Sekali waktu, entah tanggalnya, tak pasti harinya, tapi itu di tahun 70-an
Seorang lelaki muda perkasa baru mendapatkan sebuah motor dinas:
Vespa Piaggio
Sambil membonceng seorang putranya yang masih bocah, baru kelas 4 SD
Dia berkata perlahan: Nak, sekarang bapak punya motor, nanti besar kau beli mobil
Si anak terperangah
Sang ayah memberi pesan
Pesan tentang apa yang harus dikerjakan anaknya di masa depan:
bahwa hidup harus bertumbuh
Sekali waktu, entah tanggalnya, tak pasti harinya, tapi itu di tahun 80-an
Seorang lelaki dewasa dan perkasa, baru saja membelikan sebuah sepeda motor Yamaha RX-S
Sambil memeluk, mencium dan mengusap kepala sang putranya yang sudah mahasiswa
Sambil tertawa dia berkata perlahan: Nak, mudah-mudahan kamu menjadi sarjana meneruskan cita-cita ayahmu yang hanya sarjana muda.
Si anak tertegun:
Sang Ayah memberi pesan
Pesan tentang kewajiban anaknya di masa depan:
Sekali waktu, entah tanggalnya, tak pasti harinya, tapi itu di tahun 90-an
Seorang lelaki tua menjelang pensiun tetapi masih perkasa
memberikan hadiah
kepada sang anak yang baru lulus program magister:
sebuah mobil Toyota Hard Top
Sambil berlinang air mata haru dia berkata di depan banyak orang:
Anakku, kaulah satu-satunya
yang meneruskan pekerjaan ku sebagai guru.
Karena guru tidak mungkin kaya. Maka kaupun mungkin tidak akan kaya
Oleh karena itu, mobil ini kuhadiahkan kepadamu
Si anak gembira dan takjub:
Sang ayah memberi pesan
Pesan tenang kewajiban sang anak di masa depan
Bahwa untuk hidup pilihan yang berkualitas, selalu ada resiko di dalamnya
Sekali waktu, lupa tanggalnya, lupa pula
harinya, tapi itu di Februari tahun 2005
Seorang lelaki tua, mulai renta, merebahkan badannya ke lantai gedung besar.
Bersujud sukur sambil berurai air mata
ketika itu, sang anak sedang melompat meninju udara
karena dinyatakan lulus sebagai Doktor Cumlaude….
Sambil terisak menangis lelaki tua renta itu berkata:
Anakku, adalah impianku agar di hari tuaku nanti,
sekali waktu, dapat berziarah ke Tanah Suci
Tetapi sekarang, impianku ke Tanah Suci sudah kulupakan
Cintaku kepadamulah, anakku, yang mengalahkan rindu dendam yang satu itu
Impian ke tanah suci itu, telah kutukar dengan keinginan untuk melihat engkau terbang
mendekati arah yang ditentukan Sang Maha Agung
Bagiku cukuplah itu .
Mungkin ini rencana Tuhan bagiku
Meskipun begitu, ada yang harus kau ketahui anakku terkasih:
Seumpama busur dan anak panahnya
Aku sekarang adalah busur tua yang sudah tak kuat lagi
Masaku sebagai busur hampir lewat
Ku harap, engkau bersedia menjadi sang busur yang baru
Jika engkau mau, wahai anakku, jadilah busur baru yang mantap dan kuat
yang dapat digunakan oleh Nusa, Bangsa, Masyarakat, Keluarga dan Gereja…
dan Sudah pasti berguna bagi Sang Pemanah itu
Si anak cuma diam terpekur dan tak berkata apapun…..
Sang ayah telah memberikan pesan
Pesan tentang apa kewajiban dalam hidp yaitu bahwa
hidup adalah kumpulan tugas yang harus dikerjakan dan diselesaikan
dengan tuntas karena itulah keinginan sang pemilik kehidupan
Pada waktu itu
Tanggal, hari dan tahunnya persis diingat
23 April 2008
Seperti yang telah diramalkannya sendiri
Sang ayah, yang tua dan lemah itu kehabisan rupa dayanya
Saatnya telah tiba baginya untuk dibawa kembali oleh pemiliknya
Ke suatu tempat entah di mana
Jasadnya rebah memeluk dan
dipeluk bumi pertiwi
Ribuan orang melayat, ribuan orang mengirim doa
Ribuan orang itu memberikan kesaksian. Satu kesaksian::
begitulah kehormatan yang akan diberikan oleh sang Pemanah
kepada busur-busur-Nya yang taat dan setia
Ketika itu, sang anak
yang dahulu ketika kecil dibonceng oleh sang Busur dengan motor Vespa Tuanya,
Hanya bisa tertunduk dan menangis di sudut sempit di samping rumah
Sambil berusaha menyeka air matanya, dia berdoa:
Tuhanku
mengapa Engkau mengambil ayahku
Tanpa dia sempat menyampaikan pesan apapun kepadaku
Lalu, sayup-sayup, bersamaan
dengan hembusan angin dingin senja hari
Sang busur tua itu, sang Guru tua itu, berbisik:
Anakku, buah hatiku, ketahuilah:
Sang pemanah Agung itu sedang berada tepat di sampingmu
DIA ingin menggunakanmu sebagai busur-Nya yang baru
Engkau, ya engkaulah busur baru itu,
Ya, semua saudara-saudaramu,
semua anak-anakku
semua cucu-cucuku
adalah busur-busur baru itu
Yang perlu engkau, dan juga kalian semua lakukan adalah:
Hiduplah berserah penuh kepada Sang Pemanah
Maka, engkau tidak akan pernah sendiri
Maka engkaupun akan menjadi busur yang terberkati
dan menjadi berkat bagi banyak orang
Menjadi tumpuan anak-anak panah yang baru
Milik Sang Pemanah Agung
Tersenyumlah anakku
meskipun mungkin airmatamu belum juga mengering
Karena, kini aku pun sedang tersenyum bersama Sang pemanah itu
Kau tahu di mana sekarang aku berada?
Ya, engkau benar anak-ku, aku berada di Negeri yang sangat kuimpikan:
Tanah Peziarahan akhir.
Tanah Suci
Tanah Abadi.
Sekarang, ayo nak, berjalanlah ke depan, buah hatiku
Meskipun kesedihan hati masih menggelayutimu
Karena,
sekarang inipun, aku sedang melangkah maju bersama Sang Pemanah Abadi itu
TUHAN Mahakasih
Catatan:
1. Ditulis pada bulan Juni 2008 dalam rangka memperingati 40 hari berpulangnya Ayahanda tercita, Robert Riwu Kaho,
2. Pemanah dan Busurnya diinspirasi dari puisi Khalil Gibran
3. Hari ini, 24 Juli 2008, tepat 45 tahun lalu, sebuah puisi ditulis bersama oleh Robert Riwu Kaho dan Agustin Sabartinah Riwu Kaho-Soedarjat dan diberi judul: Ludji Michael Riwu Kaho





Indah dan mengharukan. Selamat HUT Bosss
Lho kok sama yang di BS? Yo wis ben. Ada kerinduan di dalam puisi ini.Indah
Hidup sepertu roda. Sedih dan gembira hanyalah sesaat. Selamat HUT. Carpe Diem
Wow amazing
Hidup yang benar di mata Tuhan adalah puisi yang terindah di mata TUHAN
Met Ultah Luiggi. GBU (Kuta Bali)