Dear Sahabat Blogger,
Cicak cicak di dinding
diam-diam menyadap
datang seekor buaya
haaaaaapppp….
cicak pun pingsan
Bagaimana, setujukah? Mungkin anda kurang setuju tetapi maaf dalam dunia nyata di Indonesia hari-hari belakangan ini, itulah kenyataannya. Polisi dengan berbagai dalih akhirnya menangkap Bibit dan Chandra. Dua petinggi KPK yang sebelumnya telah dilucuti kekuasaannya alias di non-aktifkan. Polisi dan juga, Presiden SBY dan juga Deny Indrayana yang jauh hari sebelum diangkat menjadi staf khusus presiden terkenal bermulut tajam terhadap berbagai kisah korupsi tetapi belakangan berubah manis, yakin betul bahwa penahanan itu adalah konsekuensi logis dari pelaksanaan proses hukum. Akan tetapi banyak pihak di luar “dia-dia orang” yang, kendati meyakini kebenaran proses hukum, berpendapat bahwa proses penaanan Bibit dan Chandra amat bertentangan dengan perasaan keadilan masyarakat. Konon para facebooker sejumlah hampir 200.000 orang memilih untuk berada di belakang Bibit dan Chandra yang dianggap sebagai “simbol perlawanan” terhadap upaya kriminalisasi dan pelemahan KPK. Kegeraman sebagian orang semakin meninggi ketika mister Anggodo Wijaya, sang penelepon yang tersadap KPK mendatangi Mabes Polri guna melaporkan KPK karena merasa tercemar nama baiknya. Entahah, apakah sebelumnya mister Anggodo terkenal memiliki reputasi bernama baik.
Begitulah, sahabat blogger terkasih, situasi Indonesia di akhir bulan Oktober dan memasuki bulan November. Panas dan Panas. Mungkin terpengaruh kondisi iklim Indonesia yang amat panas di musim kemarau panjang yang diperkuat oleh munculnya fenomena “EL Nino”. Saya tak mau ikut-ikutan latah melakukan analisis siapa benar dan siapa salah. Silakan anda membuka lembar koran dan atau membuka halaman-halaman berita di dunia internet untuk membaca dan menganalisinya sendiri. Simpulkan sendiri dan lalu katakan kepada hati nurani anda, kemana rasa keadilan anda akan berpihak. Saya cuma sekedar heran mengapa polisi dan KPK harus terlibat dalam perseteruan seperti itu. Banyak pihak mengatakan bahwa yang bertengkar adalah oknum dan bukan lembaga. Pernyataan itu benar tetapi pertanyaan saya adalah apakah lembaga jika bukan terdiri atas oknum-oknumnya? Setahu saya polisi dan KPK adalah produk huku resmi milik semua warga bangsa. Polisi ada untuk menalankan ketertiban umum dengan motto “to protect and to serve“. Bukankah KPK diadakan oleh kita semua agar kesejahteraan umum sebagaimana yang dimaksudkan di dalam Pembukaan UUD 1945 dapat berjalan tanpa “dicuri” oleh penyelenggaranya? Lalu, mengapa keduanya bertentangan? Atau jangan-jangan pemberi metafora “Buaya VS Cicak” terinspirasi oleh proses liar di dalam ekosistem alami, yaitu rantai dan jejaring makan.
Di alam, adalah tikus makan padi, ular makan tikus, ular dimakan elang dan seterusnya sampai ke puncak piramida makan-memakan, yaitu pemangsa terbesar adalah dia yang memakan semua yang berada di level bawahnya. Lawan dihancurkan. Bila perlu cukup dengan sekali kremus-an. Tingkat makan memakan di dalam ekosistem alam itu dipahami sebagai upaya guna menggambarkan bahwa supaya hidup adalah sah saya memakan semua yang lebih lemah dari pada saya. Lah, supaya tidak musnah dimakan maka semua yang berada di level bawah hendaknya berusaha memakan apa saja yang bisa dikalahkan. Dan bagi yang mereka yang terlalu lemah untuk memakan maka yang dikebangkan adalah taktif defensif. Tumbuhan kaktus yang tidak bisa memakan kambing lalu mengembagkan duri untuk melindunginya. Kembang Mawar yang cantik tetapi lemah itupun memilih jalan serupa kaktus untuk melindungi dirinya. Rumput kecil lemah itupun sebenarnya tak berdaya ditelan si sapi dan si api. Sekali ragut habislah dedaunannya. Benar begitu? Belum tentu. Dengan “amat licik”, si rumput menyembunyikan titik tumbuhnya di bawah permukaan tanah sehingga kedati daunnya habis ditelan mangsa tetapi rumput tetap hidup. Bekerja sama dengan semua organ renik pengurai, si rumput diam-diam memperkaya diri di dalam tanah dan …ccccuurrrrrr….begitu datang guyuran hujan, tumbuhah dia kembali penuh gaya di padang hijau itu. Begitulah di dalam alam, semua memakan semua dan semua berupaya menipu semua. Dalam konteks ini, buaya memang pemangsa yang lebih tangguh ketimbang cicak tetapi awas….cicak bisa menipu. Ketika datang bahaya, ekorpun diputuskannya dan heeeeiiii…cicakpun lari bersembunyi sembari mengintip peluang untuk memakan nyamuk. Lihatlah, si cicakpun ternyata adalah pemangsa juga bukan?
Jadi bagaimana? Pertama, polisi dan KPK dan kita semua tidak hidup di dalam rimba raya tempat berlangsungnya proses makan memakan secara bebas demi hidup; Kedua, Polisi dan KPK dan kita semua ada dalam keunikan struktur dan fungsi sendiri-sendiri tetapi sekaligus dengan itu kita semua terpanggil oleh suatu keterarahan untuk berbuat baik, yaitu apa yang disebut sebagai panggilan hati nurani; Ketiga, jikalau benar bahwa kita memiliki nurani maka apa yang seharunya kita lakukan adalah bekerja dalam semua tugas dan fungsi kita masing-masing, sebaik-baiknya dalam harmoni yang sama agar terpancar kebaikan, kemuliaan dan kasih sayang. Untuk itu kita bisa belajar dari gading Ivory yang di dalam deretan tuts piano berfungsi untuk menghasilkan nada-nada mayor. Lalu berdampingan dengannya adalah potongan bilah kayu Ebony yang bertugas untuk menghasilkan nada-nada minor. Di tangan seorang komposer atau artist yang baik maka perpaduan antara Ivory dan Ebony menghasilnya nada-nada merdu
yang menyuarakan keindahan, kebaikan dan kasih sayang. Thomas Aquinas mengatakan bahwa “kita satu pada diri sendiri (unum in se)” dan sekaligus “kita juga satu dalam keterarahan tujan yang sama (unum ordinis)”. So, belajarlah kawan, untuk hidup berda
mpingan secara harmonis kendati kita berbeda. Saya mau mengasihi anda justru karena anda berbeda dari saya. Jikalau Ebony dan Ivory bisa, mengapa kita tidak?



































