all dear folks.

ABBA – I Have A Dream

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

Tahun dulu, sekitar tahun 1980-an, masa ketika saya masih imut-imut, belum amit-amit seperti sekarang ini, pernah saya menyaksikan wawancara antara Eddy Soed (ES – sekarang sudah almarhum) sebagai host acara (Kamera Ria Safari di TVRI) bersama seorang penyanyi pria nan kesohor. Ya, saya menyebutannya saja sebagai penyanyi tersohor (PT). Percakapan di dalam wawancara itu kurang lebih begini (saya cukup ingat):

ES: wah suara Bung xx bagus sekali dan masih terjaga dengan baik sampai sekarang. Apa sih resepnya?
PT : wah terima kasih tetapi resepnya sederhana saja. Berdoa.
ES: iya sudah barang tentu kita harus berdoa tetapi maksud saya apakah ada upaya lain?
PT: tidak, cuma ya itu tadi, berdo’a.
ES: iya Bung xx, tapi apakah tidak perlu latihan rutin, menjaga stamina atau menjaga tidak makan sembarangan misalnya?
PT: iya, berdo’a
ES: ya sudah, tepuk tangan yang meriah untuk Bung xx

(prok prok prok prok keeepppprrrooookkkk, begitulah suara tepuk tangan membahana)

Saya bingung dan sekaligus “eneg” dengan cara PT menjawab. Apa iya, cukup dengan berdoa? Soalnya, saya menyaksikan sendiri bahwa ada banyak orang yang tiap hari rajin berdoa tetapi suaranya tetap saja tidak bagus-bagus amat kalau tidak mau dibilang pas-pasan. Singkat kata, sebagai pemirsa saya gondok karena tidak bisa belajar sesuatu tentang cara bernyanyi yang baik. Kendati saya satu agama dengan mister PT, dan oleh karena itu saya juga rajin berdoa seperti dia juga tetapi suara saya tidak merdu-merdu amat, saya dongkol berat. Memalukan. Tidak cukup hal positif yang bisa saya petik dari situ. Seandainya saja ketika itu lalu lintas omongan di antara kedua orang itu berjalan seperti ini:

ES: wah suara Bung xx bagus sekali dan masih terjaga dengan baik sampai sekarang. Apa sih resepnya?
PT : Waaah, terima kasih tetapi resepnya sederhana saja. Berdoa.
ES: Ah, apa iya cuma berdoa, saya toh juga berdoa tetapi suara saya nggak bagus tuh?
PT: iya mas, tetapi yang saya maksudkan adalah sambil berdoa, saya juga rajin berlatih saban hari…..
ES: Ok, tetapi saya tidak yakin hanya begitu saja karena apakah suara akan tetap baik jika tenggorkan saya sering terkena radang gara makan sembarangan?
PT: Oh iya juga sih Bung, anda saja yang tidak sabar karena saya tadi pas saya mau ngomong begitu, sampeya sudah main potong ucapan saya…ya, saya selain berlatih tetapi juga tidak sembarangan maka katak, ular, cicak, buaya dan lain-lainnya itu Mas… tapi ya…jangan lupa…..rajin berdoa juga yaaaaa…..
ES: he he he …baiklah …ayoooo semuanya saja …. tepuk tangan yang meriah untuk Bung xx

(prok prok prok prok keeepppprrrooookkkk, begitulah suara tepuk tangan membahana)

Sahabat terkasih, apakah anda melihat perbedaan di antara dua skenario wawancara di atas? Tak perlu repot-repot. Saya kasih tahu saudara bahwa ada perbedaan di antara keduanya. Wawancara pertama tidak menambah ilmu apa-apa bagi saya sedngkan pada wawancara kedua saya mendapat pengetahuan baru bahwa agar suara menjadi indah maka perlu beraltih, menjaga pola konsumsi dan juga rajin berdoa. Wawancara kedua menghasilkan hal yang amat positif. Tetapi lihatlah, pada wawancara kedua. Di situ terjadi proses saling menyangkal terlebih dahulu sebelum tiba pada konklusi positif pada akhirnya. Anda lihat, positivitas dihasilkan melalui proses yang penuh negativitas. Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengatakan hal itu sebagai dialektika. Ya, kita bisa menemukan kebaikan setelah sebelumnya kita terlibat dalam suatu proses yang saling menyangkal, menyakitkan dan negatif.

Pada titik ini, teringat akan sebuah lagu, yang menurut saya teramat keren, yang dinyanyikan oleh duet fenomenal favorit saya, “Simon & Garfunkel”. Lagu itu berjudul “Cecilia”. Coba dengarkan ini:

Paul SimonCecilia
dan berikut ini versi aslinya
Paul Simon & Art Garfunkel – Cecilia

Mula-mula saya menyukai lagu ini karena beat dan sinkup lagunya yang luar biasa dan dinyanyikan dalam harmoni yang tak kalah luar biasanya. Dan saya tidak berbohong kepada sauara-saudara tetang hebatnya lagu ini karena lagu yang diciptakan oleh Paul Simon pada tahun 1970 ini menduduki tangga lagu # 4 di US chart. Sesudahnya tercatat lusinan pemusik dan penyanyi merekam kembali lagu ini dalam interpretasi mereka sendiri. Group Ace of Base, Madness, Faith No More dan Counting Crows adalah beberapa di antaranya. Lagu ini juga dimasukkan sebagai lagu thema di beberapa film Hollywood misalnya The Sopranos dan The Right Place Time. Oh iya, saya juga ingin mengatakan bahwa judul lagu ini sebenarnya mengingatkan saya kepada seorang sahabat masa kecil saya, ketika masih di bangku SD. Dia adalah tetangga saya yang juga bernama Cecilia. Entah di mana dia berada kini. Tak tahu lagi di mana rimbanya. Singkat kata, lagu ini adalah lagu yang bagus dan keren.

Belakangan baru saya sadari bahwa lagu ini bagus bukan semata-mata karena beat dan harmonisasi-nya saja yang hebat tetapi ada kekuatan tersendiri di balik lirik-liriknya. Salah satu interpretasi makna liriknya mengatakan bahwa lirik lagu ini berceritera tentang seorang kekasih yang berperilaku tidak menentu (capricious lover) yang mendatangkan kesedihan yang amat sangat (anguish) dan sekaligus kegirangan, yang juga teramat sangat, (jubilation) bagi pasangannya. Bayangkan saja, baru saja si penyanyi kegirangan karena selesai bercinta eeehhhhh si Cecilia lenyap ketika ditinggal sebentaran ke kamar mandi. Cecilia melompat ke pelukan orang lain. Pada muanya si penyanyi membayangkan kekasih yang baik. Cecilia menjawab … sorry sir, i’m not. Gue kabur acchhh …. Si penyanyi berharap dan memohon… c‘mon home Cecilia …. dan …wwwoouuw …. jubilation….Cecilia pulang kerumah dan … heii … loves him again. Gilaaaa. Si penyanyi tertawa berguling-guling di lantai. Luar biasa. Amazing. Ternyata, ada juga dialektika di dalam dunia percintaan. Thheeerrrrrrllaallhhhuuuu…..

Lalu, apa ada hubungan antara Cecilia, capricious lover, anguish, jubilation dan dilektika. Untuk memahami hubungan ini, karang saya mencoba untuk meletakannya secara bersamaan dengan dinamika politik dan hukum kontemporer di Indonesia. Hari-hari belakangan ini kita di Indonesia dipusingkan dengan dampak perseteruan di antara cicak VS buaya VS godzilla VS kadal dan entah apa lagi namanya itu. Pada awalnya adalah pesoalan hukum lalu merembet ke soal-soal politik. Mula-mula polisi dan jaksa mengatakan Bibit dan Chandra (BC) tersangka dalam kasus korupsi lalu ditahan. Satu juta Facebookers marah. BC menyangkal dan memberikan perlawanan. Mahkamah konstitusi membuka rekaman hasil sadapan KPK dan….bbrrrrrrgghhhh…..Satu juta Facebookers marah. SBY bingung. Semula belia mengataan bahwa …. “saya tidak bisa campur tangan”…eeehhh…2 hari kemudian, menghadapi tekanan politik dari publik, beliau membentuk tim 8 dan lalu seminggu kemudian tim 8 menyimpulkan: “perkara BC tak bisa diteruskan karena bukti-bukti lemah”. Eh, Polri dan Kejakgung menyangkal kesimpulan komisi 8. Komisi III DPR “bersimpati” kepada Polri dan Kejakgung lalu bertepuk tangan dan berfoto bersama-lah mereka bareng tamu-tamunya yang menyambangi gedung DPR/MPR. Pengacara BC menyangkal bukti-bukti dari Polisi. Pengacara Anggodo mengatakan bahwa kliennya idak bersalah. Tiba-tiba Wiliardi Wizard berteriak di pengadilan Antasari Azhar … “gue cabut BAP karena sudah diskenariokan oleh petinggi Polri”… “Antasari memang sudah disasar untuk ditumbangkan Polisi”. Antasari menangis karena merasa terdzolimi. Tetapi besoknya Polisi menyangkal….walaahhh…si WW dan AA bohong tuh, buktinya nih liat videonya waktu diperiksa, mereka cuma ketawa-ketawa tuh…. Adnan Buyung mengataan bahwa “ada gerakan operasi intelijen di balik pelemahan KPK”. Begitulah terjadi setiap hari. Satu pihak menyatakan sesuatu, besoknya dibantah oleh pihak lainnya. Ah, entahlah besok pernyataan dan bantahan terhadap pernyataan apa lagi. Lalu, rakyat dibuat bingung dan bengong. Di mana kebenaran. Adakah kebenaran bisa ditemukan dari ceritera yang saling menyangkal itu? Jangan-jangan semua ini adalah dialektika hari ini, yang memang harus terjadi, sebelum Indonesia berubah menjadi lebih baik besok hari.

Jujur saja, sayapun bingung tetapi dari pada bingung berkepanjangan maka baiklah saya mengajak, jikalau sahabat sudi, marilah kita coba menumpang pada filsafat kritis dari Hegel. Kebaikan bisa lahir karena ada saling menyangkal. Filsafat, sejak Aristoteles, amat memuja ketenangan. Hidup adalah untuk mengejar kebaikan dan menghindarkan penderitaan. Jauhkan pertentangan dan sangkal-menyangkal. Itu adalah penderitaan. Akan tetapi Hegel berpikir bahwa manusia adalah sebuah proses pencarian dan pembentukan. Di dalam proses itu manusia harus terus bergerak menuju kebahagiaan. Di situ, mau tidak mau ketidak tenangan harus dihadirkan guna menghindarkan kemapanan. Tesis harus dilawan dengan antitesis. Kritik mengeritik dan sangkal menyangkal diperlukan guna menghindari kemapanan. Mengapa demikian? Ya, karena ketika kritik ditiadakan maka yang terjadi adalah kebahagiaan dan ketenangan yang palsu dan artifisial. Ketika kritik ditiadakan maka kebaikan bisa datang semata-mata hasil tafsiran sekelompok orang yang disebut sebagai penguasa. Baik menurut sang penguasa haruslah baik untuk semua rahayat. Besar maupun kecil.

Pengalaman empirik Bangsa Indonesia di masa ORBA menunjukan bukti kuat untuk itu. Semua yang menurut Soeharto baik adalah baik juga untuk semua orang. Jikalau menurut Tutut, Bambang dan Tommy berdagang dengan cara makelar adalah yang tebaik bagi Indonesia maka memang harus begitulah adanya tak perduli seberapa korupnya sistem itu. Toh Indonesia mengalami swasembada pangan, ketenangan dan keteraturan keamanan. Betulkah demikian? Mohon maaf, jawabannya adalah tidak. Ketika krisis besar di tahun 1997 datang menerpa, jatuhlah Indonesia kedalam malapetaka hutang dan krisis. Imbasnya masih terasa sampai hari ini. Inilah harga yag harus dibayar oleh minimnya kritik. Nihilnya dialektika. Kemapanan ternyata membawa celaka. Oleh karena itu, kritiklah kemapanan. Saling mengkritiklah kita. Hiduplah dalam situasi saling sangkal menyangkal. Pertarungan di antara tesis dan anti-tesis memaksa orang untuk terus menemukan tesis yang lebih baik. Lantas dari sana, kebenaran dan ketenangan sejati, yang tidak semu, dapat ditemukan. Bukan oleh segelintir orang, yang disebut elit, melainkan oleh kesepakatan banyak orang. Kebenaran tak boleh dimonopoli elit. Dia milik semua orang.

Sedemikian perlukah dialektika? Tak pasti juga tetapi marilah kita tengok apa kata Hegel tentang keutamaan dialektika. Dia bilang begini: “dengan demikian yang benar adalah kegilaan dari tari dewa mabuk … (bakhantik – yang berasal dari kata Dewa Bacchus yang adalah dewa anggur). Apa maksudnya ini? Franz Magnis Suseno membuat penafsiran yang sangat elok, yaitu berproseslah secara bersemangat bak orang mabuk dalam mencari kebenaran, bila perlu bertengkar dan saling menyangkal. Pada akhirnya adalah ketenangan bak orang mabuk yang tertidur lelap dalam kelelahan setelah menari-nari tak keruan. Setelah pertengkaran panjang dan melelahkan, percayalah akan ada hal-hal benar dan benar yang berhamburan yang dapat kita petik. Dan dunia menjadi tenang. Kedamaian datang setelah bertengkar.

Persoalannya adalah sangkal menyangkal dan bertengkar seperti apa yang dapat mendatangkan kebaikan? Merujuk kepada Hegel, jawabannya adalah berpikir kritis. Apa esensi berpikir kritis? Ini dia Bung dan Zoes: dialog zonder pakai kekerasan. Ya jelas terang benderang: dialog dan bukannya “dia loe gue” suka-suka sendiri lantas berantem terus menerus tak keruan. Saling gampar, saling bunuh dan atau saling meniadakan. Maka itu, biarkan KPK, Polisi, Jaksa, Pengacara, Hakim, para tertuduh dan tersangka, Facebookers dan juga kita semua bertengkar tetapi jangan saling me-negasi. Silakan saling berdialog sekritis mungkin karena sesudah itu semua akan tenang kembali. Kebenaran akan datang memunculkan dirinya di ujung pertengkaran. So, ikuti saja semua pertengkaran sembari menarik hikmah dan menghindarkan perilaku destruktif. Percayalah. Tuhan tidak tidur. Ada waktunya Dia menunjukkan kebenaran dihadapan para pemabuk yang lelah itu. Habis bertengkar datanglah damai. Habis gelap terbitlah terang. Apakah Hegel benar? Silakan anda nilai sendiri. Kalau saya memilih untuk percaya bahwa Tuhan adalah benar. Kata-NYA: “sehabis hujan akan tampak pelangi nan indah”. Nah lho, apakah dengan percaya kepada Tuhan maka berpikir kritis harus ditiadakan? Ya, tidak juga. Bagaimana caranya percaya kepada Tuhan tetapi tetap kritis? Eh, nanti lain kali saya posting. Sekarang cukup ini saja dahulu. Itu saja Broth’ and Sista’.

Tabe Puan Tabe Tuan