The Old Tree Still Standing. Alone

Bersukurlah menjadi Rumput

Posted by: luiggimikerk on: Oktober 6, 2008

Dear Sahabat blogger,

Berakhir sudah masa liburan. Liburan yang cukup panjang. Sekitar 10 hari. Cukup lama. Senda gurau di masa kecil dahulu menghasilkan defenisi bahwa liburan yang lama adalah liburan yang ketika kami kembali ke sekolah ditanya guru 1 + 1, jawabannya adalah 8 ….he he he …saking lamanya libur, kami menjadi bodoh kembali. Mungkin “sindroma” seperti ini yang membuat PNS di Indonesia, pekerjaan pertama pada hari pertama setelah libur yang lama adalah…..libur lagi alias bolos….mengapa demikian? Yah, karena kembali menjadi bodoh…..perlu diteliti. Bagi saya pribadi, liburan kali ini ditandai dengan dua hal, yaitu adanya hari raya lebaran dan keberangakan saa pertama kali ke Sabu. Pulau liliput di tengah Laut Sabu dan Samudera Hindia. Pulau yang ketika pertama kali memandangnya dari dekat adalah….woooow kerrrr…..sori,……bukan wow keren……..tapi wow…kering…..

Ada dua pertanyaan, yaitu apakah sahabat-sahabat yang baru saja selesai berpuasa dan berlebarn lantas berubah menjadi lebih baik? Sebelum berpuasa anda adalah anak “nakal” dan sesudah berpuasa anda berubah menjadi uztad atau uztadsah. Begitu? Lantas, sesudah ke Sabu, yang berarti saya mendaptkan kesempatan untuk mendapatkan pelajaran dari keraifan-kearifan lokal yang hidup semenjak masa para leluhur lantas saya berubah menjadi anak manis yang tidak lagi berulah aneh bin ajaib? (kalau yang ini jawabannya, telak: ….hari minggu kemarin malah saya tidak pergi ke Gereja…..ada alasannya tapi….ya itulah yang terjadi). Kalau ini pertanyaannya maka sebenarnya pertanyaan paling mendasar adalah apakah niat atau nawaitu anda ketika berpuasa dan atau saya melakukan perjalanan pilgrimate ke negeri leluhur? Saya sungguh tida tahu apa jawaban para sahabat tetapi adalah niat saya ke Sabu guna memperoleh bekal kearifan baru yang bisa digali dari etika tradisional yang ada, yang saya dengar bersifat adiluhur. Nah, para sahabat terkasih, tentang niat atawa nawaitu itulah yang ingin saya tampilkan lewat lirik berikut ini.

Bertahun lamanya aku berdiri di sini
Sepi sekali rasanya, suara anginpun seakan tidak terasa
Dan , di dalam kesepian ini aku melihat ke kiri dan ke kanan,
ternyata ada tetanggaku yang perkasa. Dialah padi
Ya, ada banyak padi di sini. Amat banyak

Entah mengapa, aku tiba-tiba ingin menjadi padi
Lalu aku berdoa kepada kehidupan agar aku dapat menjadi padi
Aku berdoa dengan khusuk. Doa yang jernih dan bening

Tiba-tiba, bertiuplah angin kencang mengguncang tubuhku
Tangan-tanganku yang tadinya melambai-lambai sekarang terpaksa terlipat
menyatu dengan tubuhku. Kakiku terbenam makin dalam ke dalam tanah?
Apakah aku telah berubah menjadi padi?

Perlahan kubuka mataku dan kulihat sekelilingku
Wow, ternyata aku tetap saja rumput. Bukan padi.
Aku tetap rumput yang menjadi gulma di tanah sawah dan di ladang
Aku rumput yang harus dicabut petani
Aku cuma rumput bahkan aku adalah gulma

Setetes embun jatuh ke tubuhku
Berkilau diterpa metahari dan perlahan mengalir membasahi tanah
Angin semilir berlari menerpa daun dan tubuhku menimbulkan nada kidung indah

Tapi aku tidak perduli karena sekarang kepalaku mendongak ke atas
Ada bintang di atas langit. Indah
Aku ingin menjadi bintang

Apa kesan anda terhadap lirik di atas? Bagi saya adalah ini:
1. Ada rumput dan padi berdampingan di sawah;
2. Ada rumput yang kepingin menjadi padi;
3, Ada rumput yang berusaha dan berdoa agar berubah menjadi padi;
4. Ada rumput yang kecewa karena doanya tidak terkabul:
5. Ada rumput yang kembali berharap dapat menjadi bintang.
Apa kesimpulannya? Ini: ada rumput yang tidak pernah mau menjadi dirinya sendiri.

Apa pesan moral dari ceritera di atas? Oh, bukan sesuatu yang istimewa tetapi perlu didengungkan kembali, yaitu be your self. Dahulu ayahanda almarhum pernah mendongengkan kepada saya tentang katak yang ingin menjadi lembu. Hari ini saya menulis tentang rumput yang ingin menjadi padi dan, lalu, bintang. Apa hasilnya? Katak itu mati. Rumput itu kecewa. Begitulah sidang pembaca, terlalu banyak keinginan yang memenuhi kepala kita ketika melakukan sesuatu. Terlalu banyak cita-cita ketika kita mengerjakan sesuatu. Dan, yang dimaksudkan dengan “sesuatu” itu adalah sesuatu yang di luar diri kita. Sesuatu yang tidak di dasarkan atas penilaian yang obyektif terhadap siapa diri kita. Apa kemampuan kita. Di Kabupaten Rote, NTT, hanya ada 25 kursi di DPRD II tetapi apakah anda ingin tahu berapa banyak caleg yang akan berebut karena menginginkan kursi -kursi itu? 900 orang. Apa niat mereka? Ada seorang kenalan saya yang mengurus dirinya sendiri enggak becus, tiba-tiba datang ke rumah saya meminta saya agar mau berkampanye untuk dia dalam pertarungan colak-calek tahun 2009 nanti….weleh…weleh….wel wel wel….leh leh leh…..

Begitulah, saking benyak dan tinggi-nya cita-cita, lantas kita kehilangan kewaspadaan terhadap siapa diri kita sendiri. Di satu kali kita menganggap berlebihan diri kita. Di lain waktu kita terlalu menghina kemampuan diri kita sendiri. Andai saja rumput tidak terlalu cepat iri hati kepada padi maka si rumput akaan tahu bahwa betapa bergunanya dia. Rumput adalah makanan utama herbivora yang merupakan salah satu sumber protein hewani terpeting bagi manusia. Tanpa rumput, mana ada aksi-aksi Pele, Maradona, Gerd Muller, dan Lionel Messi. Tanpa rumput, mana bisa Tiger Woods menjadi maestro lapangan Golf. Tanpa rumput kita tidak maka roti karena gandum adalah bangsa rumput-rumputan. Tanpa rumput, orang Jawa bisa repot karena bahan bangunan rumah tradisionalnya berasal dari bambu. Tmbuhan bambu merupakan salah satu anggota keluarga rumput-rumputan. Dan, perhatikan ini, tanpa rumput kita tidak makan nasi karena si Oriza sativa adalah keluarga rumput-rumputan. Siapakah itu Oriza sativa? Anda benar. Tidak lain dan tidak bukan, adalah padi. Ya, si padi yang dicemburui oleh si rumput. Mengenaskan, si rumput saking kepinginnya menjadi padi, lupa bahwa padi adalah rumput juga. Si rumput juga tidak tahu bahwa permukaan bumi ini, menurut data dari CIA, menguasai lebih dari 60% permukaan bumi daratan. Dan dengan cara itu, rumput adalah salah satu pencegah erosi yang handal. Rumput adalah penangkap CO2 yang akumulasinya di atmosfer dikuatirkan akan menimbulkan efek rumah kaca yang memicu pemanasan global. Rumput adalah penangkap dan reflektor bagi radiasi gelombang pendek dari surya dan radiasi gelombang panjang permukaan bumi sehingga bumi terhindarkan dari efek terpanggang seperti sate ayam. Wow, begitu banyak fungsi rumput. Sayangnya si rumput tidak tahu.

Apa kesalahan si rumput? Si rumput tidak paham filasafat bahwa setiap makhluk hidup, apalagi jika dia adalah manusia, adalah 2 hal sekaligus, yaitu siapa dirinya dan apa dirinya. Berdasarkan ini Socrates mengatakan “bahwa kenalilah siapa dirimu”. Hal yang pertama, ingin mengatakan bahwa manusia adalah khas. Hanya dialah satu itu di dunia. Tidak ada yang lain. Satu manusia satu sidik jari. Hal berikut adalah, apalah gunanya dia bagi sesama dan lingkungannya. Kehilangan salah satu di antara dua kesadaran ini membuat manusia kehilangan principe d’etre-nya. Sesudah kembali dari Sabu, apakah saya berubah menjadi Bradd Pitt? Tidak juga. Saya tetaplah si coklat gempal. Hidung saya tetaplah bulat kecil tak ada indahnya sama sekali. Saya toh seorang Doktor. Ya, tapi ada ribuan orang Doktor lainnya dan mungkin saya adalah Doktor terbodoh. Lantas, apakah saya bermimpi ingin menjadi Doktor seperti Einstein? Ah, tidak juga. Ada 80 Doktor di Undana tetapi Doktor Kehutanan di Undana cuma 1. Di luar Undana ada ratusan, mungkin ribuan Doktor kehutanan. Ya, tapi Doktor kehutanan yang S1 Peternakan dan S2 Agronomi mungkin cuma saya. Ada banyak Doktor tetapi Doktor yang punya isteri bernama Dolly ya cuma saya. Doktor dengan adik yang bernama Laki, Kana, Uli, Dina ya cuma saya. Cukup? Belum bosz. Apa yang sudah saya kerjakan? Ah, kalau ditulis satu-satu maka tampaknya akan menjadi daftar kesombongan. Yang terpenting adalah: apa yang sudah kita kerjakan dengan apa yang kita punya.

So, kembali ke laptop. Apapun yang sudah anda, dan juga saya, niatkan dan lakukan dengan berpuasa, beribadat dan pilgrimate, tidak akan ada gunanya jika anda. dan sudah barang tentu saya, tidak berkeinginan untuk menjadi diri sendiri. Wah, kalau begitu maka saya yang sebelumnya adalah manusia culas maka tetap harus mempertahankan sifat culas saya demi be my self? JANGAN karena, dengan begitu anda akan menentang kodrat manusiawi anda sendiri. Apa kodrat manusiawi anda? Berbicara, belajar dan berbudaya. Berbicara adalah hal pertama yang membedakan anda dengan monyet. Dengan berbicara maka proses belajar dapat anda lakukan. Inti dari proses berbicara dan, lalu belajar, adalah menemukan keteraturan dan kebaikan dalam hidup. Kedua hal inilah yang membentuk kebudayaan. Jadi, korupsi bukan budaya. Berkelahi bukan budaya. Memaki bukan budaya karena hal-hal ini bukanlah keteraturan dan kebaikan. Louis Leahy mengatakan bahwa Berbicara, Belajar dan Berbudaya adalah La Condition Humaine. Apa hubungannya dengan be your self. Oh amat jelas, hanya dengan la condition humaine maka ada dengan mudah akan memahami jati diri anda, baik sebagai makhluk spesial maupun sebagai makhluk generalis yang berguna bagi sesama. Dengan la condition humaine, saya adalah saya. Ada banyak gunanya. Si rumput tetaplah rumput. Jadilah rumput yang berguna. Bersyukurlah menjadi rumput.

Tabe Puan Tabe Tuan

Tags:

No Discussion, just: sElAMat HarI LEBaraN

Posted by: luiggimikerk on: September 29, 2008

Dear Sahabat Blogger,

Tanggal 1 dan 2 Oktober kemungkinan besar adalah hari Akbar bagi kawan-kawan Muslim di mana saja yang selesai berpuasa. Ya, Ramadhan berlalu dan datanglah Hari Bahagia itu. Pada saat yang sama, saya bersama rombongan keluarga Besar Riwu Kaho dan Lai-Talo, sedang berada di Dararae, Namata, Seba, Sabu untuk acara Rukettu Ayahanda almarhum tercinta. Negeri yang berada di salah satu batas terluar NKRI tersebut agak terisollir dari akses internet. Oleh karenanya, saya memposting ucapan selamat saya meski agak terlalu tempo. Tak apalah. Yang penting niat saya cuma 1, yaitu berbahagia bersama semua sahabat Muslim saya. Di manapun anda berada. Semoga Berbahagia. Tuhan Memberkati

Tags:

Gadjah Mada, Sabu dan Robert yang Berpendapat.

Posted by: luiggimikerk on: September 24, 2008

Dear sahabat blogger,

4 bulan lalu ketika sedang meluncur di internet tanpa sengaja saya menemukan sebuah arsip mail milik Yahoo groups dengan nama berikut ini: http://www.mail archive.com/referensi@yahoogroups.com/msg01287.html. Isinya adalah percakapan tentang Kerajaan Majapahit dan asal–usul Patih Gadjah Mada. Saya sebenarnya kurang tertarik pada topik ini karena bidang keilmuan saya “agak jauh” dari pokok bahasan yang ada. Saya kutipkan beberapa penggalan percakapan mereka:

tentang asal muasal Gadjah Mada, berita resmikan berasal dari pedalaman Singosari…..(Risfan Munir)……

Lantas dijawab berikut ini:

Barangkali memang aneh, Gadjah Mada mengarahkan pengembangan Majapahit ke tema penaklukan - luar Jawa - dengan kekuatan angkatan laut. Apakah ini sebuah petunjuk, bahwa Gadjah Mada adalah bagian dari “nenek moyang kita orang pelaut” ? Tegasnya, akan sangat mustahil seorang “Jawa pedalaman” masa itu (meski dengan kewenangan negara) mengerahkan kekuatan dan berorientasi menyeberang lautan ! Artinya, yang paling memungkinkan punya ide kelautan dan seberang lautan penuh kehidupan adalah orang-orang pelaut (punya tradisi hidup melaut) …..(Djarot)…..

Gerangan apa percakapan ini? Oh, rupa-rupanya para netter di atas sedang mempercakapkan debat lama, yaitu apakah Gadjah Mada berasal dari pedalaman Jawa atau bukan. Risfan Munir berpendapat bahwa dia berasal dari pedalaman Singosari. Sedangkan Djarot berpkir bahwa tidak mungkin sesorang yang berbudaya pedalaman mengarahkan pergerakan panaklukannya ke arah laut, ke pulau-puala atau daratan lain. Sampai di sini saya mulai tertarik. Sejurus kemudian perasaan tertarik berubah menjadi TERBELALAK karena saya membaca lagi, ada sesorang yang kemudian ikutan berbicara, yaitu Ekodj08 dan……wuuihhhhh nama marga saya RIWU KAHO ikut disebut. Begini bunyinya:

…….beberapa bulan lalu saya menemukan sebuah buku `baru’ di Kupang berjudul “Orang Sabu dan Budayanya” karya Robert Riwu Kaho, penerbit Jogja Global Media 2005. Sedikit saya ulas beberapa hal sehubungan dengan lontaran Pak Djarot. Kepulauan Sabu (Sawu) terletak di antara Pulau Sumba dan Rote, terdiri dari 3 buah pulau: Pulau Sabu, Raijua, dan Dana. Pulau Sabu-Dana dapat dikatakan pulau paling selatan Indonesia, berhadapan dengan Samudera Indonesia. Jumlah penduduknya saat ini sekitar 65.000 jiwa yang tersebar dalam 3 kecamatan. Pada waktu kepulauan Sabu berada di bawah pengaruh Majapahit, Pulau Dana masih berpenduduk. Konon katanya seorang pangeran dari Majapahit yang beristrikan seorang wanita dari Pulau Raijua pernah bermukim di pulau itu, dan bekas rumahnya masih ada sampai sekarang ini. 3 tahun yang lalu saya bersama Pak Ary Djatmiko sempat sampai ke Nembrala, dan dari situ dapat memandang ke Pulau Dana yang tidak begitu jauh letaknya. Terlihat pulau itu kosong tidak berpenghuni; dan kalau tidak salah Pak Ary merekomendasikan untuk membangun pos TNI-AL untuk menandai titik pangkal kepulauan teritorial Indonesia.

Dalam buku tersebut disebutkan bila orang Sabu pada umumnya menamakan dirinya `Do Hawu’. Pulau Sabu mereka sebut `Rai Hawu’. Do/dou artinya orang atau manusia, dan rai artinya tanah atau negeri. Segala apa yang dipandang sebagai `yang asli’ atau berasal dari Sabu selalu dikenakan kata sandang `Hawu’. Sedang yang berasal dari luar atau bukan asli Sabu dikenakan kata sandang ` `jawa`, misalnya terae `jawa (jagung), ki’i `jawa (domba), hi’ji/hi’gi `jawa (kain batik), dan emmu `jawa (rumah berbentuk bukan asli Sabu). Kata sandang hawu sudah dipergunakan sejak generasi ke-8 orang Sabu yang bernama Hawu Miha (Hawu bin Miha). Ketika bangsa Portugis dan Belanda tiba di Sabu, kata Hawu mengalami perubahan dalam pelafalannya menjadi `Savu’; penduduknya disebut Sabos atau Savoenese. Padahal dalam Li Hawu (bahasa Sabu) tidak dikenal kata berhuruf s, f, dan v. Dari informasi turun-temurun disebutkan pada zaman generasi ke-7 ada seorang leluhur orang Sabu bernama Miha Ngara. Beliau mempunyai 5 orang anak yaitu Hawu Miha (cikal-bakal orang Sabu), Huba Miha (orang Sumba), Tie Miha (orang Tie Rote), Ede Miha (orang Ende), dan Jawa Miha (orang Jawa).

Orang Sabu mengetahui kira-kira pada abad pertama Masehi, `Jawa Miha meninggalkan Sabu untuk menetap di Jawa. Di kemudian hari kontak antar keturunan dan keluarga tidak lagi terpelihara. Pengetahuan tentang adanya relasi ini diperoleh melalui syair-syair dan cerita para tetua dan pemangku adat di Sabu. `Migrasi’ dari Asia Tenggara diakui telah berlangsung sekitar 500 tahun SM, dan kira-kira 200 tahun SM terjadilagi migrasi dari India Selatan. Migrasi ini juga sampai ke Sabu. Pada gelombang ketiga disebutkan, ketika kaum pendatang yang jumlahnya lebih sedikit (di Pulau Jawa) mulai diperangi oleh penduduk asli, sehingga posisinya terdesak. Untuk itu mereka meminta bantuan kepada kerabatnya yang telah menetap di `timur’ untuk membantu mereka. Kala itu yang berkuasa di Sabu adalah Miha Ngara, dan mengutus kedua anaknya Hawu Miha dan Jawa Miha untuk membantu kerabatnya kaum pendatang di Jawa. Keduanya mendarat di pantai selatan Jawa Barat di suatu tempat berbukit karang, lalu diberi nama `Karang Hawu’, letaknya kira-kira 1 km dari sebelah barat pantai Pelabuhan Ratu.

Setelah peperangan berhasil dimenangkan, kedua kakak-beradik itu berpamitan untuk kembali ke Sabu. Kerabat di Jawa meminta agar salah seorang dari mereka untuk tinggal menetap di Jawa. Permintaan itu ditampung namun harus dilaporkan dan diputuskan oleh ayahnya di Sabu. Akhirnya diputuskan bila Jawa Miha yang berangkat ke Jawa sedangkan Hawu Miha tetap tinggal di Sabu. Ketika keberangkatan, didirikan sebuah batu peringatan yang diberi nama `Wowadu `Jawa Miha’ di Namata. Pada waktu `Jawa Miha berangkat ke Jawa ia diberi bibit beberapa jenis tanaman untuk ditanam di sana yaitu cengkeh, wilahege, jahe, pala, pohon pandan; dengan pesan bahwa sejak saat itu jenis tanaman tersebut tidak boleh ditanam oleh Hawu Miha dan keturunannya di Sabu. Setelah menetap di Jawa, Jawa Miha berganti nama menjadi `Aji Saka’. Dalam perkembangan selanjutnya mereka memperluas wilayahnya mulai dari Jawa Barat sampai ke Jawa Timur.

Pada zaman kerajaan Majapahit, Kepulauan Sabu berada dalam pengaruh Majapahit, dan hubungan lama antara orang Jawa dan orang Sabu kembali mendapat angin segar. Pulau Raijua dan Solor pernah menjadi pangkalan armada kerajaan Majapahit; perahu dan armada Majapahit sering menyambangi tempat ini. Terdapat banyak hikayat yang menghubungkan faktor sejarah ini, seperti di antaranya salah seorang permaisuri raja Majapahit bernama `Benni Kedo’ berasal dari Raijua, bahkan memiliki rumah di Pulau Dana. Pulau Raijua disebut `negeri Maja’ dan pemimpin masyarakat Raijua disebut `Niki Maja’, dst.

Penulis buku menyebutkan keyakinan bila Gajah Mada berasal dari Raijua dengan beberapa alasan. Misalnya nama Gajah Mada bukanlah nama yang lazim disandang orang Jawa, karena orang Jawa akan mengucapkan nama itu Gajah Mendo. Hanya di Sabu dan Raijua saja orang menyandang nama-nama seperti Gaja, Mada, Me’do, Mo’jo, Jaka, Raja, Ratu, Laki, dst. Juga di Nusa Tenggara tidak mengenal nama-nama seperti itu. Warn `merah-putih’ yang diagungkan Gajah Mada dan Majapahit adalah warna `gula-kelapa’ dan `air ketuban’ yang menjadi lambang orang Sabu sejak zaman dahulu kala. Penulis juga mengungkapkan hubungan orang Sabu dengan orang Belu, Thie Rote, Sumba, dan Ambon. Saya pernah ungkapkan asal-usul orang NTT ini yang datang dari 3 penjuru pada threat Panen Lontar.……..(ekodj08)

Sahabat blogger, sampai disini saya berhenti karena airmata telah berlinangan menggenangi pelupukmata. Mengapa kesedihan itu menyergap. Ya, karena sumber referensi bagi uraian Ekadj08 adalah ROBERT RIWU KAHO. Siapa dia? Ayahanda saya. Di mana dia? Di Surga bersama YESUS yang dipercainya. Maka bagi saya, tidak penting benar apakah informasi dari Robert Riwu Kaho valid, reliable dan obyektif seperti halnya tuntutan metode ilmiah ketika mengajukan hipotesis. Tidak penting benar. Robert sudah berpendapat, tugas orang lain untuk mematahkan pendapatnya dan atau malah memperkuat pendapatnya. Hal terpenting adalah selama hidup setiap orang tidak perduli siapapun dia harus berkarya sebaik-baiknya Mengapa? Ya, tidak lain dan tidak bukan sebab yang oleh karenanya – principe d-‘etre- kita layak untuk disebut sebagai manusia yang berprakarsa dan berkarya. Robert Riwu Kaho membuktikan itu. Semasa hidup, dia berkarya. Ketika sudah mati, namanya diperbincangkan orang. Untuk hal-hal yang baik. Saya, sebagai penerus DNA Robert Riwu Kaho, bangga kepadanya. Anda, saya dan kita semua ingin dikenang sebagai apa?

Satu – dua hari ke depan saya pasti tidak menunggui blog karena saya bersama rombongan keluarga besar RIWU KAHO akan menghantar beberapa barang- pribadi milik almarhum ke Pulau Sabu. Ritual ini di sebut Ruket’tu. Mengapa demikian? Dalam budaya Orang Sabu, setiap orang Sabu adalah milik tanah Sabu. Di manapun dia bepergian WAJIB baginya untuk kembali ke kampung halamannya. Robert Riwu Kaho mati di negeri orang. Tugas kamilah sebagai anak dan cucunya untuk menghantar kembali Robert Riwu Kaho guna kembali berdiam dan dipeluk tanah Pertiwi-nya. Tanah Tuak dan Gula. Tanah Anugerah Tuhan Seru Semesta Alam.

Tabe Tuan Tabe Puan

Tags:

Yang oleh karenanya-Principe d’Etre:BE THE BEST

Posted by: luiggimikerk on: September 17, 2008

Sahabat blogger terkasih,

Setelah menulis tentang sesuatu yang bersifat besar dan agak bombastis, yaitu tentang tragedi WTC dan fenomena terorisme yang mengikutinya, maka kali ini saya ingin menulis suatu gagasan yang kecil. Mungkin menarik mungkin pula tidak. Tetapi saya ingin menulis. Bukan karena apa-apa tetapi oleh karena dengan menuliskannya maka saya akan tetap disebut sebaga penulis blog. Jika saya melakukan scaling up terhadap kata-kata barusan maka kata-frasa kata di atas dapat saya tuliskan juga sebagai: oleh karena dengan menuliskannya maka saya akan dipandang sebagai manusia yang berkarya. Gerangan apakah ini?

Dalam teori filsafat manusia terdapat suatu terminologi, yaitu principe d’etre yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan dituliskan sebagai “prinsip adanya.” Dapat juga ditulis sebagai “prinsip yang oleh karenanya“. Wooouuwwww….apapula barang perkara yang satu ini? Saya tidak akan menjawabnya secara langsung tetapi coba kita renungkan perihal berikut ini. Jika manusia dikatakan terbentuk dari jiwa dan raga maka hal itu tidak berarti bahwa substansi manusia terdiri atas dua bahan itu yang dapat dipisah-pisahkan atas jiwa di satu pihak dan raga di lain pihak. Tidak pula berarti bahwa substansi manusia adalah campuran jiwa dan raga begitu rupa layaknya adonan roti kukus, misalnya. Tidak. Bukan itu maksudnya. Yang dimaksudkan oleh pernyataan bahwa manusia terbentuk dari jiwa dan raga adalah bahwa “yang oleh karena adanya jiwa dan raga itulah maka manusia menjadi hidup dan dapat berpikir. Adakah manusia tanpa daging? Adakah daging tanpa senyawa nitrogen? Adakah manusia hidup tanpa bernafas? Adakah pernapasan tanpa menghasilkan CO2. Daging model apakah yang namanya perasaan sedih? Terbuat dari senyawa apa perasaan senang? Saudaraku terkasih, daging, bernapas, sedih dan senang adalah fakta-fakta. Realitas-realitas. tetapi ada apa di balik itu? Mengapa dia harus seperti itu? jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan terakhir ini hanya akan saya, anda dan kita semua temukan jika kita mampu memahami hal-hal yang bersifat metafisika atau hal-ihwal di balik realitas. Prinsip “yang oleh karenanya” adalah pernyataan tentang struktur metafisika dari fakta-fakta realitas tentang manusia.

Sampai di titik ini, narasi saya seolah-olah ingin membicarakan hal-hal besar dan bertentangan dengan niat awal posting kali ini. Tidak. Justru dengan mengungkapkan tentang principe d’etre saya ingin berbicara tentang hal-hal kecil. Mungkin tidak berarti. Tidak keren. Tidak ilmiah. Tidak sistimatis. Waaahhhh….terlalu remeh. Lantas, saking remeh-temehnya maka maka hal-hal kecil itu perlu dipoles-poles menjadi lebih gagah . Bila perlu dengan menyewa seorang konsultan bisnis berbiaya mahal karena terbiasa berurusan dengan klien-klien korporat besar., nsional dna internasional. Apa hal kecil itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang menjadi keinginan saya dalam mengkreasikan dan terus menghidupkan blog ini. Apa blog? Mengapa bigmike? Mengapa savanna? Mengapa harus tentang persahabatan, kebaikan dan kasih sayang? Mengapa tidak ada visi? Apa tidak hanya utopia? Apa tidak narsis? Apa bisa, tulisan di blog mengubah dunia? Jangan-jangan ada niat untuk mempromosikan diri sebagai pejabat anu di tempat anu pada tahun anu? Kata isteri saya: mengapa dalam keadaan lelah-pun engkau masih berusaha menyempatkan diri berada di depan komputer dan membaca, dan menulis dan menanggapi komentar blog dan…….lain sebagainya.

Seorang penulis puisi dari Amerika, Douglas Malloch, di tahun 1936 pernah menulis sebuah puisi yang teramat sangat indah. Puisi ini diberi judul Be The Best Whatever You Are. Berikut saya tuliskan lengkap bagi anda:

Be The Best of Whatever You Are

By Doglas Malloch

If you can’t be a pine o the sop of the hill,

Be a scrub in the valley - but be

The little scrub by the side of the hill;

Be a bush if you can’t be a tree

If you can’t be a bush be a bit of the grass

And some highway happier make

If you can’t be a muskie then just be a bass

But the leveliest bass in the lake

We can.t all be captains, we’ve got to be crew

There’s something for all of us here

There’s big work to do, and there’s lesser to do

And the task you must do is the near

If you can’t be a highway the just be a trail

If you can’t be the sun, be a star

It isn’t by size you win or you fail

Be the best of whatever you are

Adalah wajar jika seorang manusia memiliki keinginan. Wajar dan manusiawi jika keinginan-keinginan itu semakin lama-semakin meningkat sesuai dengan dearajat kepuasan yang semakin meningkat. Dalam terang teori Mashlow terlihat bahwa kebutuhan manusia tersusun secara hirarkis mulai dari kebutuhan pokok sampai pada kebutuhan tertinggi, yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Anggapan teori ini adalah setiap manusia memiliki kebutuhan untuk berkembang dan maju. Seberapa berkembang dan seberapa maju? Sky is the limit. Seberapa aktual diri anda? Sky is the Limit. Seberapa besar kemajuaan status sosial yang anda inginkan. Makin besar makin baik. Paling besar paling baik. Sky is the limit. Jika anda telah berada di puncak maka adalah keinginan untuk turun kembali ke lantai dasar? Pemberi pertanyaan adalah orang gila.

Begitulah saudara, hukum dunia ini. Postulat hidup di dunia yang semakin lama semakin bernuansa kebendaan ini. Dan di tengah nuansa itu, saya datang dengan tawaran kecill. Tawaran yang datang dari kampung miskin dan melarat. Datang dari negeri nyaris tanpa hujan. Kerindangan pohon amat langka. Maukah anda bersahabat dengan saya? Adakah cukup kebaikan yang dapat dibagi dari hasil persahabatan itu. Adakah dari persahabatan dan kebaikan itu lantas menjalar Kasih yang bersifat Ilahiat di antara kita semua? Sungguh saya tidak tahu. Mengapa? Ya, karena yang saya tawarkan hanyalah hal-hal yang kecil dan remeh temeh. Lalu, karena itu, minderkah saya? Kecil hatikah saya? Tidak. Dahulu kala, seorang yang teramat besar peranannya dalam sejarah perdaban dunia, saya sebut saja sebagai si Miskin dari Nazaret, pernah berceritera bahwa yang terpenting dari anda bukanlah seberapa besar talenta yang engkau punya tetapi usaha apa yang kau berikan untuk mengembangkan talenta-talenta itu. Tidak ada perkara besar dan perkara kecil. Semuanya berharga. Anda dinilai bukan karena banyak atau sedikitnya talenta atau besar kecilnya perkara melainkan seberapa besar usaha anda untuk mengembangkan talenta-talenta itu. Seberapa kuat anda menyelesaikan perkara-perkara yang dibebankan kepadamu.

Lantas datanglah Douglas Malloch mengingatkan bahwa:

Kalau tak dapat menjadi cemara di puncak bukit
Jadilah perdu di lembah; tetapi jadilah
Perdu kecil yang terbaik di samping bukit;
Jadilah semak jika engkau tak mampu menjadi pohon.

Kala u engkau tak dapat menjadi semak, jadilah segerombol rumput
Dan menjadikan jalan raya menjadi lebih meriah
Kalau tidak mampu menjadi ikan besar jadilah ikan kecil,
Tetapi ikan kecil yang paling bergairah di danau.

Tak mungkin semua menjadi kapten, harus ada yang menjadi awak kapal,
Ada sesuatu bagi kita semua. Ada pekerjaan besar ada pula yang kecil
Dan tugas pertama yang harus kita kerjakan adalah yang terdekat.

Kalau tidak mungkin menjadi jalan raya maka jadilah jalan setapak;
Kalau tidak mungkin menjadi matahari jadilah sebuah bintang;
Berhasil atau gagal bukanlah karena ukuran anda menjadi sesuatu.
Melainkan sudahkah anda menjadi yang terbaik dalam setiap peran anda,
Apapun itu

Saya suka, teramat suka dengan pesan dua orang itu, yaitu si Miskin dari Nazareth dan Douglas Malloch, yaitu saya harus mampu memberikan yang terbaik dari apa yang saya punya. Bukan ukuran berapa banyak talenta yang saya atau sebesar apa perkara yang saya tangani. Jangan pernah menginginkan talenta yang bukan milikmu. Setiap orang mempunyai talentanya sendiri-sendiri. Banyak maupun sedikit. Besar maupun kecil. Saya tidak mungkin sama persis dengan anda karena talenta kita berbeda. Andapun tidak harus menjadi sama dengan saya karena talenta kita berbeda. Anda pengusaha saya cuma guru. Anda kepala kantor, saya cuma kepala rumah tangga. Anda Gubenur, saya cuma Ketua RT. Bukan pada hal-hal itu anda dan saya akan dinilai berhasil tetapi adakah dengan semua yang anda miliki anda sudah bekerja dengan sebaik-baiknya? Apakah anda sudah menjadi pengusaha yang terbaik? Apakah saya sudah menjadi guru yang terbaik? Apakah anda sudah berusaha menjadi Gubernur yang terbaik? Apakah saya sudah berusaha menjadi Ketua RT yang terbaik?

Akhirnya, saya harus berkata begini: bahwa saya, dengan pertolongan TUHAN, bertekad untuk terus mengembangkan dan berbagi talenta yang saya punya, meski kecil., teramat kecil., yaitu menulis. Tidak ada kata malu untu melakukannya. Tidak ada kata gentar hati hanya gara-gara tulisan saya kurang menarik bagi banyak orang. Hanya ini yang saya bisa. Tetapi meskipun tidak berarti, saya berjanji untuk terus berusaha memberikan yang terbaik yang saya mampu untuk sahabat sekalian. Oleh karena itu, meski lelah dan mungkin tidak akan banyak dibaca orang tetapi saya tidak akan lelah untuk menulis, menulis dan terus menulis. Mengapa saya harus terus menulis? Ada satu hal lain yang ingin dikatakan oleh Si Rendah Hati dari Nazareth dan Douglas Malloc, yaitu anda bisa belajar dari setiap perkara yang anda lakukan, besar maupun kecil. Ya, memang begitu, yaitu dengan terus menulis “oleh karenanya saya akan terus belajar. Mengapa saya perlu terus belajar? Ya, sebab “yang oleh karenanya, saya pantas disebut manusia. Mengapa pantas? Ya, karena dengan demikian saya sudah berpikir, berkreasi, berbicara, berkesadaran akan adanya orang lain, mengenal, memiliki afeksi, kognisi, terampil dan….masih banyak hal lagi yang menunjukkan bahwa melalui proses belajar, saya telah berupaya untuk melakukan manifestasi terhadap esensi saya sebagai manusia. Kata orang Perancis, L’essence de la manifestation.


Apakah saya sedang narsis dan berhalusinasi. Apakah saya sedang berbuat salah ketika saya berniat tentang sesuatu yang mula-mula untuk membangun persahabatan, lalu sama-sama menghasil kan dan berbagi kebaikan dan dari itu hidup kita akan dikelilingi oleh pancaran sinar Kasih yang Ilahi?. Tidak saudara. Semua saya lakukan sebab meskipun hal itu hanya hal kecil dan tidak berarti tetapi “yang oleh karenanya ” saya merasa akan berguna bagi diri sendiri, bagi sesama dan bagi Sang Pencipta. Bermimpi? May Be Yes, May Be No. But, I’m Just Do My Best Whatever I am.

Tabe Puan Tabe Tuan

Dear sahabat Blogger,

Hari ini, 7 tahun yang lalu. Hampir sewindu yang lalu. Dunia dikejutkan. Dunia tidak percaya. Mula-mula diberitakan 2 gedung kembar, gedung World Trade Center (WTC) di Kota New York, Amerika Serikat……….wwhhaaaaaaattttttt????????…………..Amerika Serikat???????????…..Yes Sir, Yes Mam……..anda tidak salah. Di tanah mereka sendiri, ditanah kebebasan, the landa of freedonm, Amerika di serang. American Under Attack. Gedung jangkung berlantai 110 diserang. Lalu diperkirakan terdapat 5000 – 9000 orang terbunuh. Sebanyak itu orang mati seketika Sus. Sekaligus Bung. Horor. Mengerikan.

Memang, Jumlah itu masih belum seberapa dibandingkan dengan jumlah korban pada peristiwa Tsunami Aceh yang mencapai ratusan ribu jiwa. Akan tetapi harap diingat, yang terjadi di Aceh tidak pernah dirancang oleh manusia. Beda dengan yang terjadi di gedung WTC. Semua dirancang dan dikerjakan oleh manusia. Ya, makhluk yang katanya ciptaan termulia tetapi kematian yang dirancang dan dikerjakannya jauh melebihi binatang terkejam sekalipun. Buaya liar mencabik-cabik paling banyak 1-3 ekor mangsanya dalam sekali makan. Harimau lapar juga hanya sejumlah itu. Tetapi, lihatlah apa yang dilakukan manusia. Bahkan jika tentang manusia sebagai aktor penghancur kehidupan maka catat baik-baik apa yang dilakukan oleh Kaisar Ming, Jenghiz Khan, Hitler, Idi Amin, Hitler, Regim pasca G30S, dan….masih banyak lagi yang dapat anda isi sendiri. Berapa jiwa yang mati selama WW I dan WW II. Berapa?

Kemudian, WTC ternyata, hanyalah suatu awal. Berikutnya adalah Afghanistan pada bulan Oktober 2001. Hanya 1 bulan setelah WTC. Bom Bali I dan II.Bom JW Marriot. Bom Kunngan. Bom Stasiun Kereta di Madrid. Perang Irak. Darah dan nyawa banyak yang tertumpah sia-sia di semua peristiwa itu dengan segala dampaknya. Kata orang: dunia tidak sama lagi dengan sebelum Nine Eleven. Huntingtong mengajukan thesis: Benturan Peradaban. Sebagian orang percaya. Sebagian tidak. Sebagian kalangan mengatakan…aahhhh…semua itu cuma akal-akalan Amerika. Konspirasi Yahudi. Lalu, anehnya, Osama Bin Laden menjadi role model yang dipuja-puji oleh begitu banyak orang bagaikan Dewa. Tetapi lihatlah, di seberang sana….George W. Bush malah pernah mendapatlan dukungan tertinggi dari rakyatnya di sepanjang sejarah kepresidenan USA pasca Nine Eleven. Dan dengan jumawa GWB mengatakan…heiiii…kamu yang tidak ikut dengan kami adalah musuh kami. GWB pun pernah, sengaja atau tidak sengaja bergumam: PERANG SALIB. Dan dijawab oleh pihak sebelahnya seperti Dr. Azhari, Imam Samudera, Amrozi dan Nurdin M. Top: JIHAD. Suatu simplifikasi yang luar biasa. Ada begitu banyak persepsi yang dipersepsikan sebagai kebenaran atas perisiwa yang sama, yaitu 5000 – 9000 orang terbunuh seketika. Sekaligus.

Sekarang, hari ini, 7 tahun berlalu sudah. Peristiwa itu ternyata belum bisa dilupakan dengan Mudah. Osama masih hidup dan bergerilya di daerah antara Afghanistan dan Pakistan. Obama dan McCain masih menggunakan Nine Eleven sebagai bahan kampanye pemilihan Presiden di USA. Apa makna Nine Eleven bagi orang per orang sebagai manusia? Untuk itu, ijinkanlah saya bertanya: ”tentang apa semua ini”. ”Mengenai apakah semua itu”. Banyak pakar sudah berbicara tetapi saya belum menemukan satupun kebenaran yang berada dalam kamar yang sama. Selalu terjadi pro dan kontra. Selalu ada dua kamar yang berseberangan. Kita terbelah. Secara jujur, saya pun tidak punya pendapat yang benar-benar valid, reliable dan obyektif tentang itu. Kemanusiaan dan ikatan primordial keagamaan saya saling berperang sama sendiri untuk menemukan simpul-simpul yang valid, reliable dan obyektif dimaksud.

Sampai hari ini, 7 tahun setelah persitiwa memilukan itu, saya cuma mampu tiba pada kesimpulan seperti ini: kemanusiaan kita harus dipertanyakan kembali. Ketika kita seharusnya tidak boleh terbelah pada saat kemansuiaan kita diserang, kita malah saling membunuh di jalan-jalan di Afghanistan dan Irak. Di mana rasa iba kita sebagai manusia. Di mana rasa duka kita? Di mana semangat altruisme kita sebagai sesama ras manusia?. Ya, bagi saya, Nine Eleven bukanlah sekedar American Under Attack tetapi adalah KEMANUSIAAN yang diserang dan dihina habis-habisan. Dalam situasi ini, seharusnya Kemanusiaan kita tidak boleh terbelah karena kita bukan monyet. Kita bukan pohon cemara. Kita bukan batu. Kita ini Manusia. Kita adalah ras Manusia. We are human race. Tapi, betulkah Nine Eleven adalah tentang hal itu? Hanyalah Tuhan Seru Sekalian Alam yang Mengetahuinya.

Tabe Tuan. Tabe Puan.

Dear sahabat blogger,

Sampailah kita pada akhir masa edar posting lama. Karena hidup memerlukan perubahan maka di blog kita ini harus ada posting baru. Dari beberapa opsi bahan mentah, ada satu yang saya pilih karena memuat sesuatu yang akan sangat positif bagi interelasi, baik antar kita semua sebagai sesama blogger di blog ini maupun kita masing-masing sebagai warga manusia yang wajib mengembangkan persahabatan, kebaikan, dan kasih sayang. Orang Jepang adalah mitra sejajar bagi Amerika Serikat padahal dahulu mereka adalah bangsa pecundang yang luluh lantak dihantam Amerika Serikat pada WW II. Tetapi lihatlah betapa kebangkitan mereka malah membuat Amerikapun menjadi was-wis- wus-wes-wos terhadap mereka. Apa modal kebangkitan mereka? Jawabanya ada pada karakter bangsa mereka yang kuat. Amat kuat. Salah karakter kuat mereka adalah ini HAJI NO BUNKA? …..weeeeeiiiiiii……..apaan tuh bigmike???????? Haji Oma irama sih banyak di Indonesia?……oh no no no no my friend bukan itu, tetapi Haji No Bunka adalah BUDAYA MALU. Nah, pada beberapa minggu lalu orang Jepang sekali lagi memamerkan semangat Haji No Bunka itu. Ruuuuaaaaaarrrr biasa. Tidak berpanjangan, inilah WILMANA, dengan tulisannya tentang barang perkara yang satu itu. Saya tidak membuat tambahan apapun terhadap itsi tulisan ini, kecuali membuat sedikit perubahan di Judul agar tampak gaya mabuknya BM. Di bagian akhir, Wilmana memberikan bonus bagi sahabat Kristiani untuk menunjukkan bahwa Haji No Bunka tidak asing bagi pengikut Kristus. Oleh karena itu, semua Kristiani seharusnya juga mampu ber-Haji No Bunka.

Dengan tambahan perenungan itu maka tulisan Wilmana saya bagi atas 2 bagian. Bagian pertama berisi tentang hikayat Fukuda dan bagian kedua perenungan Kristiani atas fenomena Haji No Bunka. Selamat membaca dan selamat pula berdiskusi. Oh ya, kalau sedang berdiskusi jangan lupa sama Wak Haji tadi itu ya hi hi hi hi…..

BAGIAN I

Fukuda Bertindak

Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda secara mendadak mengumumkan pengunduran dirinya, kemarin (Senin, 01/09/2008). Dalam sambutannya, Fukuda menjelaskan bahwa sikap ini diambil guna memecah kebuntuan politik yang selama ini terjadi di negeri sakura itu. Kalo kita trace back record Fukuda, ia memang sudah lama bertentangan dengan pihak oposisi, Partai Demokratik Jepang, yang mengendalikan majelis tinggi parlemen dan memiliki kewenangan menunda pemilu.

Akhir maret lalu, oposisi mengecam habis keputusan Fukuda yang tetap meneruskan kebijakan pajak bahan bakar minyak yang sudah bertahan selama tiga tahun. Pertentangan kedua pihak lalu menimbulkan spekulasi bahwa Fukuda bakal diganti lewat pemilu pada bulan September tahun depan. Dan, meski masih punya waktu satu tahun lagi, tetapi Fukuda berpendapat lain. Daripada membiarkan stagnasi politik berkepanjangan yang dapat berdampak luas bagi perekonomian negara, ia memilih melepaskan jabatannya. Kita simak kata-kata Fukuda sebagai berikut.

“Jika kita memprioritaskan kehidupan masyarakat Jepang, tidak bisa terjadi kevakuman politik. Hari ini sy memutuskan untuk meletakkan jabatan. Kita membutuhkan orang-orang baru untuk menanggulangi situasi yang berkembang di parlemen,” demikian Fukuda dalam konferensi pers.

Kok Bisa?

Mungkin para sahabat sekalian bertanya-tanya, apa maksud artikel ini? Apakah saya pingin menyaingi Kompas, Sindo, ato koran-koran sejenis untuk beradu kecepatan merilis berita dunia bagi pembaca? Ah, tidaklah…

Lalu, untuk apa repot-repot mengekspose berita Fukuda itu, yang bagi orang Jepang bahkan bagi dunia, perilaku para politisi Jepang seperti ini sudah bukan barang baru lagi. Koizumi yang diganti oleh Fukuda pun mengakhiri masa jabatannya dengan mengundurkan diri. Nah ini rahasia yang ingin saya buka kepada anda sekalian.

Selama ini saya mengamati, kenapa para politisi Jepang bisa dengan enak, ikhlas, alias legowo meletakkan jabatannya, tapi hal yang sama sangat sulit bahkan mustahil dilakukan oleh para politisi Indonesia. Banyak Pejabat negara maupun Pejabat pemerintah yang pura-pura tuli atau berlindung pada logika dan proses hukum formal untuk tetap bertahan menduduki kursi jabatannya.

Beberapa waktu lalu, media kita sibuk mempersoalkan Bagir Manan, orang kampus yang lalu menjadi Ketua MA, berkali-kali menandatangani peraturan intern MA yang memperpanjang masa pensiunnya sendiri. Publik menjadi gerah karena merasa bahwa moralitas peraturan itu tidak lebih dari sekedar mempertahankan kekuasaan. Seringkali terjadi kecelakaan kereta api, tidak cukup untuk membuat para direksi PTKAI dengan ikhlas melepas jabatannya. Jika hal ini ditanyakan, maka kita bisa menduga jawabannya yang menyerahkan hal itu kepada Pemegang Saham BUMN itu, dalam hal ini Menteri Negara BUMN. Menteri Teknis yang membawahi regulasi di industri kereta api, Menteri Perhubungan, juga punya jawaban yang setali 3 uang yaitu, terserah Bapak Presiden. Persis sama dengan respon Paskah Suzeta dan MS Kaban ketika terindikasi sebagai penerima dana kolusi BI yang saat ini kasusnya sedang disidangkan di pengadilan tipikor.

Seorang sahabat di kantor pernah nyeletuk, “Orang Jepang punya etika sudah jalan. Beda dengan kita orang Indonesia”. Bagi orang Jepang, akan lebih memalukan lagi jika diberhentikan oleh sistem karena fakta-fakta hukum yang negatif dan tercatat resmi dalam lembaran (sejarah) negara. Mengundurkan diri sebelum dipaksa mundur, bagi orang Jepang adalah sikap yang lebih terhormat dan tentu mendapatkan penghormatan dari publik. Terhormat, karena dengan demikian yang bersangkutan dengan sadar mengurangi terjadinya risiko hukum maupun risiko politik yang tidak saja dapat merugikan martabat dirinya dan keluarga, tetapi juga dapat merugikan rakyat bangsa.

Sikap moral seperti ini yang dikenal dengan istilah keren, ‘responsibilitas’. Responsibilitas adalah nilai moral yang mengedepankan tanggung jawab moril atas amanah yang diemban. Tanggung jawab moril ini juga ditemukan dalam format fiduciary duty, tugas yang diemban atas dasar kepercayaan dan dilaksanakan semata-mata atas dasar itikad baik. Dalam fiduciary duty ini melekat fungsi duty of care (penuh tanggung jawab); duty of diligent (penuh kehati-hatian); dan duty of loyalty (demi kepentingan organisasi/negara/publik). Meski tugas telah dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian (duty of diligent) namun, ketika kepercayaan itu sudah memudar, maka Pelaksana tugas harus punya keberanian moril untuk demi kepentingan publik/negara, ihklas dan legowo mengembalikan amanah kepada yang berhak. Karena ini soal kepercayaan, maka tidak perlu menunggu diberhentikan atas dasar fakta-fakta hukum yang otentik. Karena kepercayaan bukan sekedar perihal hukum tetapi lebih pada perihal etika.

Para sahabat sekalian, beberapa waktu lalu ada pertanyaan yang diajukan oleh seorang adik saya yang waktu itu membuat saya gamang. “Mengapa budaya tidak tau malu di Indonesia bisa berkembang mendekati sempurna?”, demikian adik saya tersebut. Mencermati fenomena Fukuda ini, saya jadi menemukan jawabannya. Rupanya sudah lama bangsa kita, Indonesia, mengabaikan nilai responsibilitas ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita lebih suka tenggelam dalam budaya ambisius yang tak segan menggunakan cara-cara tidak patut untuk mendapatkan kursi jabatan dan mempertahankannya. Alasannya, yang penting saya tidak melanggar regulasi apapun, atau secara hukum formal tidak ada bukti perbuatan melawan hukum.

Sepanjang jaman orla, seolah-olah tidak ada orang lain yang lebih layak menjadi Pemimpin daripada Bung Karno. Pada saatnya, bahkan parlemen mengangkat Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup. Suharto sang Penguasa orde baru, baru mau turun setelah situasi politik bangsa hancur luluh. Gusdur, masih nekat petantang-petenteng di teras istana negara dengan bercelana pendek setelah dipecat oleh parlemen. Dalam ranah berbeda, kita bisa ambil contoh buruknya responsibilitas ini pada sikap para anggota KPU yang ngotot berangkat ke luar negeri sekedar melantik KPLN, menghabiskan puluhan miliar rupiah, padahal ngakunya KPU masih kekurangan dana.

Bagaimana baiknya, yah?

Ok-lah. Saya pun yakin bahwa penjelasan di atas tidak 100% akurat. Esensinya, saya pingin sampaikan bahwa jika orang Jepang bisa hidup dengan nilai responsibilitas, harusnya bangsaku ini juga bisa. Karena itu pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana kita dapat menumbuhkembangkan nilai responsibilitas ini?

Dalam hukum ada ungkapan, quid leges sine moribus, apa artinya hukum tanpa etika. Ungkapan ini menggambarkan bahwa hukum dan etika adalah dua sisi mata uang. Hukum membutuhkan etika sebagai ukuran moralitas, sementara etika membutuhkan hukum sebagai enforcement dalam pelaksanaannya.

Karena itu, perlu ada upaya yang kuat untuk menggunakan nilai responsibilitas ini sebagai moralitas dalam setiap produk hukum yang terkait dengan sistem rekrutmen Pemimpin dan Pejabat di semua aras lembaga negara maupun organisasi kemasyarakatan. Setiap Pemimpin, Pejabat, maupun Pengurus mengemban amanah tata kelola oleh karena kepercayaan. Oleh karena itu, mereka wajib bekerja dengan penuh tanggung jawab dan berhati-hati. Namun, mereka juga wajib memilih opsi mundur dari jabatan untuk meredakan rumors, atau kemelut politik, yang dapat merugikan organisasi/negara/publik, tanpa menunggu berjalannya (selesainya) proses hukum formal. Enforcement nilai responsibilitas melalui regulasi seperti ini, jika ditegakkan secara konsisten, bakal menumbuhkan budaya tau malu di kalangan para Pejabat (negara/NGO/swasta/dll). Mereka ini dapat menjadi suri teladan bagi rakyat dan pada gilirannya kita boleh berharap menjadi tidak beda lagi dengan Jepang dalam hal ini.

Para sahabat terkasih. Sudah lama saya berangan-angan bangsaku dengan budaya responsibilitas yang kuat. Entah kapan terwujud.

Bagian II

Renungan Kristiani yang saya ambil untuk kita renungkan bersama adalah terambil dari Amsal 9:10-18. Ayat kuncinya adalah ayat 10, 12 dan 13.

9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

9:12 Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya.

9:13 Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu.

 

Di sekeliling kita banyak varian perbuatan tidak tahu malu. Menurut perspektif bacaan Alkitab tadi perbuatan tidak tahu malu itu adalah bagian dari KEBODOHAN. Tidak tahu malu ini erat kaitannya dengan kepekaan moral manusia terhadap asas kepatutan. Orang yang memiliki kepekaan moral tinggi, tentu dengan mudah dapat mengenali tutur kata maupun perilaku yang patut. Kepekaan moral tentang kepatutan ini rupanya telah ‘hilang’ dari budaya bangsa. Banyak orang yang jelas-jelas berbuat tidak patut, tetapi dengan entengnya lalu-lalang tanpa merasa malu. Banyak orang suka berbicara sarkastis dan merasa orang lain tidak perlu tersinggung. Mereka lupa bahwa 3000 tahun yang lalu, Salomo sudah mengidentifikasi perilaku tidak tahu malu ini sebagai KEBODOHAN.

Dear Sahabat Bloggers,

Pernah mendengar kata-kata dalam judul di atas? Bagi mereka yang pernah kuliah di bangku Perguruan Tinggi di Indonesia dan berdiri dalam deretan prosesi manusia yang akan di wisuda pasti akrab dengan kata–kata Gaudeamus Igitur. Ya, itulah lagu pembuka prosesi pembuka acara wisuda. Ketika pemegang pedel berteriak……Rektor, Anggota Senat Universitas, Anggota Dewan Penyantun memasuki ruang upacara…..maka tarararararammm tatatarararmramramram.…..not, irama dan deretan kata-kata indah dari lagu Gaudeamus melengking dan bertebaran di udara. Indah. Memang Indah. Sebuah lagu dengan nuansa kebanggaan akademik yang luar biasa. Begitulah, wisuda selalu merupakan acara yang indah dan membanggakan. Pada hari ini, Universitas Nusa Cendana melakukan acara wisuda dan diperkirakan ada ratusan wisudawan di sana. Mereka semua bergembir. Wajar karena secara etimologis, wisuda diartikan sebagai suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Setelah masa perjuangan yang panjang, bergembira adalah sangat manusiawi. Tetapi harap diperhatikan bahwa menurut makna leksikal, wisuda adalah suatu proses. Hanya suatu acara. Tidak lebih. Meskipun membanggakan. Mengapa acara wisuda menjadi kebanggaan.

Ada banyak kemungkinan jawabannya tetapi saya menduga ada kaitannya dengan sifat eksklusif acara wisuda itu. Bayangkan, menurut data pada tahun 2006, dari total 220 juta populasi penduduk Indonesia, terdapat 27 juta jiwa penduduk berada pada usia mahasiswa. Akan tetapi dari antara 27 juta jiwa tersebut hanya sekitar 3,5 juta yang benar-benar berkesempatan untuk menikmati bangku pendidian tinggi. Eksklusif bukan? Berapa kali orang di wisuda? Paling banyak 3 kali seumur hidupnya. Sekali ketika lulus S1 atau akademi. Kalau anda berminat, ya ketika lulus pendidikan S2. Dan kalau Tuhan berkenan, sekalilagi anda diwisuda setelah tamat S3. Sekali lagi, wisuda adalah acara yang tidak sering dan karena tidak seringnya itu maka dapat dikatakan wisuda adalah acara yang eksklusif. Pada hari wisuda seseorang akan berpenampilan mengkilat. Gagah. Cantik. Wangi. Di Kupang, terdapat tradisi untuk melakukan acara pesta semalam suntuk menyambut kebahagiaan wisuda. Tahun 2007 lalu, setelah mabuk-mabukkan dalam pesta wisuda semalam suntuk, seorang anak muda mabuk yang baru diwisuda terbunuh dalam keributan di antara kelompok pemabuk itu. Wahh….ekslusif. Sangat eklusif dan saking eksklusifnya, nyawa seorang wisudawan barupun harus di exclude. Eksklusif. Konyol. Tragis.

Sedemikan pentingkah acara wisuda? Menurut hemat saya acara ini memang penting. Namun demikian, meski penting, acara wisuda bukanlah hal terpenting. Saya sendiri seumur hidup hanya 1 kali mengikuti acara wisuda pada tahun 1986 pada saat menamatkan pendidikan sarajana peternakan di Fapet Undana, Kupang. Ketika lulus S2 di IPB Bogor dalam bidang ilmu Agronomi, saya memilih tidak mengikuti acara wisuda. Pada hari yang sama, saya memilih bergabung bersama beberapa rekan pencinta alam melakukan perjalanan ke Pulau Krakatau. Setelah acara Promosi Doktor dalam bidang Ilmu Kehutanan di UGM Jogjakarta, saya mencukupkan diri sampai di situ saja. Saya tidak lagi mengikuti acara wisuda di ruang besar. Di Balairung Utama UGM. Sekali lagi, bagi saya, acara wisuda penting tetapi bukan yang terpenting. Wisuda adalah acara yang membanggakan tetapi bukan merupakan esensi. Nah, inilah saya: esensi bung. Esensi. Apa yang menjadi esensi?

Tujuan pendidikan, di mana saja dan pada strata apa saja, selalu memiliki tujuan akhir yang terletak pada 3 ranah, yaitu ranah kognisi, ranah afeksi dan ranah psikomotorik. Pada ranah kognisi seseorang dituntut untuk menjadi banyak tahu. Dalam ranah psikomotorik seorang pelajar diminta untuk mengumpulkan semua keterampila yang diperlukan. Dua hal ini saja, berpegetahuan dan berketrampilan, sudah istimewa. Tetapi tujuan pendidikan yang tertinggi dan teristimewa terletak dalam pencapaian tujuan pada ranah afeksi. Pada ranah ini seseorang yang telah mengalami proses pendidikan akan mengalami perubahan sikap. Pada ranah ini, anda yang tinggi ilmu pengetahuan dan sekaligus terampil, diharapkan mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Anda ingat kisah kejatuhan Adam dan Hawa di taman Eden? Ya ketika mereka berdua ingin sekali memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih hal yang baik dan yang jahat. Suatu pengetahuan yang sifatnya Ilahiat. Melalui pencapaian pada ranah afeksi ini, seseorang diberikan kesempatan untuk semakin lama semakin mampu memiliki sifat-sifat Ilahiat. Perilaku yang baik dapat dimiliki oleh siapa saja. Ayah dari ayah saya adalah orang yang amat baik. Ayah saya adalah juga orang yang tidak kalah baiknya. Apa yang membedakan keduanya? Tidak lain dan tidak bukan adalah kebaikan ayah saya dilengkapi dengan ilmu pengatahuan dan keterampilan yang tinggi karena dia bersekolah. Kakek saya tidak. Apakah dengan begitu kakek saya tidak banyak pengetahuan dan tidak terampil? Saya bersaksi bahwa kakek saya adalah orang yang amat sangat terampil dan meskipun tidak bersekolah formal tetapi beliau sangat mampu membaca dan menulis. Ternyata beliau gemar belajar sendiri secara otodidak. Apakah anda memperhatikan kesulitan saya ketika berusaha membedakan kakek dan ayah saya? Kalau anda jeli, saya menjadi susah melakukan diferensiasi di antara keduanya karena ternyata, meski tidak formal, tetapi kakek saya mengintegrasikan dirinya juga dalam proses pendidikan. Dia memperoleh tambahan kebaikan karena proses ini. Sekali lagi harap dicatat bahwa tujuan tertinggi dari setiap proses pendidikan adalah adanya kebaikan.

Di sinilah masalah saya dengan dunia pendidikan Tinggi di Indonesia (sudah barang tentu di Kupang), acara wisuda dan lagu Gaudeamus. Mutu pendidikan Tinggi di Indonesia tergolong sangat payah. Sebagai contoh di antara ribuan universitas yang ada di Indonesia, hanya ada 2 Universitas yang mampu menempatkan diri di dalam daftar 100 Perguruan tinggi terbaik di Asia menurut sistem pemeringkatan Webometrics tahun 2008. Kedua perguruan tinggi tersebut adalah Unversitas Gadjah Mada, Jogjakarta yang berada pada peringkat ke 74 dan Institut Teknologi Bandung, Bandung yang berada pada peringkat ke 78. Jika diletakkan dalam peta peringkat Universitas sedunia menurut lembaga yang sama, maka pada daftar 1000 Universitas terbaik di dunia, UGM menempati peringkat ke 819 sedangkan ITB berada pada peringkat ke 826. Di mana univesitas lainnya? Wuuuusssshhhh……hilang ditiup angin yang bernama qualty tradewinds. Di mana Unversitas Nusa Cendana berada? Sampai saya menutup laptop dan mengoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan, nama Undana tidak muncul sama sekali…..hicksssss….hickssssss……..Terlalu banyak universitas di Indoensia yang didirikan hanya untuk mengejar setoran, yaitu menghasilkan sarjana sebanyak-banyaknya. Untuk apa gelar sarjana itu? Pasti ada banyak hal tetapi menurut pengamatan saya adalah, hanya merupakan atribut feodalisme baru, sarana untuk bisa mencapai kedudukan yang lebih baik dalam sistem kepangkatan dalam karir birokrasi. Gelar sarjana juga banyak diminati karena bisa dijadikan modal dalam pertarungan pemilu, baik untuk memilih Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, dan anggota legislatif . Lebih gawat lagi, gelar sarjana diperlukan sebagai pemanis lembar undangan pernikahan. Gelar calon pengantin yang berderat-deret adalah kebangggan yang luar bisa meski terkesan narsis.

Jika fenomenanya betul begitu maka sampailah saya pada bagian akhir tulisan ini, yaitu bahwa betapa saya amat tidak nyaman dengan alunan lagu Gaudeamus ketika para profesor, dekan, wisudawan dan civitas akademika memasuki ruang acara wisuda. Menurut sejarah tradisinya , lagu Gaudeamus Igitur memiliki nama lain yaitu De Brevitate Vitae. Jika Gaudeamus Igitur berarti Karenanya Marilah Kita Bergembira maka De Brevitate Vitae berarti Dalam Pendeknya Kehidupan. Tahukah anda bahwa di negara asal tradisi lagu ini, yaitu di Italia, Jerman, Belanda dan Swiss, lagu ini sering dinyanyikan sebelum acara minum bir bersama. Di Belgia dan Belanda, di mana aktivitas minum sambil bernyanyi dianggap lazim, lagu ini menjadi salah satu lagu “resmi” yang dinyanyikan sebagai pembuka acara minum-minum para pelajar. Perhatikan lirik lagu Gaudeamus dan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia berikut ini

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Marilah kita bergembira
Ketika kita masih muda.
Setelah melalui kesenangan di masa ini
Setelah melalui masalah di umur tua
Bumi akan menelan kita.

Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quodlibet
Vivant membra quaelibet
Semper sint in flore.

Panjang umur akademi!
Panjang umur para pendidik!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!

Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Di mana keberatan saya? Perhatikan bait pertama. Lagu ini tidak lebih baik dari makna negatif Carpe Diem, yaitu hidup dalam kesenangan. Nikmatilah sepuas-puasnya hidupmu sebelum kau mati dan ditelan bumi. Nuansa hedonis yang luar biasa. Inikah tujuan pendidikan? Perhatikan pula bait kedua. Bagi saya substansi dari bait kedua bersifat sangat narsis. Memuji diri sendiri. Di mana masyarakat diletakkan dalam pemikiran itu. Di mana tujuan kebaikkan ingin diletakaan dalam pesta ria itu? Itukah tujuan pendidikan?

Lantas, apakah saya manjadi anti terhadap lagu indah ini. TIDAK. Kecemasan saya terletak pada kesejajaran semangat hedonis dan narsis yang ada dalam lagu ini dengan cara-cara orang Indonesia mengelola dan melibatkan diri dalam pendidikan tinggi kita. Penyelenggara hanya berminat pada setinggi-tingginya pada pembayaran SPP. Pelajar hanya berminat setinggi-tingginya pada gengsi sebagai manusia bergelar. Mereka lupa pada tujuan luhur pendidikan. Tujuan yang pada tingkat tertinggi seharusnya menghasilkan kebaikan, persahabatan dan kasih sayang. Tujuan yang sangat Ilahiat.


Akhirnya, proses pendidikan yang bertujuan untuk menghasilkan kebaikan seharusnya juga paralel dengan tujuan pendidikan yang akan dijalankan oleh sahabat-sahabat Muslim yang terkasih. Selama 1 bulan ke depan kawan-kawan Muslim akan kembali masuk ke dalam kampus yang bernama Ibadah Puasa. Apa yang anda harapkan dari menjalankan Ibadah Puasa? Hanya sekedar tahu ilmu tentang ibadah Puasa? Hanya sekedar terampil berpuasa dan memenuhi kewaiban 30 hari berpuasa tanpa batal kecuali sudah waktunya? Saya berharap, semua sahabat Muslim yang berpuasa dapat sampai juga kepada apa yang kita sebut sebagai ranah perubahan sikap. Setelah berpuasa, apakah anda siap untuk menjadi orang yang lebih baik?. Jika tidak maka puasa anda akan sama saja dengan kalimat nyanyian Gaudeamus Igitur. Berpuasa hanya untuk sekedar menyenangkan hati dan mematut-matut diri sendiri. Tanpa arah, Tanpa Makna.


Selamat diwisuda Kawan. Selamat berpuasa Sahabat. Tuhan Memberkati

Tags:

Allah. Ada…tIAda… atau antara Ada dan tiadA?

Posted by: luiggimikerk on: Agustus 25, 2008

Dear sahabat bloggers,

Mudah-mudahan anda masih mengingat dengan baik-baik bahwa salah satu sahabat kita di Kafe Permenungan ini, sahabat yang banyak maunya, adalah NK atawa Nyong Kupang. Setelah satu dan lain hal yang menyebabkan saya terpaksa memainkan fungsi moderasi, tampaknya saudara NK merasa kurang nyaman. Lantas …..bbbbbuuuusssszzzzzzz…….dia menghilang bagai ditelan bumi. Akan tetapi meski yang bersangkutan mengaku demikian saya tetap merasa bahwa NK sebenarnya tidak kemana-mana. Dia tetap berada di dalam blog ini sambil bermalih rupa he he he he. Lama-kelamaan dia tidak betah bersembunyi dan ….saya benar…..akhirnya dia muncul kembali sambil tergopoh-gopoh menyerahkan tulisan…..boszzzzz naskah ini mutunya jempolan punya….pasti top markotop …… harap dimuat sebelum artikel lain.…… (agak memaksa juga). Maka, meskipun sebelumnya sudah ada 1 berkas bakal artikel lainnya yang siap untuk diposting, terpaksa saya mendahulukan permintaan NK. Bukan apa-apa, saya takut dia menghilang, malih rupa lagi, nongol lagi, menghilang lagi dan…ahhhh…mondar-mandir. Bikin repot saja ha ha ha ha. Nah berikut adalah posting lengkapnya yang judul maupun isinya tidak saya ubah apapun kecuali tanda-tanda baca yang saya sesuaikan plus insert gambar. Selamat membaca dan selmat berdiskusi.

Dalam posting berjudul “Que Sera Sera: Bapa yang Berdaulat” (2008 Juli 26) terjadi debat menarik antara @bonggo, @DoSa, @proxy73 @wilmana dan saya. Menarik karena debat kami adalah debat tua, teramat tua, dari abad medieval (pertengahan), tentang classical theism. Silahkan anda baca http://bigmike-savannaland.blogspot.com/2008/07/bapa-yang-berdaulat.html“>disini!

Debat kami berhenti pada pertanyaan ini: Apakah Allah adalah sebuah realitas atau sekedar konsep manusia? Pada titik ini, @bm turun gunung membawa wejangan: “Perkembangan diskusi dalam topik Bapa dan Que sera sera bagi saya telah mencapai suatu tahap yang berbahaya…” Debat melelahkan? Ya! Tidak ada gunanya? Siapa bilang! Berbahaya? Hhmmm… saya kurang mengerti dimana letak bahayanya. Mungkin, I could be wrong, berbahaya dalam ‘gaya’ masyarakat Indonesia mengimani keberadaan Sang Pencipta, membunuh sesamanya, jika perlu, yang meragukan/menyangkal keberadaan Sang Khalik atau menyakini Allah yang berbeda.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu http://blogberita.net/2008/06/25/dua-pertanyaan-tanpa-jawaban-soal-tuhan/“>sebuah tulisan blog yang mengajukan pertanyaan ini: Dari mana asal Tuhan, apakah Dia tiba-tiba ada? Dalam kolom komentar, ada 165 komentar, jumlah yang ‘luar biasa’ untuk ukuran blog Indonesia. Komentar amat beragam. Ada yang sekedar mengutip ujaran kata musisi terkenal John Lenon, “God is a concep,” sedang kebanyakan berada pada posisi ekstrim, minjem istilah @bm, PERCAYA. Simak ini!

“…pikiran kita manusia, tidak akan mampu menilai Dzat yang memiliki maha kekuasaan di dalamnya.”

“Ngapain sampe nanya darimana asal usul Tuhan. Pokoknya Tuhan itu Ada dan Maha segal-galanya, yang menciptakan isi Langit dan Bumi…”

“… Untuk mengenal Tuhan, janganlah kita memakai logika atau pemikiran manusia. Tuhan adalah Tuhan dan manusia adalah manusia. Tuhan adalah Roh sedangkan manusia adalah daging. Oleh karena itu, agar bisa mengenal Tuhan, maka kita harus terlebih dahulu diurapi dengan Roh Kudus.”

Lets go back to the question for a bit, apakah mempertanyakan keberadaan Allah sama dengan menyangkal keberadaanNya? Meyimak reaksi pembaca diatas, amat terkesan sikap percaya mengorbankan akal budi. Dalam sikap percaya yang ‘buta’ seperti ini, tidak heran, reaksi yang melulu muncul adalah ‘pokoknya.’ Pokoknya harus begini, begitu. Pokoknya harus beriman. Pokoknya jangan pakai logika. PokoknyapokoknyaTITIK! @bm benar, debat tentang konsep/realitas Allah dalam sikap ekstrim ini berbahaya.

Bagaimana dengan sikap lainya, menurut @bm, PERAGU? Yang pasti dalam budaya peragu dimana saya ada, dunia menjadi lebih ‘nyaman.’ Mengapa? Karena, “… metode kerja dalam filsafat adalah ragukan segala sesuatu. Menempel kepada sifat filsafat ini maka ilmu pengetahuan bekerja… maka ditemukanlah kapal uap, lampu pijar, kapal terbang, pesawat luar angkasa, telefon selular…” (@bm, Minggu, 03 Agustus, 2008). Tapi, lebih lanjut @bm katakan, dalam tradisi ini, muncul sikap ekstrim lainnya yang ditunjukan manusia durjana seperti Feuerbach, Freud, Nietzsche, Sartre. Mereka katakan Tuhan sudah mati. Tuhan adalah pikiranmu sendiri. Manusia menciptakan Tuhan. Fisafat mereka kemudian ‘melahirkan’ manusia paling jahat dalam sejarah manusia, Stalin (Uni Soviet), Mao Zedong (Cina) dan Hitler (Jerman). Tiga manusia jahat ini saja bertanggungjawab atas 100an juta nyawa manusia. Belum lagi rejim jahat lainnya, Nicolae Ceauşescu (Romania), Enver Hoxha (Albania), Kim Jong Il (Korea Utara), Pol Pot (Kambodia), Fidel Castro (Cuba) dll. Menyikapi 2 posisi ekstrim ini, dimanakah saya? Begini.

Saya adalah ORANG PERCAYA yang mengimani hukum ini: “Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan seluruh akalmu. Itulah perintah yang terutama dan terpenting!” (Matius 22: 37 - 28). Artinya apa? Artinya, buat saya, realitas Sang Pencipta tidak saya imani hanya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa tetapi juga akal. Artinya lagi, saya harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ‘berbau’ filsafat seperti, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Kalau tidak cilaka 12 karena kaum peragu gemar membuat kita kedengeran seperti orang tolol tidak berotak dan hanya punya blind faith.

Salah satu argumen yang paling kesohor tentang realitas Allah adalah argumen menurut Thomas Aquinas (1224 - 74), lainnya adalah Anselm of Canterbury (1033 - 1109). Aquinas memulai argumennya dengan memberi 2 hukum dasar ilmu pengetahuan yang berlaku hingga sekarang, “Sebab-Akibat.” Hukum sebab-akibat memberikan suatu pengertian atas timbulnya suatu kejadian berdasarkan sebab sebelumnya. Silahkan kroscek ama @bm, seorang ilmuan besar di kampungnya!

Untuk menjelaskan ini, mari kita sederhanakan seperti ini: @bm ada didunia ini karena ada Sang Guru Tua (SGT), panggilan ayahandanya. SGT ada karena karena ada kakeknya @bm, sedang kakeknya @bm ada karena ada kakek buyutnya, terus-menerus seperti itu. Atau yang ini: Katakanlah A ada karena B, sedang B tidak muncul tiba-tiba, ia ada karena C dan seterusnya. Tapi, ada tapinya, menurut Aquinas, mencari sebab sebelumnya tidak mungkin indefinite, tanpa batas. Dus, perlu ada YANG AWAL yang menjadi sebab atas rantai ‘causation of existence.’ Aaaaaah betul sekali sahabat blogger, YANG AWAL itu saya panggil Bapa, Allah, yang berfirman, Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 21 :6). Tanpa Yang Awal, Nothing would have come into existence. Bagaimana, sudah mengertikah anda? Baiklah, mari kita sederhanakan lagi dengan contoh berikut ini.

Kali ini saya minjam ‘cerita’ sederhana karangan sejarahwan Thomas Woods. Suatu hari anda pergi ke kantor polisi untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Anda lalu disuruh untuk mengambil nomor tes. Saat hendak mengambil nomor, anda disuruh pergi loket sebelumnya untuk mengambil sebuah nomor. Anda pergi ke loket yang dimaksud, tapi disana, anda disuruh pergi ke loket sebelumnya lagi untuk mengambil sebuah nomor. Anda menjadi berang karena untuk mendapatkan nomor tes, anda harus ke loket sebelumnya, begitu terus. Anda merasa dimainkan oleh sebuh proses tanpa ujung. Anda putus asa dan memutuskan untuk pulang tapi pada saat itu anda melihat seseorang keluar dari kantor polisi memegang SIM baru. Anda pasti teramat lega karena terbukti bahwa proses mendapatkan nomor tes TIDAK MUNKIN go on and on and on, indefinitely.

Teori filsafat memang asyik, brain teaser, tapi seringkali hanya valid dalam ruang kuliah dan ‘gatot’ alias gagal total dalam realitas. Eksistensi @bigmike, saya dan anda serta jagat raya ini membuktikan realitas YANG AWAL, Sang ALFA yang berada diluar rantai causation of existence. Kita memang tidak mampu berkata banyak tentang Sang Alfa, tapi sudah bisa menetapkan Dia sebagai Yang Awal. Karena tanpa Dia, none of its effects -kita semua dan alam semesta- would be here.

Begitulah sahabat blogger, akhirnya kita sampai pada ini, apa yang ditakutkan @bm, bahwa kita memerlukan sekitar 120an komentar baru untuk menemukan bahwa kita tetap memerlukan 120an komentar baru lainnya, tidak perlu terjadi. Allah adalah sebuah realitas. Kalau anda meragukan realitas Dia, Sang Alfa itu, hakekatnya anda meragukan realitas anda sendiri. Karena tanpa Yang Awal -the First cause- anda tidak ada didunia ini.

Allah yang saya sembah adalah Allah yang Maha Besar. Allahu Akbar. Tapi Dia juga adalah Allah Maha Rasional. Sebagai mahluk ciptaanNya, saya diberi akal agar mampu, walau tidak sempurna, mengerti dan menyembahNya. Sebelum saya pamit, mungkin ada yang berminat menjawab ini: Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?

Salam damai!

Saya, Ayahanda dan Indonesia

Posted by: luiggimikerk on: Agustus 18, 2008

Dear sahabat blogger,

Hari ini, satu hari pasca kemeriahan memperingati HUT Proklamasi Bangsa Indonesia. Secara sengaja, saya menahan diri 1 hari sebelum memposting artikel untuk memperingati Hari Kemerdekaan ini. Untuk apa? Tidak untuk apa, sebenarnya. Hanya sekedar merenung bahwa apa pantas saya memberi ucapan selamat kepada negara saya setelah apa yang saya lakukan selama ini. Di blog ini, berkali-kali saya mengecam Indonesia sebagai INDONESIA. Indonesia adalah negara gagal. Saya sudah menulis bangsa kuli dan lain sebagainya. DAn lain sebagainya. Ya, setelah beribu umpatan seperti itu, saya membatin: apa masih pantas saya mengucapkan selamat HUT? Dalam kegamangan mengambil sikap, saya teringat ayahanda saya almarhum.

Ayahanda saya. Manusia seperti apa dia? Anda yang mengikuti serangkain elegi saya tentang “kepergiannya” di blog ini pasti punya kesan yang teramat kuat bahwa dia adalah manusia istimewa yang sangat saya cintai. Manusia nyaris sempurna yang kepergiannya meninggalkan luka hati yang mendalam. Jika itu yang anda pikir maka saya harus mengatakan bahwa: anda benar. Anda tidak keliru. Betapa tidak. Dialah yang mengukir hidup saya. Ketika saya masih kecil, lemah dan tak berdaya, dialah yang memberi saya makan dan minum. Semua kebutuhan saya untuk bertumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya manusia yang baik, disediakannya. Tidak kurang. Tuntas. Tanpa hutang. Guratan jejak kariernya yang dibangunnya bertahun-tahun, sebagain sudah diwariskannya kepada saya. Ya, anda kembali betul: ayahandalah peletak dasar pola-pola berpikir dan bertindak saya sekarang ini.

Lalu, itukah beliau seluruhnya bagi saya? Kali ini anda mungkin keliru. Ada 4 peristiwa, yang mungkin baru pertama kali saya ceriterakannya kepada orang lain. Sebelum ini, semua saya simpan sendiri. Tidak kepada ibunda. Tidak juga kepada saudara-saudara saya. Apatah lagi orang kepada “orang asing” seperti anda semua, sahabat blogger terkasih. Ada 4 peristiwa yang amat membekas dan harus saya ungkapkan untuk memberi tahu bahwa, ayahanda saya sesungguhnya tidak selamanya memberikan gambar positif bagi saya. Beliau memiliki banyak sisi positif yang menghidupkan dan mewarnai hidup saya. Itu pasti. Akan tetapi sama pastinya dengan itu, adalah adanya sisi negatif dari beliau. Sisi negatif ini, di masanya, begitu menyakitkan dan diam-diam membuat saya menimbun marah kepadanya. Anda tidak percaya? Saya harus membuat penegasan bahwa di suatu masa dan di suatu waktu, saya pernah begitu tersinggung, marah, dan diam-diam, (ampunkan saya TUHANKU), ada dendam yang tertimbun kepada ayahanda.

Pertama, itu terjadi di tahun 1981. Setamatnya saya dari bangku pendidikan SMA, saya dikirim oleh ayahanda ke Jogjakarta untuk mencoba mengikuti testing masuk di Universitas Gadjah Mada. Dasar bodoh: saya gagal. Beliau bisa menerima kegagalan saya itu meskipun saya tahu, beliau kecewa. Ayahanda lalu memerintahkan saya untuk segera mendaftar ke bimbingan-bimbingan testing yang menjamur ketika itu untuk belajar lagi setahun dan mencoba mengikuti testing di UGM lagi pada tahun berikutnya. Saya tidak mau karena enggan “menganggur” setahun lamanya. Diam-diam, tanpa dikonsultasikan kepada beliau, saya pulang balik ke Kupang. Beliau marah. Amat marah. Memang beliau tetap memfasilitasi saya untuk mengikuti perkuliahan di Fakultas Peternakan di Undana Kupang, tetapi saya nyaris tidak ditegur hampir 3 bulan lamanya. Beliau berusaha menghindari mengobrol apapun dengan saya. Hanya bertegur sapa jika perlu. Sisanya, saya dicuekin. Dan puncaknya adalah, beliau memutuskan untuk mengirimkan salah seorang adik saya yang baru menamatkan pendidikan di bangku SMP untuk segera bersekolah ke Jakarta. Dan alasannya itu lhooo…yang membuat saya sakit hati berkepanjangan;……Kata beliau kepada adik saya…..heeeiiii pergilah kau bersekolah di Jakarta supaya jangan meniru kakakmu yang penakut, pecundang, tidak tahan menderita, tidak tahan lapar dan hanya bisa hidup di bawah himpitan ketiak orang tua.bllllllaaaaammm….ssssrrrrr.….saya malu dan marah terhadap stigma yang diberikan beliau itu.

Kedua, terjadi di tahun 1985. Ketika itu saya sudah menamatkan pendidikan sarjana. Saya sudah bergelar tukang Insinyur tetapi belum bekerja. Bukan karena tidak mau bekerja melainkan, ketika itu, saya adalah sorang penerima beasiswa TID (tunjangan ikatan dinas), yaitu beasiswa Republik Indonesia yang diberikan kepada mahasiswa yang dipersiapkan sebagai tenaga pengajar (dosen) perguruan tinggi pemerintah. Nah, setelah lulus sarjana, kami harus meninggu SK pengangkatan dan penempatan kami di mana saja sesuai kebutuhan pemerintah. Dalam masa 1 tahun menunggu, saya tampak seperti manusia jobless. Sementara, saya sudah memiliki tanggungan lain, yaitu seorang isteri dan 2 orang anak yang ada gara-gara “kelakuan “saya sendiri yang sudah menikah ketika berusia masih sangat muda. Mungkin didorong oleh “kedongkolan” terhadap kelakuan saya dan melihat saya setiap hari hanya bekerja di PT PAL, yaitu PT Pal pi Pal datang ( he he he …saya harus menerangkan bahwa PT ini sangat terkenal dikalangan pengangguran di Kupang, yang maksudnya adalah orang-orang yang pekerjaannya hanya luntang lantung tak karuan - pal pi pal datang - tanpa pekerjaan yang jelas), sekali waktu marahlah beliau (oh, ya ayahanda saya tergolong orang yang mudah marah dan naik pitam - lebih celaka lagi mudah pula “naik tangan” memberikan sejurus dua jurus kung fu panda). Tanpa hujan tiada angin beliau menghardik saya dengan sangat keras. Katanya: …..heeeiiii…..kamu sadar atau tidak? Kamu adalah orang yang tidak punya pekerjaan di rumah ini. Kerja mu hanya luntang lantung menjadi parasit bagi orang tua dan saudara-saudaramu……blllaaammm…..sssrrrrrr…. Saya malu. Saya marah. Saya dendam terhadap stigma yang dikenakan ayahanda kepada saya.

Ketiga, di tahun 2002. Ayahanda sangat berharap, dan terutama karena saya sendiri yang berjanji, agar saya segera mengikuti pendidikan pada tingkat Doktoral. Sesuatu yang sudah saya tunda-tunda sejak tahun 1996 ketika kesempatan pertama itu datang. Karena perkembangan kesehatan saya yang sempat amat buruk di tahun 2000, saya berketetapan hati untuk tidak mau lagi mengikuti pendidikan doktoral. Magister cukuplah sudah. Akan tetapi, karena enggan berterus terang kepada ayahanda, maka jika setiap kali saya ditanya oleh beliau: kapan S3? jawab saya: nanti semester depan. Rupa-rupanya kesal mendengar “janji-janji kosong” saya maka di suatu pagi hari ketika saya mengunjunginya di rumahnya, saya dihardik dan diusir keluar dari rumahnya. ……..Pergi kamu dari rumah saya dan jangan lagi menginjakan kakimu di rumah saya. Kamu adalah penipu besar dan tidak punya harga diri. Kamu penakut. Kamu hanya boleh kembali kerumah saya jika sudah menunjukkan tiket keberangkatan kamu bersekolah……….. Dan….pintu itu…….pnitu kamarnya tidurnya dibanting keras sekali. Amat keras….. …brrrraaaakkkggg.…..persis di depan hidung saya……Betapa kalang kabutnya saya ketika itu. Dan betapa terhinanya saya ketika itu. Sakitnya saya tidak lagi diperdulikannya (hal yang belakangan diakuinya ketika saya sudah menyelesaikan sekolah). Sepertinya beliau tidak bisa lagi memahami bahwa untuk bersekolah ada banyak persyaratan yang harus diurus. Namun, hanya agar supaya kemarahan ayahanda dapat diredam maka berangkatlah saya dan lalu, sengsara di Negeri orang.

Keempat, di tahun 2008. Kesehatan ayahanda sudah tidak lagi prima. Saya meminta beliau untuk memeriksa kesehatannya ke dokter. Beliau tidak mau. Sayapun tidak memaksanya. Dan, hari itu, saya harus menerima fakta….ayahanda “pergi” tanpa sempat berpesan apa-apa. Saya marah. AMAT MARAH, Lalu, kesedihan yang bercampur dengan kemarahan karena ditinggal pergi begitu saja inilah yang menjebak saya dalam kesedihan berkepanjangan seperti saat ini. Sampai hari ini. Bahkan ketika mengetik artikel ini. Ya, saya mengganggap bahwa ketika hampir semua keinginannya sudah saya penuhi…ehhhh…..malah begitu saja saya ditinggalkannya pergi. Jauh. Amat jauh. Saya sakit hati.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal. Manusia macam apa ayah saya itu? Dia baik. Itu benar belaka. Dia mengagumkan. Itupun benar belaka, Tetapi, sekiranya ayahanda berada di suatu spektrum gelombang energi tertentu di universe ini dan bisa membaca tulisan ini, saya harus juga mengatakan, dan meminta beliau untuk mengakuinya juga, bahwa menurut indikator sebuah Kitab Tua (yang meminta agar semua Ayah jangan pernah membuat tawar hati anak-anak mereka) maka beliau bukan sosok yang amat ideal. Ayahanda orang baik tetapi ayahanda juga pernah menyakiti hati saya. Seperti saya juga, seringkali menyakiti hatinya. Jadi, bagaimana persisnya sikap saya terhadap ayahanda? Ya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada padanya, saya harus mengatakan bahwa dia memang eksklusif bagi saya. Ayahanda saya ya cuma satu itu. Dia dan memang hanya dia. Tidak yang lain. Dengan begitu maka jika rumus dalam sebuah Kitab Tua harus menjadi pedoman: …..hormatilah ayahmu dan ibumu agar panjang usiamu di negeri yang dijanjikan……Maka, pilihan saya menjadi hanya 1, saya harus mencintainya. Tanpa menghitung plusnya. Tanpa menghitung minusnya. Apa adanya.

Bagaimana meletakkan ini semua dalam perspektif ke Indonesiaan?. Ya, Indonesia bukan negara dan bangsa yang Ideal. Dalam banyak hal, Indonesia telah menyakiti hati warga bangsanya sendiri. Sepertihalnya juga warga bangsa ini yang tidak jarang menancapkan pisau ke jantung Indonesia. Dan melukainya. Tetapi, di dunia yang fana ini: apakah ada yang ideal? Siapakah yang sempurna? Jika ketidak sempurnaan itu adalah niscaya maka memang hanya ada 1 pilihan kita, yaitu cintailah Indonesia. Tanpa menghitung plusnya. Tidak pula minusnya. Apa adanya. Jika ini sudah benar maka pilihan saya di hari perayaan hari merdeka ini ya cuma 1, yaitu saya ingin berbisik …Merdekalah Indonesiaku. Berbisik? Mungkin itu yang terbaik yang dapat saya lakukan sekarang.

Akan tetapi ijinkanlah saya mengambil sikap lebih optimis. Dum Spiro, Spero. Selama saya masih bernapas, saya tetap berharap. Di sini saya lahir. Di sini pula pada akhirnya saya akan menutup mata. Lalu, berbekal keyakinan bahwa dengan kebaikan, persahabatan dan kasih sayang: saya, anda dan kita semua bisa mengusahakan Indonesia yang lebih baik, maka saya juga ingin memekik: MERDEKA bung. MERDEKA sus. MERDEKA INDONESIA.

Tags:

De Indonesien alleen is noit zijn heer (apaaaaannn tuuhhhhh?)

Posted by: luiggimikerk on: Agustus 4, 2008

Sahabat blogger terkasih,

De Indonesien alleen is noit zijn heer. Kalimat ini saya peroleh dari suatu tulisan lama yang dibikin oleh DR. Abu Hanifah dalam polemiknya dengan Mochtar Lubis pada tahun 1977. Dua orang ini sudah lama dipanggil Tuhan tetapi jejak pikirannya akan saya tulis kembali pada malam ini. Besar harapan saya bahwa di sini. Di tulisan ini, kita bisa berkaca seperti apa wajah kita. Seperti apa wajah Indonesia. Wajah di tahun 2008 ketika kita sudah berada di tahun yang ke 63 pascakemerdekaan.

Data pada bulan Desembar tahun 2006 (kalau anda punya data terbaru harap diberikan di kolom komentar) menunjukkan bahwa angka hutang luar negeri Indonesia mencapai US$ 125,25 miliar. Mengapa kita berhutang? Ya karena kita tidak mampu membiayai belanja kita sendiri. Mengapa kita tidak mampu membiayai belanja kita sendiri? Ya karena kita miskin. Jumlah penduduk miskin di Indonesia yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Juli 2008 turun menjadi 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk Indonesia. Baguskah? Ah, nanti dulu. Data itu ternyata belum menghitung, atau sengaja tidak memperhitungkan, dampak kenaikan harga BBM yang baru lalu. Seorang peneliti senior di LIPI, Hari Susanto, menghitung bahwa dengan kenaikan harga BBM menjadi 28.7% maka jumlah penduduk miskin akan mencapai 40 juta jiwa atau 18,04% dari jumlah penduduk di Indonesia. Angka lebih mengerikan diberikan oleh hasil analisis Bank Dunia. Dengan menggunakan standard internasional pengukuran tingkat kemiskinan yaitu PPP (purchasing power parity) 2 USD maka angka penduduk miskin di Indonesia mencapai 49% dari total penduduk. Berapa angka rilnya? Jika penduduk Indonesia per Juli 2008 sekitar 225 juta jiwa maka jumlah orang miskin di Indonesia adalah…….engggg………..iiiing……………eenggggg.…..110.25 juta jiwa….wwwwoooooowwwww……..mammaaaaaa mia let me go…….Cukup? ya, cukup dulu. Tapi apa hubungannya dengan judul posting ini?

De Indonesien alleen is noit zijn heer berasal dari penggalan sebuah puisi yang dibuat oleh orang-orang Belanda pada tahun 1927 yang menyitir sebuah syair kuno, VETH, guna mengolok-olok gerakan kebangsaan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Negeri Belanda. Bunyi penggalan syair tersebut kurang lebih begini:

Di pantai-pantai Jawa, bangsa-bangsa berdesak-desak.
Mereka berganti-ganti seperti awan-awan di langit.
Terus menerus mereka berdatangan dari seberang lautan
Hanya orang Indonesia yang tidak pernah menjadi tuan di rumah mereka sendiri
(de Indonesien alleen is noit zijn heer)

(kata Indonesia sengaja saya ubah dari kata aslinya, yaitu Javaan)

Menyakitkan? Bagi yang mempunyai sedikit saja perasaan nasionalisme pasti akan merasa sakit hati dengan tudingan orang-orang Belanda tempoe doeloe itu. Apakah sekarang ini keadaan lebih baik? Jangan buru-buru menilai. Mari kita lihat beberapa fenomena di sekitar kita. Pemain sepakbola yang berasal dari luar negeri adalah tuan besar di Indonesia. Pemain Indonesia dibayar begitu murahnya sementara si pemain asing hidup bagaikan raja-raja kecil di liga sepak bola nasional. Dunia persinetronan kita dibanjiri oleh puluhan artis-artis berwajah Indo yang berkewarganegaraan Jerman, Amerika, Australia, Malaysia, Singapura dan lain sebagainya. Di klub-klub malam di Jakarta, konon sudah lama wajah “ayam kampung” menghilang digantikan oleh wajah-wajah ayu bermata sipit dari negeri China. Dewi Persik, artis dewek, dilarang-larang ketika ingi menyanyi di beberapa daerah tetapi betapa bangganya kita menyaksikan Maria Carrey menyanyi nyaris telanjang di Indonesia. Artis-artis Malaysia berseliweran di Indonesia sambil mengencani dan memacari artis-artis dalam negeri tetapi kita diam ketika Inul Daratista diperlakukan bagikan monyet di Malaysia. Orang di Arab dan Malaysia memperlakukan jongos-jongos-nya yang berasal Indonesia nyaris tanpa peri kemanusian sedangkan kelakuan sebagian warga bangsa kita lebih Arab dari orang Arab itu sendiri. Kita bangga menyebut PRT-PRT itu sebagai pahlawan devisa. Tetapi ironisnya, ketika sang pahlawan devisa itu pulang kembali ke tanah air, mereka dirampok habis-habisan di Cengkareng oleh agen atau orang-orang kita sendiri tanpa rasa malu. Di pusat-pusat bisnis di Indonesia, cobalah anda mengamati di sana, banyak sekali konsultan-konsultan asing dengan gaya “dandy” ber- cas cis cus bersama-sama beberapa wajah melayu Indonesia yang bekerja dengan mereka. Orang-orang asing ini menjadi penentu sementara wajah melayu Indonesia itu adalah tukang-tukangnya. Cilakanya, “para tukang” itu hobi banget pamer gaya bisa bekerja bareng bule ketika mereka menghadapi orang negerinya sendiri. Gue kerja bareng Amrik lhoooo….Gue dibayar pake’ dollar lhooo……Beranikah anda bertanya, berapa gaji si orang asing dan berapakah gaji si orang Indonesia?

Saya pernah punya 2 kali pengalaman. Pertama kali di tahun 1980-an akhir ketika saya masih seorang dosen muda yang “bangga” bisa bekerja sama dengan orang-orang asing di suatu proyek di kampung nun jauh di pedalaman Timor. Berapa honor saya per bulan? Rp. 50.000,- untuk bekerja dari pagi sampai sore di padang penggembalaan. Berapa honor orang asing itu? ribuan dollar bung, hanya untuk memerintah ini-itu yang saya sendiri sudah tahu karena ada dalam buku yang saya baca sendiri. Kali kedua, di tahun 2006 ketika bekerja dengan orang-orang asing untuk suatu analisis kemiskinan masyarakat desa hutan di Indonesia. Saya menjadi koordinator daerah Nusa Tenggara yang meliputi NTB dan NTT. Setelah rampung pekerjaan lapangan maka kami diinstruksikan untuk berkumpul di sebuah hotel mewah di kawasan Senayan, Jakarta. Makan enak.Tidurpun enak. Tetapi kami bekerja berhari-hari dengan semua daya kami hanya untuk mendapatkan biaya ganti tiket pesawat dan lumpsum ala kadarnya. Beruntunglah ketika itu, pikiran saya tidak tertuju kepada uang. Saya ingin mendapatkan pengalaman baru. Tetapi, belakangan baru saya sadari bahwa dalam laporan mereka, justru pola pikir dan metode yang saya kembangkan yang dipakai mereka. Mammmaaaaaaa mmiaaaaaaa let me go…sampai sekarang bukti tiket masih ada di tangan saya dan saya tidak berniat untuk meminta ganti biaya tiket. Biarkan menjadi doea tanda mata bagi saya karena memang ada 2 buah tiket yang seharusnya bisa saya klaim. Masih ada contoh lain? silakan anda kumpulkan sendiri. Silakan pula jika anda menilai……..heeeiiiiii………si BM sedang cengeng padahal itukan salah dia sendiri…….ya saya mempersilakan anda menafasir. Tetapi, mari kita catat fenomena berikut ini……jelas-jelas saya dan beberapa teman adalah orang Indonesia asli tetapi…betapa bangganya kita jika dalam berbicara dan atau menulis bisa mencampur adukkan, bagai kol and his gang, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya (