
Dear Sahabat Blogger,
Tetapi pada saat bersamaan saya harus menghadapi perasaan masgul. Sedih. Semalam, tepat pukul 20.00 WITA, mama besar (kosa kata Melayu Kupang untuk memanggil isteri dari om atau paman atau pakde) saya, yaitu mama Lin Riwu Kaho-Udju Edo telah menutup mata untuk selamanya. Dalam keadaan sekarang inilah saat terakhir saya bisa bertemu dengan beliau. Mulai besok, hanya angin dan kenangan. Selama 4 tahun tinggal di Atambua, Belu, NTT, saya tinggal bersama mama besar. Jauh dari bapa robert dan mama Agustine. Lalu, sedikit banyaknya, hidup saya ikut dibentuk oleh mama besar. Mengenang itu, saya sedih. Aneh? Mungkin tidak bagi kebanyakan anda tetapi aneh bagi saya. Mengapa demikian? Di laptop saya tersedia 2 sistem operasi, yaitu Windows Vista dan Windows XP. Ketika saya ingin membuka Vista misalnya maka XP tidak dapat dibuka. Begitu pula sebaliknya. Kedua sistem tak mau jalan bersama. Lalu, jika mampu membuka keduanya secara bersamaan pastilah perkara aneh. Dengan demikian, sudah barang tentu saya merasa aneh karena dalam 1 diri 1 pribadi tercetus 2 perasaan sekaligus hari ini. Senang dan sedih.
Keanehan itu menimbulkan keheranan. Ketika masih amat kecil, saya heran mengapa bintang kerlap kerlip di angkasa malam hari tidak pada siang hari. Plato mengatakan bahwa “mata kita memberikan pengamatan, dan kita takjub” Lalu, dari rasa takjub itu timbulah niat ingin menyelidiki. Mengapa bintang berkerlip malam hari? Ketika memulai penyelidikan, saya merasa ragu: “apakah yang saya lihat itu betul-betul bintang atau jangan-jangan kue semprong milik saya yang disimpan di lemari telah diambil seseorang lalu digantung di langit hitam pekat dan diberi nyala lilin?”. Descrates mengatakan bahwa “bergerak dari perasaan heran manusia mulai meragukan pengamatan panca inderanya”. Karena manusia cemas dalam ketidakpastian maka keraguannya perlu dibuktikan. Hasil penyelidikan dan pembuktian yang saya lakukan menunjukkan bahwa ternyata kue semprong yang ada di lemari masih utuh. “Heeeiiii…..masih anteru (kosa kata Melayu Kupang yang berpadanan dengan kata utuh) kue ku…tidak ada yang hilang”. Maka, sudah pasti yang kerlap-kerlip di langit itu bukan kue semprong saya. Itu mungkin bintang. Dan itu harus saya buktikan tapi….wwwaaaalllllaaaahhhhh….tangan saya tidak sampai menjangkau langit. Bintang itu tak bisa kupegang. Ternyata saya terbatas. Kemampuan saya terbatas. Tagal keterbatasan itulah, maka saya terus tetap takjub menatap indahnya bintang yang gemerlapan di langit tinggi.
Bagitulah sahabat-sahabat budiman, mengapa sampai sekarang ini saya terus saja merasa takjub. Saya masih saja heran dan sangsi mengapa senang, mengapa sedih dan mengapa keduanya bisa terja
di bergantian dan bahkan…wow. terjadi bersamaan. Keseriusan berpikir kadang-kadang malah menuntun kepada kebingungan yang teramat sangat. Ada yang tidak dapat terpikirkan. There is something out of my mind while everything are done. Lalu, saya bilang kepada diri saya sendiri…”heeiiii mike, dari pada pusing-pusing mikirin jawaban atas segala sesuatu bagaimana jikalau kamu bersukur dahulu. Mungkin sesudah itu. jawaban” akan diberikan kepadamu“. Maka, “selamat datang senang. Selamat datang sedih. Silakan bercampur aduk menjadi satu. Saya memikirkan kalian berdua tetapi terlebih dari pada hanya berpikir, saya mau bersukur”.
Selamat hari Lebaran 1340 Hijriah. Minal Aidin wal Faidzin. Mohon dimaafkan lahir batin. Selamat jalan mama besar. Selamat berbahagia menuju negeri abadi. Sang Pencipta akan tersenyum menyambut engkau. Oh ya, titip salam untuk bapa besar, bapa robert dan mama agustine. Katakan pada mereka bahwa saya rindu. Kami rindu.
Bagi sahabat yang ingin menikmati segitiga: heran, ragu dan keterbatasan maka silakan menikmati sebuah lagu bagus dari Phill Collin berikut ini:
Tabe Puan Tabe Tuan
“Strangers Like Me”
by phill collins
Whatever you do, I’ll do it too
Show me everything and tell me how
It all means something
And yet nothing to me
I can see there’s so much to learn
It’s all so close and yet so far
I see myself as people see me
Oh, I just know there’s something
bigger out there
I wanna know, can you show me
I wanna know about these
strangers like me
Tell me more, please show me
Something’s familliar about these stransgers like me
Every gesture, every moe that she makes
Makes me feel like never before
Why do I have
This growing need to be beside her
Ooo, these emotions I never knew
Of some other world far beyond this place
Beyond the trees, aboe the clouds
I see before me a new horizon
I wanna know, can you show me
I wanna know about these strangers like me
Tell me more, please show me
Something’s familiar about these strangers like me
Come with me now to see my world
Where there’s beauty beyond your dreams
Can you feel the things I feel
Right now, with you
Take my hand
There’s a world I need to know
I wanna know, can you show me
I wanna know about these strangers like me
Tell me more, please show me
Something’s familiar about these strangers like me
… I wanna know
Selamat datang senang…Selamat datang sedih.. Silakan datang bersama .. bercampur aduk menjadi satu…
memang engkau adalah sahabat yg selalu jalan beriring…
aku hanya ingin tahu.., dan tunjukkan kepadaku..
aku hanya orang asing disini..
aku hanya ingin tahu..
segitiga yg lain..
aku,sedih dan senang..
Strangers Like Me
manusia memang “kecil” dan tak berarti di mata Tuhan. Nitsche pernah ingin membunuh Tuhan tetapi dia jadi gila. Good posting
filsafat filsafat dan filsafat. Suka bikin pusing ha ha ha
SELAMAT HARI LEBARAN MIDAL AIDIN WAL FAIDZING. Saya heran kok ya sehabis lebaran korupsi terulang lagi????? heran dan takjub
yes we are strangers in the world….
Verry good blog. Keep on posting
thanx bagi yang sudah berkomentar. GBU