Feeds:
Tulisan
Komentar
Dear sahabat blogger,

Masa edar posting lama hampir habis. Saya sedang menyiapkan sebuah posting baru tetapi masih belum “layak tayang” tagal masih ada yang harus diperiksa kembali. Tetapi keinginan untuk membuat posting baru amatlah kuat….sooo….so what giiicyyyuuu loohhh …… hhmmhhhhhh …. Naaaaahhhh, ada jalan, begini:

Masa kampanye pilpres sudah selesai. Ke-tiga pasangan Capres/Cawapres sudah unjuk gigi, unjuk kebolehan, termasuk unjuk janji dan unjuk bohong (walaaahh….supaya konsisten dengan psoting lama saya saya ganti saja menjadi…), …. unjuk kompetensi lupa-lupa ingat…lupa kelakuan diri sendiri tetapi ingat betul kesalahan orang lain….wwwrrrrrrrr…….capeeeek deh….maka, jujur saja: saya bosan. Betapa tidak, Mega-Pro (sebenarnya saya menyukai pasangan ini tapi…) agak membosankan. SBY-Berboedi paling suka ja’im tapi mamma miaaaa,… justru paling gemar “mengolok-olok orang lain. SBY pernah mengaku dikeroyok padahal entah apa namanya jumlah koalisinya yang amat banyak ketimbang lawan-lawannya. Bahlkan dalam debat terakhir SBY terlihat seperti cuci tangan ketika DR. Deny JA, si penganjur pilpres 1 putaran, di sindir oleh JK. “Dia bukan bagian dari tim kampanye saya “, begitu kata SBY. JK-Win, sebenarnya paling atraktif, Lucu dan menggemaskan. Tapi ya itu loh….lupa-lupa ingatnya amat kuat…ingat kesalahan SBY lupa bahwa dia juga bagian dari pemerintahan SBY…….Kesimpulannya? Saya masih harus menunggu hari-hari terakhir menjelang d-day, 08 Juli 2009….itupun jika pemilu jadi dilaksanakan 8 Juli karena…konon…Mega-Pro dan JK-Win masih mempersoalkan DPT (daftar pemilih terkacau) yang tetap amburadul. Kata berita di www.tempo interaktif.com “Dikhawatirkan 30 Juta Orang Tak Bisa Memilih” ….. bujuuuu buneeenggg….mamma tana yaaaeeeeeee…..

Jikalau berita itu benar, mohon maaf, dengan keyakinan bahwa pemilu adalah wadah ekspresi kedulatan rakyat dan ketika partisipasi rakyat dicedarai maka, bagis saya, pilpres 2009 adalah sebuah “perselingkuhan”. Perbuatan serong yang merampas kedaulatan rakyat. Kata pemerintah…waaah, itu urusan KPU. Kata KPU…walaaaahhh….DPT berasal dari Mendagri. Siapa salah siapa benar? Hanya Tuhan yang tahu. Tetapi saya masih berbaik sangka. Sebelum berita itu terbukti benar maka masih ada 1-2 hari ke-depan bagi saya untuk memutuskan ikut tidaknya dalam proses pilpres 2009. But, time is running out. Bagaimana jika masalah itu kembali tidak berujung pangkal atau pangkalnya dianggap tiada lalu ujungnya dipaksa juga untuk ditegakan…sebelum diduga macam-macam, maksud saya adalah: …akar masalah DPT diabaikan lalu tanggal 8 Juli 2009 pemilu berjalan bagai business as usual. Benakah? Ya, mbuh. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu. Jikalau benar skenario buruk itu yang terjadi maka mohon dimaafkan karena saya terpaksa memilih capres-capres lain. Dan inilah mereka:

1. Bob Dylan
2. Iwan Fals
3. Mick Jagger dan the Rolling Stones-nya

haaaaaaaaaa??????? apa-apaan ini???? … ya begitulah keinginan saya… ini blog saya dan saya berdaulat di blog ini kan???? …. ha ha ha ha…..Maksud saya, dari pada pusing-pusing mikirin pilpres yang kurang bermutu ini lebih baik saya mendengar lagu-lagu ciamik dari 3 tokoh musik yang paling mendekati warna suasana hati saya. Apa saya ini? Sudah barang tentu untuk menguraikan siapa saya ada filsafatnya (dan akan saya postingkan nanti) tetapi mungkin di balik semua “kedogolan” saya, maka saya sebenarnya adalah “orang dengan semangat anti kemapanan yang amat kuat”. Betulkah itu adalah saya seluruhnya? TIDAK JUGA karena sesungguhnya saya adalah manusia paradoks dan oleh karena itu….uuuupsssss stop sampai di sini saja dahulu karena saya tidak ingin banyak bacot tentang perkara ini…lain kali saja…..

Sekarang, back to the laptop, mengapa 3 manusia di atas saya pilih sebagai caprem …eh ini bukan salah ketik…CAPREM (calon presiden musik…wkwkwkwkwk….).

Pertama, semua ketiganya punya semangat anti kemapanan yang amat kuat. Bagi mereka, hidup bukanlah hal statis dan establish. Hidup harus terus bergerak dan berubah. Jagger dan The Rolling Stones adalah pelopor generasi bunga yang menghantam kemapanan yang dibawa oleh the Beatles. Jika the Betales tampil rapih maka Jagger dkk. urakan. Mereka menjadi pioner generasi hipies dalam dunia musik. Jangan salah, idea yang dibawa oleh flower generation bukan hanya melanda kaum pemusik tetapi juga merasuki hampir semua budaya mapan di dunia. Lalu bagaimana Bob Dylan? Robert Zimmerman, nama asli Bob Dylan, sejatinya adalah pengikuti The Rolling Stones tetapi spesialisasinya lain. Bagi Bob Dylan, bermusik adalah alat yang digunakan sebagai media penyampai aspirasi politik dari young flower generation yang menentang ketidakberesan politik negara. Bob Dylan berani, amat berani, mengkritik negaranya sendiri USA dalam urusan Perang Vietnam yang memang tak jelas moralitasnya itu. Musik protes semacam ini menjaid trend besar di akhir 1960-an dan mereka berhasil. Nixon memutuskan berhenti berperang di Vietnam. Lalu, bagaimana Iwan Fals? Tak diragukan lagi. Kota Bandiung yang amat Stones Mania di tahun 1970-an rasanya ikut membentuk ide-idenya bemusik. Lalu, bukan cuma itu, menuut pengakuannya sendiri di tahun 1980-an, Bob Dylan menjadi inspirasinya. Keberanian Iwan tidak main-main, ketika semua pemusik, dan bahkan kebanyakan masyarakat tidur tiarap di hadapan pemerintah ORBA yang anti demokrasi itu, Iwan Fals berteriak keras…..BONGKAR….dan dia dimusuhi pemerintah ORBA serta kaki tangannya. Lalu, saya ingat betul dalam salah satu wawancara di TV bersama seorang tokoh pergerakan mahasiswa di tahun 1998 yang mengkui bahwa lagu-lagu Iwan Fals menjadi salah satu sumber semangat bagi perjuangan mereka. Dan, mereka berhasil. Ya, mereka adalah generasi penikmat Iwan Falz yang tegar melawan ketidakadilan. Iwan Fals bukan bertipe penyanyi oportunis bayaran yang dengan mudah mendendangkan lagus setipe jingle indomie-SBY. Mental Iwan bukan mental lunak sepert itu.

Kedua, selain beridealisme anti kemapanan (…sama seperti saya ehemmm…), adalah persistensi mereka dalam bermusik. Caprem pilihan saya adalah orang yang terus berkarya bertahun-tahun tak ada hentinya. Elvis berjaya antara 1957 – 1977 setelah itu frustrasi dan mati. Jacko berjaya antara 1968 – 1990-an. Sepuluh tahun terakhir sudah tidak ada lagi karyanya yang gemilang. Hidupnya digerogoti skandal skandal. Lalu, frustrasi dan mati. Freddy Mercury dimana? Bercinta overdosis membuat dia meregang nyawa tagal AIDS. Nah, tiga caprem saya itu, memang tidak bebas dari perkara kontroversial, tetapi lihatlah: Jagger dkk, berkarya sejak 1962 – hari ini. The Rolling Stones masih terus merekam dan menguasai panggung konser sebagai group dengan bayaran termahal. Penonton konsernya di Brazil yang berjumlah 2.5 juta orang di tahun 2007 adalah sebuah rekor dunia yang belum terpecahkan. Album terakhir Bob Dylan dengan mudah menempati anak tangga # 1 di chart lagu dan album, baik di Amerika maupun di Inggris padahal dia sudah berkarya sejak tahun 1964. Iwan Fals masih amat disegani di Indonesia dan masih terus memproduksi lagu-lagu hits yang baru kendati dengan tema yang lebih soft. Berkali-kali diajak terlibat dalam politik praktis tetapi Iwan menolak. Komitmentnya hanya untuk bermusik. Iwan pantas dihormati atas sikapnya itu.

Ketiga, jika diperhatikan amat sangat, suara ketiga caprem saya tersebut sesungguhnya tidaklah merdu-merdu amat. Bahkan menurut saya, Bob Dylan tidak sedang bernyanyi melainkan menggerutu. Iwan Fals lebih sering kedengaran sedang berteriak dan bukannya bernyanyi. Suara Mick Jagger yang melayang ringan itu sebenarnya terdengar seperti sekedar aliran udara yang didesak keluar dari tenggorok lalu melintasi lidah panjangnya dan akhirnya tersebar kemana-mana melalui bibir super ndower-nya itu. Nggak merdu.

Lalu, mengapa 3 variabel itu, yaitu anti kemapanan, persistensi bermusik dan suara yang biasa-biasa menjadi tolok ukur? Ada jawaban yang amat filosofis tetapi mohon maaf, saya simpan saja dahulu. Mudahnya begini: tak pernah mau diam adalah wujud manusia yang harus selalu berbuat. Bekerja dan membuat perubahan. Persistensi adalah hal yang bertalian dengan konsistensi dan komitmen. Akhirnya, suara yang biasa-biasa menggambarkan bahwa sesungguhnya kita adalah manusia biasa. Manusia fana yang mudah keliru. Manusia rata-rata tetapi adalah Rahmat-NYA maka kita diberkati Tuhan dengan talenta. Sukuri lah talenta dari Tuhan (bandingkan dengan MJ yang “menolak berkulit hitam” – Quincy Jones). Bekerja secara konsisten guna mewujudkannyatakan rasa sukur kita. Sisanya adalah “C’est La Vie”. God Will Bless Us

Mari bantu saya menikmati musik-musik anti kemapanan dan persisten dari 3 caprem pilhan saya.


Please
listen and have enjoy, my friends


Tabe Tuan Tabe Puan

Dear sahabat blogger,

Semalam, Kamis 25 Juni 2009, saya baru tiba kembali di Kupang pukul 11.30 WITA setelah bertugas 2 hari di Jakarta. Kendati mengantuk dan lelah tetapi tak bisa langsung tidur karena harus mempersiapkan bahan presentasi seminar tentang Rencana Pengembangan Kabupaten Sabu-Raijua. Saya kebagian materi tentang “daya dukung lingkungan guna pengembangan Sektor Pertanian”. Rampung tepat pukul 04.00 AM WITA. Mengantuk berat tetapi masih sempat mengintip pertandingan sepak bola Piala Konfederasi antara Brazil VS Afrika Selatan. Tidak menarik dan lalu……click…tombol TV di tekan off. Tidur. Pukul 07.30 AM WITA bangun, dalam keadaan masih sangat mengantuk, menyiapkan diri ke tempat seminar. Sembari menghilangkan rasa kantuk,…click…tombol TV di tekan on, lalu……wwwuuuuuzzzzzzhhh……terdengar suara penyiar TV memberitakan……”mega bintang Michael Jackson dilaporkan oleh beberapa kantor berita telah meninggal dunia, diduga mengalami serangan jantung akibat komplikasi obat-obatan” ……. whaaaaattt???? ….. ngngngngngng…telinga berdenging…bukan karena apa-apa melainkan sekedar seekor nyamuk.yang pagi-pagi terbang di sekitar kuping dan berdenging … lalu … plaaaaaakkkkk…..tangan menepuk…tapi nyamuk lolos…tak jadi mati…tak bernasib seperti Michael Jackson…..Ya, Jacko telah mati…untuk setiap kematian selalu ada kesedihan dan saya juga tidak bisa bergembira karena Jacko mati. Ada perasaan solider karena bernama depan yang sama….michael…malaikat penjaga surga….Juga ada perasaan klangenan karena….Jacko mencapai puncak ketenaran di tahun 1980-an, yaitu dekade dimana saya masih imut-imut…kinyis-kinyis ….tampan (ehm….) dan penuh gaya vitalitas manusia berusia 20-an. Ya, ada unsur nostalgia di sana.

Lalu, apakah tentang diary dan atau nostalgia semacam ini posting kali ini? Bisa jadi begitu tetapi sebenarnya tidak. Bagi saya, jika benar kematian Jacko karena komplikasi obat-obatan maka hal itu adalah tragedi. Dahulu, pada tahun 1975, seorang bintang pujaan dunia Elvis Presley juga meninggal karena penggunaan obat-obatan yang over dosis. Lebih ke belakang lagi, super star gitar Jimmy Hendrix mati dalam ceritera yang mirip. Di Indonesia, kita kuga punya kisah serupa tapi tak sama yang berasal dari penanyi wanita Alda Risma. Semua mereka mati mengenaskan. setelah rangkaian ceritera hidup yang sungguh tak normal. Apa yang terjadi dengan mereka? “What’s wrong … kata mister Tukul Arwana….with them”? Uang punya. Nama besar punya. Apa yang mereka tak punya? Lalu mengapa begitu? Hidup jauh dari ukuran normal. Gaya hidup mereka bagai di dunia mimpi. Lalu, mereka seperti terjebak di sana dan tak mau, atau lebih tepat tak bisa keluar dari jebakan ketenaran mereka. Ketenaran yang gilang kemilau itu lalu berubah menjadi racun. Obat-obatan digunakan persis seperti racun yang meracuni hidup mereka sendiri. Ketenaran ternyata ada harganya, yaitu hidup yang tak biasa. Dan yang tak biasa itu ternyata adalah “racun”. Racun dunia.

Saya lalu teringat akan Aristoteles. Filsuf besar Yunani, murid Plato, yang hidup 2400 tahun yang lalu. Manusia besar ini pernah menulis begini “setiap keterampilan dan ajaran, begitu pula tindakan dan keputusan, tampaknya mengejar salah satu nilai”. Bicara apa mister Aristoteles ini? Memang tak mudah membaca pikiran para filsuf besar karena kerap kali bahasa yang digunakan berasal dari “planet lain”. Akan tetapi dalam “kebodohan” saya mencoba memahami maksud Aristoteles. Semua tindakan manusia pasti ada maksudnya, pasti ada nilainya…ya, pasti ada tujuannya. Jika saya benar menfasirkan Aristoteles maka pertanyaannya adalah “apa tujuan manusia?”. Aristoteles kemudian menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan akalnya guna mengamati fakta bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia pasti memiliki tujuan. Saya berangkat ke Jakarta pasti ada tujuannya/ Saya menulis naskah bahan presentasi pasti ada tujuannya. Saya mengintip pertandingan sepakbola di TV, bangun pagi-pagi, berusaha menepuk nyamuk, dan manulis posting ini selalu punya maksud. Sering kita mendengar orang berkata bahwa….”aaah, aya mengatakan itu sebenarnya tidak punya maksud apa-apa”….ahaaaaaa…..dalam kerangka pikir Aristoteles, orang yang mengatakan demikian pasti sedang berbohong. Lalu, apa maksudnya dia mengatakan kebohongan itu? Kebohongan itupun ternyata memikiki tujuan. Nah, lihatlah, Aristoteles tidak terbantahkan bukan?

Nah lalu, apa tujuan manusia? Aristoteles membedakannya atas tujuan sementara dan tujuan akhir. Lantas, dia mengatakan bahwa “tujuan sementara adalah sarana bagi pencapaian tujuan akhir”. Contoh: saya dulu berkutat 2 tahun guna mendapatkan ijazah Doktor tetapi ijazah Doktor ternyata cuma tujuan sementara karena ijazah itu saya pergunakan gua meningkatkan kualifikasi keilmuan saya. Lalu apakah peningkatan kualifikasi keilmuan adalah tujuan akhir? Tidak juga bosz karena itupun cuma tujuan sementara agar supaya melaluinya saya bisa bekerja dalam bidang ilmu yang lebih luas lalu bisa bepergian ke sana kemari lalu bisa mengumpulkan uang honor berceramah lalu…lalu…lalu….Lalu, apa tujan akhir? Apakah ada tujuan akhir yang di dalamnya tidak ada lagi terkandung sebuah tujuan lainnya? Aristoteles menjawab: ada, yaitu KEBAHAGIAAN. Kata Aristoteles, “ketika manusia bertemu kebahagiaan maka dia akan menjadi puas”. Ya, kebahagiaan adalah tujuan akhir. Selama manusia belum puas dengan apa yang dicapainya maka dia belum bahagia. Mister Aristoteles menegaskan bahwa “jikalau kita sudah bertemu kebahagiaan maka tak ada lagi yang perlu dicari untuk ditambahkan”. Terlepas dari apakah anda setuju dengan Aritoteles atau tidak, satu hal yang pasti, mister kita ini telah mengemukakan landasan filsafat etisnya yang disebut sebagai “Etika Eudemonisme” (Yunani: eudaimonia) atau disebut juga Etika Kebahagiaan. Lalu, di sinilah kita bisa menggunakan etika Aristoteles untuk meneropong apa yang terjadi dengan para artis dunia hiburan yang di dalam dunia popularisme dapat disebut sebagai dewa-dewi itu.

Michael Jackson berkarir sejak kecil bersama saudara-saudaranya dalam group Jackson Five. Anggota pendiri kelompok, Jackie, Tito, Jermaine, Marlon dan Michael Jackson membentuk grup ini setelah mengganti nama menjadi The Jackson Brothers, yang pada awalnya terdiri dari 3 orang saudara tertua. Aktif dari 1966 sampai 1989, Jacksons bersaudara bereksperimen dalam musik R&B, soul, pop dan terakhir disko. Selama karir 6 tahun di Motown, Jackson 5 adalah salah satu fenomena pop terbesar di tahun 1970-an. Jackson 5 memulai merilis single (”I Want You Back”, “ABC”, “The Love You Save”, dan “I’ll Be There”) yang mencapai puncak Billboard Hot 100 di tangga lagu Amerika Serikat. Beberapa single, seperti “Mama’s Pearl”, “Never Can Say Goodbye” dan “Dancing Machine”, menduduki Top 5 hits lagu pop dan nomor satu di tangga lagu single R&B. Jadi, Jacko telah berkecimpung di dunia ketenaran seperti ini sejak berusia 6 tahun. Bukan sekeda leat seperti layaknay para penyanyi cilik Indonesia yang ngetop sebentaran lalu tenggelam ditelan bumi, Jacko terus berkembang.

Michael Joseph Jackson (lahir di Gary, Indiana, Amerika Serikat, 29 Agustus 1958 – wafat di California, Los Angeles, Amerika Serikat, 25 Juni 2009 pada umur 50 tahun)[1] adalah penyanyi dan penulis lagu dari Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai “Raja Pop” dan mempopulerkan gerakan dansa “moonwalk” yang telah menjadi ciri khasnya. Albumnya yang dirilis pada tahun 1982, Thriller, adalah album terlaris di dunia, dengan penjualan melebihi 104 juta kopi di seluruh dunia. Ia mulai karir bernyanyi pada usia lima tahun sebagai anggota kelompok vokal keluarga Jackson (kelak menjadi The Jackson 5) sebelum meluncurkan album solo pertamanya Got to Be There pada tahun 1971. Anak ketujuh dari keluarga Jackson, dia membuat debut di musik profesional pada umur 11 tahun sebagai anggota dari Jackson 5.

Pada awal tahun 1980-an, dia menjadi figur yang sangat dominan dalam musik pop and musisi Afrika-Amerika pertama yang mempunyai crossover kuat di MTV. Popularitas dalam musiknya menanjak saat ditayangkan di MTV, antara lain “Beat It”, “Billie Jean” dan Thriller dianggap telah mengubah video klip menjadi sebuah bentuk karya seni dan sebagai alat promosi untuk mempopulerkan sebuah channel tv. Video-video seperti “Black or White” dan “Scream” membuat Jackson menjadi andalan utama MTV pada tahun 1990-an. Lewat penampilan panggung dan video-video klipnya, Jackson mempopulerkan sejumlah teknik menari seperti robot dan moonwalk. Suara dan gaya vocal Jackson mempengaruhi dan diikuti oleh banyak penyanyi hip hop, pop dan R&B. Penghargaan – penghargaan yang telah dia raih termasuk beberapa kali Guinness World Records—termasuk thriller sebagai album terlaris di dunia— 13 Grammy Awards, 13 buah single nomor 1 dalam solo karirnya dari musisi pria lainnya dalam Hot 100 era—dan penjualan 750 juta unit di seluruh dunia. Hidup Jackson sangat terkenal di seluruh dunia, didampingi dengan karirnya yang sangat sukses, membuatnya menjadi bagian dari kebudayaan pop selama 4 dekade. dalam beberapa tahun dia sering disebut – sebut sebagai salah satu pria paling terkenal di dunia.

Jelas sudah, tak ada yang bisa dibantah dari fakta itu bahwa Jacko adalah salah satu manusia dengan nam ayang amat besar di dunia populer ini. Uangnya pol-polan. Kekayaannya diperkirakan mencapai 1 milyar dollar (sekitar 12 trilyun rupiah) …wwwwwwwoooooowwww….apa kurangnya lagi? Tetapi mari kita tengok akhir tragis dari kehidupan gilang gemilang ini….(saya kutip dari CNN)….Penyebab kematian Michael Jackson akhirnya diketahui. Dia mengalami serangan jantung yang hebat. Raja musik pop itu meninggal dunia di rumahnya di Los Angeles, Kamis (26/6). Dia terkapar dan tak bisa lagi bernapas setelah mendapatkan injeksi penahan rasa sakit dengan daya tinggi bernama Demerol. Jackson, 50 tahun, disebut-sebut mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang itu. Demerol sendiri dikatakan setara dengan morfin. Ada kekhawatiran, dia mengalami overdosis. Petugas paramedis yang langsung berhamburan ke rumahnya setelah menerima panggilan darurat, menemukan nadinya sudah tak berdenyut lagi. Sejumlah upaya yang dilakukan pun tak menghasilkan apa-apa. Mengenaskan? Ya.

Bagaimana dengan kisah King of Rock ‘n Roll Elvis Presley? Jelas tak kalah kelas dibandingkan dengan Jacko. Elvis Aaron Presley (8 Januari 1935–16 Agustus 1977) adalah seorang penyanyi rock ‘n’ roll legendaris Amerika Serikat. Ia juga adalah seorang produser musik dan aktor. Julukannya adalah “Raja Rock ‘n’ Roll”. Berkat lagu-lagunya yang memadukan irama rock ‘n’ roll dengan lagu-lagu ballad, dunia rock ‘n’ roll memperoleh fondasi komersial yang selanjutnya dapat dikembangkan musisi rock ‘n’ roll penerusnya. Pada masa kejayaannya, konser-konser Elvis dihadiri massa (kebanyakan remaja) dalam jumlah yang sangat besar. Gaya, sifat, serta cara berpakaiannya menjadi simbol bagi musik rock ‘n’ roll dan banyak ditiru penggemarnya. Lahir di East Tupelo, Mississippi, dari pasangan Vernon Elvis Presley dan Gladys Love Smith, Elvis tumbuh besar di Memphis, Tennessee. Ia mulai bermain gitar dan bermain di beberapa acara di pusat-pusat perbelanjaan. Saat duduk di bangku sekolah menengah, ia bekerja menjadi supir truk bagi sebuah perusahaan listrik.

Pada musim panas pada tahun 1953, Elvis membayar $4 untuk merekam dua buah lagu di perusahaan rekaman Sun Studios sebagai hadiah ulang tahun bagi ibunya. Pendiri Sun, Sam Phillips, tertarik pada suaranya dan memanggilnya pada Juni 1954 untuk mengisi posisi penyanyi ballad yang sedang kosong. Sesi rekaman tersebut, yang dilakukan bersama dua musisi setempat, Scotty Moore dan Bill Black, awalnya tidak produktif, namun saat sedang istirahat dalam sebuah sesi rekaman pada 5 Juli 1954, Elvis mulai menyanyikan lagu blues karya Arthur Crudup berjudul That’s All Right. Versi Elvis disukai Phillips dan diputarkan di radio di Memphis dan segera menjadi hit di daerah tersebut. Sejak itu ia mulai melakukan tur ke berbagai tempat, termasuk ke luar Tennessee.

Pada 16 Oktober 1954, ia tampil dalam siaran radio Louisiana Hayride dan menjadi hit bagi pendengar dalam jumlah yang besar. Ia kemudian menandatangani sebuah kontrak satu tahun dan bertemu dengan Tom Parker, yang kelak menjadi manajernya. Hampir setahun kemudian, Tom Parker mengambil alih seluruh tugas sebagai manajer Elvis dan tak lama kemudian, berhasil mendapatkan persetujuan kontrak dengan RCA Records bagi Elvis. Elvis juga menandatangani kontrak Hollywood. Melalui syarat-syarat dalam kontrak, Parker membangun nilai komersial serta citra Elvis yang menguntungkan, contohnya melalui lisensi penggunaan citra Elvis dalam segala macam produk, dari peralatan dapur hingga gitar. Pada Desember 1957, Elvis dipanggil untuk ikut tugas militer dengan Angkatan Bersenjata AS. Ia resmi masuk Angkatan Bersenjata pada 24 Maret 1958, kemudian ditugaskan di Jerman, dan dilepas tugaskan dengan hormat dua tahun kemudian. Sekembalinya dari wajib militer, karya Elvis mengalami penurunan dari segi kesuksesan, di mana salah satu penyebabnya adalah bangkitnya musik Britania/Inggris (British Invasion; The Beatles, The Rolling Stones, dan lain-lain).

Tetapi Elvis tidak menyerah, ia melakukan comeback yang sukses melalui penampilan televisi pada 3 Desember 1968 berjudul ‘68 Comeback Special. Karir musiknya yang sempat meredup akibat “diganggu” profesi lainnya sebagai aktor dan juga hilangnya peranan dia dalam memilih jenis lagu yang ia mainkan, kembali bersinar setelah ia mendapatkan kesempatan dalam acara tersebut untuk bermain dalam jalur yang paling ia sukai, rock ‘n’ roll. Pada tahun berikutnya, ia memulai penampilan live yang laris di berbagai tempat, diawali dari Las Vegas dan kemudian berlanjut ke sepanjang negara. Antara tahun 1969 dan 1977, ia tampil dalam 1.000 acara yang tiketnya terjual habis. Berapa kekayaan Elvis? Setelah matipun, harta Elvis terus bertambah dan sekarang, Elvis diduga merupakan penyanyi terkaya dengan total pendapatan sekitar 12 milyar dollar…..weleh weleh weleh……tapi perhatikan kutipan berikut ini…..Akibat kecanduan obat-obat dokter seperti obat tidur, kesehatannya dan penampilannya mengalami penurunan pada sekitar pertengahan 1970-an. Ia tampil untuk terakhir kalinya dalam sebuah konser di Market Square Arena di Indianapolis, Indiana pada 26 Juni 1977. Pada 16 Agustus 1977, Elvis ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Graceland di Memphis akibat serangan jantung. Saat itu ia berusia 42 tahun. Mengenaskan? Ya.

Apa yang salah dengan manusia-manusia bernama besar dan amat sangat kaya ini? Aristoteles menyiapkan jawabannya 2400 tahun yang lalu. Si Mister mengatakan bahwa jika kebahagiaan adalah tujuan akhir yang benar maka ada tujuan akhir yang salah dan keliru. Dua tujuan akhir yang salah itu adalah uang dan nama tersohor. Banyak orang menggunakan uang sebagai variabel tolok ukur kebahagiaan. Bahkan standard-standard penilaian kemiskinan di dasarkan atas pendapatan berupa uang. Kekayaan atau kemiskinan adalah diukur dari berapa jumlah uang yang dimiliki. Apakah uang adalah barang yang salah? Sudah barang tentu tidak tetapi harus ditegaskan bahwa uang bukan tujuan akhir. Di dalam uang masih tersimpan tujuan lainnya. Dengan uang, apa yang anda ingin dapatkan? Uang bisa dipakaii untuk membel mobil baru dan atau isteri baru tetapi uang tak bisa membeli kebahagiaan. Uang tidak menjamin kebahagiaan. Mereka yang menjadikan uang sebagai tujuan akhir sebenarnya justru tidak pernah sampai kepada tujuan akhir yang diinginkannya. Elvis dan Jacko yang kaya raya ternyata tidak bahagia. Kekayaan ternyata bisa menipu. Dikiranya bahagia punya uang nyatanya sengsara. Ingat Soeharto?

Bagaimana dengan ketenaran nama atau ketersohoran? Nama yang tersohor sepintas terlihat baik. Bahkan ada yang berkata begini “tak menjadi kaya tak apa yang penting aku punya nama yang terkenal”. Namun demikian, Aristoteles mengatakan lain. “Tersohor adalah penilaian orang lain bukan dari diri sendiri”. Orang bisa tersohor kendati mutunya rendah. Sumanto, si pemakan bangkai manusia, amatlah tersohor. Ryan, si jagal van Jombang, juga amat terkenal. Hitler…ah yang meragukan kesohoran orang ini, saya ragu akan nilai mata pelajaran sejarahnya. Mereka tersohor tetapi di mata orang lain, mereka tak lebih dari penyakit masyarakat. Hidupnya tak bermutu. Jika mutu menjadi persoalan maka sebenarnya itulah tujuan yang harus diusahakan. dengan nama tersohor. Lalu, dengan hidup yang bermutu itulah kebahagiaan diperoleh. Oh ya, hidup yang bermutu itulah yang tidak didapat oleh Elvis dan Jacko. kendatai amat tersohor. Nama mereka memang besar tetapi …. maaf….hidup mereka tidak berbahagia. Maukah anda seperti Elvis dan Jacko? (hmmmmhhmmm…saya lihat diam-diam beberapa sahabat mengatakan….uang, kaya dan ngetopnya mau juga seeeeehhh….wkwkwkwk….).

Jika hidup ala Jacko dan Elvis tidak membawa kebahagiaan maka sebenarnya hidup macam apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan? …ooohhhh……lain kali baru saya posting….atau begini saja…silakan anda uraikan sendiri melalui komentar anda. Bagaimana Broer en Soesz????…otreeeee??????


Tabe Tuan Tabe Puan

NB. Sebagian bahan tulisan diambil dari wikipedia

Dear Sahabat Blogger,

Berikut ini ingin saya ceriterakan sebuah ceritera yang saya sadur dari sebuah tulisan karya almarhum Pendeta Dr. Eka Darmaputera. Seorang Teolog Kristen Indonesia yang amat saya kagumi lantaran kejernihannya berpikir. Mau tau ceriteranya? Baiklah. Ini:

Suatu ketika, meninggal seseorang yang bernama Pak Meda’u. Semasa hidup, almarhum adalah seorang wakil direktur sebuah perusahaan swasta yang amat besar. Bukan itu saja, beliau juga seorang tokoh di Gereja tempat dia dan keluarganya beribadah. Di situ beliau pernah bertahun-tahun ikut melayani sebagai seorang Majelis Gereja. Dalam perjalannya menuju meja penghakiman terakhir, Pak Meda’u terlebih dahulu harus mengisi kartu register di depan pintu Surga. Di situ, di depan pintu gerbang itu, berdirilah seorang penjaga yang bertugas untuk melakukan wawancara pendahuluan guna memastikan kategori orang macam apa yang akan menghadap meja penghakiman terakhir. Dan terjadilah percakapan berikut ini:

+ Nama????
(karena suasana agak bising, Pak Meda’u tak begitu jelas mendengar dan akibatnya cuma celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan)
+ Hoooiiiii….NAMA…..
- Eh, maaf Pak…
+ Ya, anda. NAMA?????
- Eh, anu, eeeeehhh….Meda’u pak….maaf….
+ Nah, gitu dong. Baiklah. Coba ceritakan secara rongkas …(eh maaf…keliru….itu nama adik ipar saya …isteri si DTN…he he he he….)…coba ceritakan secara ringkas….bagaimana anda hidup selama di dunia
- Wah, saya ini Kristiani yang baik selama hampir 70 tahun…kecil dulu, rajin sekolah minggu…lalu, aktif di kebaktian remaja…lalu, aktif mengikuti paduan suara….lalu, pernah menjadi majelis 4 peroide…lalu, eeehhh….sampai waktu ke sini, tercatat sangat aktif di persekutuan doa lho pak….cukup???? (Pak Meda’u mencoba pamer jasa sambil diam-diam melirik air muka si penjaga…waddduuuuhhhh…keliahatnnya si penjaga belum terkesan dan masih saja merengut….)
- Oh, tolong juga dicatat pak….rajin memberi persembahan…..perpuluhan selalu pol-polan tidak pernah kurang …aktif juga di panitia Natal….eeehhh….(Pak Meda’u melirik lagi…waaaahhhh…cilaka nih…si penjaga tetap saja manyun…nggak tertarik sama kisah Pak Meda’u….)
- Oh, eeeh…aaaahhhhaaaa….jangan lupa pak….tiap tahun saya menyumbangkan pakain-pakaian bekas yang masih bagus pak….kan pakaian saya kebanyakan belinya di butik-butik terkenal atau dijahitkan pada desainer-desainer top….lalu 3 bulan sebelum ini, saya juga menyumbangkan 1 truk gula…beras….supermi…kepada para korban banjir….
(tanpa memberi reaksi positif sedikitpun kepada laporan pak Meda’u, si Penjaga bertanya kepada Pak Meda’u)
+ Mengapa dengan uangmu yang banyak itu, kamu tidak menyantuni anak-anak miskin yang hidup di kolong-kolong jembatan supaya mereka bisa bersekolah?????
- Ooohhh, yang itu…begini Pak,…mau sih mau tetapi saya takut …uang saya cepat habis dan tidak cukup untk biaya hidup saya dan keluarga…..(Pak Meda’u memberikan alasan)
+ Mengapa anda mau begitu saja disuruh bos anda untuk melakukan pemalsuan pembuakuan perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi negara trilyunan rupiah????
- Waduuuhh Pak, sebetulnya, waktu itu saya bergumul sekali pak…Bahkan saya bawa dalam doa dan nazar tapi…saya kan takut dipecat pak…kalo sampe dipecat siapa yang memberi makan anak isteri saya pak….saya takut masa depan mereka bakal suram…..etangga anda menabokin isterin
+ Mengapa anda diam saja ketika tetangga anda, si rajateganas, menggebuk isterinya sampai hampir mati????
- Maaf Pak, waktu itu saya mau menegurnya tetap saya takut diberi cap sebagai tetangga yang suka mencampuri urusan orang lain…..lagian pak sirajateganas kan orangnya tinggi besar dan eks atlet beladiri kan pak??? wah, bisa-bisa saya dihajar mampus juga pak,,,saya takut pak…
+ OOOOOO, ….Meda’u…Meda’u…..sayang sekali ya…..anda itu terlalu dikuasai rasa takut…takut ini…takut itu….berbuat baikpun anda takut…ck ck ck ck ck ck..raportmu bakal merah nih….
- (sambil gemetar)…Pak…Pak… supermi tadi
enggak ngaruh yaaaaaa.????

Begitulah Sahabat Blogger, kisah sekali-sekala hasil reka-reka saya yang menyadur Dr. Eka Darmaputera almarhum. Kelihatannya, Pak Meda’u adalah contoh orang yang terlalu dikuasai rasa takut sebegitu rupa sehingga menghalanginya berbuta baik. Bagaimana anda? Dan sudah barang tentu bagaimana saya? Terus terang saja, saya sebenarnya manusia penakut. Sekali kala, sewaktu kecil, saya ingin diadu oleh abang saya dan temannya yang sebaya (konon teman si abang saya tersebut, sekarang sudah menjadi seorang pendeta ha ha ha ha) untuk menantang berkelahi seseorang yang tubuhnya jauh lebih besar dari saya. Sebut saja si bongsor. Saya ngat betul kata-kata si abang dan temannya…pergilah dan tantanglah si anu untuk berkelahi dengan kau …. jangan kuatir ….. nanti kalau dia menghajarmu … kami akan pergi dan mengeroyok dia … habis dia nanti….Saya sebenarnya takut pada si bongsor…tetapi lebih takut lagi kepada si abang dan temannya itu …maka saya pun pergi menghampiri si bongsor dan…..wuuuuuzzzzhhhh….saya melakukan salto bolak-balik di dekat dia…..ha ha ha ha…datanglah si abang dan temannya….

+ hoooiii…kenapa bukannya menantang berkelahi malah salto bolak-balik?????
- Eh…..sengaja saya salto bolak-balik…nanti kalo dia lihat aksi saya…baru saya pukul dia…
+ Ya sudah ….. sekarang pergi dan pukul dia…
- waaaaahhhh….tidak bisa lagi…terlanjur capek salto bolak balik…..

Saya takut. Anda tidak takut? bisa ya bisa tidak tetapi mohon maaf…saya ragu jika anda tidak punya rasa takut…kecuali anda tidak normal….Lho????? Ya, seorang psikolog (Lewis, 2007) mengatakan bahwa setiap manusia normal pasti sekali waktu mengalami proses fisiologi normal, mekanisme hormonal yang amat normal, yang menimbulkan perasaan takut. Ya, takut adalah emosi. Dan hal itu normal. Bahkan menurut Lewis, Takut memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Emosi takut membuat seseorang mampu menghindari bahaya karena memberikan peringatan darurat. Adanya takut membuat seseorang mampu berlari menjauh dari bahaya. Fobia sebagai antisipasi takut juga sangat penting. Fobia terhadap tempat dan hal-hal berbahaya membuat orang tidak menceburkan diri pada bahaya yang mungkin mengancam jiwanya. Ada dua mekanisme yang membuat takut bisa menghindarkan seseorang dari bahaya. Pertama, takut berfungsi mengatur tubuh untuk kabur dan memfokuskan perhatian pada hal tersebut. Saat seseorang takut, fokusnya hanyalah untuk kabur semata. Kedua, takut bisa membuat kesadaran terputus, gerak refleks dicegah dan bahkan menyebabkan pingsan. Dalam kondisi pasif ini, seseorang bisa juga terhindar dari bahaya.

Jikalau benar bahwa emosi takut adalah perkara normal dan manusiawi maka apa masalah dengan Pak Meda’u? Kata Lewis,Orang-orang yang disebut sebagai pemberani adalah orang-orang yang mampu belajar guna mengatasi perasaan takut. Dalam keadaan takut yang teratasi maka takut tidaklah menguasai diri sesorang dan lalu menghalang-halangi dia untuk berbuat apa yang harus dikerjakannya. Apa yang baik. Apa yang benar. Bagimana mengatasi rasa takut? Kata Lewis, kenalilah alasan-alasan anda menjadi takut dan dia memberi 4 kategori alasan untuk takut, yaitu

  1. Takut pada kejadian interpersonal. Misalnya takut dikritik, ditolak, berkonflik, dan diserang orang lain;
  2. Takut karena permasalahan eksistensial. Misalnya takut pada kematian, luka badan, darah, pembedahan, dan penyakit;
  3. Takut pada binatang. Misalnya takut pada binatang buas, pada berbagai jenis serangga, dan pada beragam jenis reptil, seperti ular;
  4. Takut yang berhubungan dengan tempat. Misalnya takut pada keramaian, takut pada ketinggian, takut pada tempat tertutup, takut melakukan perjalanan sendirian, dan lainnya.

Kendati begitu, Branislaw Malinowsky, seorang Psikolog, Sosiolog dan Teolog sekaligus (walaaaahhh, ramai amat keahlian orang ini) mengatakan bahwa penyebab hakiki dari seseorang menjadi takut adalah “ketidakpastian”. Dalam keadaan sesulit apapun, selama ada kepastian, manusia tidak akan menjadi takut. Lalu apa itu kepastian? Kata Malinowsy adalah jawaban yang selalu tersedia untuk pertanyaan apa saja. Dengan perkatan lain, kepastian adalah ketika di kepala anda sama sekali tidak pernah ada kekosongan informasi apapun. Apakah hal ini bisa dan pernah terjadi? Jawabnya adalah TIDAK. Eisntein yang kesohor pandai itupun terpaksa merasa kuatir bahwa postulatnya tentang determinisme alam raya terpatahkan oleh teori ketidaktentuan oleh Bohr dan kawan-kawan. Saking kuatirnya, Eisntein merasa perlu membawa-bawa Tuhan dalam wacananya…si Tua tidak pernah bermain dadu…

Jadi, sekali lagi, takut atau emosi takut adalah normal dan manusiawi karena ketidakpastian adalah normal dan juga manusiawi. Kembali ke kasus Pak Meda’u. Apa masalahnya? Ya, anda benar menebaknya, yaitu Pak Meda’u terlalu takut akan ini dan itu lalu membiaran perasaan takutnya mengalahkan semua pikiran jernihnya. Bukan hanya itu, perasaan takutnya ternyata menguasai diinya bergitu rupa sehingga mengahali nuraninya untuk berbuat hal-hal yang baik, benar dan bertanggungjawab.. Pak Meda’u ternyata diperhadapkan pada 2 pilihan, yaitu berbuat yang seharusnya dan menerima resikonya. Pak Meda’u tahu persis apa yang seharusnya dia perbuat tetapi tidak mau memiku resikonya. Anda dan saya tahu bahwa memasak makanan berarti harus mulai menyalakan kompor tetapi tidak berani menerima resiko terkena pancaran energi panas. Lalu, kita memilih untuk tidak memasak dan lapar dan sakit dan ….. KO. Anda dan saya tahu persis bahwa kerabat kita sedang menderita sakit dan perlu dibawa ke dokter tetapi kita tak mau menerima resikonya, yaitu kemungkinan uang kita berkurang karena ikut membantu dia pergi ke dokter dan berobat. Lalu, kerabat kita menderita dan mati. Lalu, kita hidup dalam penyesalan seumur hidup. Konyol bukan? Ya, begitulah tetapi cobalah diperiksa betul-betul, apakah benar anda dan saya lebih baik dari Pak Meda’u? Saya tidak taahu apa jawaban saudara tetapi kalau salah mau jujur: saya tidak kalah konyolnya kebanding Pak Meda’u.

Bagaimana solusinya? Saya bukan ahli psikologi dan oleh karena itu saya kuatir bahwa usulan saya tidak ada gunanya tetpai baikla saya mencoba mengatasi rasa takut saya lalu memberinikan diri mengusulkan 2 perkara ini. Apa itu? Pertama, hadapilah ketakutan. Jangan berlari darinya. Ketika ketakutan itu datang, tataplah dia dengan tajam. Kenalilah dia sebaik-baiknya. Bagaimana simpelnya? jangan malu untuk mengaku takut karena itulah kecenderungan yang manusawi, yaitu berbohng untu menutupi rasa malu. Mengaku takut adalah memalukan dan oleh karena itu, jangan mengakui perasaan takut. Kita malu tertangkap basah sedang merasa takut. Malu mgnakui merasa takut mungkin baik tetapi heeee….ingatlah…hal itu hanya sejenak karena selanjutnya anda harus bersiap untuk menjadi pembohong seumur-umur sembari hidup dalam cengkeraman perasaan takut. Akibatnya? anda tidak pernah berani mengambil resiko apapun. Dan lalu, anda hidup bagai katak dalam tempurung. Tempurung itu bernama “ketakutan”. Apakah saya tampak jumawa dengan prinsip ini? tidak juga karena dahulu kala, ada sesorang yang dengan tidak malu-malu mengatakan bahwa …Aku merasa takut dan gentar. Seperti mau mati rasanya….Orang ini takut menghadapi penderitaanya tetapi Ia tidak berlari. Dia menghadapi penderitaannya dengan amat berani kendati tinggi bayarannya. Besar resikonya, yaitu nyawa-NYA sendiri. Dan saya mau kasi tau anda, bagaimana nasib akhir orang ini: He is the Winner. Nilai-nilai yang dibawa-Nya, menguasai peradaban dunia.Dan semuanya berawal dari satu perkara kecil, yaitu berani mengakui perasaan takut dan lalu mengatasinya.

Hal kedua adalah ini: berani menghadapi ketakutan adalah satu perkara tetapi mengalahkan perasaan takut adalah perkara berikutnya. Ketika perasaan takut itu datang dan kita telah mengakui serta berusaha mengatasnya, kadang-kadang perasaan takut itu begitu besar dan kita tak mampu menghilangkannya sama sekali. Ketika itu anda memerlukan orang lain untuk berbagi dan saling memberikan penguatan. Inilah gunanya persahabatan. Friend in need is friend indeed. Beres? Bisa ya dan bisa pula tidak. Tokoh saya, ketika menghadadi ketakutan, merasa perlu membawa 2-3 orang sahabatnya untuk duduk berjaga-jaga bersama dengan-NYA tetapi amboiiii…sahabat-sahabatnya tertidur dan Dia kembali sendirian dalam ketakutan. Apa yang dilakukannya kemudian adalah teladan bagi kita, yaitu bawalah persoalan kita kepada sang Khalik. Ya, anda benar. Berdoa. Berdoalah dengan cara apapun yang anda yakini yang pada hakekatnya, anda sedang “mengadu” kepada sang Khalik. Mujarab? Ya. Dan sesudah itu…walaaaaahhhh….enak sekali rasanya karena …. bukankah perkara ketidakpastian yang membuat kita menjadi takut telah kita adukan kepada sang Maha Pasti? Ya, Sang Maha Pasti itu akan mengangkat beban ketidakpastian lalu kita menjadi tidak dikuasai takut lagi. Dia akan memampukan kita melakukan kebaikan dan menebar kasih sayang.

Nah, Supaya tambah enak, silakan dengarkan tembang dahsyat dari salah satu grup band dengan corak musik art rock yang amat kesohor, yaitu YES: Lift Me Up.

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

Haruslah diakui bahwa apa yang saya lakukan kali ini telah menimbulkan kekecewaan di hati banyak sahabat. Tiga (3) minggu menghilang dari blog dan absen membuat posting sudah barang tentu bukanlah hal yang tepat sebagai pembuktian janji saya untuk selalu setia menemui sahabat semua melalui tulisan-tulisan saya. Sampai dengan malam hari ini, sudah sebanyak 27 buah e-mail yang saya terima dan semuanya menyatakan “protes” terhadap “istirahat” panjang yang saya lakukan. Salah satu email bahkan menuliskan begini (ehm..saya takkan memberitahukan siapa sahabat ini – sudah deal he he he ): …. rupanya BM bukan saja sering tidak menepati janji atas lanjutan seri tulisan tertentu tetapi, bahkan, tega tak memperdulikan sahabat yang datang berkunjung menengok blog …BM ternyata mengidap penyakit yang bM tulis sendiri, yaitu penyakit lupa-lupa ingat ……walllllaaaaaahhhhhh ….. membaca hal ini mula-mula saya berpikir…heiiii….sedemikian buruknya kulitas janjinya saya kah????? … tercenung saya di pertanyaan itu..dan lalu…ini jawabannya:….saya telah berjanji dan tak pantas saya mengingkari….OK baiklah. Saya keliru…maafkan saya…hari ini saya posting kembali….dapatkah permohonan maaf saya diterima …… masihkah sahabat sekalian sudi mengunjungi saya di blog ini? Masihkah saya diterima?????

Berbicara tentang perihal “terima menerima”, saya memiliki sebuah kutipan komentar yang saya ambil dari artikel tentang koalisi Capres/Cawapres Megawati – Prabowo di www.kompas.com beberapa waktu yang lalu. Begini isi kutipan itu (sengaja saya kutipkan apa adanya tanpa mengeditnya sama sekali):

“… Ya saya sebagai petani jg kecewa knp Pak Prab memilih jadi wapres, parahnya jd wapresnya Megawati yg nyata2 tidak becus memerintah, semasa Mega apa sih yang bisa kita banggakan? Ekonominya amburadul, aset negara banyak dijual, illegal logging merajalela, polisinya ga beres, ya mendingan sekarang kalau begitu. Pak Prab jadi presiden saja, jangan ikut Mega yang anak buahnya preman pasar, pencopet, penjudi, dan pemabuk. Ingat saat kongres PDI-P di Bali para pelacur sukses meraup untung besar karena sebagian besar anggota kongres mampir kesana walah2 jan wis ora bener…”

Apa yang menarik dari kutipan di atas? Bahwa saya cenderung bersimpati kepada Megawati, tidak akan saya pungkiri. Saya merasa tak perlu munafik tentang hal ini. Lihat saja arsip lama yang saya posting pada tanggal 28 Desember 2008 dengan judulsaya suka megawati, tapi saya punya dolly. ya sudah, selamat HUT ke 44″. Di sana terbaca jelas “pilihan warna politik saya”. Mau lebih jelas lagi, dan supaya supaya saya tidak dianggap munafik, cobalah sahabat membaca berita yang ada di www.kompas.com pada hari ini (minggu, 7 Juni 2009) dalam judul “Pendukung Mega-Prabowo NTT Rapatkan Barisan“. Bagaimana bunyi berita itu? Berikut saya kutipkan untuk anda:

“Kami sejenak istirahat dari sosialisasi pasangan Mega-Pro dan bertemu dengan tim kerja lain untuk mengenang kelahiran Bung Karno, sang Proklamator 108 tahun lalu, pada Sabtu malam kemarin,” kata Dr Michael Riwu Kaho di Kupang, Minggu. Bagi Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (F-DAS) Provinsi NTT itu, Soekarno merupakan sosok marhaen sekaligus penggagas aliran marhaenisme. “Paham itu dianut karena cocok dengan latar belakang rakyat Indonesia yang adalah kaum buruh, tani, nelayan yang termarginalisasikan, miskin dan tertindas pada saat itu. Karena itu, sangat layak bila setiap tahun jasa dan perjuangannya itu dikenang di seluruh Indonesia,” kata dosen Fakultas Pertanian Undana Kupang ini. Ia melihat jaringan yang muncul secara sporadis setelah pasangan Mega-Pro dideklarasikan secara nasional itu, bukti bahwa kharisma Bung Karno masih terus merasuki sanubari masyarakat Indonesia.

wueeeleeeehhhhh……saya sendiri tersenyum kecut atas berita di kompas.com itu terutama menyangkut keakuratan data. Tetapi sama sekali saya tidak berkeberatan nama saya digunakan di situ karena, ya itu tadi…..saya memang salah satu pengagum BK sejak lama. Lalu, apakah tagal perkara “membela Megawati” sehingga saya perlu memuatkan kutipan komentar yang saya copas dari www.kompas.com? Sama sekali tidak. Ingat, posting saya yang lalu. dimana menurut saya, sebaiknya Megawati tak perlu maju sebagai Capres lagi. Biarkan yang lain. Nah, lalu, apa perkaranya? Menurut saya, ada sesuatu yang harus menjadi bahan perenungan saya. jika saya konsisten pada rinsip kebikan dan kasih sayang. Dan inilah perenungan saya.

Mari kita perhatikan kembali kutipan di atas dan kali ini saya tampilkan secara lebih khusus bagian yang “mencolok mata saya dan menyebabkan perih”

“Pak Prab jadi presiden saja, jangan ikut Mega yang anak buahnya preman pasar, pencopet, penjudi, dan pemabuk. Ingat saat kongres PDI-P di Bali para pelacur sukses meraup untung besar karena sebagian besar anggota kongres mampir kesana walah2 jan wis ora bener…”

Apakah benar semua “anak buah” Megawati adalah preman pasar pencopet, penjudi, pemabuk dan pelacur? Saya tidak yakin meskipun bisa saja ada anak buah Megawati yang berperilaku dan atau berprofesi seperti itu. Mungkin saja tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa di “tempat lain” keadaannya steril?. Akan tetapi, maafkan saya, bukan hal itu yang merisaukan benar pikiran saya. Titik fokus saya ada pada logka di balik komentar itu, yaitu…tolaklah semua orang yang berprofesi preman pasar, pencopet, penjudi, pemabuk dan pelacur…..jangan mau berhubungan dengan orang-orang seperti itu….jangan mau berkawan dengan mereka…singkirkan mereka…..penjarakan mereka…bencilah mereka. Jika anda menyangka nalar saya tidak setuju dengan hal nalar “menolak” seperti itu maka anda keliru. Ya, para penjahat itu adalah musuh masyarakat beradab. Orang-orang itu tidak memiliki cinta. Tak ada kerelaan memberi tanpa berharap kembali dari golongan manusia-manusia ini yang merupakan prasyarat CINTA (rencontre aimantre’). Sebalik dari memberi, mereka adalah pengambil. Mereka adalah kelompok orang egois. Ya, mereka adalah pejahat. Patut dijauhi. Patut disingkirkan. Mereka adalah musuh masyarakat.

Saya mau tanya kepada sahabat sekalian, apakah setuju dengan pendapat saya? Haqul yakin, semua bakal setuju. Dengan begitu tak ada ang aneh dari kutipan komentar yang saya kutip. Betul begitu? Ya, seharusnya begitu JIKA saya tidak mengingat dan lalu membaca kembali guna melakukan konfirmasi, kata-kata yang pernah diucapkan seorang TOKOH BESAR….AMAT BESAR…yaitu Guru dari Guru saya…..Ya, Sang Maha Guru. Apa katanya? ….KASIHILAH MUSUH MU………omong kosong macam apa ini. Lah, wong whaaaaatttttt?????? apaaaaaaaaa?????? ueeeedddaaan tenaaannnn…ga masuk akal….nonsens….musuh kok dikasihi???? Yang namanya musuh ya harus dilawan, dikalahkan dan dihancurkan. Iya kan???? Iya seharusna begitu tetapi amboooiiiii…tengoklah apa yang dilakukan Sang Guru saya ini….eaaaallllaaaahhhh….DIA bukan saja tidak menjauhi mereka melainkan mau bergaul dengan mereka. Merangkul mereka. Lebih gawat lagi adalah tuturan-NYA pada lain kesempatan : “mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”…ck ck ck ck ck ck ck…ada-ada saja Sang Maha Guru saya ini. Apa maunya DIA?.

Ternyata adalah ini: jika mengasihi sesama dan membenci musuh adalah sifat dan naluri manusiawi maka sifat Ilahi tidak seperti itu. Semua milik-NYA. Tak ada satupun yang terbuang. Mereka yang akan terbuang adalah mereka yang membuang mereka sendiri. Tidak oleh NYA. Apaka dengan begitu, DIA bertoleransi terhadap kejahatan? Oh, NO WAY. Tidak. Persoalannya adalah, dalam sifat Ilahi, Kejahatan tidak harus diperangi dengan kekerasan. Tidaklah an eye for an eye. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kata-NYA: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”. Oiiiiihhhh, amat jelas dan amat tegas. Kalahkan kejahatan tetapi lakukanlah dengan KEBAIKAN. Pernahkah anda membaca tulisan dari Arswendo Atmowiloto yang dibuatnya semasa dia berada di penjara. Katanya begini (saya sederhanakan): … semua abal-abal (penjahat) yang ada di dalam penjara adalah orang-orang yang merasa tak memiliki kawan di luar. Oleh karena itu, setelah bebas, mereka akan melakukan kejahatan lagi supaya kembali masuk ke penjara guna bertemu …… kawan-kawannya. Sahabat-sahabatnya….. Perhatikanlah sahabatku semua…siapa sahabat para penjahat itu….ya sesama penjahat….mengapa demikian? ya, karena ayang bukan penjahat …akan menolak mereka…..jika seumur-umur, sahabat penjahat adalah penjahat juga maka apa yang dibagi-bagikan di antara mereka? Tak lain dan tak bukan adalah pikiran-pikiran jahat. Lalu, kapan kejahatan di dunia akan berkurang dengan cara itu?

Maka, benarlah logika sang Guru. Amat benar. Jikalau mau kejahatan diperangi, jangan jauhi mereka. Bergaulah dengan mereka tetapi jangan ikut pikiran jahat mereka melainkan berkisahlah anda tentang hal baik kepada mereka. Sehari 1 kebaikan mereka dengar. Dua hari 2 kebaikan. Seribu hari, seribu kebaikan. Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Oooooohhhh, itulah KASIH yang sejati itu. KASIH itu keluar lurus dari subjek dan lurus tertuju kepada objek. KASIH sejati tidaklah seperti ini: keluar lurus dari subjek dan berbeloklah sedikit ketika bertemu objek yang tidak disenangi. Kasih model berbelok adalah kasih yang khas manusia. Sedangkan kasih yang terus lurus adalah KASIH yang Ilahiat. Hanya dengan KASIH yang Ilahiat kita tak akan memiliki musuh. Kita bisa berbeda pendapat tetapi kita tetap sahabat. Saya memilih mengenakan baju putih, anda berbaju hijau tetapi kita adalah teman. Anda memilih untuk melanjutkan perjalanan, dia memilih untuk berjalan lebih cepat lebih baik sedangkan saya memilih untuk tidak memilih yang dua itu tetapi kita bukanlah kumpulan para musuh-musuh. Kita adalah sahabat saya. Kita saling menerima perbedaan di antara kita karena bukan perbedaan itu yang membuat kita bersahabat. Sahabat ada karena KASIH dan KASIH memang tidak pernah boleh berbelok.

Lalu, datanglah contoh pamungkas dari Sang Maha Guru di suatu ketika. Pada saat itu ramai orang berkumpul dengan wajah ganas dan dengus amarah. Oiiiii….lihatlah….di tangan kumpulan orang-orang itu tergenggam beberapa butir batu yang siap dirajamkan kearah tubuh seorang penjahat perempuan yang berprofesi sebagai pelacur. Lalu, Sang Maha Guru mengatakan ….hhhoooooiiiii……bagi yang merasa tak memiliki salah …. silakan memulai merajam perempuan ini …. Lalu, semua diam. Semua membisu. Perlahan-lahan kerumunan orang bubar tanpa sempat melemparkan batu di tangan mereka. Mengapa? tampaknya tak seorangpun yang nekad mengaku bahwa mereka adalah orang yahng suci tanpa dosa. Mereka sama berdosanya dengan perempuan pelacur itu dalam bentu yang lain. Ketika kerumunan orang itu berlalu maka DIA berkata begini ….. pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi ….

Ada 3 perkara di situ. Pertama, tak ada orang yang tidak pernah bersalah. Perempuan pelacur dan kerumunan orang itu ternyata semuanya adalah orang yang ada salahnya. Kedua, hanya kebaikan yang mampu membuat orang bersalah tidak melakukan kesalahan baru. Teguran yang konstruktif tanpa tindakan destruktif yang dilakukan Maha Guru telah mencegah kerumunan orang-orang terjebak dalam kesalahan baru, yaitu merajam orang sampai mati. Ketiga, permintaan tegas bahwa kesalahan jangan diulang kembali karena kesalahan yang berulang-ulang adalah dosa. Dan, sahabatku sekalian, begitulah cara bekerja KASIH yang benar, yaitu jalankanlah kebaikan. Rangkul-lah mereka yang bersalah. Jangan membuang mereka. Nyatakanlah KASIH anda secara lurus. Jangan berbelok. Dalam persahabatan, sekali waktu, pasti terjadi perselisihan juga. Tetapi, dari pada menyingkirkan sahabat, mungkin lebih baik kita saling memaafkan. Saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Avatar A’ang ketika dia menolak untuk membunuh raja api yang durjana itu dalam pertarungan pamungkas mereka, ketika raja jahat itu telah terkulai tak berdaya …. saya ingin menghancurkanmu tetapi tidak akan saya lakukan karena lebih baik dari menghancurkan adalah mengampuni. Nah, sahabat sekalian, sudahkah anda memaafkan saya? Catatlah: memaafkan itu enak rasanya.

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

Hari ini sudah tanggal 15 Mei 2009. Waktu pendaftaran Capres/Wapres Republik Indonesia periode 2009 – 2014 ke KPU Pusat tinggal satu hari lagi. Siapa yang sudah mendaftar sampai detik ketika saya memposting artikel ini? Belum ada!!! Waoooooo….sepi dooooonggggg….semua kita maklum bahwa tidak seperti itu. Di luar urusan mendaftarkan diri maka perkara capres cawapres adalah urusan yang sangat bising, mutakhir, dahsyat, meledak, sensasional, mencekam, mendebarkan, menjengkelkan dan …… memalukan….lhoo kook bisaaaa?????

Ya sudah barang tentu tiap orang berhak meilih kesannya sendiri akan tetapi ijinkan saya memilih kesan saya sendiri tentang proses pen-capres/cawapres-an. Mari kita lihat, SBY dan partainya adalah pemenang pemilu legislatif dan lalu cukup kuat untuk melaju ke dalam proses pemilu presiden. Lalu, …brrrrrrrrr ….. ramai sudah laron-laron beterbangan di sekitar SBY dan demokrat. Bukan sekedar terbang berkitar ngider tetapi juga sambil melemparkan nama cawapres pendampingnya. Ada kelompok laron yang berapat dahulu trus nama yang diajukan dimasukan ke dalam amplop. Kelompok laron yang lain mula-mula saling gontok-gontokan dahulu sebelum mengajukan satu nama melalui ketua perkumpulan laron atau melalui keputusan rapat para laron….wwwwuuzzzzzz…..semua sama yakinnya bahwa nama ajuan merekalah yang akan dipilih SBY. Dan ketika SBY memilih cawapres menurut kesukaan dia sendiri,,…wwwuuurrrrchhh,,,,abracadabraaaaaaa….ngamuk ngambek-lah para laron itu. Macam-macam komentar dongkol mereka. Tidak cocok dengan kesepakatan-lah. Tidak memenuhi etika bekerja-sama-lah. Warna cawapres yang dipilih tidak cocok-lah….bla bla bla…blu blu blu….hicks …. hicks….Di Bandung tiba-tiba muncul spanduk yang bertuliskan kata-kata …. lebih baik BudiAnduk (manusia terganteng sedunia itu) ketimbang BoediOno…..ya amploooopppp….Di mana-mana timbul demo tetapi jika dilihat siapa pendemonya…alamaaaaak…dia-dia juga. Nggak jauh dari kelompoknya laron-laron ngambek itu.

Di seberang sana, adalah lagi drama lucu lainnya. Sebelum pemilu, JK dan partainya terlebih dahulu “gondok berat” ke SBY dan partainya karena merasa dilecehkan….”hhooiii., Golkar cuma bakal dapet 2.5% suara”…. kata seorang petinggi PD. Sesudah pileg, JK masih berusaha sir-siran ke SBY tapi SBY sudah terlanjur mengatakan…tak sudi lagi daku berdua dengan mu……Lantas, tiba-tiba JK and his gang, yang baru saja diberi talak 3 oleh SBY ngeluruk ke kandang banteng Megawati. Mau ijab katanya. Lebih dari Ijab Kabul kata mister TK si paitua-nya Megawati.. Bukan cuma JK, tiba-tiba kerumunan orang di kandang banteng bertambah banyak. Koalisi besar katanya. Eh, hari ini tanda tangan kesepakatan berkoalisi, besoknya JK-Wiranto melangkah sendiri mbikin koalisi JK-Win. Ada lagi mister Prabowo yang jelas-jelas partainya cuma mendapatkan jatah 26 kursi di DPR RI tetapi ketika mau berkoalisi dengan PDIP …. lhaaaaaaadhalaaahhh….kok minta jatah jadi Capresnya…..opo tumoooonnnn???? Trus, carane piye untuk menekan Megawati??? Gampang, si mister mantan Panglima Kostrad di jamannya Mbah Harto itu mengumpulkan belasan partai “nol koma” yang nggak populer di masyarakat zonder perduli bahwa platforma partai-partai “nol koma” itu saling silang dan saling tunjang ke sana di mari tak keruan dan…woooaaaaa….nih gua punya modal belasan persen….ane capres ya!!!! Julie jadi cawapres aja ya!!!!. Akibat perilaku rekan-rekan koalisi besarnya, yang sontoloyo itu, maitua Megawati jadi pusing 7 keliling. TK ambruk KO dan dilarikan ke rumah sakit. Lalu, amboiiii … ada kejutan …. lihatlah di sana…..siapa itu yang datang bertamu ke kandang banteng???…ahaaaa…itu adalah mister Hatta Radjasa yang adalah calon wapres yang diajukan mister Amien Rais dari PAN (sambil menyikut KO mister Sutrisno Bachir yang lalu mutung karena rencananya mo ikutan nyalon bareng Prabowo pupus sudah). Apa mau ada koalisi PAN + PDIP? No no no no…rupa-rupanya HR adalah utusan SBY guna mendekati Megawati dan mengajak koalisian PD + PDIP. Luar biasa….saling marah 5 tahun saling tidak berbicara 5 tahun tiba-tiba duduk 1 meja mencari jalan koalisi. Ada apa? Kita tidak mengetahui persis tetapi dengan melihat beberapa fakta terakhir, saya menduga berikut ini adalah agenda kongko-kongko bareng itu:

  1. SBY menawarkan kerja sama bareng PDIP karena SBY enggan mengambil cawapres yang berasal dari partai-partai sejenis PKS, PAN,dan PPP. Entah takut terulangnya pengalaman 5 tahun yang lewat dimana capres dari parpol kerap membuat tekanan-tekanan tertentu dan menjadi ganjalan psikologi bagi SBY sebagai presiden. Entah pula karena warna partai-partai-partai itu yang “terlalu hijau” yang mungkin tidak disukai oleh “another green“. Nggak boleh dong hijau makan hijau.
  2. Formulasinya adalah cawapres SBY bukanlah orang partai tetapi seseorang profesional yang dapat diasosiasikan sebagai “orang dekat partai”. Orang dekat partai itu adalah Prof. Boediono yang “dekat” dengan PDIP.
  3. Jikalau PDIP setuju maka ada dua jalan: pertama, Kalau bisa PDIP segera menyatakan berkoalisi dengan PD dan SBY. Biar top markotop. Kedua, silakan PDIP maju terus dalam Pilpres entah berpasangan dengan siapa. Tetapi jika kalah (SBY hakul yakin dapat mengalahkan siapa saja capres/cawapres lainnya) dalam pilpres maka hendaknya PDIP ikut mendukung SBY karena toh yang menjadi cawapres adalah Boediono yang orang dekat PDIP itu. Nah melalui kedua jalan ini SBY tidak perlu takut berhadapan dengan sohib-sohib lamanya seperti PKS, PAN, PPP yang mutung. Bagaimana PKB? itu sih sudah bench mark-nya SBY jadi tidak perlu dipersoalkan. Tetapi sebenarnya ada hal lain yang lebih ditakutkan oleh SBY. Apa itu? Inilah kira-kira agenda lain pembicaraan antara HR dan orang-orang di Teuku Umar.
  4. Masyarakat yang salah melakukan pencontrengan dalam pileg kemarin berjumlah 17.488.581 pemilih. Lantas, mereka yang tidak dapat memilih atau Golput berjumlah sekitar 49 juta orang. Jadi total rakyat yang tidak berpartisipasi sekitar 67 juta jiwa. Seandainya Megawati gagal memperoleh deal untuk pen-capresan-an lalu mundur sebagai capres, diduga sekitar 10 juta pemilih PDIP akan memutuskan diri ikut dalam gerbong Golput. Maka, potensi golput menjadi sekitar 80 juta jiwa. Jika total jumlah pemilih adalah 171 juta jiwa maka dapatkah dibayangkan nasib apa yang akan menimpa seorang presiden yang proses pemilihannya hanya diikuti oleh 50% penduduk. Jika terjadi fenomena mega-golput dalam pilpres maka sekalipun SBY terpilih sebagai presiden, dia bukanlah presiden yang legitimate. Tinggal dipicu sedikit kekacauan sosial maka usia kepresidenan SBY mungkin bertahan 1-2 tahun saja. Lalu kita terpaksa membuat pemilihan umum baru. Menurut hemat saya, inilah yang sebenarnya ditakutkan oleh SBY. Maka kedatangan utusan SBY ke Teuku Umar pastilah meminta dengan amat sangat agar Megawati jangan sampai menyatakan tidak berpartisipasi dalam pilpres. Mega boleh maju sendiri atau disiapkan sekenario lain, yaitu mendukung Boediono. Menurut hemat saya, Megawati sendiri sudah tidak begitu pusing lagi urusan pencapresan Semangat berapi-apinya untuk maju dalam pilpres tidak lagi besar karena fakta kekalahan PDIP dalam pileg. Jika saya boleh mengusulkan, memang sebaiknya Megawati mundur saja. Berikan saja dukungan untuk mereka yang terbaik jika itu memang dikehendaki oleh wong cilik, yaitu kelompok orang yang sering diatasnamakan oleh Megawati.

Nah, apakah sahabat blogger bisa menangkap maksud saya dalam omong kosong di atas. Saya tidak yakin. Sama tidak yakinnya dengan saya terhadap ulasan saya sendiri. Mengapa demikian? Itulah model perpolitikan di Indonesia yang kabur, tidak jelas dan tidak meyakinkan. PKS dan PAN menolak SBY-Boediono karena katanya tidak mewakili aspirasi umat Islam. Lha, apa sih agama SBY dan Boediono? Prabowo ngotot harus jadi capres. Lho, partai Gerindra punya berapa kursi di DPR sih? Hobi main paksanya nggak hilang-hilang juga si mister Prabowo ini. Jika Prabowo terpilih, apakah dia cukup memiliki ingatan yang panjang bahwa itulah masalah terbesar SBY selama 5 tahun ini. Berkuasa tetapi terpaksa harus banyak melakukan konsesi politik di DPR sebagai kompensasi kecilnya jumlah kursi PD di DPR? SBY nyaris tak berdaya ketika partai-partai kompanyonnya di DPR ngotot mengegolakan anek Undang-Undang yang berpotensi merusak kebhinekaan Indonesia. SBY juga tak berdaya sama sekali ketika di daerah ini dan itu terbit perda-perda exklusif. Jikalau nanti terpilih dan Prabowo terpaksa melakukan konsesi politik juga maka apa bedanya Indonesia di masanya dengan masa SBY-JK sekarang ini yang persis seperti kata Megawati: “maju mundur bak tarian poco-poco?”.

JK maju sebagai capres tetapi tidak mau mundur sebagai wapres. Setia menalankan sumpah setia katanya tetapi lalu sibuk menyiapkan pantun berbalas dengan sang Presiden sementara rakyat dibuat ternganga denga keributan itu. JK berkolalisi dengan Wiranto sambil lupa bahwa baru sehari bersepakat bersama kawan-kawan lain membentuk koalisi besar. JK-Wiranto berkoalisi sambil lupa bahwa hampir setahun terakhir Golkar dan Hanura saling mencerca. Wiranto, dan juga Prabowo yang saling amat membenci pasca Mei 1998 seolah-olah mengalami amnesia sejarah. Lupa bahwa perseteruan mereka tempo hari membawa serta ribuan jiwa yang melayang sia-sia ditelan Jakarta yang membara. Pemilihan capres/cawapres berjalan begitu saja sambil lupa bahwa kasus DPT yang adalah skandal terbesar pemilu 2009. Proses berkoalisi berjalan sambil tidak ingat bahwa platform antar partai kerap tidak nyambung. Bagaimana mungkin PKS yang pro jalan syariah bisa berdamai dengan PD yang mengatakan bahwa NKRI adalah harga mati. SBY memberi talak kepada JK sambil tidak ingat bahwa 5 tahun lalu mereka berteriak kencang bahwa bersama kita bisa. SBY mengutus HR ke Mega dan lupa bahwa baru 1 bulan lalu dia membalas kritik Mega atas BLT dengan menyindir Mega sebagai pemimpin yang tidak punya hati. Mega mau saja berkoalisi dengan JK sambil lupa bahwa dahulu JK dan SBY sebagai menteri menelikung dia sebagai presiden. TK yang selalu mengatakan ke mana-mana ijab, ijab, ijab sambil lupa menjelaskan apa bentuk konkrit dari ijabnya itu. Koalisi yang pura-pura lupa platform itu bisa saja berjalan tapi di dalamnya akan penuh muslihat, taktik jahat, kawan menebas kawan, sahabat membanting sahabat, jeruk makan jeruk dan aneka ketidak ikhlaasan lainnya. Rakyat jadi sengsara. Persatuan Bangsa ini adalah korban terbesarnya.

Lalu, kata-kata apa yang paling lugas dan pantas untuk menggambarkan situasi politik Indonesia seperti yang digambarkan oleh situasi hari-hari terakhir ini? Menurut saya ada 2 hal, yaitu pertama, politik Indonesia masih bersifat politik lupa-lupa ingat. Lupa platform tetapi ingat kursi besar. Lupa rakyatnya tetapi ingat kekuasaannya. Kedua, politik Indonesia pada dasarnya adalah politik 1-2 jurus semata. Dari luar tampak ribet tetapi sebenarnya cuma sedikit jurusan, yaitu kekuasaan, oportunistik, dan semangat eksklusivisme kelompok. Anda menganalisis seperti apapun hasilnya akan ke situ-situ juga. Lalu saya teringat sebuah lagu Grup Musik Indonesia yang bernama Kuburan (dari luar tampak seram tetapi isinya …. walaaaahhhh itu-itu juga) dengan sebuah lagunya yang berjudul “lupa-lupa ingat” yang di bagian akhirnya berulang-ulang disenandungkan… ce a minor de minor ke ge ke ce lagi….Itulah gambaran politk Indonesia. Lupa-lupa ingat dan jalannya cuma berputar-putar dari situ ke situ lagi. Ya, politik Indonesia adalah politik 1 jurusan asal berkuasa karena lupa diri siapa mereka sebenarnya. Pemerintahan hasil politik lupa ingat 1 jurus ini adalah pemerintahan yang tidak maju-maju. Rakyat makin terdesak. Orang miskin semakin dekat ke kuburan …. Lanjutkan kata SBY… Lebih cepat lebih baik kata JK……..weleh weleh weleh……

Tabe Tuab Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

Hari ini adalah hari pendidikan nasional di indonesia. Hari yang penting. Terutama bagi saya yang bekerja dan mengabdi sebagai seorang GURU. Tetapi apa daya. Setelah bekerja 3 hari di Kabupaten Belu, dalam isu Daerah Aliran Sungai (DAS) perbatasan antara negara RI – Timor Leste lalu tiba kembali di Kupang pada pukul 02.00 subuh, badan tak begitu kuat menahan lelah. Dalam keadaan demikian tak ada sama sekali “gagasan besar” di kepala yang bisa diubah menjadi bahan tulisan yang bernas. Jadi, saya memutuskan untuk menuliskan sesuatu tentang HARDIKNAS berdasarkan hal-hal kecil yang saya alami di hari ini. Pengalaman yang sepele dan mungkin tak berarti. Tak apalah yang penting sudah menulis. Dan inilah pengalaman itu.

Sebagai bentuk “peleder” (pura-pura alim dalam bahasa Kupang) karena tidak punya ide besar tentang bagaimana merayakan hari penting sebagai insan pendidikan, pagi ini saya berangkat ke Kampus Universitas Nusa Cendana, Kupang. Sesampainya di sana, orang-orang baru kelar upacara (saya belum punya penjelasan memadai tentang hubungan antara upacara dan semangat pengabdian guru). Para dosen dan pegawai administrasi ramai berpakaian seragam KORPRI yang coraknya aneh dan kurang sedap dipandang mata itu (lagi-lagi saya tak punya alasan bagus untuk menjelaskan hubungan antara seragam KORPRI dengan prestasi mengajar seorang Dosen). Lah, saya sendiri bagaimana? Seperti yang sudah saya jelaskan tadi bahwa, saya memang kurang begitu perduli dengan seremonial upacara. Oleh karena itu saya sengaja datang terlambat. Saya juga bukan seorang penggemar pakaian seragam karena keyakinan bahwa keragaman is beautiful. Oleh karenanya saya datang menggunakan celana jeans dan bersepatu sandal…asyyyyiiiikkkk……Lalu, fakta “menjengkelkan” itu terjadi.

Di kerumunan orang-orang berseragam itu ada 1-2 orang yang bangga memamerkan piagam pengabdian 20 tahun sebagai PNS. Lah, kok yang dihargai adalah ke-PNS-annya bukan faktor ke-GURU-annya? ini hari PNS nasional atau hari pendidikan nasional siiiiiihhhhh????? Lantas, di kerumunan yang lain yang diperbincangkan adalah…..wwwuuueehhh….Rektor Undana, di sambutan apelnya, mengingatkan bahwa musim pemilihan Rektor sudah tiba…dan heeeeiiii….ramai diperbincangkan….si ini bakal bertahan….si anu mao nalon lagi…..si polan mau jadi “kuda hitam” dan….wwwuiiiihhhh…..si “kerutuk” berselera amat sangat terhadap jabatan Rektor Undana….wwweeeellllleeeeehhhhh…… Malas dengan topik itu, setelah melempar 1-2 joke ringan saya berpindah kerumunan lagi….naaahhhh….di kerumunan ini yang ramai diperbincangan adalah hitung-hitungan jumlah hari masuk kantor dalam sebulan lewat dan jumlah bonus yang diterima + gaji bulan Mei 2009…..wwwwuuuuaaaahhh….tak begitu tertarik dengan topik ini sayapun berpindah ke kelompok kerumunan yang lain lagi dan …asyyyiiiiikkkk……topik di kelompok ini ada topik mutakhir yang tak saya dengar selama beberapa hari berada di hutan-hutan dekat perbatasan RI – RDTL, yaitu kemungkinan kejatuhan pejabat tinggi RI berinisial AA karena diduga terlibat peristiwa pembunuhan….lalu, percakapan melebar dan meluas tentang indahnya, lezatnya dan sekaligus berbahayanya sebuah perselingkuhan……bbrrrrrr……

Saya cuma heran, mengapa tak ada satupun kelompok kerumunan yang memperbincangkan tentang situasi pendidikan nasional kita dewasa ini. Peringkat HDI Indonesia yang ada di bawah klong meja yang salah satu penyebabnya adalah buruknya mutu pendidikan di RI. Mahalnya biaya pendidikan di NKRI sehingga menimbulkan jargon baru….orang miskin dilarang sekolah…..banyaknya guru kontrakan dengan nasib NTT (nelangsa tak tentu)…..mutu pendidikan di NTT yang terendah di Indonesia…..situasi Undana yang katanya ber visi-misi go global tetapi listriknyta byar pet sepanjang hari….tak ada satupun kelompok kerumunan orang yang memperbincangkan topik-topik itu……saya kecewa dan memilih untu melangkah menuju ruang adminsitrasi untuk…..menerima gaji…..sambil…berjalan saya disapa seorang sahabat…

(+) ….heeeeiiii….lu kelihatan putih eeee…..sakit dan jarang keluar rumah kan.????….(lalu kami tertawa bersama …… gggggrrrrrrrrr….dan percakapanpun berlanjut)…..
(+) mau tanda tangan ambil gaji dan uang kehadiran kooooo?????….ah. lu baru pulang dengan orang kehutanan kan????? doi su tabal ma masi makararapak ambel gaji lai (uang masih banyak tetapi kok keburu amat ngambil gaji)….jjjuuuuuppppsssss…..langkah saya terhenti…
(@) eh sonde kawan….cuma mau liat jangan-jangan ada surat untuk beta…lama tidak masuk kantor naaaa…..(saya terpaksa berbohong karena ….malu)

Mengapa malu? Ya tentu saja, bukankah tadi ketika bertemu dengan kelompok kerumunan itu saya amat rajin mengkritik topik pembicaraan mereka yang kurang bermutu itu? Lalu, bukankah saya tadinya menertawakan teman-teman yang hanya sibuk mengurus gaji?????….Saya jadi malu karena, ternyata, secara substantif saya sama tak bermutunya dengan mereka. Jika saya menertawakan sikap “pikir diri sendiri” kawan-kawan itu, ternyata saya juga tak kalah egoisnya. Setelah berpura-pura melihat tumpukan surat, sayapun berbalik badan pulang ke rumah. Tak cukup nekat untuk mengantri mengambil gaji bulan baru. Dalam perjalanan pulang saya membatin…apa salah Ki Hajar Dewantoro sehingga insan-insan pendidikan jauh lebih memikirkan urusan pribadi dan pergunjingan tak perlu ketimbang memikirkan nasib bangsanya yang amat tertinggal dalam urusan pendidikan. Lalu, saya menemukan sendiri jawabannya, yaitu yang salah bukan Ki Hajar Dewantoro tetapi pribadi lepas pribadi itu, termasuk saya, yang tak betul-betul menghayati dan mempraktekan CINTA di dalam dunia pendidikan.

CINTA kepada dunia pendidikan seharusnya merupakan afeksi positif dari saya,. Seharusnya pula keluar dari dan saya lurus tertuju kepada para subyek penerima CINTA. Iklhas. Tanpa pamrih. Saya malu karena tentang CINTA saya sudah mengulasnya panjang lebar di dalam blog ini tetapi…ternyata…..saya beum mempraktekannya secara baik. Saya malu karena rasanya belum lama saya memperingati perayaan PASKAH yang mendemonstrasikan bagaimana CINTA seharusnya dikerjakan. Saya malu karena rasanya belum lama saya mengenang SGT yang teramat tulus menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik.

Di hari ini, inilah pengakuan saya, tepat di Hari Pendidikan Nasional 2009: saya merasa sudah menipu Sang Pemberi CINTA yaitu Sang Maha khalik.

Supaya sedikit terhibur hati, perkenankan saya memposting sebuah lagu lama karya Iwan Fals. Selamat berbagi KASIH di HARDIKNAS 2009.

Tabe Tuan Tabe Puan

bapa robert terkasih,

Ini beta, anak bapa yang nomor dua. Suda satu taon bapa berangkat pi kasi tenggal kitong semua ni. Bapa ada bae ko? Masih rajin sombayang pagi ko? (kata yang bapa sebut untuk sembahyang – seperti juga kombali untuk kembali) Masih pijit orang sakit usus ko? ato jangan-jangan bapa malah masih tasibu urus gereja, pendidikan dan partai di surga? eh, omong-omong di surga ada yang masih sakit usus ko? ada kantor GMIT, kantor pendidikan, atau kantor partai yang ikot pemilu ko? di surga ada pemilu ko?

Karmana deng mama? ada baek juga ko? waktu mama “berangkat ikot bapa” tu beta pung hati hancur lebur karena beta yang pigi antar mama dari kupang ke jakarta. Beta masih rasa bersalah kenapa ko beta pigi antar mama sehingga bekin “jauh” dari bapa. Tapi sudah eee bapa, Tuhan su mau laen. Begitu ko bapa? e, mama masih juga kemayu dan usil ko? jangan-jangan BAITU BOSZ juga kena diusili mama….

Karmana juga dengan bai riwu, nene pau, oma suji, dan adik-adik lomi dan oli. Semua ada bae-bae ko? bai riwu masih tasibuk dengan knep tang ko? masih takut dengan “kapatein anwar ko”?. eh, karmana dengan bapa besar ako? masih botak dengan rambut 1 urat melintang di kepala ko? ha ha ha….. bapa juga ada ketemu opa eto ko? bapa juga ada ketemu Prof. Sultoni ko? karmana dengan kerabat, sobat dan kenalan yang laen macam ke om lai, maiki ma kana, pak dillak, pak wadu, pak lodi ratu, pak lodi radja, pak pendeta fobia, ibu guru marto sudarmo, pak ismandar dan laen-laen. Eh. omong-omong bapa ada ketemu bung karno ko? ada ketemu soeharto ko? ada ketemu ronald reagen, dan eeehhhhh…..ada dapat liat judas iskariot si judes itu ko? orang-orang itu su jadi apa eeeeee????? masih jadi presiden ato hanya jadi hansip saja di surga. judas masih suka tipu-tipu uang belaja ko?

Bapa robert sayang, kitong baru kelar pemilu. Partai Demokrat menang. Golkar dan PDIP keok. Begitu juga partai-partai laen yang amat banyak itu. Eh, om simon pung partai ternyata tergolong partai “nol koma”…ha ha ha ha, bapa tau beta pung maksud kan???…..bapa dolo paling ketawa dengan bapa pung adik satu tu yang hobi pindah partai ma semua partai yang dia ikot selalu jadi partai nol koma. Ontong sa mister rame, anak bapa besar ako, keburu kena pecat dari dia pung partai sehingga dia gagal jadi caleg. Jika sonde, waaahhhh…dia akan tergolong anggota partai “nol koma” juga ha ha ha ha….tapi bapa tau ko sonde pemenang sebenarnya dari pemilu, yaitu golput (golongan pung tarbae – yang dalam bahasa kupang artinya adalah tidak baik). Kenapa sampai bisa golput menang? data yang ada kasi tunju bahwa pemilu ini kali diselenggarakan secara amburadul. Anehnya, KPU bilang semua baik-baik saja padahal DPT menggelembung dan mengempis sonde keruan. Di beta pung TPS, dari 226 orang yang dipanggil, cuma 122 yang masok kamar pencontrengan. Lebih aneh lagi, presiden kesayangan bapa robert, yaitu mister SBY, maen pukul dada terus dan bilang bahwa pemilu kali ini so far so good. Dia bilang kesalahan ada di KPU, padahal DPT itu dibikin atas adasar pencatatatan depdagri. Lalu, begitu abis pileg, orang-orang malah lebih tertarik urus siapa bakawan dengan siapa untuk bikin koalisi dalam pemilihan presiden. Pelanggaran pemilu dianggap barang biasa yang bisa dilewatan begitu saja. Hak rakyat untuk mencontreng yang dirampas dibiarkan begitu saja padahal itulah esensi pemilu, yaitu pengambilan suara rakyat untuk mengatur negara. Polisi dan Bawaslu main cuci tangan terus atas laporan pelanggaran. Beta jadi bingung, peratura ada untuk apa? kebenaran itu sapa yang bisa tafsir. Atau memang begitu sudah adat politik di Indonesia, yaitu politik zonder pake malu. Mungkin bapa lebe tau sebab bapa adalah politisi praktis ulung yang kebetulan tidak rakus kursi (bapa pake kata korsi). Dulu bapa bisa ke dpr tahun 1971 karena parkindo dapat 1 kursi di ntt tapi bapa kasi ke orang lain. lalu, dari pdkb tahun 1999 bapa dapat 1 kursi lagi, bapa juga kasi ke orang laen. Politisi pejuang sejati ke bapa yang tidak rakus sudah langka. Mungkin tidak ada lagi sekarang ini. Tapi suda saja, toh di surga sonde ada pemilu jadi bapa sonde usah pikir-pikir lai? Eh, betul ko di surga sonde ada pemilu?

Selain pemilu, kemarin tanggal 21 april, kitong juga memperingati hari Kartini. beta mau tanya ni bapa: di surga kedudukan laki-laki dan perempun sama ko sonde eee??? di sini, kartini su tulis bagus-bagus tentang emansipasi tetapi nyatanya maitua sendiri terpaksa jadi isteri kesekian dari dia punya laki. Di sini, bapa tau sendiri kan, sudah ada presiden perempuan yaitu madame megawati tetapi, pake alasan dia goblok dan seterusnya (ada fesbuk yang isinya maki-maki megawati – entah kalo orang-orang itu mama-nya dimaki-maki seperti itu mau ko tidak?) dia ditolak jadi presiden lagi. Padahal kitorang tau alasan sebenarnya, yaitu ya…begitulah…perempuan tidak boleh jadi pemimpin. Sama seperti sahabat megawati yang di pakistan, madame benazir bhutto, yang karena sulit dibendung dalam proses resmi akhirnya ditembak mati. Di sini juga, perempuan muda kepingin cepat-cepat jadi artis top. Trus kawin cerai dan bangga su kawin sekian kali, jadi isteri nomer sekian dari lali-laki yang sudah beristeri dan tiap hari keluar infotainment. Bapa dapat bocoran ko tidak ya, pandang BAITUA BOSZ tentang kedudukan laki-laki dan perempuan. Kan katanya manusia diciptakan segambar dengan BAITUA. Kan katanya wanita dibikin dari tulang rebis (bahasa kupang untuk sebut tulang rusuk) supaya setara dengan laki-laki. Kok tubuh perempuan, menurut undang-undang pornografi diasumsikan sebagai sumber dosa. Nah, laki-laki bagatal dong tu, macam ke hansip dangdut yang hobi kawin diam-diam dengan artis muda, dosa ko tidak eee???? Trus ada yang beta lebih ingin tahu lagi dari bapa, sapa tau dapat bocoran dari BAITUA BOSZ, apakah perempuan seperti mama yang rela mengorbankan karir pribadinya sebagai guru,lalu konsentrasi di rumah urus suami dan anak-anak itu lebih rendah kedudukannya dibanding ibu-ibu yang bergelar presiden, profesor, doktor, master, doktoranda dan lain-lain yang disebut wanita karir? Macam beta sekarang ni, ada sakit-sakit banya tapi mau minta isteri bantu urus obat, sonde bisa karena doli yang insinyur dan magister itu, ada teputar urus negara pigi surabaya dan nanti pigi bandung. Lebih hebat mana eeee….. macam ke mama atau ke doli? ….bapa tolong jawab dolo sebab beta bingung. Eh, coba bapa tanya mama, apa pendapat ibu Sabartina si ratu usil itu?

Ini hari, tanggal 22 april, juga bertepatan dengan peringatan hari bumi sedunia. Dulu orang bikin ini hari bumi (earth day) untuk mengingatkan orang dunya bahwa bumi harus dijaga jangan cuma dieksploitasi. Tapi itu sudah, pembangunan ekonomi di barat dengan orientasi pertumbuhan ternyata memakan habis hutan dan sumberdaya lain. Lalu, doktor-doktor ekonomi yang belajar ilmu ekonomi di barat lalu tiru ilmu itu lantas praktekan di negara berkembang termasuk di Indonesia. Ahli pertanian di barat bikin revolusi hijau dan habis-habisan bikin pupuk kimiawi, pestisida dan herbisida buatan. Akibatnya sisa-sisanya berubah jadi racun untuk bumi. Eh. cilaka 12 juga karena doktor pertanian di Indonesia tiru-tiru itu lalu kasi contoh ke petani lantas bikin racun bagi bumi. Akibatnya sama saja, baik di barat maupun di timur: sumberdaya alam rusak dan terancam punah. Karmana bapa, diliat dari surga, planet bumi punya potongan keliatan masih baek ato sudah rusak? separo ahli bilang bumi sudah mau hancur karena perubahan iklim, pemanasan global, lubang azon dan penggurunan. Ada yang bilang hutan-hutan sudah habis ditebang dan dibakar. Di Indonesia, luas hutan yang dahulunya 145 juta ha katanya sekarang tinggal 70-80 juta ha saja. Musim banjir semua tempat terendam air. Pas musim kering semua orang berteriak…aduh haus. air sudah langka. Data gambar satelit kasi tunjuk bahwa lahan kritis di NTT sudah mencapai 91.5% dari total luas lahan. Rusak semua. Gawat. Orang-orang makin hobi tebang pohon-pohon asli dan tanam pohon baru yang malah tidak mau tumbuh sambil bikin habis uang ratusan milyaran. Beta jadi ingat, dulu waktu bapa masih kakanwil PK tanam pohon-pohon asli NTT di halaman kantor tapi kakanwil baru tebang habis dan ganti dengan pohon-pohon yang didatangkan dari luar yang boros air. Akibatnya, debit air tanah bukan tambah malah berkurang. Lebih aneh lagi, NTT muncul di iklan air di televisi dan katanya…. sekarang sumber air su dekat… dekat apanya? dekat di kantong pengusaha ir itu barangkali? Nah, dari surga bapa liat karmana dengan pulau sabu? data di beta pung tangan kasi tunjuk bahwa hampir 100% lahan di sabu tergolong lahan kritis tapi semua di sabu sekarang lebih perduli urus sabu sudah akan jadi kabupaten. Semua tasibuk sibuk cari calon bupati. Rame sekali. Eh, bapa…bapaaaaa…. ada dengar BAITUA BOSZ bilang apa tentang kabupate sabu eeeeee? orang sabu bakal lebih sejahtera atau making sengsara. Sapa tau bapa ada dapat bocoran dari BAITUA BOSZ.

Bapa sayang, sudah 3 hari ni, NTT dan juga di seluruh indonesia ada melaksanakan UAN (ujian akhir nasional). banyak ahli pendidikan kurang setuju tetapi seingat beta, bapa suka dengan model kerja keras macam begini? dan gara-gara itu, dulu, bapa dibenci banyak orang tagal sonde lulus ujian dan ada sekolah di NTT yang tingkat kelulusan 0%. tapi beta ingat dan sekaligus bangga bahwa dengan cara itu peringkat pendidikan ntt di tingat nasional melompat sampai peringat 7 untuk IPA dan peringkat 11 untuk IPS. Peringkat tertinggi yang pernah dicapai oleh NTT. Setelah bapa pensiun, peringkat pendidikan di NTT kembali merosot. Taon lalu, peringkat pendidikan NTT berdasarkan angka kelulusan hasil UAN berada di peringkat paling bawah di Indonesia. Pemda NTT sendiri, yang sekarang dipimpin oleh paket yang bapa dukung, yaitu FREN, ternyata tidak memliki visi yang matang tentang how to manage pendidikan di NTT. Kermana punya visi yang baik, atur mutasi pejabat di pemda saja berantakan. Ada orang yang kemampuan tak jelas tapi karena rajin jadi “tukang masak” di rumah bos besar malah dipili jadi pejabat. Padahal aturan pengangakatan pejabat dilanggar habis-habisan tanpa malu-malu. Bgitu juga di universitas kebanggan bapa, yaitu UKAW. Rektorat dan yayasan terus berselisih tentang siapa yang harus pegang kendali padahal undang-undang yayasan sudah bicara jelas. Begitu juga PP 30/1999 juga jelas, Tapi begitu ditafsir, ada banyak kepentingan yang berlri-lari di situ. Kasus kemarin juga masih belum diselsaikan secara tuntas, yaitu rektor yang merangkap jabatan jadi ketua partai. Sesuatu yang sudah bapa tegur keras waktu masih ada. Sudah diurus tetapi “luka hati” terlanjur terjadi. Ada pengurus yayasan yang sudah berpikir untuk meletakan jabatan. Orang-orang rindu, kehebatan bapa dalam mengambi keputusan sehinga persoalan tidak berlarut-larut. Tokoh seperti bapa belum lagi ada sekarang ini di UKAW. Tapi sudahlah, bapa tidak usah pikir terlalu banyak lagi karena toh di surga orang tidak perlu sekolah lagi. Eh, apa betul di surga orang sudah tidak perlu belajar lagi ko?

Ahirnya, bapa sayang eeee, beta mau mengeluh tentang beta pribadi ni. Sudah 3 minggu ini beta sakit banyak. Kata dokter A, sakit malaria. Dia kasi obat. Malaria sembuh ….. eeeehhh timbul alergi di tenggorok (kalo bapa bilang bukan tenggorok tetapi gargantang). Tenggorok dan amandel membesar lalu tutup jalan pernapasan. Lantas, beta pi dokter B, dia saran beta masok rumah sakit tapi beta sonde mau. Takut infus. Lalu, dia kasi obat tenggorok eh…aduuuhh….tenggorok sembuh tapi ada obat yang bikin beta pung tensi naek sampe 220/120. Beta amper mati di jalan waktu bawa mobil sendiri. Dunia teputar ko mata gelap. Ontong beta masih sempat marayap pelan-pelan dan ketemu balai pengobatan 24 jam. Lalu, dia situ beta dapat obat turun tensi. Tapi sudah 2 minggu terakir ini, beta cepat sekali menjadi lemah, badan suka keringat dingin dan gemetar. Entah sakit apa lagi. Beta ingat kalo bapa masih ada …addduuuuuuhhhhhh…..enak sekali….tinggal sorong kaki trus bapa pijit, minum obat jamu herbal, jaga makan dan ….tralllaaalaaaa ….trillliilllliiii….sembuh……lalu beta pigi dokter psikolog dan disimpulkan…beta mengalami depresi berat akut …. semua sistem pertahanan badan bisa rontok dan sakit apa saja bisa datang dan pergi keluar masiuk suka-suka macam ke orang pigi nonton bioskop….aduuuuhhhhh……kenapa beta depresi?????

Jawabnya ada 1. Cuma 1 itu saja, yaitu beta terpukul ketika bapa dan mama pergi berturut-turut dalam waktu cuma 8 bulan. penyesalan yang terus datang adalah, kenapa beta tidak paksa bapa ke dokter 1 minggu sebelum tanggal 22 april 2008, hari ketika bapa jatuh rebah dalam ruang rapat. Penyesalan yang terus menghantui beta sampai hari ini. Beta sering bangun malam berteriak gemetar dan keringat dingin. Kemudian, beta juga dihantui rasa karena beta-lah yang pada tanggal 1 desember 2008 pigi antar mama ke jakarta lalu mama meninggal di sana. Beta rasa bersalah karena beta anggap beta menjadi gara-gara. Beta juga makin terdepresi karena tiba-tiba harus urus rumah dengan bebagai pernak-perniknya padahal beta masih belum lepas dari depresi. Ternyata, beta tidak setaangguh yang beta kira dan bapa harapkan. Beta harus belajar lebih banyak lagi dengan penuh rendah hati.

Maka, bapa sayang eeee, di hari pas 1 taon bapa berangakat ni beta minta tolong bapa ko sampaikan ke BAITUA BOSZ bahwa beta minta AMPUN karena terus-menerus menolak fakta kuasa BAITUA BOSZ yang berdaulat ambil kembali bapa dan mama. Beta minta ampun betul-betul sudah. TOBAT. Lalu, bapa bantu beta sembayang ko BAITUA BOSZ kasian beta dan berkenan membasuh luka hati beta dan sekaligus BAIUTA BOSZ berkenan menyembuhkan semua sakit-penyakit yang beta alami sekarang ini. Biar beta segera sehat kembali. Tegak dan tegar untuk bekerja sekeras-kerasnya mewujudkan beberapa impian bapa yang belum sepenuhnya menjadi kenyataan, yaitu HIDUP RUKUN DALAM PERSEKUTUAN KELUARGA YANG DIBERKATI ALLAH.

Itu saja dolo bapa eee surat kali ini. Laen kali beta sambung kembali.
Salam manis untuk mama dan semua. Terutama sujud hormat kepada BAITUA BOSZ.

Shalom.

sebagai kenangan tentang bapa, beta mau posting lagu “ayah” yang diciptakan oleh rinto harahap tapi yang menyanyi adalah broery marantika (bapa ada ketemu dia ko sonde eeee???). Bapa dengar baek-baek eeeee te beta ada dengar sambil menangis ingat bapa.

Dear Sahabat Blogger,

Judul di atas memang melanggar kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mana ada gelap yang terbit? Tak ada tapi begitulah, wong tangan-tangan saya sendiri kan? Lalu, karena saya berpikir bebas maka ya sudah, jadilah judul ngawur itu. Agak aneh memang tetapi isinya biasa-biasa saja. Gerangan apa? Berita mengejutkan bagi saya pribadi datang kemarin bahwa ada seorang kenalan, yang merupakan caleg dari salah satu partai besar, mengalami kecelakaan lalu lintas……wwwwoooooaaahhhhh….ada apa? what’s going on???? …dan ini penjelasan dari si pembawa berita….

Si mister X, kita sebut saja begitu, yang caleg di Kabupaten Kupang tiba-tiba menjadi murung selepas proses penghitungan suara. Bukan hanya murung tetapi juga tidak lagi punya keinginan untuk makan … eh gilaaaaa beneeeerrrr, demikian saya membatin). What’s wrong????? Ya karena suara yang diperolehnya jauh di bawah harapan. Lalu. kemarin lusa sore, tiba-tiba si mister X menyambar motornya, lalu tancap gas tidak keruan dengan suara mesin yang memekakan telinga lalu……..brrrrrraaaaannngggg….bbbrrrukkkk……brraaaaaaggghhhh….klepek klepek klepek……mister X menabrakan motornya ke sebuah pohon asam tua……..pingsan tak keruan….mati????? belum…eh sori….tidak….mister X sempat dibawa ke RSUD WZ Yohanes di Kupang dan di rawat…..sampai tulisan ini diposting, yang berangkutan masih belum sadarkan diri.

Waaaaaahhh, mengapa harus begitu sobat? Sepanjang yang saya kenal, mister X si kenalan saya itu adalah orang yang cerah ceria. Hidupnya selalu optimis…..So, why why waaaaaaaiiiii????? sekadar gagal dalam pemilu kan barang biasa???? ada kalah ada menangnya. Siap menang seharusnya juga siap kalah. Sayangnya, si mister X ternyata hanya siap menang tetapi tak sanggup kalah. Betapa tidak, kata si pembawa berita, untuk urusan “percalegan-nya” mister X terpaksa menunda urusan pernikahannya. Tabungannya habis terkuras untuk ongkos kamapanye. Mulai dari urusan kartu nama, selebaran, spanduk hingga urusan “uang rokok” dan “uang sirih pinang”. Habis uang di tabungan tak masalah. Ada kawan, kenalan, sobat, sabit, tengkulak, calo, rentenir, hantu blau dan seterusnya yang bisa meminjamkan duit. Dan memang itu dilakukan oleh mister X. Pinjam, pinjam dan pinjam. Tak cukup hanya itu, selama masa kampanye, mister X dikenal juga sebagai “mister pesta”. Tak ada pesta yang tak didatangi si mister pesta. Apakah itu pesta perkawinan maupun pesta ulang tahun si kucing meong. Diundang maupun tidak diundang. Untuk apa? ya sosialisasi dirilah. Mister X juga dikenal senagai “mister murah hati”"….tebar duit di sana tebar rupiah di sini. Tebar uang di sono, hambur wang di mari. Pokoknya, pinjam, pinjam, pinjam lalu hambur, hambur, hambur. Lalu bagaimana cara mengembalikan uang pinjaman dan rencana perkawinan. Ah, gampang: nanti jikalau sudah dilantik, uang akan datang dengan sendirinya….biasalah….kelakuan anggota legislatif yang segera menjadi kaya raya begitu menjadi “pejabat negara”. Everything is beres, beres, beres dan…ternyata tidak beres.
Seperti yang sudah saya kasi tau di awal tadi, datang berita …Mister X mencoba membunuh diri setelah impiannya menjadi “pejabat negara” pupus. Entah bagaimana cara mengembalikan uang pinjaman. Entah bagaimana nasib nona Y yang terlanjur tertunda dinikahi. Selama beberapa bulan hidup misterX ramai, amat ramai. Bising, Teramat bising dengan ini-itu-nya kampanye serta ini-itu-nya impian impian yang hadir di tiap pesta. Tapi tengoklah dia diakhir ceritera. Dia kini sendiri dalam sunyi….bertarung dengan maut…..sepi….tak ada kawan…….mengenaskan. Lalu, saya teringat posting sahabat saya, si mister polos, tuak 1 (tuaksatu.blogspot.com) tentang ada caleg yang gila dan lainnya setengah gila. Saya membayangkan….di luar Kupang mungkin ada yang mengalami nasib mengenaskan pascapemilu. Apakah 1 orang atau dua?. Atau jangan-jangan ribuan….wwaaaalllaaaaaahhhhh……

Dan saya teringat bahan di matakuliah filsafat manusia yang pernah saya tekuni dahulu di bangku kuliah. Manusia, kata Schoonenberg, adalah makhluk paradoks. Di satu pihak, dia tahu bahwa dia adalah makhuk terbatas, baik karena alasan fisik, biologi, sosial, teologis dan kesadaran, akan tetapi di lain pihak manusia adalah juga pemikir bebas. Dia merasa boleh menjadi apa saja. Bila perlu semua faktor determinismenya ditubruk habis-habisan. Lantas, dia merasa inilah aku, si manusia, yang ditakdirkan untuk mengalahkan semua faktor pembatas. Bagaiman bisa? Ya tentu saja bisa karena manusia memiliki paling kurang 5 ciri makhluk hidup, yaitu daya asimilasi, memperbaiki/memulihkan, mereproduksi, bereaksi dan memiliki tujuan-tujuan. Lalu, melebih makhuk hidup lainnya, manusia memiliki sekaligus 3 hal, yang jauh di atas monyet misalnya, yaitu nalar kognisi dan daya afeksi yang dapat digunakan sebesar-besarnya bagi pengembangan daya psikomotorik. Dengan cara itu, manusia bisa terbang ke bulan, manusia bisa membuat bom atom, manusia bisa membuat kloning bagi dirinya sendiri dan eittttsss…… jangan lupa, manusia bisa memiliki blog (xi xi xi xi xi).

Singkat kata, dengan semua daya yang ada pada dirinya, manusia merasa, – dan seringkali berhasil – bahwa faktor pembatas ada untuk dipatahkan. Caranya? cukup dengan kata “mau”. Pepatah barat mengatakan bahwa “if there is a will there is a way”. Lantaran itu, Ibu Kita Kartini pernah menulis begini kepada sahabatnya:

Kamu tahu motto hidupku? “Aku Mau”. Dan dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan. “Aku tidak mampu menyerah”. “Aku mau” mendaki gunung itu. Aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat (R.A Kartini dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Jepara, 13 Januari 1900″

Raden Ajeng Kartini benar. Amat benar dengan kata-katanya itu. Itulah gunanya harapan. Itulah gunanya semangat. Itulah gunanya kemauan. Semua itu memberikan gambaran yang tepat tentang ciri manusia sebagai makhluk hidup. Tetapi apakah hal itu mutlak benar? Fakta sejarah di belakang hari menunjukkan bahwa R.A Kartini yang memiliki pemikiran yang dahsyat dan melampaui jamannya itu ternyata harus tertunduk lesu di depan fakta hidup. Oleh bapaknya, dia dipaksa kawin dengan lelaki yang sudah beristeri. Jadilah R.A. Kartini sebagai isteri ke-4. Impiannya bersekolah di Negeri Belanda tak pernah tercapai dan dia mati muda. Mengapa demikian? Ya, cuma satu: kebebasan manusia hanya akan diperoleh jika dan hanya jika dia tertundukkan oleh kuasa di luar dirinya, yaitu Sang Khalik (Leahy). Jika benar demikian maka konsekuensinya cuma 1: hanya Sang Kahlik yang mutlak. Manusia dan kehendak bebasnya nisbi adanya. Akibatnya, sekuat apapun kehandak bebas manusia dia harus tunduk pada “aturan”, yaitu manusia itu terbatas. Tak harus semua yang diimpikannya menjadi kenyataan. Lah, bagaimana cara manusia berkemauan atau berkehendak bebas dalam keterbatasannya. Cara cuma 1: penguasaan diri (self-control). Tahu batas. Tahu diri. Kalau katak maka jadilah katak yang terbaik tak perlu memaksakan diri menjadi sapi tambun. Kalau rumput maka jadilah rumput terhebat di taman sembari tersenyum tulus melihat si pohon menjadi si rindang yang menyejukkan.

Jadi, tak ada pilihan lain selain ini harapan saya: siapa saja boleh bermimpi menjadi apa saja. Supaya mimpimu itu menjadi kenyataan maka mulailah menyingsingkan lengan baju mu. Bekerjalah sekuat-kuatnya. Tetaplah bersemangat. Tetaplah memelihara harapan. Jangan padamkan api harapan itu dalam dirimu. Tetapi, jangan lupa, kuasailah dirimu. Kuasailah kehendakmu. Jangan biarkan kehendakmu menguasai dirimu. Jika tidak, begitu bersiaplah untuk sendiri dan sunyi di dalam kesia-siaan. Janganlah sehabis pesta besar meriah terang benderang lalu berakhir dengan sendiri, sunyi dan dalam gelap pekat. Jangan sehabis terang datanglah gelap (simpati dan doa saya untuk semua sahabat yang sedang menderita akibat berpikir bebas yang tak terkendali).

Saya cuplikan aksi dari Group Band Rock “Boomerang” yang menyanyikan dua buah tembang lawas ciptaan Leo Kristi (Kereta Laju) dan Charles Hutagalung (Hidup yang Sunyi), Setelah deru gemuruh kereta laju lalu hidup terpuruk dalam sunyi. Tapi, perhatikanlah, jika anda terlanjur terpuruk dalam gelap, tetaplah pertahankan nyala api harapan. Perhatikan syair dalam lagu “hidup yang sunyi”….hidupku hanya untuk-Mu…… Semoga anda paham apa yang saya maksudkan.

Tabe Tuan Tabe Puan

Dear Sahabat Blogger,

Beberapa sahabat menulis di kolom komentar pada posting terdahulu, 2 skandal 1 nama: khianat bahwa: “tak sabar menunggu part 2″. Ok, baiklah …eeeeng…iiiinnggggg…..eeeennnggggggg……sabar dahulu. Saya ingin membuat pengantarnya terlebih dahulu
Beberapa waktu yang lalu, menjelang pemilu legislatif, dunia politik Indonesia menghangat dengan terbitnya buku kisah perjuangan Jenderal Sintong Panjaitan….war wer wir wuurrrrrr……ramai dibicarakan orang ..dan lalu…kesan yan amat mengemuka adalah…siapa itu Sintong? Pahlawan atau bukan? Siapa itu Prabowo? prajurit yang berniat makar atau pahlawan?….Lalu, semua tenang kembali….people are back to the bussines as usual….kembali ke laptop…..jangankan Sintong VS Prabowo, sebelumnya Prabowo VS Wiranto sudah tidak diperdulikan orang lagi. Sebelumnya lagi wacana apakah Bung Karno pahlawan ataukah pengkhianat sudah lama berada di wilayah abu-abu. Demikian juga, Soharto, apakah Pahlawan atau penjahat sudah lama terpendam bersama jasad orang besar Indonesia ini. Mengapa ini bisa terjadi? Ataukah, seperti kata seorang sahabat, semua itu hanyalah perbedaan sudut pandang semata. Oh baiklah. Bisa jadi begitu. Tapi, bisakah kejahatan dan kebaikan dipegang secara simultan dalam satu pribadi? Dapatkah afeksi positif dan negatif terjadi seketika dalam satu pikiran? Penjelasan Leahy dalam bukunya yang berjudul “Human Being” adalah….TIDAK.

Jadi setiap afeksi bisa harus dibedakan. Setiap orang, seberapapun abu-abunya, harus diperjelas afeksinya. Bahkan jika memang warna afeksinya adalah abu-abu atawa afeksi oportunis. Tak boleh ada sejarah abu-abu. Dan itulah gunannya ilmu sejarah. Hanya dari tokoh-tokoh yang jelas “warna”nya kita bisa belajar. Apakah orang itu baik? apakah orang itu tidak baik? apakah orang itu kadang-kadang baik dan kadang-kadang tidak baik? Semua harus jelas. Ketidak jelasan adalah skandal. Apalagi upaya untuk mengaburkan sesuatu yang jelas agar tidak jelas. Itu super skandal namanya. Lha, apa itu skandal? Menurut kamus, skandal adalah kata benda yang berarti …perbuatan yang memalukan….

Lalu, sahabat terkasih, tentang upaya mengubah status seorang pengkhianat menjadi pahlawan itulah ceritersa saya kali ini

Skandal 2: pengkhianat diubah menjadi pahlawan

Adalah seorang yang bernama Yudas, terjemahan Yunani dari kata Ibrani Yehuda yang berarti “pujian”, yang menjadi sorotan kali ini. Siapa dia? Ahaaaa…anda mungkin benar jikalau menebak bahwa tokoh kita kali ini adalah salah seorang murid Yesus yang hidup kira-kira 2000 tahun yang lalu. Yudas yang mana? oh, untuk membedakannya dari Yudas murid Yesus yang lainnya maka Yudas yang ini adalah yang berasal dari Kota Kerioth. Sebuah kota di selatan Yehuda yang terkenal karena perkebunan anggurnya. Konon sampai hari ini kota Kerioth masih dinamai demikian. Demikian juga hasil bumi utamanya itu. Maka, Yudas van Kerioth itu amat terkenal dengan nama Yudas Iskariot. Mudah-mudahan anda pernah mendengar nama ini. Konon, dalam kosa kata Bahasa Indonesia, nama ini amat terkenal karena digunakan untuk menyebut perilaku orang yang tidak tulus…..huuuuuhhhh…dasar “judes” lu……”judes” banget sih loooo….he he he he he….

Yudas dan Judes dua kata yang begitu diucapkan dan didengar maka asosiasinya adalah sikap culas, curang dan khianat. Mengapa demikian? Dalam literatur Kristiani, si Yudas dikenal karena “ciuman mautnya” pada saat dia menyerahkan Yesus kepada kaum Farisi di taman Getsemane. Dari sini, Yesus dibawa kepengadilan agama Yahudi dan diteruskan ke pengadilan Romawi. Akhirnya dijatuhi hukum mati. Di gantung di Kayu Salib di bukit tengkorak. Bukit Golgota. Kisah penyaliban Yesus, Kematian dan Kebangkitan Yesus merupakan kisah terbesar dalam tradisi dan kepercayaan Kristiani. Bahkan secara teologis, tanpa trilogi ini, tidak ada Gereja. Tidak ada Kristianitas, yaitu religi yang dianut oleh mayoritas penduduk planet bumi ini.

Dalam kisah Alkitab, Pahlawan tunggal trilogi Penyaliban, Kematian dan Kebangkitan Yesus adalah Allah itu sendiri yang terejawantahkan dalam pribadi Yesus Kristus. Di mana posisi Yudas dari Kerioth? Adalah ini: pengkhianat dan pengecut. Mengapa Yudas dikatakan pengkhianat? Demi ambisi pribadinya, entah apa itu, Yudas tega menawarkan jasa kepada tua-tua farisi untuk menghantar Yesus kepada mereka agar mudah diangkap. Sebagai imbal jasanya, Yudas dibayar uang sejumlah 30 keping perak. Yudas sampai hati “menjual”Guru dan sahabatnya sendiri. Sebagai manusia kita berpikir keras apa arti persahabatan bagi Yudas? Bersama Yesus dan 11 orang murid lainnya, Yudas selama kurang lebih 3 tahun berkelana kesana-kemari memberitakan kabar baik. Susah sengsara beberkelana memberitakan kabar baik. Senasib sepenanggungan. Bahkan oleh Yesus, Yudas bukan sekedar murid dan sahabat biasa. Yudas dipercayakan sebagai bendahara kelompok 12, yaitu murid-murid Yesus yang selalu ada bersama-sama DIA. Entah kurang apa baiknya Yesus pada Yudas. Saya tak melihat ada satupun kekurangan terkecuali pada si Yudas yang mengalami 1 jenis kekurangan, yaitu kurang ajar.

Ya, kekurangnnya yang satu itulah, menurut literatur Alkitabiah, yang menuntun Yudas melakukan pekerjaan “menggunting dalam lipatan”. Yudas menjadi “musuh dalam selimut”. bagi Yesus. Tak tahukah Yesus akan perilaku Yudas itu? Dalam banyak ayat kita bisa mengetahui bahwa Yesus sebenarnya amat mengenal watak khianat si Yudas sang Judes. Yudas adalah bendahara yang curang yang menyimpan untung bagi dirinya sendiri. Yudas adalah si pengiri hati sewaktu dia mencela sikap perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal itu. Ya, Yesus tahu betul, siapa Yudas. Dan puncaknya adalah ketika di Perjamuan Malam Paskah, yaitu malam menjelang Yesus ditangkap. Setelah membasuh kaki semua murid-murid-NYA, termasuk Yudas si Judes dan lalu membagi-bagikan roti tak beragi dan anggur…Yesus berbisik kepada Yudas……”apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah segera” (Yohanes 13:27)…. Lantas, pergilah Yudas menghilang di kegelapan malam menuju imam-imam Yahudi untuk menjalanan rencana khianatnya. Dan semua umat Kristiani tahu persis kisah selanjutnya: tentang nasib Yesus yang harus mati di Salibkan di Golgota itu.

Sampai di titik ini, kelakuan Yudas adalah suatu kejahatan. Menjual Guru dan sahabatnya sendiri adalah suatu perbuatan tak senonoh. Skandal. Tafsir umum yang saya pahami sejak masih di bangku Sekolah Minggu, tindakan Yudas adalah keculasan dengan motif ekonomi. Menjual Yesus demi 30 keping perak. Akan tetapi ketika beranjak dewasa, saya sempat berpikir bahwa berapalah 30 keping perak itu. Apa mungkin Yudas tega menjual Yesus begitu murahnya taga 30 keping perak itu? Nonsens. Lalu, suatu saat saya membaca sebuah tafsir yang agak berbeda tentang motif Yudas. Menurut referensi ini, ditulis oleh almarhum Pdt. DR. Eka Darmaputera, Yudas adalah anggota kelompok nasionalis Yahudi Zealot yang amat anti penjajajahan Romawi. Garis perjuangan mereka adalah “garis keras”. Kurang lebih, mirip prinsip Israel di Jalur Gaza di masa kini.

Orang-orang Zealot ini terbukti beberapa kali melakukan pemberontakan bersenjata. Namun asa mereka selalu gagal karena tentara Romawi sigap memberangus mereka. Lalu, peluang itu ada, yaitu hadirnya seseorang yang diramalkan di dalam Perjanian Lama akan bertindak sebagai Mesias bagi orang Israel. Pembebas dari penjajahan Romawi. Dalam tafsiran kaum Zealot, sang Mesias akan menadi pemimpin gerakan politik massa dan sekaligus penglima perang yang akan menumpas oran-orang Romawi. Nah, Yudas yang merupakan anggota kelompok Zealot mendapat kesempatan bergabung dengan sang Mesias itu, yaitu Yesus. Dari waktu ke waktu Yudas mengikuti Yesus dan amatlah gembira hatinya karena pengikut Yesus secara cepat menjadi berlipat-lipat ganda. Inilah modal perjuangan. Akan tetapi sesuai perjalan waktu, Yudas menjadi cemas karena Yesus bukannya berbicara tentang perjuangana politk dan bersenjata malah terus menerus asik berbicara tentang KASIH, KASIH dan KASIH. Lha, kapan perangnya? pikir Yudas. Maka, timbullah “otak politk” Yudas….ahaaaa….mumpung Yesus sedang dicari-cari salahnya oleh Imam-Imam Yahudi, apa salahnya Yudas melakukan politicking?…..well, Yesus diserahkan dan lalu….ketika dalam keadaan terdesak…Yesus akan memerintahkan massanya, bila perlu bala tentara dari Surga, untuk membasmi pasukan Romawi…..dan….Israelpun merdeka.

Apapun motif Yudas, kita tahu bahwa satu skandal sudah terjadi, yaitu Yudas tega menjual Guru dan Sahabatnya. Sayangnya skandal itu tidak berhenti di situ. Jika mengikuti alur pikir bahwa Yudas menjual Yesus karena naluri ekonomi maka literatur Alkitabiah mengatakan bahwa menyesal-lah Yudas karena telah mengkhianati orang yang tidak bersalah. dengan amat murah Jika mengikuti alur pikir bahwa motif Yudas adalah motif politik maka ketika sama sekali tidak terjadi pemberontakan massa maka menyesal-lah Yudas karena sudah terlanjur mengkhianati Guru dan sahabatnya sendiri ehhh….tujuan politisnya tak tercapai. Yesus tidak memimpin suatu gerakan pemberontakan menyusul penangkapannya. Apa tindakan Yudas berikutnya? Yudas sebenarnya masih cukup peka rasa. Hancur hatinya dan menyesal setelah melihat Yesus teraniaya begitu rupa gara-gara pengkhianatanya. Sayang sekali penyesalannya itu tidak membawanya kepada pertobatan. Penyesalannya itu coba ditanggungnya sendiri. Dikiranya dengan cara itu dia akan selamat dan rasa malunya akan terobati. Nyatanya tidak. Ya, Yudas begitu pengecut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Yudas terlalu pengecut untuk mensukuri hidup yang dimilikinya. Dalam keputusasaannya Yudas memilih untuk bertindak bodoh dan sekaligus konyol: bunuh diri. Yudas melakukan skandal nomor kesekian.

Saya berpikir, bagaimana seandainya Yudas bertobat? Bukankah Simon Petrus juga bersalah karena menyangkal Yesus. Bukankah Simon juga menyesal? Tapi beruntunglah Simon Petrus atau Kefas itu karena dia tidak membuat skandal baru. Simon memilih untuk bertobat dan hingga sekarang, nama Simor Petrus dikenang sebagai salah satu tokoh Gereja yang bernama harum. Sedangkan Yudas? Tak lain tak bukan adalah Yudas si Judes. Cuma itu. Hanya itu. Di akhir drama trilogi Salib, Kubur dan Kebangkitan kita tahu ada 2 kematian yang amat terkenal. Pertama, Kematian Yesus yang penuh KASIH nan Agung. Pada saat Kebangkitan-NYA kita tahu bahwa Kemenangan merupakan hadiah bagi kerelaan KASIH semacam yang didemonstrasikan YESUS. Kedua, adalah kematian Yudas si pengkhianat dan sekaligus si pengecut yang konyol. Kematian yang tidak menyisakan apa-apa kecuali kehinaan.

Selesaikah kisah ini? Sayangnya belum. Akan saya sambung pada part 3. Tetapi sebelum mengakhiri part 2 ini, ijinkanlah saya untuk membuat beberapa butir relfleksi sebagai pesan PASKAH. Bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk saya sendirii. Jika sahabat merasa ada kemanfaatannya maka silakan dibaca juga.

Apa pesan dari kisah Yudas si Judes?

  1. Tak ada KASIH dalam sikap berkhianat. Kasih adalah afeksi positif. Khianat adalah afeksi negatif. Tak mungkin terang dan gelap disatukan karena hanya akan mendatangkan temaram yang tak jelas. Persahabatan, kebaikan dan kasih sayang adalah afeksi positif. Sedikit saja semua itu dikotori dengan fitnah, dendam, amarah, khianat dan atau afeksi negatif lainnya maka musnah semua KASIH. Mau baik ya baik saja. Tidak ada kebaikan dalam pura-pura jahat karena jahat akan menguasai anda. Tidak ada kebaikan dalam pura-pura baik karena sejatinya adalah kejahatan. Sahabat Kristiani, trilogi Salib, Kubur dan Kebangkitan Yesus mengajarkan bahwa setia dalam perkara KASIH adalah harga mati, yaitu harga yang bila perlu ditebus dengan kematian. Bisakah?
  2. Mengaku percaya kepada Sang Khalik konsekunsinya ada 1, yaitu percaya dan ikuti semua apa yang DIA mau. Janganlah apa yang kita mau. Mengikuti Sang Khalik artinya tunduk kepada kehendak sang Khalik. Jalankan agenda sang Khalik bukan agenda kita sendiri. Pergi ker rumah Ibadah ya temui lah Sang Khalik di sana bukan untuk bertemu teman bisnis, pacar, mantan pacar ….. Ingin memuj Tuhan dengan bernyanyi dalam ibadah ya lakukanlah demi Sang Kahlik bukan supaya anda dipuji dan diajak rekaman. Pokoknya, janganlah di mulut mengatakan …..ya saya ikut Dikau tetapi…..agenda sebenarnya adalah….ya Tuhan ikutilah kemauan saya. Janganlah di mulut kita mengaku …terpujilah nama-Mu tetapi diam-diam kita menambahkan di bait 2: terpujuilah namaku sendiri……Jangan pernah mengatakan …. Jadilah kehendak-MU tetapi yang kita kerjakan adalah…jadilah kehendakku sendiri. Anda tidak mau berakhir seperti Yudas si Judes kan?
  3. Sebagai manusia, saya dan juga anda sekalian adalah makhluk-makhluk fana yang banyak salahnya. Atas kesalahan hendaknya kita tidak cukup hanya menyesal. Penyesalan harusnya diikuti dengan pertobatan. Jangan berpikir anda mampu menanggulangi sendiri kesalahan anda. Jangan mudah putus asa. Pengalaman Yudas si Judes membuktikan itu. Selalu tersedia orang yang akan mendengar keluhan anda. Selalu ada jalan pengampunan. Dan andai kata semua orang meninggalkan anda, ada satu bahu yang mampu menanggung pertobatan anda, dan juga saya, yaitu Bahu Sang Khalik. Maukah?


Oh, ya ketika menyiapkan tulisan ini saya mencari tahu apa arti kata Yudas. Ternyata, seperti yang sudah saya katakan tadi, artinya adalah “pujian”. Teringat saya bahwa ketika ujian promosi doktor saya dahulu, status yudicium saya adalah “cum laude” artinya dengan pujian. Jika dibaca dalam bahasa Yunani maka yudicium saya akan dibacakan dan berbunyi seperti ini….saudara Doktor Ludji Michael…..anda dinyatakan lulus dengan predikat…..Yudas……ha ha ha ha ha….tak mau saya…..ha ha ha ha ha ha…

Selamat PASKAH. Gloria Inexelcis Deo. Tuhan Memberkati,


bagi sahabat yang ingin mengerti betapa kacaunya jika mengikuti Jesus dengan hati yang khianat, coba dengarlah lagu dari Bellamy Brothers berikut ini:


Tabe Tuan Tabe Puan

Bapa
saya berterima kasih
karena YESUS mati di atas kayu Salib
supaya saya bisa diampuni dan diterima oleh-MU

hari ini saya menerima DIA sebagai penanggung dosa saya
saya menerima: DIA mati menggantikan saya

saya berdoa bukan hanya agar dosa-dosa saya diampuni
tetapi juga agar ENGKAU boleh membersihkan hati saya
dan juga memberikan kepada hati saya suatu keinginan
untuk memberi tempat bagi-MU
dan Kekudusan-MU

Dalam kehinaan dosa,
sebaik yang saya tahu:
saya menyerahkan diri sepenuhnya kepada-MU
saya mempercayakan hidup saya seluruhnya kepada-MU

sekarang dan selama-lamanya

Amin

Saya persembahkan 2 buah lagu untuk semua sahabat KRISTIANI:

the Old Rugged Cross” by Anne Murray

Precious Lord, Take my Hand by Elvis Presley

Tulisan Sebelumnya »